Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
34. Bertindak Cepat


__ADS_3

"Dua kapsul ini memang hampir sama dari segi apapun. Kalau tidak jeli bisa berakibat fatal. Saya hanya meresepkan satu obat untuk penguat kandungan. Dan ini bukan obat yang saya resepkan. Kapsul ini untuk peluruh kandungan. Bagaimana mungkin saya meresepkan obat yang salah. Kalau yang dalam klip ini baru vitamin yang benar. Bapak dapat kapsul ini dari mana? Obat ini tidak dijual sembarangan." Dokter berhijab itu nampak bertanya dengan tegas.


"Itu dia, Dok. Saya sendiri bingung. Ini istri saya juga bingung bagaimana vitamin ini berbeda. Dan vitamin yang salah ini ada pada botol yang kami beli."


"Saya akan beri vitamin lagi saja kalau begitu. Tolong jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi, ya Pak. Obat ini kerjanya lambat tapi berakibat fatal."


"Baik dok, terima kasih."


Shaka berjalan melewati lorong rumah sakit yang banyak orang berlalu lalang di sana. Pikirannya melayang dan berkelana ke mana-mana.


Apa mungkin ada seseorang yang menukar isi vitamin Nimas? Apoteker memberikan obat yang benar saat aku menebusnya. Lalu isinya diganti dengan vitamin yang mirip dengan punya Nimas. Dan saat orang itu akan pergi dari kamar Nimas, vitamin terjatuh tanpa orang itu sadari dan diinjak oleh Bi Ima. Ini perkiraan yang paling sederhana. Tapi apa iya begitu? Itu artinya yang melakukan ini keluargaku sendiri? Kalua pun tidak, orang yang melakukan ini sudah tahun seluk beluk rumah. Ini nggak bisa dibiarkan.


Shaka sedikit menyesali keputusannya beberapa tahun lalu. Di mana ia yang suka kebebasan melepas semua CCTV yang menyorot kamarnya. Ia tak suka jika kegiatannya yang banyak ia habiskan di kamar terekam dan bisa siapa saja melihat itu. Dan sekarang nampaknya ini harus berpikir untuk memasangnya kembali tanpa sepengetahuan siapapun.


Jujur saja, Shaka sebenarnya tidak mau mencurigai siapa pun. Tapi jika mengingat pelakunya yang bergerak cepat dan seakan ingin sekali melenyapkan janin Nimas membuat Shaka khawatir jika Nimas tidak berada dalam pengawasannya.


Tersangka di balik ini semua cukup rapi, seandainya saja dia tidak ceroboh aku dan Nimas pasti sudah kecolongan. Aku tidak mau mencurigai siapapun. Nikas tinggal dengan keluarga ku bagaimana bisa aku mencurigai salah satu di antara kedua orang tuaku?


Setelah menghabiskan waktu di jalanan dengan pikiran yang memusingkannya, akhirnya Shaka sampai di pekarangan rumah. Ia bergegas masuk dan langsung ke kamar.


"Kamu sebenarnya niat kerja apa nggak, sih Ka. Pulang pergi terus," seloroh Bu Marissa saat kaki Shaka baru saja menginjak lantai atas.


"Hape aku ketinggalan, Ma," balas Shaka sengaja menutupi apa yang sudah ia ketahui. Lebih baik tak ada yang tahu soal ini, biarkan saja pelakunya merasa dirinya berhasil. Agar tidak mencelakai Nimas lagi, begitu pikir Shaka.


Shaka meninggalkan ibunya yang berdiri hendak bepergian entah ke mana.

__ADS_1


"Ini vitaminnya, lain kali jangan taruh di sini, ya. Taruh di bawah bantal aja, biar kamu juga tetap bisa ambil kalau mau minum. Pastikan tidak ada yang tahu di mana kamu simpan obat-obatan seperti ini. Hanya kamu dan aku yang oleh tahu. Minum!" Shaka mengambil satu kapsul dan memberikannya pada Nimas. Wanita itu mengambil dan meminumnya tanpa banyak bertanya.


"Aku balik ke kantor, ya."


"Kamu nggak ngasih tahu aku, kenapa tadi vitaminnya bisa beda?"


"Yang ditemuin Bibi tadi bukan punya kamu, obat lain yang nggak ada hubungannya sama kandungan. Mungkin terjatuh dari tempat lain, lalu terbawa ke sini."


Shaka sengaja tidak memberitahu keadaan sebenarnya, ia takut jika Nimas malah kepikiran dan khawatir berlebihan yang akan berdampak pada kandungannya yang lemah. Biarkan saja ini menjadi urusannya dan hanya dirinya yang akan menyelesaikan permasalahan ini tanpa melibatkan siapa pun.


"Terus kenapa aku harus simpan di tempat yang tidak bisa dijangkau sama orang selain kita?"


"Untuk jaga-jaga. Apa pun bisa terjadi, jadi kamu juga harus ekstra hati-hati jika itu mengenai janin kamu. Ya udah, kamu istirahat, aku kerja lagi, ya. Bilang kalau mau apa-apa. Muach." Satu kecupan di kening seperti tadi pagi membuat Nimas menghangat.


Namun, ada satu kata yang sebenarnya sangat mengganggu di telinga Nimas. Anak kamu, janin kamu, bayi kamu, kenapa harus menggunakan embel-embel kamu ketika menyangkut anak yang ia kandung.


Apa aku berlebihan jika ingin Shaka juga mengatakan anak ini dengan sebutan anak kita?


Oh astaga, ayolah Nimas jangan menuntut hal lebih dari yang Shaka berikan. Harusnya kamu bersyukur punya Shaka yang peduli dan sayang padamu dan anakmu. Harus sadar diri dan tahu terima kasih, Nimas. Bersyukur dengan apa yang kamu dapat.


Di lantai bawah, Shaka sedang mencari-cari Bi Ima. Barangkali ada yang bisa ia tanya-tanya. Tidak ada salahnya mencoba untuk mencari tahu apa yang harus ia ketahui. Apa pun akan ia lakukan untuk memecahkan perbuatan siapa yang biadab ini.


"Bi, Bi Ima!" teriak Shaka.


Pria itu sudah mencari ke penjuru dapur, namun tak ia temukan di mana keberadaan wanita yang bekerja dengan keluarganya selama dua puluh tahun itu.

__ADS_1


"Maaf, Mas, dari belakang Bibi. Ada apa, ya?"


"Saya mau tanya, ada yang datang ke rumah nggak tadi?"


"Nggak ada, Mas. Nggak ada tamu yang datang."


"Kalau yang ke kamar saya sebelum Bibi siapa?"


"Tadi pas saya antar makan siang untuk Non Nimas ada bu Marissa di depan kamar. Tapi saya nggak tahu beliau masuk apa nggak ke kamarnya Mas."


"Di depan kamar siapa?"


"Kamar Mas Shaka."


"Ada sesuatu yang dilakukan Mama?"


"Lagi jongkok, kurang paham juga apa yang sedang Bu Marissa lakukan. Kenal jongkok di depan kamar Mas, saya juga nggak tahu."


"Ada sesuatu yang dibawa sama Mama?"


"Saya nggak lihat apa-apa, Mas."


Ngapain Mama di depan kamarku? Ngapain Mama di depan kamar kalau tidak masuk? Tadi Nimas bilang tidak ada yang masuk selain Bibi. Nimas adalah orang yang peka terhadap suara ketika dia tidur. Apa yang Mama lakukan dengan berjongkok di depan kamar?


"Bi, saya nitip Nimas, ya. Tolong dijaga makanan, minuman, camilan atau apapun yang masuk ke dalam perut Nimas nantinya. Tolong jangan sampai Bibi lengah, setelah masak, hidangkan dan langsung bawa ke kamar. Jangan menunggu nanti atau malah meninggalkan makanan itu di dapur. Dan, ya, pastikan hanya Bibi yang masak untuk istri saya. Jangan beritahu hal ini pada siapapun ini rahasia kita."

__ADS_1


"Baik, Mas. Saya akan ingat pesan Mas."


Ada pertanyaan dan keinginan tahuan yang bergejolak di pikiran Bi Ima. Namun, ia ragu hendak bertanya. Rasanya sangat tidak sopan.


__ADS_2