Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
40. Shaka bohong


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, sepasang suami istri yang sedang hangat-hangatnya itu benar-benar melakukan aktivitas jalan-jalan pagi. Masih pukul setengah enam, bahkan matahari pun belum menampakkan sinarnya. Namun, mereka sudah berkeliling ke desa untuk menghirup udara segar.


Sepasang suami istri itu terkadang berpapasan dengan warga desa. Seperti tetangga pada umumnya, mereka saling menegur sapa dan sesekali berbincang dengan Nimas dan juga Shaka. Beberapa diantara mereka juga menanyakan kenapa Nimas duduk di kursi roda. Ada juga yang memuji Nimas yang pandai mencari suami.


"Nimas kamu di sini? Kapan pulangny? Kamu pinter juga cari suami, udah ganteng, kaya lagi."


"Ini suami kamu, Nimas? Ganteng sekali."


Itulah beberapa pujian yang dilempar oleh beberapa orang kepada Shaka. kepala pria itu dibuat semakin besar saja. Sepanjang perjalanan ia menyambongkan dirinya bahwa banyak ibu-ibu yang memuji dan mengakui ketampanannya. Ia pun akhirnya melayangkan protesnya pada istrinya.


"Orang-orang yang pertama kali lihat aku aja mengakui kalau aku ganteng. Kamu yang ketemu aku tiap hari nggak pernah ngomong kayak gitu."


"Justru karena sudah ketemu setiap hari itu sudah terbiasa sama kegantengan kamu. Mereka baru pertama kali lihat makanya mereka mengagumi, lama-lama kalau ketemu tiap hari juga nggak."


"Oh, ya? Kalau begitu keputusanku utuk memulangkan kamu sementara adalah pilihan yang tepat. Kalau kita seminggu sekali ketemu, kamu akan memujiku tampan satu kali dalam seminggu."


"Hahaha. Aku nggak mau muji," ledek Nimas tertawa.


Shaka yang mendapatkan ledekan seperti itu seketika membungkukkan badannya. Berbisik di telinga Nimas degan jarak yang sangat dekat.


"Jangan tertawa! Jangan sampai aku menciummu di sini, bukan salahku jika bibirmu saat ini sudah menjadi candu untukku. Bagian tubuhmu itu sudah menjadi tempatku pulang, Nimas."


Dengan susah payah Nimas menelan salivanya. Kata-kata yang dibisikkan oleh Shaka rupanya membuat tenggorokan Nimas terasa susah untuk menelan ludahnya sendiri. Wanita yang sedang hamil muda itu tidak bisa menyembunyikan salah tingkah dan kegugupannya.


Melihat hal itu membuat Shaka tertawa terbahak-bahak. Sejak melihat wajah lucu Nimas saat ia menggodanya, pria itu menjadi kecanduan untuk terus-menerus menggoda karena menurutnya ekspresi yang ditunjukkan oleh Nimas saat sedang salah tingkah, sedang marah ataupun kesal membuat wanita itu semakin menggemaskan.


"Bercanda Nimas, kenapa dibawa serius?"


Shaka kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti beberapa saat. Di saat yang bersamaan gawai Shaka yang berada di saku meronta-ronta meminta perhatian.

__ADS_1


"Siapa, Mas?"


"Mama. Aku angkat sebentar, ya."


"Iya, Ma kenapa?"


"Raisa kecelakaan. Dia di vonis mengalami kelumpuhan pada kakinya. Dia dari semalam nanyain kamu terus. Kamu buruan pulang deh, kasihan dia butuh support dari kamu."


Shaka menatap Nimas sesaat lalu ia bicara dengan menutup mulutnya agar ucapannya tak terdengar.


"Lah kenapa Mama hubungin aku? Kan dia udah punya orang tua, orang tuanya masih lengkap. Yang dia butuhkan orang tuanya, bukan aku," sergah Shaka degan bisikan.


"Udah dibilang dia nanyain kamu terus, Shaka. Kamu datanglah meskipun hanya sebentar. Kasih semangat dia biar nggak terlalu larut dengan kesedihannya. Kalau kamu nggak datang hari ini Mama susul kamu ke rumah Nimas."


"Ma aku ini laki-laki beristri. Kenapa mama malah menjerumuskan aku? Mama sama aja kayak ngasih harapan ke Raisa. Aku nggak bisa balik sama dia, Ma. Kalau aku menuruti keinginannya, dia pasti akan berharap lebih. Nggak mungkin enggak."


"Iya-iya. Aku ke sana. Pertama dan terakhir. Selanjutnya aku nggak mau lagi," ujar Shaka dengan nada yang sedikit tinggi, namun tetap dengan bisikan.


Shaka memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Ia mengembalikan gawai ke saku dengan raut wajah kesal tak tertahan.


Bagaimana tidak? Ia selama ini sudah sangat berusaha untuk bersikap tega pada Raisa, namun ibunya malah masih berusaha untuk memberi celah pada wanita itu agar selalu dekat dengannya.


Bukan hal yang mudah bagi Shaka untuk berbuat tegas pada Raisa. Biar bagaimanapun, Raisa pernah menghiai hati, hari, dan hidupnya. Jika ia tidak bisa tegas untuk memilih salah satu diantara Raisa dan Nimas, maka ia akan merasa menjadi manusia paling berdosa karena sudah membuat hidup Raisa berhenti dan tak ada kemajuan untuk melanjutkan hidup dan mencari kebahagiaan sendiri.


Di tambah lagi, dengan tindakan Raisa yang di hari pernikahannya dengan Nimas membuat kekacauan. Hal itu menambah kekuatan alasan Shaka untuk harus benar-benar berhenti memberi hati pada Raisa.


"Ada apa, Mas? Kenapa kamu kesal?" tanya Nimas setelah memperhatikan wajah Shaka beberapa saat.


"Nggak apa-apa. Kita pulang sekarang, ya. Kalau aku ke kota hari ini, nggak apa-apa, kan? Mama nyuruh aku pulang, ada urusan yang mengharuskan kehadiran aku di sana."

__ADS_1


Hal yang paling tidak sukai Shaka. Berbohong dengan orang-orang yang dekat dengannya. Terpaksa ia melakukan ini untuk kebaikan bersama juga. Sangat tidak mungkin jika ia jujur, hubungannya dengan Nimas baru saja mengalami kemajuan semalam. Pasti akan rusak jika ia mengatakan sesungguhnya.


Maafkan aku, Nimas. Aku nggak ada maksud untuk membohongi apalagi mencurangi kamu. Akan sangat tidak baik bagi kita jika aku berkata jujur.


"Urusan pekerjaan, ya?"


"Iya. Nggak apa-apa, kan? Aku pasti akan ke sini jika aku ada waktu luang yang lama."


"Nggak apa-apa, Mas. Aku mengerti kewajiban kamu berat. Mengemban perusahaan itu tidak mudah. Pergilah!"


Ucapan dari Nimas membuat Shaka semakin merasa bersalah. Wanita itu begitu memercayai dirinya, sedangkan dirinya tanpa diketahui membuat kebohongan yang menyakitkan. Ya, Shaka yakin Nimas pasti akan merasa sakit hati dan merasa dikhianati jika suaminya pulang bukan untuk urusan pekerjaan. Tapi malah menemui wanita lain.


Aku akan jujur ke kamu nanti, aku minta maaf, Nimas.


Pukul sebelas siang, Shaka sudah bersiap akan kembali pulang. Namun, ia kasih bermalas-malasan di kamar. Ada saja alasan dirinya untuk tidak segera beranjak dari sana. Entah karena ia tak ingin berpisah dengan Nimas atau karena ia enggan untuk menemui Raisa. Semua ini sungguh membuat Shaka seakan tidak punya pilihan.


"Mas, kamu ditunggu. Nggak enak kalau ngulur-ngulur waktu."


"Iya. Aku pulang dulu. Baik-baik di sini. Aku akan secepatnya kembali."


Merekan keluar kamar setelah itu. Kepergian Shaka yang mendadak hanya diantar oleh Ibu dan juga Nino, karena Ayah Nimas sudah berangkat untuk menjaga pabrik sejak tadi pagi.


"Hati-hati di jalan, ya Nak. Kalau mau ke sini kasih kabar bira Ibu masakin yang enak."


"Masakan Ibu selalu enak meski lauk sederhana. Kalau Nimas bendel, kasih tahu saya, ya Bu. Kadang Nimas ini susah dikasih tahu. Kalau saya nggak lebih bandel, mungkin saya akan kalah terus sama dia," kata Shaka terkekeh.


Visual Nimas


__ADS_1


__ADS_2