
Beberapa hari berlalu.
Nino tanpa memberitahu sipa pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari tempat kerja yang ia naungi sejak kuliah. Ia nekat melakukan itu agar bisa pergi dari kampung yang penuh kenangan itu dan bisa memulai hidupnya dari nol.
Nino ingin memperbaiki taraf hidup yang dari sederhana menjadi wah. Ia ingin seperti Shaka yang bisa sukses juga dan membahagiakan kedua orang tuanya. Selain itu, ia juga ingin menjadi lebih banyak uang agar ia bisa bergaya dan mudah mendapatkan wanita pengganti Dinda.
"Kamu ditinggal Dinda segitunya sampai nggak kerja? Kayak nggak ada wanita lain aja. Apa istimewanya dia sampai kamu nggak ada selera hidup?" tanya Ayah Nino heran.
"Aku udah resign, mau cari kerjaan lain yang lebih bagus. Biar Dinda sama orang tuanya nyesel."
"Emang kerjaan kamu yang sekarang kurang bagus? Dari kerjaan kamu, kan udah banyak yang kamu beli, bisa nabung. Kurang bagus gimana?"
"Tempatnya kurang bagus, banyak kenangan. Aku mau kerja di tempat Kaka Shaka aja, biar kelihatan keren."
"Astaga Nino, udah kayak bayi aja kamu."
"Ayah sama Ibu mau ikut apa nggak? Kak Shaka kemarin pas kita ke sana itu bilang kalau mbak Nimas pengen deket sama kalian juga, nggak mau jauh-jauh sama kalian. Aku cuman sampein itu sih. Lusa mungkin aku akan berangkat ke Jakarta. Aku akan bertekad untuk merubah kehidupan aku dan membuat Dinda menyesal. Aku berharap kalian dukung aku dengan cara ikut ke kota." Nino menatap keduanya dengan penuh harap.
Terdengar helaan nafas berat dari ayah Nino. Entah sudah berapa kali dalam beberapa tahun terakhir Nino selalu menuntut hal yang sama. Di satu sisi beliau juga merasa kasihan jika anaknya terus merengek seperti itu, tapi di sisi lain beliau juga merasa masih ingin berkegiatan lantaran masih sehat.
Namun, hari ini beliau tak hanya mendengar Nino yang berkeinginan untuk pindah ke kota, tapi anak sulungnya ternyata juga punya keinginan yang sama. Memang benar, seharusnya di usia yang seperti sekarang ini mereka harusnya bisa sering bersua dengan anak dan cucunya. Menikmati hari tua dengan bersantai.
__ADS_1
"Nggak usah ngomongin itu lagi kalau ayahmu masih belum mau. Ibu malah jadi kepikiran terus, malah nggak bisa tidur."
"Ya kalian harus tahu ini, bukan hanya aku yang ingin barengan sama orang tuanya."
Tak mau berdebat lebih panjang dan semakin melebar ke mana-mana, Ayah Nino mengambil keputusan untuk mengiyakan permintaan anaknya.
"Sudah-sudah, jangan debat. Biar nggak ada keributan, ya udah kita pindah. Rumah ini kita sewakan biar di urus sama nanti sama Om kamu. Tapi berangkatnya, ya nggak bisa lusa. Ayah resign juga butuh proses."
Keduanya menganga dengan lebar, seakan mereka tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Ayah serius? Ah ya Tuhan, kenapa nggak dari dulu aja, Ayah. Tapi nggak apa-apa, aku akan menghubungi Kak Shaka secepatnya. Dan untuk Ayah, nanti kalau kita udah agak lamaan tinggal di sana, akan aku carikan usaha untuk Ayah. Aku yakin Ayah akan terus ngomel kalau nggak ada kerjaan nantinya. Jadi aku sudah persiapkan ini dari jauh-jauh hari." Mood Nino tiba-tiba saja berubah secepat kilat.
"Akhirnya, aku bisa setiap waktu ketemu sama kalian. Rumah kita sudah dekat sekarang. Makasih, ya Mas. Kamu mau nurutin apa kata aku terus."
Di kehamilan Nimas yang ketiga ini, ia lebih manja dan tak mau jauh dari Shaka.
"Memang harusnya begitu."
Dan kebahagiaan itu ternyata tak berhenti di situ. Hari demi hari yang mereka lalui sangat menggembirakan hingga tak terasa kehamilan Nimas sudah mulai memasuki bulan di mana ia akan melahirkan anaknya yang ke empat. Hari-hari yang mendebarkan tentu saja, meskipun sudah dua kali melahirkan, Nimas tetap saja tegang dan sedikit was-was dengan kelahirannya nanti.
Dan rupanya hari kelahiran yang diprediksi masih beberapa minggu lagi itu ternyata maju lebih cepat. Kali ini Nimas ingin melahirkan di rumah saja. Hal ini sudah Nimas bicarakan dengan suaminya jauh-jauh hari. Dan bukan Shaka namanya jika tidak menuruti keinginan istrinya selama hal itu masih wajar.
__ADS_1
Pagi itu seluruh anggota keluarga berkumpul di rumah Narendra. Sementara Shaka dan Nimas berada di ruangan baru di lantai dua. Ruangan di mana Shaka sediakan untuk Nimas yang ingin melakukan proses persalinan dengan menggunakan metode water birth.
Persalinan kali ini berbeda dengan persalinan sebelumnya, kali ini Nimas nampak lebih tenang. Kapan proses persalinannya pun tidak memakan waktu yang lama seperti yang sudah-sudah.
Senyum kelegaan kebahagiaan terlihat begitu saja di bibir Nimas dan Shaka. Akhirnya tangis yang tak sabar ingin mereka dengar hari ini terdengar dengan jelas dan lantang.
"Untuk kali ini kamu menang, dia sangat mirip denganmu," bisik Shaka di telinga istrinya.
"Dia bayi laki-lakiku. Ghifari Syafi Narendra." Nimas merapal nama anaknya yang sudah ia sepakati bersama suaminya.
"Iya, Ghifari anak kamu. Hanya anak kamu, kamu hamil sendiri tanpa bantuan Mas."
Nimas hanya terkekeh mendengar jawaban suaminya. Selang setengah jam kemudian, seluruh keluarga masuk ke kamar baru yang nantinya akan di jadikan kamar Ghifari. Mereka semua berkerumun di box bayi yang isinya telah terlahir generasi penerus Shaka.
...TAMAT...
*Terima kasih untuk siapa pun readers yang sudah mengikuti perjalanan Saka dan Nimas. Baik itu readers yang dengan sukarela memberikan jejak berupa like, comment, vote, dan kasih hadiah, terima kasih banyak. Untuk yang silent readers pun aku ucapkan banyak-banyak terima kasih. aku tanpa kalian bukanlah apa-apa. Salam sehat dan sayang untuk kalian semua 😘.
Ini aku ada Judul baru yang insya Allah paling lambat akan rilis tanggal 3 Februari*.
__ADS_1