Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
60. Ajakan Makan Ramyeon


__ADS_3

Pukul sebelas malam, akhirnya sebelum suami istri merebahkan dirinya di kasur baru. Begitu selesai makan malam tadi mereka langsung beberes rumah. Meskipun tidak semua mereka bereskan, setidaknya tempat tidur dan dapur mereka sudah rapi.


Nimas yang merasa tubuhnya lelah, entah kenapa hingga malam berlarut tak kunjung tertidur. Ia merasakan seluruh tubuhnya begitu lelah, namun matanya enggak terpejam. Ia sedikit gelisah dalam setiap pergerakan di tidurnya.


"Kenapa Dek?" tanya Shaka yang sejak tadi merasakan ketidaknyamanan Nimas.


"Perutnya makin gede, nggak enak aja tidur posisi gimana-gimana. Badan aku cape semua," keluh Nimas.


Shaka bangkit dari berbaringnya, mengibaskan selimut yang menutupi kaki istrinya dan memberikan sedikit pijatan.


"Kamu ngapain? Kamu juga cape, Mas. Udah yuk istirahat aja."


"Nggak, udah nggak apa-apa, biar kamu bisa tidur, ini udah malem. Nggak baik buat kamu kalau begadang."


Nimas merasakan gerakan yang sangat aktif di perutnya, entah berapa detik perutnya itu tak henti-hentinya bergerak. Hal itu juga diketahui oleh Shaka.


"Tidur dulu, baby. Nggak bisa tidur dong Bunda kalau kamu main sepak bola di dalam sekarang. Main bolanya besok lagi, ya," kata Shaka mengelus perut sang istri. Hal yang sangat disukai oleh Nimas.


Sama anak Kakak kamu aja kamu begini, gimana sama anak sendiri? Betapa beruntungnya mereka punya Ayah yang penyayang kayak kamu, Mas.


Dan yang benar saja, pergerakan di perut Nimas sedikit demi sedikit mereda. Nimas menunjukkan wajah herannya, sedangan Shaka menampilkan wajah besar kepalanya.


"Mas."


"Hm?"

__ADS_1


"Aku mau punya anak cepat dari kamu."


"Maksudnya?"


"Ya nanti kalau yang sekarang udah lahir, jaraknya jangan jauh-jauh. Aku mau punya anak cepat dari kamu."


Plak!


Shaka memberikan pukulan kecil pada kaki Nimas.


"Jalani yang sekarang, malah mikir yang nanti-nanti. Ini aja belum bisa dilihat wajahnya malah mikir mau hamil lagi. Lagian ini anakku juga, ada darah Na..."


Ucapan Shaka terhenti karena ia ingat bahwa ia bukan lagi anak dari sang Ayah. Meskipun ikatan darah tak akan pernah putus, namun ia sudah tak diakui anak oleh Ayah sendiri. Dan itu diperjelas dengan perdebatan mereka tadi pagi.


"Aku sudah tidak diakui anak."


"Mau diakui apa nggak, kamu tetap anaknya. Aku berharap ujian kita ini nggak akan lama, Mas. Bukan karena masalah kita tinggal terpisah dan tinggal di rumah sederhana seperti ini. Tapi alasan kita terpisah, aku ingin semuanya kembali baik dan meskipun kita tinggal di rumah ini selamanya, aku ingin hubungan kita sama orang tua bisa diperbaiki. Rasanya nggak enak, kan kalau kita begini terus?"


"Akan butuh waktu lama. Merubah karakter seseorang itu nggak mudah, harus ada sesuatu yang terjadi padanya. Baru dia akan sadar, kalau kita berharga atau penting dalam kehidupannya. Ya sudah, jangan dipikirkan sekarang. Ayo kita tidur!" Shaka menyudahi pijat memijatnya dan kembali berbaring. Ia memeluk sang istri berharap dengan pelukan darinya ia bisa segera tertidur.


***


Shaka merasa baru saja memejamkan mata, namun hidungnya yang mencium aroma masakan yang baru matang membuat ia terbangun. Tumben sekaki aroma masakan seseorang masuk di hidungnya, batin pria itu memaksa untuk membuka mata.


Begitu mata terbuka sepenuhnya, Shaka baru sadar jika ia tinggal di rumah yang tak seluas dan sebesar rumah milik orang tuanya. Pantesan kecium, batin Shaka lagi. Ia pun bangkit dari ranjang dan berjalan menuju menuju dapur. Melihat sang istri yang sibuk menyiapkan makanan untuknya, bibirnya mengulum senyum. Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar akan merasakan masakan tangan Nimas.

__ADS_1


"Masak apa?" tanya Shaka melingkarkan tangannya di sepanjang perut Nimas. "Selamat pagi, baby," sapa Shaka pada bayi yang masih berada di dalam perut istrinya.


"Aku masak kesukaan suamiku saat di kampung. Urap-urap jantung pisang. Mudah-mudahan rasanya sama kayak masakan Ibu, ya."


"Bagaimanapun rasanya, kalau kaamu yang buat akan tetap aku makan. Buatan orang yang disayang itu akan selalu memuaskan," balas Shaka seraya mengendus-endus leher Nimas yang terpampang nyata.


"Kamu punya kebiasaan baru, Mas. Heran aku. Belum mandi, bau."


"Aku sudah pernah bilang kalau aku candu sama aroma tubuhmu, kan? Ngomong-ngomong, kita belum pernah makan ramyeon selama menikah. Aku mau melakukannya nanti malam." Kalimat Shaka yang terakhir ia katakan dengan bisikan.


Hal itu membuat Nimas tiba-tiba merasakan gugup luar biasa. Ia sedikit salah tingkah dan wajah yang memerah. 


Melihat kegugupan Nimas yang sangat nampak di mata Shaka, membuat pria itu tertawa seketika. Ia melepas pelukannya dan berdiri di samping wanita itu dengan bersandar meja dapur.


"Apa yang lucu?" tanya Nimas tanpa melihat orang yang ia tanya.


"Kamu lah. Baru ajakan makan ramyeon aja udah gugup kamu. Apalagi kalau udah praktek. Gitu sok gaya-gayaan mau punya anak kedua cepat," ledek Shaka.


"Aku pikir kamu nggak tahu istilah itu, Mas."


"Emang nggak tahu sebelum kamu bilang tadi sore. Aku baru tahu setelah kamu yang bilang. Gimana? Nanti malam mau makan remyon?" goda Shaka lagi.


"Maaaaas," rengek Nimas manja.


Ada yang tahu istilah makan ramyeon?

__ADS_1


__ADS_2