Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
98. Hikmah Dalam Musibah


__ADS_3

"Bunda kapan pulang? Bunda lagi sakit, ya? Bunda istirahat, ya. Nanti aku pulang sekolah ke sana."


Dengan sekuat tenaga Nimas berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Iya, Nak. Bunda lagi nggak enak badan. Bunda nggak apa-apa, kok. Jangan khawatir, ya. Sekarang kamu berangkat sekolah dulu sampai ketemu nanti."


Obrolan singkat itu berakhir sampai sana. Hati Nimas sedikit lebih tenang ketika melihat wajah Bryan. Seakan anak satu-satunya itu adalah sumber kekuatan baginya setelah suaminya.


"Kamu lihat, kan wajah polos Bryan? Melihat kamu berbaring di rumah sakit saja dia se khawatir itu. Bagaimana jika dia melihat ibunya yang seperti semalam? Apakah kamu berpikir bahwa dia tidak akan hancur hatinya?"


"Iya, Mas aku mengerti. Aku akan berusaha untuk kuat dan ikhlas dengan kepergian calon anak kita."


"Istri yang baik."


Setelah melihat anak dan menantunya seperti sedang bersusah hati, Bu Marissa sama sekali tidak fokus dengan cucunya. Beliau sibuk dengan lamunan dan pikiran yang terbelah kemana-mana. Kemungkinan-kemungkinan buruk selalu terbesit dalam pikirannya. Beliau pasti akan merasa bersalah dan berdosa jika apa yang beliau pikirkan semalam benar adanya.


"Oma, aku sekolah dulu, ya. Nanti pulang sekolah nggak usah pulang, langsung ke rumah sakit aja aku mau ketemu sama Bunda."


"Iya, Nak. Nanti kita langsung ke rumah sakit. Oma udah bawa baju ganti kamu kok di mobil. Nanti kamu bisa ganti baju di rumah sakit. Ya udah sekarang turun, nanti terlambat."


Mobil kembali melaju ketika Bryan sudah benar-benar masuk ke lingkungan sekolah. Bu Marissa langsung menuju ke rumah sakit.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan wanita itu hanya melamun sembari menatap jalanan yang ramai, karena semua orang memulai aktivitasnya. Entah hanya perasaan beliau saja atau memang hari ini rasanya sangat berbeda dari hari biasanya.


Bu Marissa tidak tahu apa penyebab beliau merasakan itu semua. Hanya saja beliau merasakan hatinya yang cemas dan was-was sejak semalam. Apalagi setelah melihat wajah anak menantunya menggambarkan kesedihan yang dalam, hal itu membuat perasaan beliau terasa jungkir balik.


Dengan lincah wanita yang tak lagi muda itu berjalan menuju ruangan menantunya. Meskipun usianya sudah di atas lima puluh tahun, Bu Marissa yang pandai merawat wajahnya membuat wanita itu tidak nampak seperti wanita yang sudah berusia setengah abad.


Begitu sampai di ruangan Nimas, Bu Marissa tak langsung masuk karena pada saat beliau hendak menekan handle pintu, terdengar obrolan dari sepasang suami istri itu.


"Aku hanya berniat ingin membantu Mama. Aku nggak mau kalau sampai Mama jatuh, nanti tangannya akan cedera lagi. Belum lagi usia Mama sudah nggak kayak kita, kan? Makanya aku berusaha menopang tubuh Mama biar nggak jatuh ke lantai. Kalau jatuh ke lantai dengan posisi duduk seperti aku kemarin, kan sangat bahaya untuk tulang ekor Mama. Tapi seandainya jika aku tahu aku hamil, pasti aku bisa melindungi Mama dengan cara yang lain. Apa aku sekarang menjadi seorang pembunuh, Mas?"


"Hus! Nggak boleh gitu ngomongnya, kamu nggak sengaja melakukannya. lagi pula kamu nggak tahu kalau kamu hamil. Ya udah nggak apa-apa, buat pelajaran aja, ya. Lain kali kalau ada yang aneh sama badannya langsung periksa, langsung ngomong sama Mas biar kejadian kayak gini nggak terulang lagi."


"Iya aku janji setelah ini aku akan hati-hati. Oh, ya Mas, nanti kalau Mama ke sini pasti Mama akan bertanya-tanya sama kondisi aku, nggak mungkin Mama akan diem aja melihat aku yang kesakitan dan pendarahan. Kalau bisa Mama nggak usah tahu kalau aku keguguran. Banti aku takut kalau Mama malah makan merasa bersalah. Pasti nanti Mana akan berpikir bahwa aku keguguran karena membantu dia, jadi lebih baik kita katakan saja kalau aku hanya kelelahan."


Air mata Bu Marissa sudah tidak lagi bisa dibendung. Bagaimana bisa Nimas punya hati yang begitu pemaaf dan mulia seperti itu. Sudah berapa kali beliau menyakiti, mendzolimi, dan juga mennghinanya. Namun, lihatlah sekarang! Wanita itu dengan begitu mudah melindungi perasaan orang yang begitu jahat padanya.


Setelah beberapa saat, perasaan Bu Marissa lebih tenang. Beliau berusaha menetralkan suasana hati dan perasaannya lalu membuka pintu dengan pelan.


"Bagaimana keadaan kamu, Nimas? Mama harap sudah jauh lebih baik."


"Alhamdulillah, Ma. Saya nggak apa-apa, saya hanya kelelahan saja. Tidak perlu khawatir, Mama sendiri bagaimana? Mama juga jatuh kemarin. Tangan Mama nggak terbentur, kan?"

__ADS_1


Siapa yang tidak terharu dengan kalimat pertanyaan Nimas? Dirinya yang kehilangan, dirinya juga yang mengkhawatirkan keadaan orang lain. Bagaimana bisa Bu Marissa menahan lajunya air mata yang sempat beliau tahan.


Melihat Bu Marissa yang tiba-tiba terisai tentu saja membuat Nimas dan Shaka bingung, apakah ada yang sakit dengan tubuhnya hingga pertanyaan Nimas membuatnya menangis? Nimas dengan pelan berusaha bangkit dari berbaringnya. Bagaimana ia tidak khawatir jika Ibu mertuanya tanpa sebab menangis seperti itu.


"Apa tangan Mama sakit lagi? Atau ada bagian tubuh lainnya yang cedera?" Shaka yang bertanya.


"Mama Minta maaf, Nimas. Mama sudah banyak dosa sama kamu. Benar yang pernah dikatakan oleh Papa dan suamimu. Kamu mempunyai hati yang lembut dan bersih, Mama malu sekali dengan sikap Mama selama ini. Maafkan Mama." Bu Marissa semakin terisak seraya memeluk wanita yang baru saja kehilangan calon anak.


Dengan tanpa ragu, Nimas membalas pelukan Ibu mertuanya. Bahkan tangannya tergerak untuk mengelusnya pelan dengan tujuan agar beliau lebih tenang.


"Mama udah saya maafin. Nggak perlu merasa punya banyak dosa pada manusia lainnya, Ma. Kita semua punya dosa di jalan yang tidak sama. Mama adalah Ibu saya yang kedua. Bagaimana mungkin saya tidak memberi maaf? Sudah Ma, jangan buat kami lebih sedih dengan Mama seperti ini. Hanya kknya maaf kenapa se histeris ini?" Bu Marissa melonggarkan pelukannya.


"Ini bukan hanya perkara Maaf, Nimas. Tapi ada yang lebih besar. Kamu nggak bisa menyembunyikan ini dari Mama. Bagaimana bisa kamu berniat ingin membodohi Mama dengan merahasiakan kalau kamu keguguran? Kenapa kamu semulia itu sama wanita pendosa ini?"


Bu Marissa yang sudah sadar dengan kesalahannya beberapa waktu lalu, namun enggan untuk meminta maaf atau hanya sekedar bersikap baik, kini secara terang-terangan dan sadar meminta maaf dan mengakui bahwa Nimas memang manusia yang berhati mulia.


"Mama ini bicara apa? Siapa yang pendosa? Bukankah tadi sudah saya bilang kalau semua manusia punya dosa? Saya pun banyak dosa, Ma. Kita nggak ada yang nggak pernah berbuat salah. Saya mohon, Ma. Kalau Mama pedui dengan saya dan Mas Shaka, saya mohon untuk jangn memikirkan masalah ini. Saya dan Mas Shaka sudah ikhlas. Memang jalannya harus begini. Kami nggak apa-apa, Ma. Tuhan pasti akan memberikan kami titipan tepat pada waktunya. Saya mohon, Ma. Jangan merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Semua sudah kehendak Tuhan."


Jangan mengira bahwa Nimas mengatakan itu dari hati yang paling dalam. Ada sebagian kalimatnya yang senagaja ia rangkai untuk kebaikan senua orang. Jika dikatakan ikhlas sepenuhnya, tidak juga. Bukankah untuk mencapai titik ikhlas tidak semudah saat kita bicara.


Tidak mudah bukan berarti harus menunjukannya pada orang disekitarnya. Menyimpan rasa itu sendirian dan berusaha untuk membiarkan waktu yang membuatnya sampai di tahap ikhlas adalah pilihan terbaik. Dan Nimas memilih itu untuk kehidupannya yang selanjutnya.

__ADS_1


Shaka terharu, ia hanya bisa diam dengan mata yang sudah penuh dengan genangan air. Akan selalu ada hikmah dalam setiap kejadian. Akan selalu ada sisi baik dalam setiap hal buruk. Ia memang kehilangan anak, tapi ia menerima gantinya dalam hal lain. Momen yang Shaka tunggu satu persatu sudah terwujud.


"Udah nangisnya, nggak usah ingat-ingat kesalahan yang sudah berlalu. Yang terpenting sekarang, kita bisa memperbaiki semuanya dari detik ini. Mari kita memulai hari dari nol." Shaka memeluk kedua wanita yang kini juga berpelukan.


__ADS_2