Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
65. Baby Boy


__ADS_3

Di tengah perjalanan, Shaka mencoba untuk menghubungi Nino. Itu bertujuan agar ia sampai sana semua orang sudah terbangun dan bersiap berangkat. Sungguh ia sama sekali tidak tenang meninggalkan Nimas seorang diri di rumah sakit. Badan yang lelah dan mata yang mengantuk seketika sirma entah ke mana perginya. Dua kali menghubungi Nino, akhirnya remaja itu terdengar mengatakan halo.


"Nino, Mbak Nimas mau melahirkan. Ini Kakak lagi di jalan mau ke rumah. Bisa minta tolong bangunin Ibu sama Ayah? Mungkin lima belas menit lagi Kakak sampai. Sebenarnya, Kakak maunya jemput besok aja atau nanti pas udah lahir bayinya, tapi mbakmu ngeyel minta Ayah, Ibu datang sekarang. Maaf, ya, Kakak jadi ganggu istirahat kalian."


"Ah iya, Kak nggak apa-apa. Aku bangunin Ayah Ibu sekarang kalau gitu."


Percakapan mereka selesai sampai di sana. Jam menunjukkan pukul tiga pagi saat Shaka memutuskan sambungan telepon. Hawa dingin menyeruak ke dalam seluruh sel tubuhnya. Tubuhnya yang hanya ditutupi baju tidur berlengan pendek seakan membuat angin bebas keluar masuk ke dalam mobil dan menusuk setiap inci kulitnya. Entahlah, tidak ada celah bagi angin untuk masuk ke dalam mobil, tapi ia merasakan hawa dingin seakan ia menaiki motor saja. Mungkin karena tak pernah keluar rumah sepagi ini, itu yang membuat Shaka merasa kedinginan.


Tak berselang lama, mobil Shaka masuk ke halaman rumah kedua mertuanya. Nampak lampu ruang tamu yang menyala, menandakan mereka sudah terbangun dari tidurnya. Tanpa mengetuk pintu, benda itu sudah terbuka dengan sendirinya dari dalam. Ternyata Ibu Nimas yang membukanya. Beliau yang melihat Shaka nampak pucat memintanya untuk masuk terlebih dahulu.


"Bu, Yah. Maaf saya harus mengganggu istirahat kalian," kata Shaka duduk di sofa ruang tamu.


"Nggak apa-apa, kenapa sama orang tua sendiri harus bicara seperti itu. Ini minum tehnya biar sedikit hangat badannya." Ibu Nimas menyodorkan segelas teh manis hangat.


Shaka menenggak teh hangat itu dengan terpaksa. Rasanya apa pun yang akan di masukkan ke tenggorokannya saat ini tidak akan bisa masuk dengan suka rela karena raga dan pikirannya yang terpisah jauh.


"Apa semuanya sudah siap? Bisa kita berangkat sekarang? Nimas sendirian di rumah sakit."


Tidak ada pertanyaan yang keluar dari mulut kedua orang tua Nimas. tanpa dijelaskan pun, mereka seakan paham bahwa memang mereka tak diterima di keluarga Shaka. Mereka masih ingat betul bagaimana mereka di perlakukan saat menghadiri pernikahan anaknya sendiri.


"Nak, kamu terlihat pucat. Kamu sakit? Ini pakai jaket Nino. Di sini udara sepagi ini sangat tidak bersahabat."

__ADS_1


Ibu Nimas memberikan jaket tebal yang baru beliau ambil setelah memberikan teh hangat tadi.


"Terima kasih, Bu."


Dalam hati ingin sekali Shaka menangis, kedua mertuanya begitu menyanyangi dirinya seperti anak sendiri. Sedangkan kedua orang tuanya malah menyakiti anaknya. Sempat terpikir dalam hati bagaimana jika mereka tahu bahwa Nimas diperlakukan tidak baik oleh orang tuanya? Untuk membayangkan saja Shaka rasanya tak mampu. Tapi cepat atau lambat bukankah mereka akan tahu juga?


Setelah semua dirasa sudah siap, mereka segera meninggalkan rumah. Sepanjang perjalanan hanya hening yang mendominasi mobil Shaka. Semua hanyut dalam pikiran dan doa yang mereka panjatkan agar Nimas bisa melewati momen ini dengan lancar tanpa hambatan.


Dan rupanya, keheningan itu membawa meraka sampai rumah sakit sedikit cepat. Jalanan yang sedikit lengang menambah waktu mereka untuk mempersingkat perjalanan.


Mereka bertiga berbondong-bondong menyusuri lorong rumah sakit. Shaka nampak jauh lebih khawatir dari kedua mertuanya. Maklum, Shaka belum punya pengalaman dalam hal ini. Sedangkan kedua mertuanya sudah pernah merasakan momen ini, jadi mereka hanya menguatkan doa mereka agar semua berjalan lancar.


"Dek, aku udah bawa Ayah sama Ibu. Gimana perutnya?"


"Nimas, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ibu Nimas.


"Ah, iya. Aku nggak apa-apa, Bu. Makasih, ya, Yah, Bu. Udah mau datang ke sini. Aku minta maaf kalau aku banyak salah, aku Minta doanya semoga aku bisa melewati ini dengan lancar. Untuk kamu suamiku, maaf aku sudah merepotkan kamu, aku juga banyak kesalahan. Aku minta maaf, ya Mas."


Nimas mengucapkan kalimat permintaan maaf dan permohonan doa itu dengan menahan sakit yang sejak kepergian Shaka sudah terasa.


"Iya, kamu nggak pernah repotin aku. Gimana, udah ada kemajuan buka berapa?" tanya Shaka menggengam tangan istrinya.

__ADS_1


"Udah, sebelum kalian datang tadi udah buka lima."


"Nimas, wanita yang akan melahirkan pasti akan merasakan sakit luar biasa. Banyak-banyak istighfar, ya Nak. Kami yakin kaku bisa melewati ini. Kalau sudah lahir, semua rasa sakit akan hilang. Doa kami akan selalu ada sama kamu," kata Ibu Nimas.


Wanita yang sudah melahirkan anaknya puluhan tahun yang lalu itu memberikan kecupan di seluruh wajahnya. Selang beberapa saat kedua orang tua Nimas diharuskan keluar ruangan, karena memang tak boleh banyak orang yang berada di dalam. Permintaan maaf kembali terucap di bibir Nimas, kedua orang tuanya hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman.


"Kamu kedinginan, Mas. Maafkan aku," kata Nimas lagi.


"Nggak apa-apa. Jangan memikirkan yang lain."


Beberapa saat setelah kedua orang tua Nimas keluar ruangan, rasa sakit di perut Nimas kembali terasa, pembukaan menuju sempurna semakin sering terasa dan durasi waktu yang semakin lama.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi di saat Nimas sudah siap melahirkan sang anak. Shaka yang menemani istrinya kesakitakan sejak tadi hanya bisa menangisi dan sedikit memberikan sentuhan penenang meskipun ia sendiri butuh penenang.


Sementara yang ditangisi berusaha untuk kuat dan tidak menampakkan rasa kesakitannya agar suaminya tak semakin khawatir. Entah berapa kali dorongan, Nimas yang sudah hampir kehabisan tenaga akhirnya bisa mendengar tangis bayi yang sejak semalam ia ingin dengar.


Shaka seketika mengucap syukur dan merebahkan kepalanya di kepala sangat istri. Tangisan kelegaan pecah dalam diam saat itu juga. Meskipun tidak merasakan sakit yang Nimas rasakan, ia merasakan sakit yang lain saat melihat Nimas yang kesakitan seperti itu.


"Mas, aku nggak salah dengar, kan? Aku bisa melahirkan seorang bayi?" bisik Nimas seakan tak percaya.


"Iya, anak kita sudah lahir. Kamu bisa melakukannya, kamu sudah menjadi ibu dan aku sudah menjadi ayah. Kita jadi orang tua." Shaka berucap dengan berusaha untuk meredam tangisannya.

__ADS_1


Tidak berselang lama bayi berjenis kelamin laki-laki itu di serahkan pada sang Ayah untuk untuk di adzankan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Shaka menimang seorang bayi yang secara garis keturunan hanya berstatus keponakan. Anak yang seharusnya suatu hari nanti memanggilnya dengan sebutan om, justru harus memanggilnya Ayah.


Nak, meskipun kamu sebenarnya hanya keponakanku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menganggap kamu sebegai keponakan. Kamu adalah anakku, dan sampai akhir hidupku nanti, aku berjanji akan membawa rahasia ini. Aku akan bawa rahasia ini hingga aku terkubur dalam tanah. Aku tidak mau kamu tahu, bahwa kamu ada karena kesalahan Ayah dan Ibu kandungmu.


__ADS_2