
Tubuh Nimas terhuyung ke belakang. Pergerakan yang tiba-tiba membuat ia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Nimas memejamkan mata tak sanggup jika ia membayangkan dirinya jatuh di lantai.
Tapi tunggu, Nimas merasa tubuhnya melayang. Ia tidak merasakan sakit apa pun. Dengan perlahan ia memberanikan diri untuk membuka mata. Ia melihat sekeliling dan ada tangan yang menangkap tubuhnya.
"Mas. Kamu sudah pulang?" Nimas menegakkan tubuhnya.
"Kamu kenapa ke kamar mandi nggak nunggu orang? Kenapa nggak nungguin Bibi?" cerca Shaka dengan lembut seraya mendudukkan istrinya ke ranjang.
"Tadi tuh Mama datang ke sini, Mas. Mama yang ngantar aku ke kamar mandi, yang nuntun aku ke kamar mandi. Tapi, begitu aku masuk, Mama bilang kalau ada telepon, jadi Mama keluar kamar. Begitu aku keluar kamar mandi, Mama belum balik, ya udah aku jalan sendirian pelan-pelan, tapi aku merasa lantainya licin," adu Nimas seraya menggeser-geser kakinya di lantai.
"Licin?" ulang Shaka yang diikuti gerakan tubuhnya yang membungkuk dan meraba lantai. Apakah yang dirasakan istrinya benar atau memang ia berjalan tak seimbang.
Iya, lantai ini licin sekali. Cairan apa? Nggak ada baunya.
Shaka diam memikirkan cairan apa yang ada di lantai kamarnya. Tadi pagi masih baik-baik saja dan ia melihat tidak ada yang aneh atau terjatuh saat Bibi mengantarkan makanan.
Itu artinya lantai ini baru dibuat licin oleh seseorang. Aku harus cek CCTV. Meskipun aku curiga ke Mama, tapi aku harus tetap melihat bukti nyata.
"Ini lantainya basah. Ya udah duduk yang bener. Aku ambil pel buat bersihin ini."
Di saat bersamaan, Bu Marissa tiba-tiba datang dengan wajah paniknya.
"Nimas, kamu nggak apa-apa? Maaf saya tadi kelupaan kalau harus nungguin kamu."
"Nimas nggak apa-apa. Memang ada apa? Mama kenapa panik begitu? Apa Mama berharap ada sesuatu yang terjadi?"
Menyadari rencananya gagal, Bu Marissa sedikit kesal namun berusaha ia tahan.
__ADS_1
"Bukan itu maksud Mama, Shaka. Nimas, kan kalau ke mana-mana harus dibantu, makanya mama panik kalau pas ingat Mama harus bantu dia. Kamu kenapa curiga begitu, sih sama Mama? Kamu pikir kalau Mama punya rencana jahat gitu?"
"Kata-kataku yang mana yang nuduh Mama punya rencana jahat? Aku, kan cuman tanya, aku juga nggak curiga apa-apa. Lagi pula ini bukan keseharian Mama. Emang Mama pernah melakukan ini sebelumnya? Kok tumben hari ini melakukan hal yang tidak pernah Mama lakukan?"
"Tadi mama lihat Bibi lagi sibuk, makanya Mama berinisiatif untuk bantu Nimas. Ya udah kalau nggak apa-apa, syukurlah kalau begitu. Mama keluar dulu."
Shaka menatap punggung ibunya yang perlahan hilang ditelan jarak. Sikap Bu Marissa benar-benar membuat Shaka semakin curiga pada ibunya.
"Tidak seharusnya kamu bicara begitu sama Mama, Mas. Niat Mama, kan cuma bantu aku. Kenapa kamu harus respon begitu?"
"Ya, Mama datang-datang panik, ya aku jadi mikir ke mana-mana lah. Lain kali hati-hati, ya. Untung aja ada aku tadi, kalau aku nggak datang tepat waktu gimana? Lain kali kalau Bibi lagi sibuk telepon aku. Udah dikasih tahu berkali-kali, kalau ada apa-apa telepon jangan diem aja. Meskipun itu hal sepele bilang sama aku." Shaka kembali menunjukkan kecemasannya dengan perhatian.
"Ya, kan tadi aku nggak ada kepikiran kalau akan jatuh. Masa aku mau mandi aja harus bilang sama kamu?"
"Iya, aku tahu nggak ada yang nyangka kamu akan jatuh. Tapi tetep aja, jangan ngapa-ngapain tanpa aku. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi, ya. Ya udah aku beresin ini dulu."
Ruangan kerja adalah tempat yang Shaka pilih. Mengunci pintu dan duduk di sofa lalu membuka laptop yang juga sudah ia hubungkan dengan CCTV kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Shaka dengan jelas melihat sang Ibu sedang mengambil sesuatu di saku celana lalu melakukan gerakan yang seperti menuangkan sesuatu ke lantai. Tidak jelas apa yang dituang karena posisi Bu Marissa yang membelakangi CCTV. Tapi, jika diperhatikan, posisi Bu Marisa menuangkan sesuatu tepat di tempat di mana Nimas hampir terjatuh.
"kenapa Mama melakukan ini sih, Ma? Kalau tidak suka dengan Nimas setidaknya jangan sakiti anaknya."
Shaka akhirnya mau tidak mau harus berpikir keras. Bagaimana caranya untuk membuat Nimas bersedia pergi dari rumah setidaknya hingga kandungannya aman untuk beraktivitas.
Ditemani dengan dentingan jam yang terus berjalan, akhirnya Shaka menemukan ide agar Nimas mengamankan kandungannya tanpa mencurigai apa pun.
Shaka berjalan ke kamar dengan mantap. Ia yakin kalau Nimas akan setuju dengan ajakannya kali ini.
__ADS_1
Saat Shaka membuka pintu, ia melihat pemandangan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Nimas yang bersandar di kepala ranjang seraya memejamkan mata. Jika Shaka tebak ia mendengarkan musik menggunakan earphone.
Senyum terukir di bibir Nimas, perutnya yang masih rata ia elus-elus dengan pelan. Hal itu juga menerbitkan senyum di bibir Shaka. Entahlah, ia hanya senang saja jika melihat pemandangan ini.
Shaka berjalan pelan dan duduk di tepian ranjang. Nimas masih tak sadar ada yang duduk di dekatnya, ia terlalu tenggelam dalam nyanyian yang entah nyanyian apa, hanya Nimas yang mendengar.
Aku nggak tahu apa yang membuat aku bahagia ketika melihat senyummu. Aku juga tidak paham apa yang membuat aku begitu overprotective ke kamu. Aku merasa tidak tenang jika kamu lepas dari pengawasanku. Apalagi dengan apa yang baru saja terjadi. Aku merasa hanya ingin di dekatmu tanpa melakukan apa pun selain menjaga kamu. Pesonamu sudah mengalihkan duniaku.
"Mas, sejak kapan kamu di sini?" Nimas melepas earphone nya begitu mengetahui Shaka ada di depannya.
"Baru, kok. Lagi enak banget kayaknya, dengerin apa?"
"Lagu buat ibu hamil. Enak ternyata, aku benar-benar rileks. Kamu dari mana? Kok lama?"
"Ada yang telepon tadi. Oh, ya Nimas. Aku ada rencana selama kamu bedrest, gimana kalau kamu aku antar pulang kampung? Di sana aku lebih tenang ninggalin kamu kerja. Yang jaga orang tua kamu, pasti di jaga dengan baik dan sepenuh hati."
"Di sini aku juga di jaga dengan baik, kok Mas."
"Iya, tapi aku nggak tenang. Kejadian barusan membuat aku takut. Kalau di rumah kamu aku jauh lebih tenang karena yang jaga orang tua kamu sendiri dan Ibu pasti sepanjang hari dri rumah, kan? Aku akan ke sana setiap weekend."
Nimas diam sebentar. Meskipun banyak pertanyaan di kepalanya, akhirnya ia mengangguk saja. Ia hanya meyakini jika apa yang di lakukan Shaka hanya untuk kebaikannya.
"Ya udah besok kita berangkat, ya."
"Besok masih hari jum'at. Kenapa nggak sekalian weekend aja?"
"Kantor punya aku, bebas aja mau ke sana apa nggak."
__ADS_1