Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
109. Obrolan Serius


__ADS_3

"Kasih dia pengertian. Kamu harus buat dia kembali terbuka seperti dulu, yang apa-apa cerita ke kamu, nggak perlu ditanya. Kasih tahu Nimas juga, ini akan sedikit sulit sih, karena Mama tahu merawat dua bayi sekaligus itu tidak mudah. Membagi waktu dengan bayi dan juga Bryan yang sepertinya pencemburu itu pasti tidak mudah."


"Tapi aku kalau kasih tahu Nimas soal ini, aku takut dia akan malah menjadi kepikiran. Terus pengaruh ke moodnya dia, pengaruh ke asinya, nanti juga belum lagi perempuan yang baru melahirkan itu rawan Baby blues. Aku serba bingung, Ma."


"Itulah gunanya kita, Shaka. Ada Mama ada ibumu, kita bisa menjaga gantian si kembar. Suruh istrimu itu perah asinya yang banyak, biar kalau siang dia bisa istirahat total. Kedua anaknya biar Mama atau Ibu mertuamu yang urus. Situasi ini pinter-pinternya kita aja, pinter-pinternya kita putar otak. Bagaimana caranya Nimas itu juga bisa istirahat dan nggak terlalu cape banget sama keadaan. Biar dia itu berpikir kalau kita, orang-orang di sekelilingnya itu membantunya, mengayominya, menjaga dia, kita harus buat dia senyaman mungkin. Bicarakan ini pelan-pelan, kalau kalian nggak membicarakan ini, Mama takut ini akan berdampak pada Bryan sendiri. Ini pasti nanti akan berkepanjangan kalau kalian nggak menjelaskan dari sekarang. Nimas kok juga bisa nggak sadar di situ ada Bryan, sih?"


"Mana aku tahu? Mungkin dia kaget dengan tangisan Mira."


"Ya udah jelasin ke Nimas pelan-pelan, jangan salahin dia, jangan tegur dia untuk perkara ini. Itu akan fatal akibatnya. Dia masih sangat-sangat sensitif. Ya udah sana bicarain sama Nimas. Kalau ada apa-apa mbok, ya cerita. Jangan dipendam sendiri, nggak akan ketemu jalan keluarnya," gumam Bu Marissa meninggalkan ruang CCTV.


Shaka hanya mendengus, ia segera bangkit dari kursinya dan berjalan keluar. Saat menuju kamar, tak sengaja ia berpapasan dengan Bryan dan Nino.


"Mau lari pagi? Kok nggak ngajak Ayah?"


"Aku pikir Ayah akan sibuk sama adik. Jadi, ya udah aku ajak Om Nino aja."


Entah kenapa ucapan Bryan yang singkat itu sedikit mencubit hatinya.


"Ayah ikut, ya tunggu dulu." Shaka bergegas ke kamar.


Saat sampai kamar, Shaka melihat Nimas yang menyusui Nisa.


"Dek, Mas nemani Bryan lari pagi dulu, ya." Shaka membuka lemari untuk berganti pakaian.


"Kan udah ditemani Nino. Tadi aku udah titip pesan ke Bryan supaya larinya ngikutin rute yang selalu kamu lewati aja."

__ADS_1


"Dek, sebenarnya Bryan itu lagi agak marah sama kita."


Nimas seketika mencetak wajah terkejut. Tentu saja ia bingung kenapa anak sulungnya itu marah padanya.


"Marah kenapa? Emang kita ngelakuin apa?" Sedetik kemudian Nimas teringat momen di rumah sakit, momen di mana perubahan Bryan sangat kentara.


"Bryan nggak marah, kan Mas? Bryan cuman sedikit berubah semenjak di rumah sakit, dia berubah, nggak marah Mas."


"Nanti akan Mas jelaskan, sekarang Mas berangkat lari dulu. Biar kamu bisa istirahat, kamu perah asi kamu sebanyak mungkin. Biar kalau lagi siang begini, kamu bisa istirahat, kamu bisa tidur. Kan kalau kamu sudah perah asi, Mama, Ibu, atau siapa pun bisa ngasih susunya kasih kembar. Jadi badan kamu juga nggak letih-letih banget."


"Iya, Mas aku juga ada rencana itu kok. Ya udah sana cepetan lari cepetan pulang, ya."


"Iya, Sayang. Jangan dipikirin apa kata Mas tadi, ya. Mas nggak mau kalau kamu banyak beban pikiran, terus pengaruh produksi asi kamu."


Tidak bisa dipungkiri, Shaka senang melihat kehangatan keluarga sekarang. Tapi kenapa kehangatan itu juga diselimuti mendung yang kapan saja akan ada petir dan hujan yang menghilangkan kehangatan itu.


Ini belum terlambat, Shaka. Pasti kamu bisa membuat Bryan kembali seperti dulu. Akan aku buat secepat mungkin mendung ini segera berlalu dari keluargaku.


"Ngobrolin apa, sih? Seru banget kayaknya." Shaka berdiri di ambang pintu dapur.


"Ngobrolin Nino yang jaman kuliah jadi playboy gara-gara pengaruh temannya. Sekarang giliran dia cari istri susah. Semacam karma dibayar kontan, ya." Bu Marissa yang menjawab.


"Umur kamu berapa, sih sekarang, No? Udah mau cari istri aja."


"Masih dua puluh empat, sih. Tapi rencananya aku tuh pengen nikah muda. Biar nanti aku sama anakku itu bedanya nggak jauh-jauh banget, maksudnya perbedaan mukanya gitu loh kak. Kayak Ayah nih, nikah muda. Lihat sekarang masih sangat terlihat muda meskipun sudah mempunyai cucu tiga."

__ADS_1


Ayah Nimas yang melintasi dapur seketika dibuat berhenti melangkah karena mendengar namanya disebut.


"Jangan samain Ayah sama kamu, lah. Ayah sabar, kamu uring-uringan. Jangan harap kamu punya muka yang awet muda kalau belum bisa sabar. Dan satu lagi, jangan berani menikahi anak orang kalau kamu belum bisa kontrol emosimu. Jangan pernah berpikir ke arah sana kalau belum mau berubah. Kamu kepentok pintu aja, pintu yang kamu tendang. Gitu kok sok-sok an nikah muda. Bikin nangis anak orang nanti," omel Ayah Nimas lalu melanjutkan langkah.


***


Keringat mulai membasahi wajah tiga laki-laki tampan yang beda generasi dan wajah itu. Matahari yang menghangatkan tubuh mulai bersinar, mereka memutuskan untuk segera pulang agar bisa melepas penat. Lama tidak melakukan olahraga membuat Nino terlihat ngos-ngosan.


Setelah istirahat beberapa lama di teras rumah, mereka masuk ke dalam dan membersihkan diri masing-masing.


"Udah pulang, Mas?" Nimas terlihat baru saja mandi.


"Anak-anak mana?"


"Lagi sama neneknya. Mau langsung mandi? Aku siapin baju kalau iya. Aku mau ke bawah."


"Bantuin Bryan dulu. Urus dia juga. Mas tahu dia udah cukup mandiri, tapi dia tetap anak kecil. Duduk dulu sini deket Mas." Shaka menepuk kasur di sebelahnya.


"Dek. Dari kemarin kita terlalu fokus sama si kembar. Tanpa kita sadari kita membuat Bryan cemburu dan merasa kehilangan kita..."


"Jadi ini yang kamu maksud marah? Bryan marah sama kita karena ini?"


Shaka mengangguk, "Sayangnya dia nggak mau jujur sama Mas. Kemarin juga dia kayak habis nangis. Dia udah mulai bohong untuk menutupi perasaannya. Ini sedikit sulit, tapi akan lebih parah keadaannya kalau kita nggak merubah mindset Bryan mulai sekarang. Jangan dipikirkan masalah ini, ya. Kita hanya perlu membuktikan ke Bryan kalau kita sayang dan cinta tanpa membedakan."


"Iya Mas, aku paham. Aku mengerti yang kamu maksud. Aku akan ke kamar Bryan sekarang."

__ADS_1


__ADS_2