Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
52. Sedikit Titik Terang


__ADS_3

Satu hari setelah kejadian itu, Shaka dipusingkan dengan bagaimana cara untuk mengetahui siapa dalang dari apa yang sudah terjadi pada Nimas.


Nimas hilang ketika pergi sama Mama. Apa itu artinya Nimas sudah diincar dari lama. Laki-laki itu tahu gerak-gerik dan aktivitas Nimas? Kalau tidak, bagaimana bisa orang itu mengambil Nimas di waktu yang tepat. Siapa yang harus aku curigai kalau aku sama sekali tidak merasakan kalau Nimas selama ini diawasi oleh seseorang? Kalau emang iya diawasi, ini bukan pertama kalinya Nimas keluar rumah dan sedikit lepas dari pengawasan, bahkan Nimas sering keluar sendirian, tapi nggak ada masalah. Kenapa ini rumit sekali?


Shaka sedang berada dirumah kerjanya. Ruangan itu adalah tempat ternyaman bagi ia untuk berpikir masalah apa pun. Hening, sepi adalah suasana dan situasi yang pas buat Shaka untuk berpikir dengan jernih.


Saat sedang tenggelam dalam lamunan dan pikirannya, terdengar pintu yang diketuk dari luar dan terdengar suara yang memanggil namanya setelah ketukan pintu itu. Shaka langsung menyuruh orang itu masuk begitu tahu yang mengetuk pintu itu adalah istrinya.


"Aku buatkan jahe untukmu. Bukannya ini masalah kita berdua? Kenapa kamu memikirkannya sendirian?"


Shaka menyeruput jahe hangat buatan istrinya yang selalu nikmat di lidah dan perutnya. Apa pun yang dibuat Istrinya selalu enak di mulut Shaka.


"Bukannya aku nggak mau melibatkan kamu. Aku akan memikirkan bagaimana caranya dulu, baru kamu memberitahumu. Tapi aku sendiri bingung, bagaimana caraku mencari tahu. Bukankah ini terlalu rumit? Orang yang bawa kamu itu, mengambil kamu di momen yang pas. Aku yakin nggak ada satu pun orang yang tahu kalau kamu dibuat nggak sadar sama seseorang. Anggap saja Mama waktu itu nggak tahu, ya. Tapi ketika ada orang lain yang melihat kejadian itu, pasti dia nggak akan diam aja, kan? Pasti dia teriak minta tolong atau apa gitu, kan? Apa yang aku katakan itu benar, Nimas? Nggak ada orang di parkiran?"


"Ya emang nggak ada Mas, cuman aku sama Mama. Apa kamu berpikir kalau yang melakukan ini adalah orang di sekitar kita? Aku gak punya musuh di luar, Mas. Aku nggak pernah punya masalah sama orang lain. Aku tinggal di Jakarta aja baru. Hubunganku sama teman-teman kerjaku dulu juga naik-baik aja. Hanya satu, sih yang aku pelajari dari yang terjadi. Ada seseorang yang ingin memecah kepercayaan kamu ke aku. Dia ingin kamu salah paham, terus kemungkinan terburuk adalah, ya kita akan...."


"Jangan diteruskan! Hal itu tidak akan pernah terjadi."

__ADS_1


Sempurna!


Pemikiran-pemikiran yang diutarakan oleh Nimas benar-benar membuat pikiran Shaka terbuka sepenuhnya. Kini ia tahu harus mencurigai siapa. Yang tidak menyukai hubungannya sejauh ini hanyalah mantan kekasihnya dan juga ibunya.


Shaka yang sempat ragu dengan perubahan ibunya sudah mulai luluh karena melihat dan juga merasa ibunya yang tidak pernah membuat ulah di depannya. Tapi selama ini ia tahu bahwa ibunya masih dekat dan menjalin hubungan baik dengan mantan kekasihnya itu. Tidak menutup kemungkinan bahwa mereka diam-diam kembali menjalin kerjasama untuk merencanakan ini.


Tidak-tidak, aku harus mencari bukti dulu. Aku harus mencari tahu siapa orang yang bermain denganku, orang pertama yang aku harus incar adalah Raisa.


"Apa kamu mencurigai seseorang?" tanya Shaka.


"Siapa yang harus aku curigai, Mas? Orang-orang yang tidak menyukai hubungan kita, kan sudah tidak pernah berbuat apa pun lagi. maksudku mereka sudah tidak mengganggu kita."


Di waktu yang bersamaan Pak Malik baru saja pulang dari luar kota. Pria itu berpapasan dengan anak menantunya di ruang tamu. Pak Malik yang akan masuk rumah, sedangkan Nimas mengantar sang suami yang akan pergi.


"Shaka kamu ini gimana? Pulang nggak kasih kabar ke Papa, nggak ngomong apa-apa, dihubungi nggak bisa," omel Pak Malik.


"Iya Pa, maaf ada urusan genting."

__ADS_1


"Persetan dengan urusanmu itu. Apa yang lebih penting dari uang?" gumam Pak Malik seraya berjalan meninggalkan sepasang suami istri itu dengan kesal.


Shaka hanya memutar bola matanya malas. Kedua orang tuanya tidak pernah berubah, selalu mengutamakan uang, uang, dan uang.


Nimas melihat ekspresi suaminya itu segera mendorongnya keluar rumah agar tidak melanjutkan omelan Ayah mertuanya. Entahlah Nimas merasa Ayah dan anak itu tidak bisa akur satu sama lain. Selalu ada saja bahan untuk debat ataupun membalas omelan masing-masing.


Nimas segera masuk kembali masuk rumah begitu mobil Shaka terlihat keluar pekarangan rumah. Wanita itu mendengar Ayah mertuanya teriak-teriak memanggil sang istri, namun nampaknya istrinya tidak menyahut atau mungkin tidak mendengar. Hal itu terlihat dari beliau yang mondar-mandir dan berteriak-teriak di lantai atas.


"Bi, lihat Mama nggak?" tanya Nimas yang berpapasan dengan Bi Ima.


"Tadi sih, Bibi lihat jalan ke kolam belakang. Udah lama sih, udah dari lima belas menitan yang lalu."


Nimas hanya meengangguk. Ia mencoba untuk mencari ke sana, siapa tahu beliau masih berada di sana dan ternyata dugaan Nimas benar. Ia melihat Ibu mertuanya sedang berdiri di pinggiran kolam dengan membuat gesture seperti sedang menelepon seseorang. Posisi Bu Marissa yang membelakangi Nimas membuat wanita itu tidak sadar, bahwa menantunya sedang berjalan ke arahnya. Nimas sengaja berjalan pelan karena ia takut mengganggu aktivitas ibunya yang sedang berbincang dengan seseorang.


"Jangan kurang ajar kamu, ya! Saya sudah memberikan uang sesuai perjanjian. Kamu sudah melaksanakan tugas dan saya juga sudah membayarnya. Jadi seharusnya sudah lunas, kenapa kamu masih meminta uang?" ucap Bu Marisa dengan bisik-bisik, namun masih terdengar di telinga Nimas.


Mendengar ucapan dari sang ibu mertua tentu saja Nimas seketika menghentikan langkahnya. Ia mengambil jarak terdekat dari tempat ibunya berdiri agar mendengar dengan jelas pembicaraannya. Kata-kata yang membuatnya curiga adalah tugas dan uang. Tugas apa? Entah kenapa pikiran Nimas ingin sekali tahu apa yang sudah dibicarakan oleh ibu mertuanya itu.

__ADS_1


"Bukankah itu sudah risiko? Kamu sudah tahu resiko apa yang akan kamu terima, kemungkinan apa yang akan terjadi padamu. Kamu sudah tahu itu. Lalu kenapa sekarang kamu masih minta ganti rugi atas sebab babak belurnya wajahmu itu? Saya sudah memberikan uang sejumlah yang kamu minta, bahkan saya tambahin untuk mengobati luka kamu itu. Sekarang kamu minta ganti rugi untuk CT Scan? Memang sekeras apa pukulan anak saya sampai kamu harus nipu saya, ha?"


Tugas, uang, pukulan anak saya?


__ADS_2