
Sore harinya, Shaka kembali menghubungi Nimas. Nomor sudah tersambung, namun tidak ada jawaban sudah berkali-kali ia menelepon, namun hasilnya sama. Nimas sama sekali tidak menjawab panggilannya.
Merasa ada yang tidak beres, Shaka segera mencari keberadaan Nimas melalui ponselnya. Dengan menggunakan nomor Nimas menggunakan aplikasi bantuan pelacak posisi.
"Hotel? Ngapain Nimas ke hotel?" Rasa terkejut sekaligus bingung langsung menyapa Shaka.
Tidak berselang lama, ponsel Saka berdering dengan panjang. Ia menggeser tombol hijau begitu melihat nama sang Ibu di layar.
"Shaka Nimas hilang, tadi pagi Mama ngajak dia ke mall. Begitu sampai di mall, Mama ada telepon. Mama tinggal sebentar, tapi begitu Mama kembali, dia udah nggak ada di mobil, dia udah nggak ada di parkiran. Mama udah mencoba untuk menghubungi nomornya tapi nggak aktif. Ini gimana Shaka? Mama minta maaf udah membuat istrimu hilang. Mam minta maaf, Mama nggak ada maksud untuk nggak menjaga istrimu." Bu Marissa ngatakan itu dengan nada sesenggukan.
"Apa? Kenapa Mama nggak ngasih kabar aku dari tadi?!" Saka menutup sambungan teleponnya lalu bergegas pulang. Saking paniknya ia sampai lupa memberi tahu sang Ayah.
Pikirannya sudah tidak karuan, Shaka tak bisa lagi berpikir yang jernih. Untuk beberapa menit ia melupakan bahwa ia mengetahui posisi Nimas yang berada di hotel.
Dalam hati hanya untaian doa yang bisa ia panjatkan. Pikirannya terbelah antara keselamatan Nimas dan juga jalanan yang masih ramai, karena saat ini jam pulang orang-orang beraktivitas.
Tenang Shaka tenang, kamu harus tenang. Kamu harus percaya bahwa Nimas bisa menjaga diri. Iya, dia pasti baik-baik saja.
Saat di tengah jalan, tak sengaja matanya menatap bangunan yang bernama hotel. Menatap bangunan itu membuat ia ingat bahwa tadi sempat melihat posisi Nimas yang berada di hotel.
__ADS_1
"Hotel? Iya, Nimas sekarang posisinya sedang berada di hotel."
Shaka membuka ponsel dan mencari aplikasi petunjuk arah. Ia mencari hotel yang disebutkan di layar ponselnya tadi. Di saat bersamaan, Bu Marissa kembali menghubungi Shaka.
"Halo Shaka, Nimas ada di hotel merpati. Mama barusan cek di aplikasi pelacak posisi. Mama mau ke sana sekarang."
"Jangan, Ma. Aku takut dia dalam bahaya, Mama di rumah aja. Aku udah di perjalanan mau ke sana. Udah, ya Ma. Kau fokus ke jalan dulu. Secepatnya aku akan bawa Nimas pulang." Sambungan terputus setelah itu.
Mau berapa pun kecepatan yang dilakukan oleh Shaka, ia akan tetap sampai di hotel itu malam hari. Jarak tempuh antar kota yang ia lalui sekitar dua sampai tiga jam.
Semenjak di rumah, Bu Marissa terus memastikan agar Nimas tak bangun lebih dulu sebelum Shaka datang. Wanita itu menghempaskan tubuhnya di sofa dengan wajahnya yang puas, bahagia, dan bibirnya terulas senyum liciknya.
"Sekarang saatnya aku berendam di kamar mandi. Aku harus segar dan rileks untuk menikmati pertunjukan sepasang suami istri yang akan bertengkar hebat itu."
Entah pikiran dan ide dari mana, ia mencoba untuk kembali menggunakan aplikasi yang baru saja ia gunakan. Barangkali ia bisa menemukan letak persisnya posisi sang istri. Beberapa lama melihat dan meneliti, rupanya Shaka tak bisa menyusuri posisi Nimas lebih tepatnya di mana. Shaka akhirnya nekat mencoba untuk mencari tahu melalui resepsionis.
Sementara di dalam sebuah kamar, Nimas dengan perlahan berusaha membuka mata. Ia menatap sekeliling, atap yang begitu asing di matanya, dinding yang tidak pernah ia lihat, dan barang-barang yang begitu asing di matanya. Jantungnya terasa terlepas dari tubuhnya ketika ia melihat sosok pria yang sedang tidur di sampingnya dengan satu selimut yang sama dengan dirinya. Tanpa pikir panjang ia segera bangkit dan meraba tubuhnya yang masih utuh dengan pakaian.
Dan di detik berikutnya tiba-tiba pintu terbuka dengan keras. Pria yang tadinya memejamkan mata seketika terduduk sejajar dengan Nimas.
__ADS_1
Untuk beberapa saat Shaka dan kedua manusia yang duduk di atas ranjang itu saling tatap dalam keadaan hening. Melihat pemandangan seorang wanita dan pria duduk di atas ranjang dalam satu ruangan, tidak ada manusia yang tidak salah paham jika melihat pemandangan seperti. Tidak terkecuali Shaka. Pria itu mengepalkan kedua tangannya dengan sekuat tenaga. Rahangnya sudah sangat mengerat, wajahnya memerah menahan amarah.
Nimas yang tidak pernah melihat ekspresi Shaka seperti itu menjadi sangat takut. Saking takutnya, ia tidak bisa berkata-kata bahkan hanya untuk menyebutkan nama suaminya.
Sejurus kemudian, Shaka berjalan ke arah ranjang dan memberikan pukulan itu bertubi-tubi pada pria yang satu ranjang dengan istrinya itu. Pria itu sama sekali tak melawan, ia ingat bahwa ia mendapat pesan dari Bu Marissa untuk tidak membalas apapun yang akan dilakukan oleh Shaka nantinya. Tetu saja pria itu patuh dengan syarat bayaran yang terlampaui besar hanya untuk tidur dengan seseorang beberapa jam saja.
"Siapa kau? Beraninya kau bawa istriku ke sini!"
Bugh!
Bugh!
Entah sudah berapa kali Shaka membuat babak belur pria itu. Nimas uang ketakutan hanya bisa menjauh dari ranjang dan berdiri di sudut ruangan ia terlalu syok dengan keadaan yang menimpa dirinya, rasanya apa yang terjadi di depan mata berjalan begitu cepat.
"JAWAB AKU! KAU SIAPA?!" bentak Shaka yang terdengar menggelegar.
Suara yang begitu tinggi membuat Nimas tersentak. Dan dari suara itu mengundang beberapa karyawan hotel yang berhamburan ke kamar Nimas. Mereka berusaha untuk menenangkan Shaka yang sedang kesetanan.
Nimas seperti melihat diri Shaka yang lain malam ini, benar-benar ia seperti tak mengenali pria itu. Butuh waktunya yang sedikit lama bagi petugas hotel untuk menenangkan Shaka. Akhirnya jalan terakhir yang ditempuh oleh mereka adalah meminta pria itu untuk pergi. Shaka masih berusaha untuk mencegah, namun dirinya yang kalah jumlah dengan petugas hotel nampak kalah dan akhirnya mau tak mau membiarkan pria itu pergi.
__ADS_1
Sekarang tinggalah Shaka dan Nimas yang berada dalam satu atap yang sama. Nimas masih berada di salah satu sudut ruangan dengan menahan takut dan air mata. Masih dengan tatapan tajamnya, Shaka berjalan mendekati Nimas. Nafas wanita itu sudah naik turun tak beraturan. Ia begitu ketakutan.
Begitu sampai di depan Nimas, Shaka meraih tangan Nimas dan menggeretnya keluar kamar tanpa sepatah kata pun yang keluar.