Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
66. Muhammad Bryan Bagaskara


__ADS_3

"Mas, lama banget aku juga mau lihat. Curang banget kamu," protes Nimas yang sejak tadi menunggu anaknya untuk diberikan padanya. Namun, pria itu seakan tidak mengerti jika istrinya menunggu.


"Bentar dong, Dek. Dia nggak minta susu lagian, dia anteng tidur."


"Tapi harus tetap diberi asi dulu, Shaka. Nanti kamu bisa gendong sepuasnya," sahut Ibu Nimas.


Ibu Nimas mendekati cucu yang berada dalam dekapan sang menantu. Wajahnya terlihat tampan dan entah mirip siapa. Wajah Nimas sama sekali tidak menurun di anaknya.


"Wajahnya mirip Kakak saya, Bu," kata Shaka yang seakan mengerti apa yang ada di pikiran Ibu mertuanya.


"Oh, sini Ibu kasih ke Nimas, biar disusui dulu, ya."


Dengan setengah Shaka menyerahkan bayi mungil itu kepada Ibu mertuanya. Ia akhirnya segera keluar ruangan , rasanya tidak enak jika harus melihat Nimas yang menyusui anaknya di depan kedua orang tuanya dan ia berada di sana. Mungkin jika hanya berdua tidak akan menjadi masalah, begitu kira-kira jika pikiran Shaka sedang bekerja.


"Masya Allah gantengnya anak Bunda."


Mata Nimas tidak pernah kalah berbinar dengan Shaka tadi. Ia tidak henti-hentinya memuja dan mengelus-elus pipi yang terlihat gembul itu, matanya berkaca-kaca karena saking terharunya dan masih terasa tidak percaya jika ia berhasil menjadi seorang ibu.


"Mau di kasih nama siapa?" tanya Ibu Nimas.


"Aku masih bingung, aku sama Mas Shaka malah belum menyiapkan nama, kami sibuk sama kehidupan ka..." Nimas seketika menghentikan kalimatnya lantaran sadar ia hampir saja keceplosan mengenai kehidupan barunya.


Nimas ingat betul, Shaka pernah mengatakan ia tidak ingin kedua orang tua Nimas tahu soal ini. Sebisa mungkin ia harus merahasiakan kondisinya yang sekarang. Ia tak mau jika apa yang mereka alami malah menambah beban pikiran kedua orang tua Nimas.


"Kehidupan apa, Nimas? Kehidupan siapa?"


"Nggak kok, Bu. Maksudnya aku perubahan kehidupan aku setelah hamil. Aku banyak berubah karena dipengaruhi hormon. Aku sedikit merepotkannya. Itu saja."


Ibu Nimas hanya mengangguk-angguk meskipun beliau ragu dengan jawaban anaknya. Beliau juga sebenarnya juga ingin tahu bagaimana hubungannya dengan sang mertua. Apakah hubungan mereka tetap berjalan tidak baik setelah kelahiran cucunya? Namun, jika dilihat kondisi sekarang yang sama sekali tidak nampak hayang hidung besannya, membuat Ibu Nimas ragu untuk bertanya. Beliau takut jika pertanyaan yang beliau lontarkan malah membuat Nimas sedih dan kepikiran dengan nasibnya.


Tak berselang lama, Shaka muncul dengan satu kantong kresek di tangannya. Ada beberapa bungkus makanan di dalam kresek itu. Ia membelukan semua orang makan pagi dengan lauk sederhana.


Ada rasa sakit di hati Shaka saat tidak bisa memanjakan mertuanya seperti beberapa bulan lalu. Tapi mau bagaimana lagi? Shaka yang sekarang bukan Shaka yang dulu dari segi ekonomi.

__ADS_1


"Makasih, ya Nak," kata Ibu Nimas.


"Iya, Bu sama-sama. Maaf, ya Bu. Saya beliin makanan yang sama seperti Nimas, nanti kalau saya beli beda, dia iri kenapa beli beda."


"Iya, nggak apa-apa. Lagian ini makanan sehat. Kamu pikir kita makanannya apa? Kita dari kampung, tentu saja makanan yang kita makan juga sederhana begini. Jangan sungkan kalau kamu memberi hal sederhana pada seseorang. Sederhana bagi kamu, belum tentu bagi orang yang kamu beri. Ayo kita makan bersama!" sahut Ayah Nimas.


Nimas hanya menatap nanar suaminya, ia tahu apa yang terucap di mulutnya bukan alasan yang sesungguhnya. Meskipun yang dikatakan Shaka adalah hal kebohongan, ia tak mempermasalahkan hal itu. Justru ia salut pada suaminya, ia beruntung punya Shaka dalam hidupnya. Walau sekarang hidupnya sederhana, rasa pedulinya terhadap keluarga tetap ia nomor satukan.


Semua orang makan dengan hikmat, termasuk Nimas yang begitu menikmati makanannya sebagai seseorang yang menyandang status baru.


"Mau dikasih nama siapa, Ka?" Ibu Nimas yang bertanya.


"Muhammad Bryan Bagaskara. Bisa dipanggil Bryan."


Mendengar nama yang disebut membuat Nimas ketika tersedak. Bagaimana tidak? Suaminya memberi nama anaknya itu sama dengan nama ayah kandungnya.


Kedua orang tua Nimas tidak menyadari hal itu, karena memang mereka tidak pernah tahu siapa nama ayah kandung dari anak yang baru saja lahir itu.


"Bagus. Apa artinya?"


Shaka lalu melirik Nimas yang masih berusaha menetralkan keterkejutannya. Pria itu hanya menampakkan senyum yang tak terbaca oleh mata.


Di hari yang matahari sudah sedikit meninggi. Kedua orang tua Nimas izin pulang karena harus membuat brokohan (tradisi Jawa untuk menyambut kelahiran seorang bayi. Kalau di tempat aku, masak beberapa nasi kotak lalu dibagikan ke tetangga sekitar).


Shaka tentu saja menawarkan diri untuk mengantar mereka. Tapi kedua orang tua itu menolak, karena mereka merasa bisa pulang sendiri. Lagipula Nimas lebih butuh Shaka dari pada mereka.


"Ya sudah kalau gitu, saya antar ke depan. Saya pesankan taksi online, ya. Biar kami juga tenang."


"Kami merepotkan kamu jadinya."


"Tentu saja tidak, Bu. Seharusnya saya yang nganter kalian karena saya yang bawa kalian ke sini."


Mereka berjalan menyusuri lorong yang tadi mereka lewati. Shaka itu saja seraya mengotak-atik ponselnya untuk menghubungi salah satu temannya agar mau mengantar kedua mertuanya hingga pulang ke rumah.

__ADS_1


Tidak terlalu lama mereka menunggu akhirnya teman Shaka sampai di lokasi. Tidak lupa ia sekalian memberikan ongkos pada temannya itu.


"Antar sampai rumah dan pastikan mereka masuk rumah dengan aman. Kalau nggak, duit gue tarik balik," bisik Shaka pada temannya.


"Iya gampang. Bawel banget jadi laki."


Mereka akhirnya terpisah di halaman rumah sakit. Kedua orang tua Nimas yang sempat melihat interaksi antara Shaka dan supir taksi online yang mengantarnya itu membuat mereka bertanya-tanya. Apakah mereka saling kenal karena mereka terlihat bukan seperti orang yang baru pertama kali bertemu.


"Mas kenal, ya sama menantu saya?" tanya Ayah Nimas.


"Oh, Shaka menantu Bapak dan Ibu? Ya, Jelas saya kenal, kan saya teman kerjanya."


Jawaban yang dilontarkan oleh pria itu membuat kedua orang tua Nimas saling tatap seketika.


"Maksudnya teman kerja?"


"Ya maksudnya saya dan Shaka teman se profesi. Baru beberapa hari ini, sih Shaka menjadi sopir taksi online."


Supir taksi online? Shaka? Apa yang terjadi?


***


"Mas, kenapa kamu kasih nama dia Bryan juga? Apa itu nggak menyakitkan? Pemilik nama sebelummya sudah meninggal, apa tidak membuka lama bagi yang mengenalnya?"


"Kamu terluka mendengar nama itu?"


"Bukannya gitu, tapi itu kayak membangunkan kenangan yang seharusnya sudah nggak ada, maksudku kenangan yang seharusnya tidak dikenang."


"Kamu keberatan dengan nama itu? Kamu masih mencintainya?"


"Mas, Bryan itu cinta pertamaku, kami berpisah bukan karena pertengkaran, selingkuhan, perselisihan, atau apa pun. kami berpisah karena alam kami yang sudah berbeda. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan itu dalam waktu sekejap. Aku memang masih mencintainya, tapi aku juga mencintai kamu, Mas. Cinta aku ke kamu, cinta aku Bryan, itu cintanya udah beda. Baik kamu ataupun kakakmu itu akan tetap ada di hati aku. Tempat kamu dan tempat Bryan itu beda. Tapi kamu dan dia itu sama-sama ada dalam kehidupan dan hati aku."


"Iya, Dek. Aku paham kok maksud kamu. Aku nggak akan pernah minta kamu untuk melupakan, benar-benar lupa sama Kak Brian. Mau kamu lupakan kayak apa juga kamu nggak akan pernah bisa lupa, karena kamu dan dia sudah meninggalkan kenangan. Aku memberi nama itu karena dia sangat mirip dengan kakakku. Lagi pula nama itu tidak buruk, Dek. Jangan permasalahkan nama selagi nama itu masih baik, masih mengandung doa yang baik untuk dia."

__ADS_1


Tak berselang lama terdengar suara tangisan Bryan. Shaka segera mengambil bayi itu dan membawa pada Nimas.


"Kamu jangan kesel gitu dong, Dek mukanya. Bryan jadi nangis, tuh. Ikatan batin antara anak dan ibu itu kuat. Kamu sedih, nangis, marah, kesel, bahagia, Bryan juga akan ikut merasakan. Kasihan dong, Dek dia dari dalam perut kamu udah tertekan sama keadaan."


__ADS_2