
Nimas keluar kamar mandi dengan wajah masamnya. Ada sebabnya ia memasang wajah masam seperti ini. Apalagi kalau bukan karena benda kecil yang sejak beberapa tahun yang lalu menjadi benda keramat baginya. Jika dahulu ia sangat trauma dengan garis dua yang terpampang nyata di benda itu, kini sebaliknya. Ia sangat merindukan ada garis dua di dalamnya.
"Jangan stress Nimas, jangan stress!" Nimas berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Sudah satu minggu ini Nimas terlambat datang bulan. Ia mengira bahwa dirinya tengah berbadan dua. Itu sebabnya ia dengan percaya diri melakukan testpack. Namun rupanya kepercayaan diri itu tidak menghasilkan sesuai harapannya.
Saat sedang mengembalikan moodnya seperti sedia kala, telepon yang ia letakkan di atas kasur berdering dengan nyaring. Senyumnya mengembang dengan sempurna begitu melihat nama kontak yang berada di ponselnya.
"Selamat pagi, nyonya Shaka. Sudahkah nyonya merindukan Mas hari ini? Sudah tiga hari kita hanya melihat wajah dari layar. Mas merindukan sesuatu."
Ya, Shaka sudah tiga hari ini melalukan perjalanan dinas ke beberapa kota. Bisa jadi akan beberapa minggu ia dan istrinya tidak akan bersua.
"Aku tahu apa yang kamu rindukan. Ini masih pagi, jangan genit dan memancing. Cepat selesaikan pekerjaanmu dan pulanglah jika kamu memang merindukan aku."
"Iya nyonya, iya. Sedang Mas usahakan. Ya udah Mas tutup teleponnya, ya. Kamu jangan cape-cape. Tetap jaga kesehatan buat Mas sama Bryan. Nanti jam istirahat standby dekat hape, ya."
"Iya, Mas."
Selama terpisah, Shaka selalu menghubungi istrinya tiga kali sehari. Sudah seperti hal wajib yang harus ia lakukan untuk pengobat rindu.
Setelah selesai dengan rutinitasnya, Numas turun dari kamar dan menuju sarangnya yang kedua, yakni dapur.
"Papa dari mana? Kok udah dari luar?" tanya Nimas saat melihat Ayah mertuanya mengambil air minum dan kursi rodanya menghadap seolah beliau baru saja dari luar rumah.
"Berjemur, sudah lama Papa nggak berjemur. Papa bisa bangun sepagi ini juga karena dibangunin sama Bryan tadi."
__ADS_1
"Bryan?" ulang Nimas meyakinkan pendengarannya.
"Iya, sekarang masih ada di taman samping rumah sama Mama, diajak nyiram tanaman."
Nimas hanya mengangguk, ia biarkan Bryan dengan neneknya. Ia merasa sejak kedatangannya ke sini, hanya dirinya yang tidak diterima oleh Bu Marissa. Bryan cukup mendapatkan perlakuan baik dari wanita itu.
Padahal pada kenyataannya, Bu Marissa tidaklah seperti yang terlihat di mata Nimas. Lambat laun beliau memang menerima Bryan, namun tidak bersama ibunya. Wanita itu masih berancang-ancang untuk melakukan apa yang pernah terpikir di kepalanya sejak niatan Nimas dan Shaka pihak ke rumahnya. Beliau ingin menciptakan jarak antara Ibu dan anak itu, agar Nimas merasakan apa yang pernah beliau rasakan. Jauh dari anak adalah sebuah hal yang menyakitkan. Dan hingga kini, Bu Marissa masih menganggap bahwa Nimas adalah penyebab satu-satunya beliau jauh dari Shaka.
"Bryan, kamu pernah sadar nggak kalau wajah kamu ini, kan nggak mirip sama Ayah dan Bunda?"
"Banyak temanku yang bilang itu, Oma. Tapi pas aku tanya Ayah kenapa wajah aku beda dari mereka, katanya aku mirip sama kakaknya Ayah. Nyebutnya gimana, ya aku lupa." Bryan mencetak wajah sedang berpikir keras. "Pakde," Katanya sedikit berteriak karena berhasil mengingat sesuatu.
"Iya, kamu benar. Kamu memang mirip dengan kakaknya Ayah. Tapi manggilnya kamu bukan Pakde."
"Kamu udah dibohongi sama Bunda. Ayah Shaka bukan Ayah kandung kamu, tapi ayah kandung kamu itu kakaknya Ayah Shaka. Makanya Ayah Shaka bilang kamu itu mirip Pakde karena memang kamu itu anaknya Kakak Shaka. Oma kasih lihat, ya bagaimana wajah dari orang yang kamu panggil Pakde itu." Bu Marissa mengambil ponsel yang berada di kursi taman lalu mengotak-atik layarnya mencari foto anak sulungnya.
"Tuh, kan kamu mirip sama orang yang ada di foto ini? Karena memang ini Ayah kandung kamu. Ayah Shaka bukan Ayah kandung kamu. Ayah dan Bunda menikah ketika kamu sudah ada di dalam perut."
Bryan memperhatikan layar gawai yang diarahkan padanya.
"Jadi aku bukan anak Ayah? Terus orang ini ayahku? Sekatang dia ada di mana?"
"Ayah kandung kamu sudah meninggal saat kamu masih dalam perut Bunda. Kamu nggak pernah tahu ini, kan? Bunda memang jahat, bagaimana bisa dia membohongi kamu seperti ini."
Tanpa mereka sadari Nimas ternyata sudah berdiri tidak jauh dari mereka. Dan ia mendengar semua kalimat yang Bu Marissa ucapkan terakhir kali. Ia merasa tubuhnya sedikit gemetar. Refleks wanita itu meremas yang sedang ia kenakan.
__ADS_1
"Bryan, masuk sekarang, Sayang! Kamu haru mandi, waktunya kamu sekolah sekarang."
Anak itu berjalan meninggalkan taman tanpa menjawab ucapan ibunya. Di usianya yang masih tujuh tahun, ia dipaksa untuk mencerna kalimat yang dilontarkan neneknya. Sepanjang perjalanan menuju kamar, yang ada dalam pikirannya adalah ia bukan anak ayahnya. Ayah kandungnya sudah meninggal dan tidak ada yang memberitahunya.
"Ayah Shaka bukan Ayah kandungmu!" Kalimat dari Bu Marissa terus saja terngiang di telinga anak kecil yang tumbuh tampan dan pintar itu.
Sementara itu, Nimas berjalan ke arah Ibu mertuanya dengan santai meskipun dadanya sedang bergemuruh hebat.
"Ada masalah apa Mama sama Bryan sampai Mama bicara seperti itu pada anak yang masih berusia tujuh tahun?"
"Nggak ada masalah apa-apa. Memang salahnya di mana kalau saya bicara begitu. Benar, kan apa yang saya katakan? Saya tidak sedang mengarang cerita," jawab Bu Marisa dengan entengnya.
"Memang benar, apa yang Mama katakan tidak salah dan memang itu kenyataannya. Tapi haruskah Mama bicara seperti itu? Pada anak yang masih sekecil Bryan, Mama bicara hal sebesar itu? Main ini perempuan, tapi aku nggak tahu di mana letak hati Mama. Setidaknya kalau Mama benci sama aku, ya udah benci aja sama aku! Hangan ikutjan anakku anakku itu darah daging Mama, ada garis keturunan dari Mama. Anak sekecil itu mana bisa mencerna kalimat Mama. Oke, mungkin iya dia bisa mencerna itu dia bisa mengerti dengan apa yang Mama katakan. Tapi dia nggak ngerti alasan kami sebagai orang tua menyembunyikan ini. Apa yang Mama lakukan itu jaha. Mama berusaha menjauhkan aku dari anakku sendiri. Mama memengaruhi anakku supaya anakku berpikir kalau ibunya jahat?"
"Bukannya itu pernah kamu lakukan terhadap anak saya?"
"Apa yang pernah saya lakukan ke Mas Shaka sampai anak Mama jauh dari Mama? Apa yang membuat anak Mama jauh dari Mama itu karena ulah Mama sendiri, bukan saya!" Nimas mulai meninggikan suaranya.
"Mana ada seorang Ibu yang menjebak menantunya sendiri tidur dengan laki-laki lain agar terjadi kesalahpahaman antara menantu dan juga anaknya. Hal yang salah kalau Mas Shaka tetap membela Mama dalam kesalahan. Dan satu lagi, Mas Shaka memutuskan pergi dari rumah waktu itu karena tindakan Mama sendiri yang keterlaluan. Apakah ada pengaruh dari saya atau saya meminta Mas Shaka untuk pergi dari sini? Saya membujuk Mas Shaka untuk pergi dari rumah? Nggak, kan?"
"Turunkan nada bicaramu, Nimas!" ujar Bu Marissa emosi mengangkat jari telunjuknya.
"Turunkan juga jari Anda! Atau saya yang akan mematahkannya!"
Keduanya lalu diam, hanya tatapan saling membunuh yang mereka lempar dari sorot mata masing-masing.
__ADS_1