Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
114. Dua Tahun Berikutnya


__ADS_3

Nino berpikir sepertinya membutuhkan waktu untuk meyakinkan sang Ayah yang kekeh dengan argumennya. Ia tidak bisa memaksakan sekarang, harus pelan-pelan dan butuh kesabaran. Mengambil jalan tengah dalam suatu permasalahan memang harus pelan dan dipikirkan dengan tenang.


"Apa kamu serius mau bekerja dengan Kakak iparmu?" Ibunya yang bertanya.


"Apa yang membuat aku ragu, Bu? Bukankah pekerjaan di kantor itu bagus? Mungkin memang aku kuliah nggak di jurusan itu, tapi setidaknya aku bisa belajar. Kenapa Ibu jadi seperti berat memikirkan ini? Aku mohon, Bu jangan pikirkan ini terlalu berat. Ini aku hanya menyampaikan tawaran dari Kak Shaka. Dan aku hanya punya pilihan mau dan tidak. Kalau aku mau, aku harus membawa kalian berdua juga, tapi kalau kalian nggak mau ikut aku ke sini, ya udah aku akan terus melanjutkan pekerjaan aku di kampung. Udah, aku juga nggak pengangguran di sana, kan simple, Bu. Jangan dipikirkan!"


"Ibu ini sebenarnya juga mau kalau kamu maju, kalau kamu kerja di kampung nggak akan maju-maju. Percuma dong kuliah empat tahun."


"Mana ada sekolah yang percuma, Bu? Ada-ada aja ngomongnya," sahut Ayah Nino.


"Ya Bapak nggak mau dukung kemauan anak. Anak mau sukses, mau maju malah Bapak kekeh sama kerjaan Bapak itu."


"Ya, kan Bapak tadi udah bilang nggak apa-apa Nino kerja di sini, tapi kalau kita ikut, ya lebih baik jangan dulu. Mana ada kata-kata bapak yang larang Nino untuk kerja di sini."


"Ya, kan Bapak tahu maunya Nino apa? Bapak tahu kemauan Nino apa, tapi Bapak tetap kekeh sama argumen Bapak itu namanya apa?"


Nino menepuk keningnya pelan, maksud dirinya menyampaikan ini untuk mendapatkan solusi yang terbaik, malah jadi adu mulut antara kedua orang tuanya. Mereka sama-sama kekeh dalam pendapat mereka masing-masing. Nino yang ingin jalan tengah terbaik malah mendengar mereka yang adu argumen. Yang satu tidak mau jadi beban, dan yang satu ingin dirinya bisa maju.


"Sudah cukup Ayah, Ibu. Di samping kamar kalian ini ada kamar Mama sama papanya Kak Shaka, nggak enak kalau sama mereka dengar keributan kita. Baiklah, akan aku putuskan kalau aku tidak akan kemana-mana. Jadi stop bertengkar sampai sini dan kalian sekarang tidur, kita besok akan pulang."


Nino beranjak dari kamar kedua orang tuanya dan pergi ke kamar. Di tengah perjalanan, ponsel yang berada dalam sakunya berdering-dering. Ia mengerutkan kening begitu membaca nama si penelepon. Tumben sekali, pikirnya salah hati.


"Iya, By? Ada yang membuatmu telepon aku malam-malam begini?"


"Kangen. Kamu akhir-akhir ini sibuk dengan keluarga dan kerjaan kamu."

__ADS_1


"Iya, maaf. Kan aku kerja juga buat lamar kamu, katanya mau di lamar."


Nino yang hendak ke kemar akhirnya melipir ke ruang tengah, tak mungkin ia bicara dengan kekasihnya di kamar Bryan.


"Iya, buruan nanti aku diambil orang."


"Orang nggak akan ambil kamu kalau kamu juga nggak mau. Apa kamu tidak terlalu muda untuk menikah? Kamu baru dua puluh tahun, By. Sabar, kan nunggu dua atau tiga tahun lagi baru aku lamar. Yah, biar usia kita juga cukup untuk menikah. Maksudnya nggak terlalu muda dan tua. Menikah juga butuh biaya. Nggak cuman pas acaranya, tapi keseharian setelah menikah gimana? Itu yang paling penting."


"Iya By, paham kok aku. Aku akan sabar nunggu kamu asal kamu nggak pergi jauh."


"Maksudnya?"


"Tetangga aku ada yang suaminya merantau, pulang-pulang minta pisah sama istrinya karena kepincut wanita lain di kota. Itulah kenapa aku semakin nggak mau kamu merantau, yang udah nikah aja bisa semudah itu memutuskan hubungan. Apalagi yang kayak kita gini?"


"Jadi kamu mengukur kesetiaanku sama dengan tetanggamu itu? Setiap orang itu punya kadar kesetiaan yang berbeda-beda, By. Tergantung imannya gimana. Kamu nggak bisa menyamakan aku sama semua orang, sama semua laki-laki. Kamu mau aku samakan sama perempuan di luaran sana?"


"Kok kamu jadi marah? Kan aku cuman menyampaikan kekhawatiran aku. Aku hanya takut, kok kamu ngomongnya gitu?"


"Aku nggak marah, aku cuman ngasih tahu kamu."


Tuuut tuuut


"By, by! Astaga apa semua perempuan begini? Kenapa mereka membesarkan sesuatu yang kecil." Nino mengomel seraya kembali mengubungi kekasihnya lagi. Namun, nomernya sudah tidak aktif dan akhirnya Nino memutuskan untuk tidur saja.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, semua orang berkumpul di teras untuk mengantar keluarga Nimas kembali ke kampung. Ada wajah berat meninggalkan cucunya di wajah Ibu Nimas dan air muka itu terbaca oleh Bu Marissa.


"Kalau kangen sama anak-anak kabari saja kami, Bu. Biar supir yang jemput. Nahan kangen sama cucu itu nggak enak. Lebih mudah nahan kangen ke anak dari pada cucu."


"Iya, Bu. Terima kasih tawarannya, rasanya kok terlalu merepot kalau seperti itu."


"Pindah ke sini lebih bagus, Bu. Nanti akan saya carikan rumah untuk kalian. Di usia yang seperti ini akan lebih baik jika tidak jauh-jauh dari anak cucu. Kita sebagai anak juga pengennya bisa kumpul terus."


Ayah Nimas merasa semua orang sedang membicarakan dirinya yang tidak ingin pindah. Tapi, kan beliau bicara seperti itu hanya pada Nino, apa Nino sedang meminta bala bantuan untuk mewujudkan apa keinginannya? Pikiran Ayah Nimas jadi tidak fokus saat ini.


"Nanti akan ada saatnya kita bisa pindah ke sini kok, Kak."


Setelah perbincangan singkat itu mereka pamit undur diri untuk pulang. Mereka pulang dengan diantar oleh supir pribadi keluarga Narendra.


Mereka pulang dengan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Namun, tidak ada di antara mereka kembali membuka suara perihal pindah rumah. Dan persoalan itu ternyata menguap begitu saja hingga dua tahun berikutnya.


Usia Nino yang menginjak dua puluh enam tahun, ia ternyata mulai bosan dengan rutinitas yang entah berapa tahun ia lalui. Bahkan bukan hanya dirinya yang bosan, kekasihnya juga bosan dengan hubungan yang tidak ada kemajuan, sementara Nino menunggu waktu yang tepat untuk menikah. Bukan hanya perkara ekonomi, tapi kesiapan fisik dan mental juga perlu untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius dan hubungan sakral seperti pernikahan.


"Kamu nunggu apa sih, By? Kita udah pacaran lama. Orang tua aku terus nanyain kapan kamu lamar aku? Kamu kesannya kayak nggak serius sama aku. Aku nggak butuh pesta besar."


"Aku paham By, paham banget kalau kamu nggak butuh itu. Tunggulah sebentar lagi, ya biar aku bisa bahagiain kamu nggak cuma di pesta aja, tapi kehidupan setelah pernikahan aku juga bisa bahagiain kamu. Aku tahu kebahagiaan kita itu nggak ditentukan oleh uang, aku tahu, aku paham. Kehidupan setelah pernikahan itu nggak cuman kebahagiaan yang kita dapatkan, tapi ada juga masalah atau ujian-ujian dan aku mau kita kuat untuk menghadapi itu. Dan itu perlu kekuatan fisik dan mental yang cukup. Sayang, kan sama aku?"


"Setelah kita menjalin hubungan bertahun-tahun dan kamu masih menanyakan aku sayang kamu apa nggak? Nggak lucu, By! Empat tahun kita bareng-bareng dan kamu masih tanya itu. Kebangetan!"


Kekasih Nino merasa pembicaraan mereka kali ini tidak membuahkan hasil apa pun selain pertengkaran, akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Nino seorang diri di rumah makan sederhana itu.

__ADS_1


__ADS_2