
Shaka berjalan dengan malas, di sepanjang koridor rumah sakit ia menampilkan wajah dinginnya. Jika sudah begini, siapa pun yang melihat akan berpikir dua kali meski hanya sekedar menyapa. Ya, Shaka memang nampak garang jika ia memperlihatkan wajah dinginnya. Padahal, tidak ada yang berubah di diri pria itu. Ia tetap ke jadi Shaka yang punya hati baik dan pandai menekan emosi agar tidak terlalu meledak ke mana-mana.
Lama Shaka berjalan, akhirnya pria itu menemukan di mana kamar rawat Raisa. Nampak ada sang Ibu yang duduk di sana sendirian. Mungkin menunggu dirinya, terka Shaka.
"Shaka, akhirnya kamu datang juga. Ayo masuk! Raisa sudah menunggumu, dari tadi dia nangis terus." Bu Marisa meraih tangan Shaka dan hendak menggeretnya, namun tangan kekar pria itu menahan Bu Marisa agar tidak lebih dulu berjalan.
"Ada apa lagi?" tanya Bu Marissa.
"Ma aku nggak mau masuk, ini salah. Apa yang akan kita lakukan ini salah."
"Salahnya dari mana Shaka? Kamu cuman menemui Raisa dan memberikan semangat. Biar dia bisa menghadapi ini, syukur-syukur kalau kamu bisa mendampingi dia sampai dia bisa berjalan lagi. Dia begitu terpuruk dengan keadaannya. Ini pasti tidak mudah untuk Raisa."
"Ini tugas orang tuanya bukan tugas aku!" Shaka masih mencoba untuk menolak dengan cara yang baik. Tutur katanya pun masih ia buat dengan selembut mungkin.
"Orang tuanya itu lagi di luar negeri, mereka ada urusan di sana. Lagi pula yang dicari Raisa itu kamu. Masa kamu tega, sih nggak mau nemuin dia?"
"Bukan masalah... "
Belum selesai Shaka menyelesaikan kalimatnya, tangan bu Marissa sudah meraih tangannya dan menggeretnya untuk masuk ke dalam. Gerakan yang tiba-tiba membuat Shaka tidak sempat untuk menolak atau setidaknya mempertahankan diri untuk tak ikut terbawa oleh tarikan ibunya.
"Raisa, lihat siapa yang datang," kata Bu Marissa sumringah.
__ADS_1
Raisa yang semula memejamkan mata entah sedang tidur atau sedang merilekskan diri, seketika membuaka mata dengan cepat, seakan ia tahu siapa yang datang tanpa Bu Marissa menyebutkan nama.
Wajah sumringah langsung tercetak jelas di wajah Raisa. Ia berusaha untuk duduk dengan bersusah payah.
"Shaka, aku tahu kamu akan datang. Aku tahu kamu bohong kalau kamu udah nggak cinta sama aku, kamu pasti masih ada rasa, kan? Kamu masih cinta sama aku, kan?" berondong Raisa dengan percaya dirinya.
Shaka menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan dengan pelan. Cinta? Entahlah, Shaka tak tahu ia anggap apa Raisa sekarang. Bukankah cinta itu pergi tidak semudah saat kita jatuh hati? Dengan kata lain, jatuh cinta itu mudah. Tapi tidak dengan membuang cinta.
Hanya satu yang Shaka rasakan kini. Pikiran dan hatinya yang selalu dipenuhi dengan Nimas membuat nama Raisa sedikit tergeser dari hatinya. Ia sampai tak sempat memikirkan atau bahkan mengingat Raisa. Apakah Nimas benar-benar menggeser posisi Raisa? Secepat itu?
"Aku ke sini karena dipaksa Mama. Aku sudah menolak, tapi Mama malah ancam aku. Jadi aku ke sini terpaksa, jangan senang dulu." Shaka menjawab dengan tatapan yang ia lempar pada dinding kamar mandi. Kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana membuat kesan wibawa pada Shaka sangat nampak jelas.
Shaka sebenarnya tak tega jika harus berkata seperti ini. Hatinya yang lemah lembut dan penyayang itu harus melakukan ini demi kebahagiaan Raisa juga. Ia tak mau terus di ganggu dengan mantan kekasihnya itu. Ia hanya ingin hidup tenang dengan istri yang kini sudah menyita hati dan hidupnya tanpa disadari oleh sang pemilik hati.
Bu Marissa merasa sedikit pusing dengan pertemuan pertama mereka ini. Merasa pertengkaran ini harus segera dilerai dan agar rencananya berjalan dengan mulus, Bu Marisaa akhirnya angkat bicara.
"Sudah cukup! Kenapa kalian jadi bertengkar. Kamu juga Shaka, kenapa sih kamu itu harus berkata seperti itu? Lihat dong keadaan Raisa, wajahnya penuh dengan memar, kakinya diperban, dia harus mengalami kelumpuhan dalam beberapa waktu. Jangan tambah beban dia, Mama nyuruh kamu ke sini itu untuk bujuk Raisa supaya makan. Dari tadi dia nggak mau makan, dia harus minum obat, dia harus segera sembuh sebelum orang tuanya kembali ke sini."
Shaka memejamkan mata sesaat demi menetralisir amarahnya. Shaka sebenarnya sosok pria yang mudah emosi, ia akan marah untuk hal-hal kecil. Namun, yang membedakan dirinya dengan manusia lainnya adalah ia pandai mengendalikan emosinya. Sejauh ini ia jarang meluapkan emosi dengan meledak-ledak.
Shaka, lakukan apa yang diminta Mama agar kamu juga bisa pergi dari sini. Ini salah, nggak bisa kamu di sini terus.
__ADS_1
Setelah dirasa rileks, ia mengambil piring yang berisi nasi, ia tuangkan kuah sup ayam, ia ikutkan ayam dan juga beberapa sayuran. Ada tempe dan tahu goreng sebagai lauk, kedua sejoli itu pun juga turut menghiasi piring Raisa.
"Makan, mau sampai kapan kamu begini? Jangan seperti anak kecil. Kamu sudah dewasa. Bahkan usia kamu lebih tua dari istriku."
Raisa menatap Shaka dengan kesal. Ia yang berniat ingin memanfaatkan keadaannya, malah ia dibuat semakin emosi dengan ucapan Shaka.
"Aku nggak akan makan kalau kamu nggak suapin aku."
"Jangan kayak anak kecil, Raisa. Kamu lihat ini jari aku, lihat ini! Aku sudah beristri." Shaka menunjukkan cincin yang melingkar manis di jarinya.
"Kamu menikah terpaksa, kenapa kamu bertindak dan berbuat seakan akan kamu cinta sama dia. Cinta kamu hanya buat aku Shaka!" Raisa tidak mau menyerah. Ia masih punya keyakinan jika cinta Shaka hanya untuknya seorang.
"Mau cinta atau nggak, Nimas adalah istriku. Sudah jadi kewajiban aku buat memberikan apa yang memang harusnya dia terima sebagai seorang istri. Kamu mau makan atau aku pergi sekarang! Sudah cukup kamu ngerjain aku begini, ya."
"Aku mau makan asal kamu suapin, Shaka!"
Astaga, beri aku kemudahan menghadapi apa pun dariMu, Tuhan. Aku tahu ini ujian untukku.
Merasa sudah tak sanggup untuk kembali berucap, Shaka menyodorkan sesendok nasi beserta lauk pauknya ke mulut Raisa. Dengan cepat wanita itu segera membuka mulutnya lebar-lebar. Ia senang Shaka mengabulkan permintaannya.
Yang sebenarnya terjadi adalah berlawanan dengan apa yang diceritakan Bu Marissa pada Shaka. Namun, ucapan Bu Marissa tak sepenuhnya bohong. Raisa memang benar-benar mengalami kecelakaan. Namun, kakinya tidak mengalami kelumpuhan. Hanya patah saja di beberapa bagian dan hal itu membuat dirinya tidak boleh menurunkan kaki ke lantai beberapa waktu ke depan.
__ADS_1
Diam-diam, Bu Marissa mengambil gawai yang berada di tas. Mengarahkan kamera dan dua foto saat Shaka menyuapi Raisa berhasil ia dapat.
Lihatlah, Nimas. Tuhan saja menunjukkan jalan bagaimana cara agar kamu dan anak saya berpisah. Saya memang gagal membuat kamu kehilangan janin kamu, tapi lihatlah ini! Tuhan mengirim cara lain sebagai gantinya. Semua yang terjadi bukan kebetulan, Nimas.