Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
86. Penyelesaian Masalah


__ADS_3

"Papa berubah sejak sering sakit. Papa lupa, Nimas ini perempuan yang nggak sepadan sama kita. Mama cuman mau, kehormatan keluarga kita terjaga, itu aja. Mama masih berharap kalau kita itu dapat menantu dari keluarga yang sepadan, yang se level. Yang...."


"Yang apalagi, Ma? Apa yang belum Mama dapatkan dari istriku? Mama tahu siapa yang membuat aku bersedia ke sini? Mama tahu siapa yang rela bertengkar denganku hanya demi kembalinya aku ke sini?"


Kedua orang tua itu terkejut. Tiba-tiba saja Shaka sudah berada di rumah sepagi ini.


"Shaka, kamu sudah pulang, Nak? Kenapa nggak bilang sama Mama kalau kamu pulang sekarang? Mama bisa masak kesukaan kamu."


Wanita itu menghampiri Shaka yang masih berdiri mematung tak jauh dari meja makan.


"Tidak perlu mengalihkan pembicaraan, Ma. Aku sedang bertanya."


"Shaka, mengertilah kamu sedang salah paham sama Mama."


Shaka yang lelah dari luar kota dengan banyak pekerjaan dan perjalanan, merelakan tidak istirahat demi cepat sampai di rumah, malah ia mendapatkan sambutan yang menyakitkan. Rupanya usaha sang Ibu untuk memisahkan keduanya masih berlanjut. Apalagi jika ia teringat dengan ucapan istrinya beberapa waktu lalu, rasanya emosi Shaka masih jelas terasa. Entahlah, ia akhir-akhir ini merasa kurang bisa mengontrol emosinya. Sangat berbeda dengan Shaka yang dulu.


"Udah, Ma. Jangan melempar kata-kata untuk melindungi Mama. Mau bagaimanapun kalimatnya, aku mendengar semuanya, Ma. Setidaknya kalau Mama nggak mau menerima Nimas menjadi menantu Mama, seharusnya Mama nggak perlu mohon-mohon sama aku untuk tinggal lagi sama Mama. Mama tahu nggak sih yang buat aku balik ke sini itu Nimas, loh Ma. Udahlah aku cape, ya ngomong sama Mama. Aku udah cape fisik, batin, semuanya aku cape. Aku istirahat, jangan ganggu aku dulu."


Shaka kembali menyeret kopernya, sejak tadi Pak Malik sengaja diam. Beliau tahu harus berpihak pada siapa, namun jika beliau tunjukkan, maka salah satu di antara mereka pasti akan cemburu dan malah memperkeruh suasana.


"Shaka..." Bu Marisaa hendak mengejar Shaka, namun dicegah oleh Pak Malik. Pria itu memberikan pengertian melalui tatapan matanya seakan biarkan saja Shaka menenangkan pikirannya dulu.


"Tapi Shaka marah sama Mama."


"Iya, biarkan dia tenang dulu. Percuma juga kamu kejar sekarang, dia akan tambah marah. Seharusnya kalau kamu nggak mau Shaka marah sama kamu, jangan melakukan sesuatu yang membuatnya marah."


Bu Marissa kembali duduk di meja makan dengan cemas. Beliau yang jika Shaka akan kembali pergi rumah.

__ADS_1


Sementara Shaka yang sedang di pikirkan oleh ibunya sedang terduduk di tepian ranjang. Berusahalah menetralkan perasaannya dengan beberapa kali menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan. Dan tidak berselang lama dari kegiatannya itu, pintu kamarnya terbuka dari luar. Munculah sosok Nimas yang mencetak wajah terkejut dan sumringah dalam waktu hampir bersamaan.


Wanita itu berlari dan menghambur ke pelukan sang suami. Ia memeluknya dengan erat begitu pula sebaliknya. Mereka diam tanpa kaya dalam dekapan pelukan hangatnya. Seakan mereka sedang membiarkan rasa rindu yang membuncah keluar melalui pelukan.


"Katanya pulang besok. Kamu bohong?" Numas bertanya masih dalam keadaan berpelukan.


"Pekerjaannya lebih cepat selesai dari yang aku kira. Semalam aku tidak tidur hanya karena ingin segera sampai rumah. Dan aku sekarang sangat mengantuk. Aku ingin istirahat ditemani oleh istriku. Aku sangat merindukanmu." Shaka membaringkan tubuhnya sersya berpelukan. Hal yang mustahil jika mereka tidak melakukan apa pun.


***


Pukul setengah sebelas siang, sepasang suami istri yang baru saja melepas rindu itu tengah menjemput anak mereka di sekolah.


"Surprise, Ayah datang buat jemput anak kesayangan Ayah. Kangen nggak sama Ayah?"


Untuk sejenak Bryan terlihat hampir melepas tawannya dan hendak merentangkan kedua tangannya. Namun, entah apa yang membuatnya urung untuk melakukan kedua hal itu.


"Mau pulang apa jalan-jalan dulu?"


"Pulang aja."


Shaka hanya mengangguk. Ia menggandeng tangan mungil anak satu-satunya itu. Ia masih memikirkan bagaimana caranya untuk melakukan pendekatan.


Hingga akhirnya, Shaka membelokkan setir mobilnya ke sebuah rumah makan sederhana yang berkonsep lesehan.


"Aku, kan mau langsung pulang. Nggak mau makan." Bryan menyampaikan keprotesannya.


"Ayah lapar. Kelamaan kalau nunggu sampai rumah."

__ADS_1


Di bawah matahari yang cukup terik, mereka berjalan beriringan menuju rumah makan dan duduk di salah satu lesehan yang dekat dengan pepohonan. Semilir angin di udara yang cukup panas membuat mereka merasa sejuk dan nyaman.


Setelah disodori menu dan memesan makanan, keheningan terjadi. Shaka melirik ke segala arah untuk mencari referensi bahan obrolan dengan sang anak.


"Bryan, Ayah dengar, Bryan lagi marah sama Bunda, ya? Kenapa, Nak?"


"Nggak."


"Kalau nggak marah coba senyumnya mana? Dari tadi kamu diam aja. Nggak kayak biasanya kalau ketemu Ayah. Dulu waktu kita sering ketemu setiap hari aja, kamu selalu nyambut Ayah pulang. Sekarang setelah nggak ketemu lama, kamu kayak marah juga sama Ayah." Suka berhenti sejenak untuk meneliti wajah anaknya.


"Nak, kamu anak Ayah, anak Bunda, kalau ada apa-apa itu harus cerita sama kami. Orang pertama yang kamu dengar adalah ucapan kami, kami adalah orang terbaik yang dipilih Tuhan untuk kamu punyai. Jadi, belajar mulai dari sekarang untuk terbuka sama Ayah dan Bunda. Hanya sama kami, kalau kamu diam saja, kamu nggak akan ketemu sama jalan keluarnya. Masalahnya nggak akan selesai dong. Kamu mikir masalah kamu terus, akhirnya kamu jadi kurus, Bunda sama Ayah sedih. Kamu mau kami sedih?"


Bryan sedikit menundukkan kepala. Sedetik kemudian anak kecil itu menganggukkan kepala lemah.


"Nggak mau buat Ayah Bunda sedih, ya? Ya udah ayok bilang sama Ayah sama Bunda, ada apa? Atau kamu mau cerita ke Ayah aja? Bunda nggak boleh dengar? Kalau gitu, biar Bunda pergi dulu."


Bryan masih diam, sebenarnya ia juga merasa tidak tahan dengan bersikap seperti ini. Bukan kebiasaannya merajuk terlalu lama apalagi dengan kedua orang tuanya. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah menaikkan nada bicaranya ketika marah, selalu membuatnya tersenyum dan bahagia, bagaimana bisa ia marah selama itu pada mereka?


"Nggak usah, Ayah. Nggak apa-apa Bunda di sini aja."


"Ya udah. Kalau gitu cerita sekarang, ada apa?"


"Aku bukan marah atau ngambek sama Bunda. Tapi aku sedang kesal saja. Bunda sama Ayah bohong sama aku. Aku bukan anak Ayah. Aku anak orang lain, aku anak Pakde. Tapi kalian nggak pernah cerita sama aku." Bryan menunduk kembali saat menyelesaikan kalimatnya.


"Sekarang Ayah tanya sama kamu. Kalau kamu tahu Ayah bukan Ayah kandung kamu, kamu mau apa? Nggak mau punya Ayah kayak Ayah Shaka? Maunya Ayah yang kayak gimana?" Seperti biasa, Shaka selalu merendahkan bicaranya saat sedang membicarakan sebuah masalah.


Bryan semakin menundukkan kepala. Dengan pelan Shaka berusaha untuk mendongoakkan kepala anak itu. Ia melihat matanya sudah sedikit berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2