Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
113. Sebuah Tawaran


__ADS_3

*aku baru sadar  kalau aku salah tulis usia Nino. Usia Nino bukan dua puluh tahun, ya. Tapi 24. Kemarin kurang kata empat.*


Malam harinya, seusai makan malam Shaka menikmati gelapnya malam yang baru datang di teras samping rumah. Ia ingat betul, kursi yang ia duduki malam ini adalah kursi yang sama dengan kursi beberapa tahun lalu yang ia gunakan untuk berdebat dengan sang Ayah.


Perdebatan yang cukup panjang dan memanas karena sama-sama mempertahankan ego dan pendirian masing-masing. Shaka mengulas senyum tipis saat ia teringat menjadi garda terdepan saat Nimas dihina dan direndahkan. Bahkan saat itu mereka belum saling mengenal, hanya karena sebuah amanah, Shaka rela menentang kedua orang tuanya habis-habisan.


Shaka menggelengkan kepala pelan saat ingat itu. Bagaimana bisa ia melakukan ini untuk orang yang tidak ia kenal. Untunglah Nimas adalah wanita yang pantas untuk dicintai dan diperjuangkan, hingga detik ini Shaka tidak pernah merasa menyesal karena sudah memperjuangkan wanita yang benar.


"Sendirian aja, Kak." Nino datang dengan membawa secangkir kopi.


"Lagi pengen. Udah lama nggak me time. Gimana kerjaan kamu? Lancar?"


"Ahamdulillah lancar-lancar aja, Kak. aku kerja di sana, kan udah dari kuliah. Jadi, ya nggak ada kendala apa pun dalam bekerja."


"Kamu nggak ada niatan untuk pindah ke sini? Sebenarnya Kakak ada kepikiran untuk bawa kamu ke perusahaan. Itu pun kalau kamu mau, sih."


"Kalau aku mau udah aku lakukan dari dulu, Kak. Sebenarnya aku juga pengen merantau, tapi nanti Ayah sama Ibu sendirian di kampung. Kalau ada apa-apa gimana? Aku malah nggak tenang mikirin mereka."


"Bawa aja ke sini. Nanti Kakak yang carikan rumah. Kan enak juga kalau  kalian di sini. Kalau kangen sama anak-anak nggak jauh-jauh."

__ADS_1


Nino manggut-manggut membenarkan penuturan Kakak iparnya. Yang sekarang dirasakan Nino adalah bimbang dan dilema. Orang tua bukan satu-satunya alasan Nino untuk tidak meninggalkan rumah. Ada seorang wanita yang tidak bisa jauh darinya juga masuk daftar alasan ia tak merantau.


"Aku akan bicarakan ini sama Ayah dan Ibu. Jika mereka mau aku akan pindah ke sini."


Obrolan mereka berlanjut membahas soal pria entah hingga jam berapa. Udara dingin yang menusuk tulang akhirnya membuat mereka membubarkan diri untuk ke kamar masing-masing.


Nino tak langsung ke kamar. Ia melipir ke kamar tamu yang di tempati kedua orang tuanya. Membuka pintu sedikit dan mengintip adakah aktivitas di dalam sana atau mereka sudah terlelap.


"Sebenarnya Ibu masih mau di sini. Tapi di sisi lain Ibu sungkan juga kalau nggak pulang-pulang. Nggak enak sama besan. Ya tahu sih, mereka baik sama kita, nggak mempermasalahkan kita tinggal di sini sampai kapan saja. Tapi rasanya ya tetap sungkan aja gitu, Pak." Ibu Nimas mengemasi pakaiannya dan beliau masukkan ke dalam tas. Rencananya mereka akan kembali ke rumah esok hari.


"Kalau Bapak biarin Ibu di sini terus nggak ada yang urusin Bapak. Yang masakin, nemenin tidur, buatin kopi, nyuci baju, Ibu mau Bapak diurusin sama tetangga kita yang baru jadi janda itu."


Pukulan keras mampir di paha Ayah Nimas. Nino yang melihat sang Ayah kesakitan hanya nyengir dibalik sela pintu yang ia buka sedikit untuk melihat apa yang kedua orang tuanya lakukan.


"Kalau mau diurus sama dia, ya udah sana pulang sendiri sama Nino."


"Ya udah jangan diteruskan ngemasi barangnya. Biar besok Bapak pulang sendiri sama Nino. Nanti biar Bapak bilang sama Nino kalau Ibu udah nggak mau urus kita dan kita di serahkan sama janda baru. Gimana?"


Sebelum ada peperangan di malam hari, Nino segera mengetuk pintu untuk mengalihkan perhatian mereka. Mendengar ucapan ibunya, ia memutuskan untuk mengikuti saran dari Shaka untuk pindah ke kota. Urusan wanitanya, ia akan jelaskan pelan-pelan. Hanya itu yang terbesit di kepala Nino. Baginya untuk sekarang adalah keinginan dan kebahgiaan kedua orang tuanya masih menjadi hal utama.

__ADS_1


Nino paham, semakin ke sini, ia akan semakin tumbuh dewasa dan suatu saat nanti akan menjadi suami dari seorang wanita. Sebelum masa itu datang, sebisa mungkin ia akan membuat kebahagiaan untuk kedua orang tuanya. Jika memang ibunya tidak bisa jauh dari cucunya, maka ia siap mengambil keputusan untuk tinggal di kota demi ibunya bisa melihat cucunya setiap waktu. Karena ia merasa sudah tidak ada waktu lama lagi untuk membuat mereka bahagia dan menuruti apa yang mereka mau. Karena pertambahan angka di usianya, pasti Nino cepat atau lambat akan membagi dirinya dengan dua orang. Yakni istri dan orang tua.


"Nah, kebetulan kamu datang. Ibu bilang dia masih mau di sini, jadi... Aduh.. Aduh sakit." Ayah Nimas mengelus lengan yang baru saja terlepas dari cubitan kecil.


"Jangan dengarkan Ayahmu. Ada apa? Apa yang membuat anak Ibu ke sini?"


"Ada yang aku mau tanyakan ke kalian." Ucapan Nino membuat kedua orang tuanya saling tatap. Jika Nino sudah bicara seperti ini pasti ada hal serius yang menggangu pikirannya.


"Apa?" Ibu Nimas duduk di ranjang di samping suaminya yang kemudian di susul oleh Nino.


"Tadi aku ditawari Kak Shaka untuk kerja di perusahaannya. Tapi aku belum jawab karena aku nggak mau meninggalkan kalian di kampung sendirian, nanti malah aku kepikiran dan aku nggak tenang. Terus Kak Shaka memberikan tawaran lagi untuk bawa kalian juga ke sini. Kalau kalian mau, Kak Saka bersedia mencarikan rumah untuk kita."


"Terus kerjaan Ayah di kampung gimana?"


"Ayah sudah berapa kali aku dan Kak Shaka bilang kalau Ayah ini waktunya istirahat. Nggak usah kerja-kerja terus, aku udah bisa cari uang dan bisa menutupi kebutuhan kita. Aku mau Ayah sama Ibu duduk diam di rumah. Saatnya aku yang cari uang buat kalian."


"Ayah tahu maksud kamu baik, tapi kamu juga punya masa depan dan keinginan, Nino. Kamu akan menikah suatu hari nanti, kalau kamu bekerja sekarang untuk mencukupi kebutuhan kami, kamu nggak akan bisa nabung untuk menikah. Ayah mau saat kamu menikah nanti, kamu membuat acara yang besar untuk istrimu dan juga keluarganya. Pesta mewah memang bukan segalanya untuk kita, tapi bukankah kebanyakan wanita ketika menikah menginginkan sesuatu yang besar? Kenapa kamu jadi sekhawatir itu? Kalaupun kamu bekerja di sini nggak masalah kok buat Ayah sama Ibu, nggak apa-apa kalau kita sendirian di kampung. Toh Ayah dan Ibu masih sehat. Masih bisa saling jaga. Nggak apa-apa, Nak kalau kamu mau kerja di sini. Uangmu juga akan terkumpul lebih cepat."


Nino melihat wajah ibunya yang nampak mencetak raut wajah yang beda dari ayahnya. Seperti tidak rela jika dirinya jauh dari sang anak.

__ADS_1


__ADS_2