Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
39. Sarapan Yang Berbeda


__ADS_3

Menghabiskan waktu seharian di rumah Nimas membuat Shaka merasa mempunyai keluarga yang utuh. Meskipun orang tuanya masih lengkap dan bergelimang harta, Shaka sangat jarang menikmati kehangatan di keluarganya sendiri. Mereka yang sibuk dengan aktivitasnya sendiri-sendiri membuat mereka tenggelam dalam dunianya dan pulang hanya untuk mau istirahatkan badan. Sangat jarang terjadi cengkrama bersama seperti sekarang yang dilkukan dengan keluarga Nimas.


Meskipun hidup mereka sederhana, makanan yang mereka makan pun sangat merakyat, namun rasanya tetap nikmat jika dihiasi dengan kebersamaan dan kehangatan. Shaka benar-benar merasakan kebahagiaan di tengah-tengah keluarga istrinya itu.


Mereka kini sedang bercengkrama di depan televisi dengan ditemani satu piring singkong rebus dan juga teh manis hangat, itu sudah mampu membuat kehidupan mereka terasa mewah. Sesekali senda gurau menghiasi kebersamaan mereka.


Setelah puas menonton televisi, pukul sepuluh malam mereka kembali ke kamar masing-masing. Saatnya mereka mengistirahatkan tubuh mereka yang dibuat beraktivitas seharian penuh. Shaka dan Nimas pun masuk ke kamar mereka yang tak seberapa luasnya.


"Ranjangnya sempit, ya. Bagaimana kalau kita tidurnya lesehan aja? Ada kasur lipat di depan TV."


"Nggak mau, gini aja nggak apa-apa. Dingin. Besok kalau aku sudah sampai kota aku akan mesan ranjang untuk kita semua, ya. Sekarang lebih baik kita tidur, aku ngantuk banget."


Nimas hanya mengangguk, lalu matanya ia pejamkan agar segera tertidur meskipun dirinya saat ini tidak mengantuk. Di saat Nimas sudah mulai nyaman dengan situasi dan juga pejaman matanya, ia merasa ada sesuatu yang merapat perutnya yang tertutup selimut.


Nimas akhirnya membuka matanya kembali, "Ada apa, Mas?" Suara Nimas sangat pelan dan terdengar berbeda. Hal itu membuat Shaka merasakan sesuatu yang aneh.


"Tidak apa-apa. Memang ada apa? Ini yang kamu suka, kan?" goda Shaka. Ia kembali mengulang keisengannya.


"Iya, aku pasti akan tidur nyenyak kalau kamu melakukan ini, tapi akan menjadi candu untukku dan menjadi ketergantungan kalau setiap tidur begini. Nanti kalau kamu pas nggak di sini, kan aku yang susah."


"Kalau begitu aku akan ke sini setiap hari."


"Ya nggak gitu juga nanti kamu sakit, kecapean. Aku lagi lemah begini, aku mana bisa merawat kamu nanti." Tak mau kalah, Nimas juga melempar godaan untuk suaminya.

__ADS_1


Bibir mereka sama-sama terulum senyum, mata mereka saling tatap dalam kebisuan yang tiba-tiba menyelimuti mereka.


Nimas, aku tidak tahu apa yang aku rasakan akhir-akhir ini. Aku bingung menyebutnya dengan kata apa. Kalau aku menyebutnya cinta, apakah ini tidak terlalu cepat untuk sebuah cinta? Tapi kalau bukan cinta, perasaan apa ini? Perasaan yang tiba-tiba selalu memikirkan kamu, selalu ingin di dekatmu, menjaga kamu sepenuhnya, aku juga tidak ingin kamu lepas dari pengawasan ku. Aku sadar, aku merasa khawatir yang mungkin orang lain akan merasa aku ini berlebihan. Terlepas dari niatku yang menikahimu, aku merasa kalau kamu adalah wanita yang tidak hanya aku nikahi karena sebuah amanah.


Shaka nampaknya terbawa oleh suasana. Entah dirinya yang tidak terbiasa dengan keadaan di desa atau mungkin cuaca saat ini memang sedang dingin-dinginnya. Ia ingin merasakan sesuatu yang lain, sesuatu yang belum pernah Shaka dapatkan dari istri sahnya.


Perlahan namun pasti, Shaka mendekatkan kepalanya ke kepala Nimas. Ia berhenti begitu nafas mereka saling menerpa wajah mereka masing-masing. Tidak ada reaksi apa pun dari Nimas. Ia masih diam menatap suaminya. Hal itu membuat Shaka berpikir bahwa Nimas tidak keberatan jika ia menciumnya.


Semakin lama jarak keduanya semakin dekat. Nimas refleks memejamkan mata, seakan ia tahu apa yang terjadi selanjutnya dan tidak ada penolakan dari dirinya.


Aku sudah pernah bertekad untuk belajar mencintaimu. Lakukan apa yang kamu mau selagi itu membuatmu bahagia dan membuat aku juga merasa bahagia. Mulai malam ini aku juga bertekad untuk menyerahkan apapun yang aku punya untukmu. Kamu begitu bertanggung jawab menjadi suami, kamu selalu membahagiakan aku dengan caramu yang sederhana. Selalu merasa bersalah ketika aku menangis, kamu yang selalu merasa kurang dalam memperlakukan aku. Tanpa kamu tahu, kamu sudah melakukan hal lebih dari cukup.


Bibir sepasang suami istri itu baru saja menyatu. Awalnya nampak malu-malu, namun lama-kelamaan akhirnya mereka terbawa oleh waktu dan pagutan bibir itu kini sudah saling menyahut.


Shaka berusaha untuk terus sadar bahwa Nimas belum saatnya untuk digauli. Mungkin istrinya itu sekarang sudah bersedia, tapi keadaanlah yang membuatnya tidak berdaya.


Setelah merasa puas dan sudah kehabisan nafas, mereka melepas pagutan itu dan membuka mata masing-masing. Kembali menatap bola mata yang ada di depannya.


"Maaf aku kelepasan," kata Shaka merasa tidak enak. Meskipun sebenarnya ia merasa bahwa Nimas tidak mempermasalahkan tindakannya.


"Kenapa harus minta maaf? Kita adalah sepasang suami istri, bukan sebuah dosa jika kita melakukannya, kan? Jangan minta maaf untuk hal-hal yang kecil."


"Terima kasih, mari kita tidur. Aku ingin sebelum ayam berkokok, aku sudah bangun. Aku ingin menikmati suasana pagi yang aku yakin pasti masih sangat bersih karena bebas dari polusi. Kita besok jalan-jalan pagi, ya."

__ADS_1


"Bukan kita, kamu yang jalan-jalan pagi sambil dorong aku. Itu yang benar, Tolong izinkan aku untuk jalan walaupun sebentar saja. Lima atau sepuluh langkah aku akan hati-hati, janji."


"Tidak ada menawar, tiga minggu lagi kita akan periksa ke dokter. Kita akan tanyakan, kamu boleh beraktivitas kembali atau tidak. Jadi sabar, ya! Jangan membuatku menggigit bibirmu karena kamu manyun begitu, ya."


Keduanya lalu tertawa bersama. Lagi-lagi Shaka dibuat terpesona oleh istrinya sendiri. Tertawa yang renyah dan sedikit terbahak membuat Shaka mengalihkan dunianya pada istrinya. Maklum, ini adalah pertama kalinya Shaka melihat Nimas yang tertawa dengan sedikit terbahak-bahak seperti itu.


Ah manis sekali.


***


Shaka menggeliat merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku karena tidak bebas bergerak. Tidur diranjang sempit membuat tubuhnya sedikit pegal-pegal.


"Kamu sudah bangun? Jam berapa sekarang?" tanya Shaka mengucek kedua matanya.


"Jam lima. Ayo bangun! Kita ibadah, lalu kita pergi jalan-jalan. Katanya mau jalan-jalan."


"Sebentar lagi, aku mau yang seperti semalam, sebentar saja," kata Shaka yang tiba-tiba memeluk istrinya dengan erat.


"Mas, ini masih pagi."


"Lalu kenapa? Aku ingin sarapan dan sarapanku kali ini harus berbeda."


Tanpa persetujuan dari istrinya, pria itu mengulang kembali kegiatanya semalam.

__ADS_1


Visual Shaka



__ADS_2