
Mendengar Nino bicara membuat kedua orang tuanya menoleh ke arah yang sama.
"Kebiasaan kamu Nino, nguping omongan orang tua," protes sang Ayah.
"Ya kali ini ngupingnya aku ada manfaatnya, kalau sampai rumah Kalau Shaka aku kaget dan terus bertanya kenapa dia pindah rumah pasti mereka akan sedih, kan?"
"Iya juga, ya," ujar Ayah Nimas pelan.
Setelah itu mereka kembali ke ruangan untuk mempersiapkan kepulangan Nimas.
***
Menjadi orang tua baru, tentu saja ini hal yang mengagetkan bagi Shaka dan Nimas. Jam tidur dan istirahat berantakan, tidak punya waktu untuk diri sendiri, dan kurang istirahat membuat pola hidup mereka menjadi tak teratur. Apalagi Bryan yang setiap malam selalu terjaga di tengah malam membuat keduanya menjadi kurang istirahat.
Namun, kedua orang tua baru itu tak pernah mengeluhkan situasi ini. Mereka tetap melakukan yang terbaik untuk sang anak. Apa lagi ada Ibu Nimas yang membantu Nimas mengerjakan pekerjaan rumah dan mengasuh sang cucu di siang hari agar Nimas bisa tidur siang meski hanya sesaat.
Shaka sangat menikmati perannya sebagai Ayah. Bahkan pria itu belajar merawat anak dari hal-hal yang kecil dan dasar seperti memandikan, mengganti popok, dan menenangkan anaknya di saat menangis. Semua itu ia lakukan demi menjadi seorang ayah yang baik.
Saat usia Bryan yang sudah memasuki usia satu bulan, akhirnya Ibu Nimas kembali pulang ke kampung halaman. Sepasang suami istri itu sudah bisa merawat anaknya dengan baik tanpa beliau.
"Ibu dan Ayah akan sering ke sini nanti, jangan sungkan-sungkan hubungi kami kalau butuh bantuan, ya," kata Ibu Nimas sudah bersiap menaiki taksi online. Beliau pulang di susul oleh sang suami.
"Terima kasih untuk satu bulan ini, ya Bu. Ibu mengajari banyak hal dengan sabar ke kami sampai kami bisa merawat Bryan dengan baik," ujar Shaka.
__ADS_1
"Sudah menjadi tugas kami sebagai orang tua."
Pertemuan mereka hari itu berakhir di situ. Shaka dan Nimas mengantar kepergian orang tua mereka dengan senyuman yang hangat.
Jika Shaka dan Nimas sedang menikmati masa membahagiakan meski melelahkan, berbeda dengan kedua orang tuanya. Pak Malik sama juga merasakan kelelahan, namun lelah yang berbeda. Semakin hari tubuh pria yang tidak lagi muda itu semakin kurus. Tidak hanya tubuhnya yang lelah, ia juga merasa pikirannya lelah karena merasa mulai kesepian dan merindukan anaknya.
Bu Marissa sudah berhenti mengomel, rasa rindu dengan khawatir pada anak yang kini mulai ia rasakan semakin dalam dan tidak bisa diungkap dengan kata apalagi omelan. Beliau sekarang lebih banyak diam dan melamun saat sedang sendirian.
Meski Bu Marissa mengetahui keadaan putranya, wanita itu tetap saja memikirkan Shaka yang kenapa seolah-olah ia bisa hidup tanpa dirinya. Semakin tahu kehidupan Shaka yang sekarang, Bu Marissa semakin kehilangan.
"Pa, kita jemput Shaka, yuk! Mama tahu di mana tempat tinggalnya yang sekarang. Dia hidup serba sederhana, Pa. Bahkan dia bekerja sebagai supir taksi online. Dia pernah beli motor buat nyari kerjaan, dan dijual lagi saat Nimas melahirkan. Kasihan Shaka, Pa," keluh Bu Marissa di suatu malam. Mereka sedang duduk berdua di kamarnya.
"Tidak! Papa nggak akan mau menerima Shaka di rumah ini kalau dia tidak datang sendiri dan minta maaf di depan Papa. Dia jadi serba kekurangan karena ulah dia sendiri. Dia yang memtusukan untuk pergi dari rumah karena wanita itu, kan? Buat apa kita datang dan meminta kembali. Jangan mimpi!" Pak Malik merebahkan dirinya membelakangi sangat istri. Menutupi tubuhnya dengan selimut dan memejamkan mata.
Tidak ada sahutan, Pak Malik tak menghiraukan ujaran sang istri. Meskipun dalam hati beliau juga merindukan sosok anak yang dahulunya lebih penurut dari pada Bryan, keegoisan yang beliau miliki rupanya jauh lebih besar dari perasaannya.
Bu Marissa akhirnya ikut membaringkan dirinya, menatap langit-langit kamar yang entah kenapa terlihat sedang mengejeknya karena dirinya yang rapuh termakan rindu.
Hingga akhirnya, terlintas sebuah pikiran untuk menemui anaknya dan meminta kembali. Menurunkan sedikit egonya demi kesehatan mentalnya sendiri sepertinya bukan masalah yang besar, begitu pikirnya.
Dan pikiran yang baru saja tarlintas di malam itu beliau laksanakan di satu minggu berikutnya. Dengan diantar sang supir, beliau berangkat ke rumah Shaka.
Hanya keheningan yang terjadi sepanjang perjalanan. Rasa rindu yang membuncah dalam dada akan segera terobati, namun dalam waktu bersamaan, beliau harus rela mengorbankan harga dirinya untuk bersikap baik pada menantunya.
__ADS_1
"Hmm, anak Ayah harum banget, sih. Mana ganteng banget lagi, masya Allah. Kalah nih Ayah gantengnya."
Terdengar suara Shaka yang sedang menimang sang anak. Suara yang terdengar hangat dan membuat nyaman siapa pun yang mendengar, termasuk telinga Bu Marissa. Namun sedetik kemudian sisi jahatnya kembali mengingatkan bahwa yang ditimang itu adalah anak Nimas, bukan anak Shaka atau Bryan. Anak itu bukan cucunya, logikanya untuk sekejap mengubah rasa haru yang sempat singgah.
Bu Marisaa hampir tiba di teras saat Shaka keluar rumah dengan seorang bayi di dekapannya. Saking fokusnya pada bayinya, Shaka tak sadar ada ibunya yang sedang berdiri di ujung teras.
Tatapan Bu Marissa seketika beliau arahkan pada anaknya yang tidak ada perubahan sama sekali dalam bentuk fisiknya. Justru anaknya itu telihat berisi dan sangat tampan. Entah efek sudah lama tak bersua atau Nimas berhasil merawat anaknya dengan baik.
Tidak-tidak, ini pasti karena aku lama tidak bertemu. Bukan karena Nimas, mana bisa wanita yang tidak bisa apa-apa itu merawat anakku dengan baik.
Pandangan Bu Marissa turun ke bayi yang juga terlihat gemuk itu. Matanya yang bulat sedang menatap Shaka secara intens.
Bryan. Mirip sekali dengan Bryan.
"Shaka!" Akhirnya Bu Marissa mengeluarkan suaranya.
Yang di panggil mendongak. Sedikit tertegun sesaat hingga akhirnya ia mengucap Mama. Untuk sekejap mereka saling tatap dalam diam. Mereka saling tatap bola mata masing-masing untuk mencari kerinduan yang akhirnya terbalaskan.
Bu Marissa membawa kakinya melangkah lebih dekat ke arah Shaka. Dengan perlahan tangan kanan beliau terangkat dan menangkup sisi kanan wajah sang anak. Matanya berkaca-kaca, rasanya sudah lama beliau tak melakukan kontak fisik seperti ini. Beliau pun sampai lupa kapan terakhir menyentuh anaknya.
"Mama kangen sama kamu, Nak. Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Bu Marissa mengelus pelan pipi Shaka.
"Iya, aku dan istriku baik-baik saja. Kami sehat. Mama bagaimana?"
__ADS_1
Shaka tahu bahwasanya ibunya itu tidak baik-baik saja, hal itu terlihat dari tubuhnya yang nampak kurus dan pipinya yang tirus. Sekecewa apa pun Shaka pasa ibunya, hatinya tetap merasa sakit melihat kondisi ibunya yang sekarang.