
"Ya udahlah terserah kamu aja," putus Shaka dengan pasrah seraya masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri.
"Bunda serius nanti kita mau ketemu sama Oma lagi?" tanya Bryan yang seakan meyakinkan bahwa ia tidak salah dengar.
Pertama kali bertemu dengan sang Nenek dari ayahnya membuat anak kecil itu nampaknya ingin mengenal lebih jauh atau mungkin ia terlalu senang, karena selama lima tahun ini ia tidak pernah bertemu sama sekali dengan keluarga sang Ayah.
"Iya, sayang kita nanti akan ketemu lagi sama Oma dan Opa. Nanti kita kenalan, ya, kamu belum pernah ketemu, kan? Oh, ya, ini ada hadiah dari Oma untuk kamu mewarnai gambar kamu."
Tanpa sepatah kata pun, Nimas sudah melihat kebahagiaan dari binar mata Bryan mendapatkan hadiah kecil dari Ibu mertuanya. Ia bersyukur ketika ada setitik perubahan dalam kehidupannya. Karena jujur saja terpisah dari kedua orang tua suaminya dalam keadaan sama-sama saling marah nyatanya membawa beban tersendiri bagi Nimas. Karena hingga detik ini, ia merasa bahwa Shaka menentang dan meninggalkan kedua orang tuanya karena dirinya. Dan ini adalah saatnya membawa Shaka kembali kepada orang tuanya tanpa meninggalkan dirinya dan juga anaknya. Nimas menganggap bahwa ini adalah kesempatan emas dan kesempatan satu-satunya yang harus ia gunakan dengan baik.
***
Malam harinya, Bryan heboh dengan pakaian yang akan ia kenakan. Ini adalah pertama kalinya Bryan sangat peduli dengan penampilannya. Biasanya jika ingin bepergian ke mana pun, ia akan menerima apa pun pakaian yang di siapakan Nimas atau Shaka. Namun, entah kenapa malam ini ia bingung menatap pakaian yang berjejer di lemari gantung miliknya.
"Bryan, kamu dari tadi milih pakaian kenapa lama sekali?" tanya Shaka membuka pintu kamar sang anak.
Sepuluh menit yang lalu, pria itu datang menawarkan diri untuk membantu bersiap, tapi anak itu mengatakan ingin memilih pakaiannya sendiri. Dan lima menit sudah berlalu, Bryan tak kunjung datang, membuat Shaka kembali mendatangi anak itu yang ternyata tubuhnya masih berbalut dengan handuk.
"Bingung mau pakai yang mana, Ayah? Ini pertama kalinya aku ketemu sama Oma, aku harus ganteng."
"Kamu tiap hari juga ganteng, nggak usah dandan juga cakep. Mau pakai baju kayak Ayah nggak?" Shaka berjalan lebih masuk ke dalam kamar.
Bryan memperhatikan ayahnya dari atas hingga bawah. Yang di perhatian memperlihatkan wajah jumawa dan merasa keren sendiri dengan percaya diri. Meskipun dalam hatinya bergunam tumben sekali anaknya ini peduli dengan penampilan.
Shaka jadi teringat di jaman kuliah dulu.
__ADS_1
"Ka, gue pinjem baju. Gue baru dapat pacar. Lo tahu ini pertama kalinya gue punya pacar dan gue harus ganteng." Bryan membuka pintu tanpa permisi lalu berjalan ke lemari dan membukanya tanpa izin.
"Baju lo selemari penuh pada ke mana, sih?" Shaka bangkit dan menepis tangan sang Kakak kesal.
"Udah gue pakai semua. Udah deh jangan berisik, biasanya juga lo pinjem punya gue." Bryan berhasil mendapatkan satu kaos dan satu kemeja flanel sang Adik.
"Woy, jangan kebangetan jadi abang . Itu kemeja kesayangan gue. Kembaliin nggak!" teriak Shaka yang akhirnya mengejar sang Kakak hingga ke lantai bawah. Perkelahian pun tak bisa dihindari. Dan jika sudah begitu, Bu Marissa pasti akan mengomel sepanjang hari.
Ah Shaka jadi merindukan sosok sang Kakak. Hatinya sedikit ngilu saat terjadi momen yang mengingatkan dengan Bryan.
"Udah, Ayah. Udah kayak Ayah, kan?" Ucapan Bryan kecil membangunkan lamunan sang Ayah. Untuk beberapa detik Shaka sedikit linglung.
Shaka laku memerhatikan anaknya. Berpakaian seperti dirinya mambuat Shaka melihat Bryan lebih dewasa dari umurnya.
"Wow, ini anak Ayah? Keren. Sangat keren. Kamu lebih ganteng dari Ayah," puji Shaka yang membuat anaknya mendadak sumringah.
"Kita berangkat sekarang, Bunda udah nunggu dari tadi, nanti dia ngomel sepanjang perjalanan kalau kita terlambat." Shaka menarik yangan Bryan untuk ikut dengannya dan naasnya rupanya Nimas sudah berdiri dengan bersandar pada salah satu diisi gawang pintu.
"Cuman ngobrolin masalah baju aja selama ini. Kita cuman mau ke rumah sakit, bukan bertamasya. Nggak akan ada yang peduli dengan penampilan kalian. Bedak aku udah mau luntur nunggu kalian aja," omel Nimas kesal.
"Katanya nggak ada yang peduli sama penampilan kita. Kenapa Bunda peduli sama bedak?"
Shaka sontak saja hampir tertawa, namun tatapan dari istrinya membuat Shaka seketika melihat bibirnya ke dalam.
"Mau berangkat sekarang atau mau dengar Bunda ngomel selama di perjalanan?" Nimas lalu berlalu dari hadapan kedua pria yang jika bersama dalam waktu yang lama seringkali membuatnya kesal. Entah itu bertengkar atau sedang akur, meraka kerap kali kompak membuat Nimas pusing.
__ADS_1
"Udah Ayah bilang, kan Bunda punya kesabaran setipis tisu. Kamu pakai acara ribet milih baju." Shaka menarik tangan Bryan.
"Ayah ngomel udah kayak nggak pernah bikin Bunda kesel aja."
Shaka diam, ia tahu dan sadar diri tidak akan bisa mendebat Bryan. Meski usianya masih lima tahun, kecerdasan menjawab setiap ucapan yang ia dengar tidak tertandingi olehnya.
Tidak ada obrolan selama dalam perjalanan, hanya lagu anak yang terputar sepanjang perjalanan menemani keheningan selama dalam mobil yang sudah entah berapa usianya itu.
Lagu anak yang terputar membawa mereka ke halaman rumah sakit. Mereka sampai pukul tujuh lebih tiga menit. Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya ketiga manusia itu sampai di ruangan Pak Malik. Wah terkejut dan tak percaya tercetak jelas di wajah Bu Marissa saat melihat siapa yang membuka pintu ruangan suaminya.
"Shaka, Mama yakin kamu pasti nggak akan setega ucapan kamu. Mama percaya kamu pasti akan ke sini." Bu Marissa menyambut putranya dengan bahagia.
"Papa coba lihat siapa yang datang!" Bu Marissa kenarik tangan sang anak untuk beliau bawa ke dekat ranjang.
Pak Malik tidak tahu harus menampilkan wajah yang bagaimana. Ingin menangis, rasanya sangat memalukan, ingin menunjukkan kebahagiaannya, rasanya beliau tak mau menunjukkan bahwa selama ini beliau merindukannya. Akhirnya Ayah dan anak itu hanya saling tatap dalam waktu yang cukup lama.
"Papa apa kabar? Gimana keadaan Papa? Aku harap sudah jauh lebih baik."
"Baik, Papa sudah sedikit lebih baik dari kemarin." Pak Malik berusaha bangkit dari berbaringnya.
"Pelan-pelan," kata Shaka refleks membantu sang Ayah.
"Bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulillah baik, aku dan keluarga kecilku sangat baik. Oh, ya, Sayang salim dulu sama Opa." Shaka menggeser posisi tubuhnya sedikit agar Bryan terlihat oleh kedua bola mata ayahnya.
__ADS_1
Anak kecil itu tersenyum manis dengan menunjukkan gigi rapinya.
"Bryan?" ujar Pak Malik lirih.