Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
61. Cinta Lain Dari Yang Lain


__ADS_3

Selesai sarapan, Shaka kembali ke kamar. Ia hari ini akan membuat surat lamaran pekerjaan dan akan ia kirim via online saja. Tidak hanya perusahaan yang ia tuju. Tapi juga usaha lainnya di bidang apa pun. Seperti cafe, rumah makan, hotel, dan usaha lainnya yang sekiranya tidak ada campur tangan sang Ayah. Meskipun di perusahaan akan kecil kemungkinan, ia tetap akan mencoba. Barangkali ada pengusaha yang berani menentang kuasa sang Ayah, pikirnya.


Saat sedang tenggelam dengan laptopnya, Nimas datang dengan secangkir teh manis hangat. Ia duduk di samping suaminya yang sepertinya tak sadar dengan kedatangannya. Melihat suaminya yang gigih, jiwa pengusaha Nimas ingin sekali membantu suaminya itu.


"Mas."


"Iya, Dek. Kenapa? Apa kamu butuh sesuatu?"


"Iya, Mas aku butuh persetujuan dari kamu."


Mendengar kalimat Nimas, Shaka seketika menghadap ke arahnya dan menghentikan aktivitasnya sementara.


"Persetujuan apa? Memang kamu mau ngapain?"


"Bantuin kamu kerja. Kebetulan aku bisa jahit. Ya, seenggaknya aku bisa mengisi waktu luang aku dengan hal yang berguna."


"Nggak boleh!" Jawab Shaka dengan tegas. "Kerja itu tugas suami bukan istri. Kamu cukup duduk diam jaga kesehatan, jaga anak kita, dan melayani aku dengan baik itu sudah cukup buat aku. Nggak perlu kamu kayak gitu, aku bisa kok nyukupin kalian. Jangan khawatirkan sesuatu yang sedang aku usahakan. Aku nggak mau kamu cape, apalagi sebentar lagi mau ngelahirin. Jadi ibu setelah melahirkan itu pasti melelahkan, Dek. Harus begadang, kurang tidur, kurang istirahat, badan cape semua, kamu malah mau jahit segala."


"Ya udah kalau gitu aku jualan online aja, ya. Kan nggak cape kalau jualan online, cuman aktif mainin hape." Nimas masih mencintai membujuk.


"Kamu disuruh diam kenapa susah sekali, sih? Gini lho Dek, aku nggak ngebolehin kamu cari uang sendiri itu ada alasannya. Yang pertama, aku mau perhatian kamu cuman buat aku sama anak-anak kita. Kalau kamu kerja, perhatian kamu akan terbelah-belah, perhatian kamu jadi terbagi sama suami, sama anak, sama usaha kamu. Aku nggak mau membagi itu. Yang kedua, kalau kamu punya usaha sendiri atau bekerja ikut orang, pasti anak kita ikut orang lain. Aku nggak mau, aku nggak mau anakku dijaga sama pengasuh. Aku akan lebih tenang kalau kamu sendiri yang jaga. Kamu sendiri yang pegang anak kita dua puluh empat jam dan yang terakhir, aku nggak mau kamu cape, aku mau kamu dapat waktu istirahat yang cukup. Kamu udah ngurus aku sama anak kita nanti aja itu udah cape. Apalagi kamu mau cari kegiatan yang lain. Lagipula, seorang suami yang menafkahi istrinya dengan uang jerih payah dan keringatnya sepenuhnya, itu membanggakan buat kami, para kaum suami."


Shara menggenggam tangan istrinya dan mengelus punggung tangan sang istri dengan mesra. Ia tahu dari raut wajahnya ada sedikit rasa kecewakan karena larangan darinya.

__ADS_1


"Percayalah, Dek. Aku melarang kamu bukan berarti aku nggak mau kamu jadi wanita karir. Tapi sungguh, aku akan lebih tenang kalau kamu di rumah aja, jagain anak-anak kita nanti, jadi pelindung buat anak kita saat aku nggak di dekat kalian, perhatian kamu tercurahkan sepenuhnya sama kita. Aku cuma mau itu kok. Tidak ada yang salah dengan kamu hanya menjadi ibu rumah tangga. Menjadi sosok ibu dan istri saja kerjaan kamu nanti nggak akan ada habisnya. Apalagi kita tinggal sendirian. Sampai sini paham, kan? Aku mau fokus kamu cuman ke keluarga aja."


Meski sebenarnya dari hati kecilnya yang paling dalam ingin sekali menyanggah ucapan suaminya. Nimas tidak mau melakukan itu, ia menekan keinginan untuk membantu sang suami, Karena ia merasa bahwa alasan Shaka sangat masuk akal dan itu adalah bentuk pria itu mencintai istrinya. Meskipun ada rasa sedikit kecewa karena keinginannya tidak dikabulkan Nimas berusaha untuk mematuhi apa yang suaminya katakan.


"Iya, Mas aku paham. Apa yang kamu utarakan membuktikan kalau kamu cinta kamu lain dari yang lain."


"Bagus kalau kamu paham."


Dan sejak hari itu, keinginan Nimas untuk mencari kesibukan ia alihkan pada menananam tanaman yang ia letakkan di teras rumahnya yang tak terlalu luas. Sudah dua minggu ia dan Shaka berada di rumah itu. Dan selama itu tidak ada satu hari pun Shaka mendapatkan kabar soal balasan dari surat lamaran pekerjaannya.


Shaka mulai pusing, ia tak mungkin berdiam diri di rumah sementara kehidupan terus berjalan. Ia hari ini memutuskan untuk mencari pekerjaan dengan datang langsung ke lokasi. Ia sampai kembali merogoh tabungannya dalam jumlah besar untuk membeli motor untuk ia gunakan berkeliling mencari pekerjaan.


Shaka berencana untuk mencari pekerjaan di tempat-tempat yang tidak besar atau sekiranya yang tidak terlalu dikendalikan oleh sang Ayah. Dan tempat-tempat seperti itu pasti berskala kecil, tidak mungkin ia mencari pekerjaan dengan menggunakan mobil.


"Hati-hati di jalan, ya Mas. Aku berharap kamu pulang membawa kabar baik. Usaha nggak ada akan mengkhianati hasil."


Hari masih pagi, masih pukul delapan. Shaka sudah rapi dengan tas kerjanya. Untuk pertama kalinya ia menaiki motor setelah sekian lama tak menyentuh jok motor.


Shaka sudah punya beberapa tempat tujuan untuk ia titipi surat lamaran. Bahkan pabrik pun tak luput dari incaran pria itu. Matahari yang sudah meninggi membuat Shaka memutuskan untuk beristirahat sejenak di kedai kopi. Di tempat inilah Shaka bertemu dengan salah satu temannya yang bekerja di restoran dengan menjabat sebagai manager. Dan dari pertemuan itu Shaka memperoleh pencerahan dengan menitipkan lamaran pada temannya.


"Gue bawa, ya. Habis ini gue kasih tunjuk langsung ke ownernya. Yang seleksi dia sendiri soalnya. Gue balik, ya."


"Ok. Makasih buat bantuannya."

__ADS_1


Setelah dari kedai, Shaka langsung pulang. Hari sudah sangat siang, ia sudah lapar dan cacing di perutnya sudah merindukan makanan masakan Nimas. ia punya optimis besar bahwa di restoran tempat temannya bekerja itu ia bisa di terima.


Di tengah perjalanan, sempat terlintas di kepala Shaka untuk berkeliling dengan Nimas naik motor. Pasti akan menyenangkan dan romantis, pikir pria itu.


Dan khayalan yang mampir di kepalanya itu membuat dirinya sampai di rumah dengan cepat. Ia melihat istrinya yang sedang bercengkrama dengan tetangga kompleks rumah. Begitu melihat dirinya pulang, wanita itu segera beranjak dan menghampirinya


"Udah pulang, Mas? Udah makan, aku akan hangatkan makanan kalau belum."


"Belum, Dek. Sengaja pulang cepat biar bisa makan masakan kamu aja."


Mereka berdua lalu beranjak ke dapur. Shaka mengintili ke mana istrinya itu pergi. Entahlah, sejak pindah rumah, Shaka semakin tak bisa jauh dari istri yang selalu ia anggap kecil itu.


"Dek," panggil Shaka seraya melakukan kebiasaannya. Mengendus-endus leher sangat istri.


"Kenapa?" tanya Nimas yang sudah terbiasa dengan kelakukan suaminya itu.


"Ingat kata dokter, kan?"


"Yang mana? Kan pesan dokter banyak, Mas."


"Yang itu." Jawaban Shaka yang sangat ambigu membuat Nimas bingung.


"Yang apa, Mas? Kamu jangan buat aku mikir, deh. Jangan nempel-nempel terus, Mas. Aku gerah, di sini lebih panas dari kos aku yang dulu tahu," gerutu Nimas.

__ADS_1


"Aku juga gerah, kita nyatuin keringat, yuk! Kata dokter kita nggak apa-apa sering makan ramyeon. Kan kegiatan itu bisa membuat persalinan lancar," kata Shaka dengan tatapan nakal. Menerima tatapan seperti itu membuat Nimas seketika melarikan diri ke kamar.


Yang baca pada baper nggak sih sama Shaka? Apa malah cinta Shaka teerlalu berlebihan? komentar dong, cantik 😊.


__ADS_2