Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
43. Kejutan


__ADS_3

Shaka dengan malas mendorong kursi roda yang ditumpangi oleh Raisa. Sejak tadi pria itu diam meskipun Raisa terus berceloteh dan bertanya padanya.


"Temani aku ke dalam dong, Ka. Masa aku sendirian di dalam?"


"Kau mau aku tunggu di sini atau aku tinggal? Aku bingung sama perubahanmu, kau ini bukan Raisa yang aku kenal. Raisa yang aku kenal tidak begini atau kau sedang menunjukkan sifat aslimu sekarang? Selama ini kau menutupi rapat-rapat sifat aslimu ini?"


"Berubah spanya sih, Ka? aku nggak berubah, aku sama seperti yang dulu. Aku begini juga karena aku masih cinta sama kamu."


"Kau masuk ke dalam sekarang, jangan buang-buang waktuku!" bentak Shaka sedikit keras.


Shaka benar-benar merasa diambang batas kesabaran. Tiga hari di rumah kedua orang tuanya justru membuat Shaka sama sekali tidak tenang, tidak fokus dengan pekerjaan, dan pikirannya malah bercabang kemana-mana.


Pikirannya selalu penuh sejak tiga hari yang lalu. Di setiap menit, detik, jam, hari, selalu ada saja yang membuatnya ingin meluapkan amarah. Dan detik ini adalah puncak kemarahan Shaka yang belakangan ini ia tahan dan berusaha ia tekan sekuat tenaga untuk tidak muncul ke permukaan.


"Kamu bentak aku?" tanya Raisa berkaca-kaca.


Melihat mata Raisa yang berkaca-kaca membuat Shaka sedikit menyesal karena sudah membentaknya. Namun, di detik berikutnya ia berusaha untuk membuang rasa itu agar dirinya bisa bersikap tegas dan tidak terlihat lemah di mata wanita itu. Ya, Shaka harus bisa bersikap tegas pada Raisa agar ia bisa menjauh darinya.


"Mau meneruskan nangis di sini atau mau masuk? Kalau mau nangis di sini, silakan! Aku akan menghubungi Mama atau supirmu atau siapa pun untuk menjemputmu nanti."

__ADS_1


Raisa bergegas mendorong kursi rodanya ke dalam ruangan untuk mengontrol keadaan kakinya. Shaka seketika meletakkan tubuhnya dengan kasar di kursi yang tak jauh darinya. Sungguh untuk pertama kalinya ia merasa frustasi dengan keadaan yang menimpanya. Bahkan di saat ia menikahi seorang wanita yang dihamili kakaknya saja ia tidak se frustasi ini.


Setelah satu jam menunggu Raisa, akhirnya wanita itu selesai juga melakukan kontrol di kakinya. Ia masih harus menggunakan kursi roda hingga check up untuk yang kedua kalinya.


"Untuk chek up selanjutnya atau serangkaian terapi apapun yang sedang kau jalankan, jangan melibatkan aku! Tolong, ini yang terakhir kalinya. Jika kau tidak menghargai keputusanku, terserah saja apa yang akan kau lakukan. Kau mau mengancam apa pun kepada Mama ataupun padaku, tidak akan berpengaruh apa pun."


"Tapi, Ka."


"Dengar, ya Raisa. Aku sudah sangat muak dengan sikapmu ini."


Raisa memilih untuk diam, ia masih mempunyai satu bom untuk membuat hubungan Shaka dan Nimas menjadi renggang. Wanita itu diam lantaran sedang memikirkan kapan waktu yang tepat untuk memberikan kejutan pada Nimas dan Shaka.


"Aku siang nanti mau ke rumah Nimas, Mama jangan hubungi aku jika itu berkaitan dengan Raisa. Di saat aku di sana, di saat aku bersama dengan istriku, aku tidak ingin diganggu oleh siapa pun apalagi soal wanita itu."


"Shaka kamu kok..."


"Cukup ma! Selama hampir seminggu ini aku selalu berusaha dengan susah payah untuk menekan emosiku di depan Mama. Tidak meluapkan amarahku dengan Mama. Tolong jangan lancing emosi aku terus. Lama-lama aku tidak nyaman tinggal di sini. Apa Mama mau aku pergi dari sini?"


"Nggak-nggak, jangan! Mama nggak mau kamu pergi."

__ADS_1


Obrolan pagi itu berakhir dengan anggutan yang diberikan oleh Shaka. Ia segera berangkat ke kantor dan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Ia berencana akan memberi kejutan Nimas dengan pulang tanpa memberinya kabar.


Namun sayangnya, sebelum Shaka memberikan kejutan pada istrinya, wanita itu ternyata sudah dikejutkan oleh Ibu mertuanya. Dengan menggunakan nomor yang tidak diketahui oleh siapapun, Bu Marisa mengirim foto kebersamaan Shaka dan Raisa saat sedang di rumah sakit. Lebih tepatnya momen di saat Shaka menyuapi mantan kekasihnya itu.


Tentu saja foto itu sampai di ponsel Nimas dengan cepat. Setelah beberapa menit gambar itu terkirim, akhirnya dibuka juga oleh Nimas. Melihat pesan gambar yang beliau kirim sudah berubah menjadi ceklis biru, Bu Marissa segera mengambil kartu miliknya dan mematahkannya menjadi dua lalu beliau buang ke tempat sampah. Senyum kepuasan dan kemenangan beliau sunggingkan di bibir tipisnya.


Jika Bu Marissa sedang tersenyum menikmati kemenangannya, maka lain halnya bagi Nimas. Wanita itu nampak memperhatikan layar ponsel tanpa berkedip.


Nimas merasa ada yang salah dengan hatinya ada sesuatu yang terasa ngilu saat melihat foto kebersamaan suaminya dengan wanita lain. Ia meneliti gambar itu lagi. Ada catatan di bawah foto yang menuliskan kapn ganbar itu diambil.


"Ini, kan tanggal Mas Shaka pulang dari sini. Jadi dia pulang karena ini? Bukan karena ada urusan kerjaan?"


Mata Nimas mulai memanas. Ada rasa sakit yang ia rasakan melihat gambar itu. Apalagi jika ia tahu, Shaka membohongi dirinya. Air mata tiba-tiba mengucur begitu saja dengan deras.


Kamu kenapa nangis, Nimas? Pernikahanmu dengan Shaka bukan karena saling cinta, bahkan kalian menikah karena sebuah keadaan. Mana mungkin dia jatuh cinta padamu dalam waktu yang sesingkat ini. Perhatian yang dia beri bukan karena cinta atau sayang, tapi karena kewajibannya sebagai suami. Siapa pun bisa melakukan kewajiban sebagai suami tanpa Cinta. Bisa-bisanya kamu berharap bahwa Shaka mencintaimu.


Tangis Nimas semakin menjadi. Ia merasa selama ini Shaka hanya berpura-pura memberikan perhatian penuh padanya. Kenapa hal ini bisa terjadi di saat ia mulai membuka hati untuk suaminya? Kenapa dirinya harus berbohong seperti ini? Seandainya saja Shaka mengatakan hal ini dari awal, atau setidaknya ia tidak membohongi dirinya sendiri yang selalu mengatakan harus melepas Raisa untuknya. Kenapa? Kenapa hal ini baru terungkap sekarang? Kenapa tak dari dulu saja? Setidaknya Nimas bisa menahan perasaan untuk tidak terlalu terbawa perasaan atau berharap sesuatu yang lebih padanya. Itulah sederet pertanyaan yang mampir di kepala Nimas. Ia semakin tersedu saat tiba-tiba rentetan pertanyaan itu muncul begitu saja di kepala.


Dan sejak pagi itu, Nimas menghabiskan waktu di kamar sepanjang hari. Ia masih merasa sakit hati dengan apa yang ia lihat ia tak beranjak ke mana pun sejak pagi, selain untuk memaksakan dirinya untuk makan. Kepada rumah yang sepi, membuat Nimas bebas menangis sepanjang hari tanpa brasa khawatir akan ada pertanyaan dari kedua orang tuanya. Meraka sejak pagi tadi tak berada di rumah, karena harus mengunjungi rumah saudara mereka yang sedang menggelar acara pernikahan.

__ADS_1


Hingga tiba-tiba sebuah salam terdengar di telinga Nimas.


__ADS_2