
"Kok Opa tahu namaku? Kan kita nggak pernah ketemu," jawab Bryan dengan polosnya.
Shaka meletakkan Bryan ke ranjang, ia dudukkan anak kecil itu di samping Pak Malik.
Ada yang bergetar di hati Pak Malik saat melihat anak kecil itu. Tanpa sadar beliau mengangkat tangannya dan meraba wajah sang cucu. Menangkup kedua sisi pipi kiri dan kanannya dengan kedua tangannya.
"Namamu Bryan?"
"Muhammad Bryan Bagaskara." Bryan menyebutkan nama lengkap tanpa diminta.
"Nama yang bagus," puji Pak Malik.
Tangan beliau masih mengelus pelan pipi gembul anak tampan itu. Rasa rindu terhadap anak yang meninggalkannya lima tahun lalu rasanya sudah terobati dengan melihat cucunya.
Ya Tuhan, anak ini mirip sekali dengan Bryan ku. Jadi anak yang dikandung Nimas benar-benar cucuku? Dia darah dagingku?
Tanpa sadar dan tanpa diminta kedua bola mata Pak Malik berkaca-kaca. Entahlah, beliau merasa hatinya menghangat. Penolakan beberapa tahun lalu rasanya entah hilang ke mana.
Sebenarnya Pak Malik sudah sadar akan kesalahan dan dosanya di masa lalu. Hal itu sudah beliau rasakan sejak beberapa tahun lalu. Sejak merasa bahwa Shaka bisa hidup tanpanya. Entah waktu atau sakitnya yang membuat Pak Malik sadar.
"Kamu mirip sekali sama papamu."
"Papa?" Bryan menatap Shaka sejenak lalu kembali mengarahkan pandangan ke arah Pak Malik. "Opa adalah pertama kalinya yang bilang kalau aku ini mirip sama Ayah. Banyak orang yang bilang aku nggak ada yang mirip sama Ayah dan Bunda," imbuhnya.
__ADS_1
"Maksudnya, warna kulit dan cara bicara. Maksud Opa mirip yang itu. Mirip bukan berarti di wajah saja. Tapi yang lain juga bisa," sela Shaka agar tidak ada pembahasan yang berlanjut mengenai Ayah kandung Bryan.
Mendengar sahutan dari sang anak membuat Pak Malik mengerti cucunya itu belum mengerti kenyataan yang sebenarnya. Beliau hanya manggut-manggut pelan.
Oh, jadi Bryan kecil ini belum tahu siapa Ayah kandungnya? Shaka dan Nimas melakukan ini pasti punya alasan yang terbaik untuk anaknya. Baiklah, akan aku buat Bryan tahu siapa Ayah dan asal usulnya. Ide yang bagus Marissa. Lakukan ini sebersih mungkin agar tidak ada yang tahu siapa yang membongkar sesuatu yang ditutup lama.
"Pa, mudah-mudahan cepat sembuh seperti sedia kala. Dari hati kami yang paling dalam, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk kesalahan kami di masa lalu. Kami sadar seharusnya kami tidak memutuskan sesuatu saat sedang marah." Nimas merendahkan hati untuk meminta maaf lebih dulu meskipun dirinya lah yang menjadi korban keusilan Ibu mertuanya.
"Iya. Papa juga salah. Sudahlah, lupakan saja semuanya. Kita semua sama-sama salah. Apa kalian bisa kembali pulang ke rumah? Papa ingin kita bisa berkumpul lagi. Papa sudah tua, rasanya sudah tidak pantas dan sudah bukan waktunya lagi untuk mempertahankan ego."
Berbeda dengan Bu Marissa yang baiknya hanya bayangan semu. Pak Malik mengeluarkan kata demi kata dari hatinya yang paling dalam. Sudah lama beliau merindukan momen ini, hanya saja gengsinya kala itu masih tinggi. Dan sekarang, beliau tidak mau mempertahankan ego apalagi gengsi. Terlebih setelah melihat Bryan, rasa ingin dekat dengan sang anak justru semakin bulat. Beliau mengenyampingkan masalah menantu yang jauh dari kriterianya.
"Kita pi..."
"Iya, Pa. Kami bersedia untuk tinggal bersama lagi," potong Nimas dengan cepat.
Shaka diam, meskipun dalam hati ia marah. Bukan waktu yang tepat untuk menegur istrinya sekarang.
"Tinggal bersama? Apa Oma dan Opa akan pindah ke rumah kita, Bun?" tanya Bryan.
"Kita yang akan pindah. Kita akan jaga Oma dan Opa bersama-sama. Biar Opa nggak sakit-sakit lagi. Kamu mau?"
"Mau. Ke mana pun asal sama Bunda dan Ayah aku mau. Berarti sekolah aku pindah?"
__ADS_1
"Nggak, sekalian SD aja pindah ke sekolah dekat rumah Oma," sela Shaka dengan wajah datar.
Pak Malik dan Bryan akhirnya bercengkrama bersama. Mereka mengobrolkan sesuatu yang bisa mendekatkan diri mereka agar jauh lebih dekat. Sesekali tawa terdengar dari mulut keduanya. Sedangkan Bu Marissa juga ikut bercengkrama meski dengan wajah sandiwaranya.
Sementara itu, Shaka menarik tangan Nimas untuk ikut dengannya keluar ruangan. Pria itu menggeret istrinya menjauh dari ruangan.
"Ada apa, Mas? Kenapa kami bawa aku ke sini? Pelan-pelan jalannya."
Shaka menghentikan langkah setelah sudah jauh dari ruangan.
"Sudah dua kali, Nimas. Sudah dua kali kamu memutuskan sesuatu tanpa seizin ku. Dengan mudahnya juga kamu juga memotong ucapan aku. Aku ini siapa, sih buat kamu?" Shaka meluapkan sedikit emosinya. Bahkan ia melupakan bahasa yang seringkali ia gunakan dengan istrinya. Panggilan sayang, bagaimana ia menyebutkan dirinya, ia lupakan sejenak.
Nimas yang sudah sangat lama tidak mendengar Shaka menyebut namanya seketika sedikit berkaca-kaca. Rasanya sangat berbeda saat Shaka mengatakan itu.
"Mas," ujar Nimas sangat lirih.
Mendengar dirinya dipanggil seperti itu, Shaka seketika sadar bahwa ia menyakiti istrinya dengan ucapannya. Ia memejamkan matanya sejenak lalu yang menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Kamu sadar nggak, apa yang kamu lakukan ini salah. Mas tahu, Dek, maksud kamu itu baik. Kamu mau Mas kembali berbakti kepada orang tua. Kamu ingin mengembalikan anaknya pada mereka, Mas tahu itu. Yang aku maksud caranya nggak gini. Bukankah apa pun yang kita ambil dalam kehidupan kita itu perlu diperhitungkan? Mas cuman mau, kamu menghargai Mas sebagai suamimu. Keputusan yang kamu ambil tadi itu tidak hanya keputusan kamu saja, tapi melibatkan Mas dan juga anak kita. Memangnya Mas pernah mengambil keputusan secara sepihak jika melibatkan keluarga? Mas ngambil keputusan untuk diri Mas sendiri saja, Mas diskusi sama kamu loh."
Nimas diam seraya menatap lantai rumah sakit. Ia baru sadar apa yang ia lakukan ternyata menyakiti harga diri suaminya. Dalam hatinya ia merutuki dirinya sendiri karena terlalu ceroboh dalam mengambil keputusan untuk keluarga kecilnya.
"Maaf. Aku nggak sadar kalau apa yang aku ucapkan ini menyangkiti kamu. Aku minta maaf."
__ADS_1
"Mas mana bisa marah sama kamu dalam waktu lama sih, Dek? Mas sadar habis bentak kamu aja Mas nyesel. Bukannya Mas nggak mau dukung apa yang kamu mau, Mas dukung kok. Mas bangga punya istri kayak kamu yang berbesar hati bersedia memberi maaf ke kedua orang tua Mas. Nggak semua perempuan seperti kamu. Nggak semua manusia punya hati selembut kamu. Tapi tolong, lihat Mas juga. Kita akan kembali ke rumah, tapi nggak sekarang. Oke, kita tunggu Bryan sampai masuk SD baru kita pindah."
Nimas menganggukkan kepala lalu meletakkan kepalanya di dada lebar sang suami. Itu sering ia lakukan sebagai permohonan maaf atas apa yang ia lakukan.