
Bryan sedang bersiap akan mandi saat Nimas mengetuk pintu. Wanita itu masuk ke dalam kamar anaknya setelah mendapat jawaban dari sang anak.
"Kakak mau mandi?"
"Iya. Tapi bentar lagi masih ada keringatnya. Bunda ngapain ke sini? Nanti adik nangis."
"Kok ngomongnya gitu? Anak Bunda nggak cuman adik, tapi Kakak juga. Kakak ada yang mau diomongin sama Bunda? Atau mungkin Kakak mau apa, pengen sesuatu? Bunda pernah ngasih tahu Kakak nggak sih, kalau memendam perasaan atau ada sesuatu yang ingin ditanyakan, ada hal yang mengganjal, itu harus diucapkan, harus ditanyakan, karena hal itu bisa menggerogoti hati kita yang baik menjadi tidak baik. Karena kita memendamnya sendirian, kita jadi menerka-nerka, main tebak-tebakan apa yang sebenarnya terjadi, karena kita nggak cerita sama yang lain. Jadi akhirnya timbul kebencian dan kecemburuan karena pikiran kita yang salah."
Bryan masih diam.
"Bunda harus apa biar kakak cerita sama Bunda? Kakak mau buat Bunda sama Ayah sedih, ya sama sikap Kakak yang berubah ini? Kita tahu loh kalau Kakak jadi lebih pendiam dan wajahnya kelihatan sedih. Kenapa, Ada apa?"
"Aku kesal karena Bunda sama Ayah lebih peduli dan sayang sama adik daripada sama aku. Sejak adik lahir, Ayah sama Bunda jadi berkurang sayangnya sama aku, jadi sayangnya cuman ke adik aja. Aku kayak dilupakan semua orang. Waktu di rumah sakit, waktu adik pulang, semuanya jadi meninggalkan aku sendirian karena melihat adik. Semuanya fokus ke adik."
Bryan akhirnya buka suara karena merasak bosan sejak kemarin ditanya hal yang sama oleh kedua orang tuanya.
"Malah tadi pagi aja Bunda nggak sadar kalau aku ada di dekat Bunda. Bunda cuman peduli sama adik yang nangis nggak negur, aku nyapa aku. Emang aku nggak kelihatan, ya?"
"Bukan gitu. Iya Bunda akui Bunda salah untuk yang tadi pagi, Bunda minta maaf. Bunda cuman mau adik Mira nggak ganggu tidurnya Ayah. Ayah semalam begadang jagain adik yang bangunnya gantian. Bunda harus apa biar kakak maafin Bunda?"
__ADS_1
Bryan bungkam.
"Nak, baik Ayah, Bunda, kamu, semua manusia itu pasti pernah punya salah. Ada momen di mana dia itu kadang adil kadang enggak, itu sudah manusiawimaa. Jika memang apa yang bunda perbuat tadi sangat melukai hati Kakak, Bunda minta maaf. Bunda sama Ayah janji akan berusaha semaksimal mungkin untuk membagi waktu sama adik dan juga Kakak. Kasih sayang Ayah sama Bunda nggak mungkin berkurang atau pindah ke adik aja. Nggak ada orang tua yang nggak sayang sama anaknya. Nggak boleh Kakak berpikir seperti itu. Coba deh Kakak berbaur sama adik, berbaur sama yang lain. Kakak akan merasakan kasih sayang sama seperti sebelum adik lahir. Kalau Kakak seperti ini terus, Kakak akan merasa sendiri dan apa yang Kakak rasakan ini akan begini terus. Sekarang keringatnya udah nggak ada, Kakak mandi, ya. Bunda tunggu, habis itu kita sarapan."
Bryan menurut. Anak itu berlalu dari hadapan ibunya dan meadik ke dalam kamar mandi. Sementara Nimas menyiapkan pakaian untuk anaknya.
Bryan mandi dengan pikiran yang sedikit terbuka. Hanya sedikit saja, karena masih ada yang lain yang mengganjal di hatinya. Tapi ia tidak punya keberanian untuk membicarakannya. Ia merasa pertanyaan itu terasa berat untuk diucapkan dan mungkin saja akan untuk dikabulkan.
Selesai dengan ritual mandi dan berpakaian, anak dan Ibu itu langsung saja menuju meja makan yang ternyata semua orang sudah berkumpul di ruangan yang selalu penuh dengan makanan itu. Nimas menghentikan langkah anaknya.
"Lihat itu, keluarga Kakak sayang sama Kakak, kan? Mereka nggak makan kalau Kakak belum datang. Mereka mau makan bareng seperti biasa. Sebelum adik lahir juga begini, kan? Kalau Kakak telat turun, kita semua nungguin Kakak? Sekarang masih sama, kan? Itu artinya apa coba Bunda tanya."
"Benar sekali. Dulu pas Kakak lahir juga sama kayak adik lahir, semuanya jadi memusatkan perhatiannya ke Kakak."
Bryan menganggukkan kepala paham. Langkah berlanjut setelah obrolan singkat yang untungnya bisa membuka pikiran Bryan perlahan.
Semua bersikap seperti biasa, memanjakan Bryan dengan meladeni anak itu ingin makan apa dan mengambilkan untuknya. Sementara di kembar yang juga berasa di meja makan degan boxnya tengah tertidur pulas, selama mereka tak terganggu dengan riuhnya orang dewasa yang sedang bercengkrama.
Seminggu setelah hari itu, sedikit demi sedikit Bryan kembali seperti biasa meski tak sepenuhnya. Besok adalah hari ulang tahunnya, biasanya, Ayah dan Ibunya sehari sebelum hari jadinya, ia akan ditanya oleh mereka ingin dirayakan di mana dan hadiah apa? Untuk pertama kakinya, hari ini Bryan tidak ditanya sesuatu apa pun yang berhubungan dengan kado atau pun ulang tahun. Semua bapak bungkam dan seakan lupa besok adalah hari istimewanya.
__ADS_1
Bukan acara atau kado yang Bryan inginkan. Cukup ucapan dan doa selamat ulang tahun saja rasanya sudah cukup.
"Selamat sore semua, Nino datang lagi. Lihat Om bawa apa buat ponakan kesayangan Om." Nino dan ayahnya duduk di teras, bergabung dengan Shaka dan Nimas beserta ketiga anaknya.
"Om mau jemput Nenek, ya? Sepi dong rumahnya kalau Nenek pulang." Bryan sedikit mengabaikan paper bag yang di sodorkan Nino.
"Lebih sepi mana sama rumah Nenek di kampung? Di sini, kan Bryan udah ada adik, Oma, Opa. Udah ada temennya. Nih, Om bawa oleh -oleh buat Bryan."
Bryan membukanya, ada beberapa potong pakaian dan juga dua buah celana. Ada beberapa mainan juga berada di tas paper bag itu. Bryan senang, akhirnya ada yang ingat bahwa dirinya ulang tahun besok.
"Main, yuk Om!"
Tanpa persetujuan dari Nino, Bryan menggeret pria itu ke dalam rumah yang tak lama kemudian, datang Ayah Nimas ke teras dan membawa salah satu anak kembarnya untuk beliau bawa ke dalam rumah.
"Mas, gimana? Surprise buat Bryan udah ada? Udah jadi, kan dokumennya?"
"Ini Mas mau ambil. Sekalian ambil buat dekor. Biar nanti tengah malam bisa Mas garap sama Nino."
Shaka lalu beranjak dari duduknya dan mengarahakan kakinya ke garasi.
__ADS_1