Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
85. Kecemasan Bu Marissa


__ADS_3

"Gimana, Ma? Masih mau ngatain saya, masih mau fitnah saya, masih mau menjelek-jelekan saya di depan orang lain? Terus saja lakukan itu jika Mama suatu hari nanti bisa menahan malu. Mau disimpan serapat apa pun, suatu hari nanti juga akan tercium siapa yang buruk di mata orang lain, saya atau Mama. Jadi lebih baik, Mama berhenti sekarang juga atau nanti Tuhan akan membalikkan keadaan. Sekarang saya jadi bahan gunjingan orang karena Mama. Jangan sampai Mama merasakan apa yang saya rasakan sekarang." Nimas mengambil kembali kertas yang dibawa oleh Ibu mertuanya lalu kembali ke kamar.


Sementara Marissa masih melongo di tempat. Ia merasa nyawanya seakan terbang entah ke mana. Rasanya sangat sulit dipercaya jika Nimas dalam kondisi baik-baik saja. Pikiran wanita itu langsung tertuju pada Shaka.


"Sialan. Tapi nggak mungkin, nggak mungkin Shaka nggaak bisa punya anak. Dia pasti sehat, anakku sehat. Ya, anakku tidak mungkin punya masalah soal itu." Bu Marissa berjalan menuju kamarnya dengan terus meyakinkan diri bahwa anaknya itu baik-baik saja.


Beberapa hari setelah itu, pikiran Bu Marissa seakan tak bisa lepas dari kertas yang beliau lihat saing itu. Bagaimana tidak? Beliau sudah menggembor-gemborkan bahwa Nimas uang bermasalah degan rahimnya, tapi rupanya wanita itu tidak bermasalah. Beliau berharap kertas itu tidak akan sampai ke tangan siapa pun.


Banyak hal yang terjadi selama Shaka tidak ada di rumah. Bryan yang selalu terlihat murung dan tak ada semangat, yang jarang bicara dengan ibunya, bahkan lebih pendiam dari biasanya. Sungguh pemandangan ini membuat Nimas tidak fokus melakukan apa pun.


"Kamu kenapa, sih, Dek? Kok kayak ada pikiran, Mas merasa beberapa hari terakhir kamu kayak ada yang dipikirkan. Ada apa? Mikir apa, hm?" Shaka bertanya melalui video call disuatu malam.


"Nggak kok, Mas. Perasaan kamu aja, aku lagi cape aja."


"Kamu bisa bohong sama yang lain, tapi sama Mas nggak bisa. Ayo cerita ada apa? Mas udah ngerasa dari beberapa hari yang lalu. Sengaja Mas nggak nanya, biar kamu cerita dulu, tapi Mas tunggu nggak cerita-cerita. Kalau yang ada dalam pikiran kamu masalah yang ringan, nggak akan kamu bawa sampai berhari-hari."

__ADS_1


"Bryan, Mas."


"Ada apa sama Bryan?"


Mengalirlah cerita Nimas beberapa hari yang lalu. Ia berusaha untuk tidak menangis di depan suaminya agar pria itu tak khawatir. Ia tahu, jika Shaka melihat air matanya, maka dipastikan Shaka akan pulang saat itu juga dan meningalkan pekerjaannya.


"Mama berulah lagi? Maaf, Mas kembali membawa kamu dalam masalah. Ya sudah, biarkan saja Bryan seperti ini dulu. Kamu tetap bujuk pelan-pelan, tapi jangan dipaksa, ya. Biar Mas aja nanti yang urus. Sebentar lagi pekerjaan Mas udah beres. Ya udah kamu istirahat, jangan terlalu dipikirkan. Yakinlah semua akan baik-baik saja."


Nimas lebih tenang sekarang, ia tak menyembunyikan apa pun lagi. Rasa sesak yang sempat melanda perlahan berkurang setelah berbagi beban pikirannya dengan suaminya.


Seperti saat ini, di saat ritual pagi yang selalu berkumpul di meja makan, Bu Marissa telihat diam dan fokus dengan makanannya. Baguslah jika Bu Marissa masih punya rasa malu, kata Nimas dalam hati.


"Nimas, kapan Shaka akan pulang?" tanya Pak Malik di tengah sarapannya.


"Kalau nggak ada kendala besok malam sampai rumah, Pa.

__ADS_1


Besok Shaka pulang? Apakah semua akan baik-baik saja jika Shaka mengetahui Nimas periksa diam-diam dan hasilnya akan membuatnya rendah diri?


Jujur saja diamnya Bu Marissa adalah sebagai bentuk rasa khawatirnya terhadap sang anak. Padahal beliau juga tidak pernah melihat hasil pemeriksaan Shaka, namun jika Nimas tidak ada masalah dan usia pernikahan yang sudah tujuh tahun tidak kunjung hamil apa lagi yang jadi masalah jika bukan dari faktor Shaka? Begitulah kira-kira yang ada dalam kepala Bu Marissa.


Padahal apa yang ada dalam pikiran Bu Marissa bukan faktor satu-satunya. Bisa saja karena Tuhan yang belum mempercayai mereka untuk kembali punya anak. Tapi pikiran itu tidak ada dalam kepala Bu Marissa. Kesombongan dan keangkuhannya terhadap sesama karena merasa di atas membuat dirinya jauh dari Tuhan.


Selesai sarapan, Nimas dan Bryan mengundurkan diri dari meja makan. Hari ini ada ujian di sekolah Bryan. Ana itu harus berangkat lebih awal.


"Mama mikir apa? Belakangan terlihat diam dan tidak banyak bicara," ujar Pak Malik selepas kepergian menantunya.


"Beberapa hari yang lalu Mama melihat hasil laporan kesehatan Nimas. Di kertas itu tertulis bahwa rahim Nimas baik-baik saja, maksudnya tidak ada masalah dalam rahimnya atau apa pun yang berhubungan dengan kehamilan. Kalau sampai sekarang Nimas tidak hamil itu artinya masalah ada pada Shaka, Pa. Mama mikirin itu dari kemarin. Masa anak kita nggak sehat, Pa?"


"Shaka aja belum periksa kok kamu mikir begitu. Mikir itu yang bagus-bagus, yang baik-baik, biar yang terjadi juga baik. Sampai sekarang Nimas belum hamil karena memang belum waktunya aja, Ma. Ya sudah kalau sudah tahu begitu, mulai sekarang kamu jangan mempengaruhi Shaka untuk memaksa Nimas makan ini dan itu. Sekarang kamu sendiri, kan yang malu kalau sudah begini. Kamu mau minta Nimas untuk mengkonsumsi apa pun yang bisa mempercepat kehamilan, tapi nyatanya dia baik-baik saja. Kamu melakukan itu bukan untuk membantu mereka, tapi untuk memisahkan mereka. Papa selama ini diam jangan berpikir kalau Papa nggak tahu, ya Ma. Kamu selama ini masih belum menerima Nimas menjadi menantu, kan? Lalu kamu bertindak seakan-akan kamu memberikan perhatian pada Nimas melalui Shaka. Kamu melakukan ini biar Shaka berpikir kalau Nimas tidak bisa hamil lagi lalu meninggalkannya begitu, kan?"


"Papa nggak usah ngarang!" elak Bu Marissa.

__ADS_1


"Ma, kita ini sudah suami istri berapa tahun, sih? Berapa puluh tahun kita bareng-bareng? Apa yang kamu rasain, apa yang kamu lakukan tanpa ada penjelasan atau kata-kata itu akan diketahui oleh Papa, begitu juga sebaliknya. Nggak akan berguna kamu menyembunyikan apa pun dari Papa. Sengaja Papa diam karena Papa mau tahu kamu akan berusaha sampai mana? Apakah selama ini yang terjadi di depan kita itu kurang? Kurang apalagi, sih, kalau mereka itu memang benar-benar saling mencintai. Jangan dipisahkan begitu dong, Ma. Kamu nggak kasihan sama anak kamu? Apa kamu harus ditegur dulu sama Tuhan biar berubah? Sama kayak Papa, nunggu ditegur dulu? Iya?"


__ADS_2