
Suasana di rumah Shaka semakin riuh ketika keluarga Nimas baru saja sampai di rumahnya. Bu Marissa menyesalkan kenapa mereka datang sendirian, tidak menghubungi keluarganya terlebih dahulu.
"Bukan kejutan namanya kalau kita menghubungi kalian. Jangan dipikirkan, tidak masalah." Itulah jawaban Ayah Nimas ketika di protes oleh besannya.
Nino yang selama perjalanan hanya diam kini sedikit mulai bertingkah saat melihat ketiga keponakannya. Nino yang sejak dulu menyukai anak kecil dengan mudah berbaur dengan si kembar.
"Kebetulan sekali kalian ke sini, kemarin kita baru saja mendengar kabar baik dari Nimas dan Shaka." Bu Marissa datang dari dapur dan membawa beberapa piring camilan.
"Wah kabar baik apa itu?" Ibu Nimas yang menyahut.
Belum sempat Bu Marissa menjawab pertanyaan besannya, Nimas sudah berlari ke belakang seraya menutup mulut menahan mual. Hal itu tentu saja mengundang tanya bagi kedua orang tuanya. Namun di detik berikutnya, Ibu Nimas menatap besannya dengan sorotan seakan-akan bertanya bahwa apakah anaknya itu hamil?
Bu Marissa seakan mengerti tatapan yang beliau terima, beliau hanya menggangguk seraya tersenyum bahagia.
"Kita akan mendapatkan cucu lagi?" pekik Ibu Nimas tanpa sadar, suaranya sedikit keras. Sehingga membuat Nino yang asik bermain dengan si kembar dan Bryan seketika mengalihkan perhatiannya pada ibunya.
"Kamu dapat adik lagi, Bryan?"
"Iya. Nanti Nenek sama Kakek dan sama Om sering nginep di sini, ya kalau adikku yang ketiga udah lahir. Pasti nanti Bunda kerepotan kalau adiknya udah lahir. Jadi Nenek bisa bantuin Bunda sama Oma ngurus adiknya yang baru lahir."
"Cape dong Nenek sama Kakek kalau sering-sering ke sini, perjalanan dari rumah yang di kampung ke sini, kan jauh." Nimas yang baru datang dari kamar mandi dengan suaminya menyahut kalimat anak sulungnya.
Ternyata harapan semua orang tetap sama seperti dia tahun yang lalu. Nino seakan mendapatkan angin segar untuk membujuk ayahnya kembali. Sempat terpikir olehnya untuk menjadikan patah hatinya ini sebagai alasan pergi dari kampung, tapi entah kenapa mulutnya masih ragu hendak membuka suara. Terlepas dari patah hatinya, keinginan Nino untuk berkerja dengan Kakak iparnya itu sebenarnya masih menggebu.
__ADS_1
***
Sore harinya, Shaka mengajak semua orang untuk berkeliling kota. Ia hanya punya waktu dua hari untuk mengajak kedua mertuanya. Itulah kenapa ia ingin sesekali mengajak mereka keliling kota hanya untuk makan atau belanja sesuatu yang tidak mereka punya.
Rombongan keluarga itu tentu saja sedikit menyita perhatian banyak orang karena tingkah Nisa dan Mira yang tak bisa diam di mana saja. Nino yang lelah mengejar mereka akhirnya menggendong keduanya. Ia mengajak ketiga keponakannya untuk sedikit berpencar dari rombongan para orang tua.
"Om, main itu Om." Bryan menunjuk sebuah mobil-mobilan. Dengan senang hati ia mengantar keponakannya yang paling besar ke area permainan. Sementara si kembar juga ia turunkan agar bisa bermain dengan banyak anak yang seusia mereka.
Nino melihat sekeliling sejenak untuk mencuci mata. Dan sialnya tak sengaja ia melihat wanita yang mirip dengan kekasihnya seorang berduaan dengan seorang pria. Khawatir jika ia salah lihat, ia mengucek kedua matanya untuk memastikan apakah yang ia lihat nyata atau hanya ilusi semata.
Nggak, mana mungkin itu dia. Mungkin hanya mirip.
Berkali-kali Nino mencoba untuk abai, tetap saja pandangannya ingin sekali tertuju pada wanita yang mirip dengan kekasihnya.
Setelah beberapa saat fokus pada keponakannya yang masih asyik bermain, Nini kembali mendongak ke tempat di mana tadi ia melihat wanita yang hingga kini masih jadi kekasihnya, namun kehilangan kabar darinya. Dan ternyata wanita itu sudah tak ada.
Seperti yang sudah-sudah, kedua anak gadis ciliknya itu seringkali meronta jika ayahnya itu hendak menggendongnya. Mereka sama sekali tidak bisa akur atau dekat dengan ayahnya, sama persis seperti Nimas yang tidak ingin di dekati Shaka saat hamil mereka.
Seperti sudah tahu apa yang terjadi, Bu Marissa datang tak lama setelah Mira dan Nisa sedikit mengamuk. Hanya dengan satu kali rayuan, si kembar sudah berada dalam genggaman omanya. Shaka hanya memutar bola matanya seakan kesal dengan anaknya sendiri yang sama sekali tidak menurut padanya.
"Kamu tahu, No? Aku pernah dengar bahwa anak perempuan itu pasti akan jadi anak Ayah. Anak perempuan akan dekat dengan ayahnya, tapi lihat anakku. Aku jadi ingat saat Nimas hamil mereka." Shaka berkacak pinggang seakan menunjukkan bahwa anaknya itu membuatnya kesal karena tak adil padanya.
"Sabar, Kak. Mudah-mudahan hanya sementara. Aku ke ke kamar mandi dulu bentar. Udah nahan banget dari tadi."
__ADS_1
Nino segera berlari ke kamar mandi dan dalam perjalanan, tak sengaja ia menabrak seseorang dan membuat tas yang barasa dalam tangan wanita itu berhamburan di lantai.
"Astaga, maaf saya nggak sengaja." Nino membantu mengambil yad yang berserakan dan mengembalikan pada siang pemilik.
Jantung Nino terasa berhenti berdetak secara tiba-tiba saat tahu siapa orang yang ia tabrak.
"Dinda, kamu Dinda?"
"Iya, aku Dinda. Terima kasih sudah membantu mengambil tasnya." Dinda mengambil yas yang berada di genggaman Nini dan berlalu dari sana.
Namun, langkahnya yang baru satu langkah menjauh sudah terhenti karena tangan Nino yang sudah nangkring di pergelangan tangan Dinda.
"Kamu kok bisa di sini? Jadi yang aku lihat tadi beneran kamu? Kamu sama siapa tadi? Kenapa kamu hilang nggak ada kabar? Aku cari ke rumah nggak pernah ada orang." Berbagai rentetan pertanyaan keluar begitu saja dari mulut Nino.
"Aku sudah katakan berkali-kali kalau aku pengen kita segera menikah. Tapi kamu suruh aku sabar terus dan ini hasilnya. Apa kamu pikir aku desak kamu untuk nikahin aku itu karena aku nggak sabar? Bukan itu alasannya, aku akan dinikahkan dengan anak teman Ayah yang di sini kalau kamu nggak ada keseriusan."
"Kamu nggak pernah bilang alasannya, Dinda. Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu mau dijodohkan?"
"Kalau kamu niat serius sama aku, tanpa aku kasih tahu alasannya pun seharusnya kamu nikahin aku. Ya, paling nggak lamar aku. Tapi kamu nyuruh aku sabar terus. Mau sampai kapan? Aku perempuan, butuh kepastian. Nggak cuman ucapan sabar. Aku juga butuh kepastian dari kamu."
"Lagian kenapa buru-buru banget sih Din, usia kamu masih dua puluh dua tahun. Masih muda, tiga tahun lagi kamu menikah nggak akan jadi masalah, nggak akan jadi soal."
"Buat kamu, buat orang tua aku nggak. Kamu, kan juga tahu lingkungan rumahku gimana? Akan jadi omongan kalau di usiaku sekarang belum menikah."
__ADS_1
"Persetan dengan omongan orang, Dinda. Kenapa kamu jadi peduli banget sa..."
"Sorry, ya Din lama." Ucapan Nino terpotong oleh datangnya seseorang.