Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
46. Janji Bu Marissa


__ADS_3

Hari ini adalah hari ke empat belas Nimas berasa di rumah orang tuanya. Mereka hari ini berencana akan ke rumah sakit untuk memeriksan kandungan Nimas yang sudah berusia tiga bulan. Nimas berharap kontrol kali ini membawa berita baik, yakni ia bisa kembali beraktivitas seperti dahulu. Hampir satu bulan tak melakukan apa pun rasanya sangat membosankan. Ia tak sabar ingin terbebas dari kursi roda.


"Perkembangan janin cukup bagus. Jika mendengar cerita Ibu dan melihat hasil USG ini, saya rasa Ibu bisa kembali beraktivitas dengan normal. Tapi harus tetap hati-hati dan tidak boleh terlalu lelah. Kandungan yang masih di trimester awal sangat rentan untuk keguguran. Saya rasa cukup pertemuan kita hari ini. Saya resepkan vitaminnya dulu, ya."


Akhirnya harapan Nimas untuk kembali bisa melakukan kegiatan terkabul juga. ia senang akhirnya ia bisa bebas bergerak kembali. Ia seperti baru saja keluar dari penjara dan sedang menghirup udara segar.


"Ingat jangan cape-cape. Jangan melakukan apa pun yang berat!" ujar Shaka mengingatkan. Mereka kini sedang berada dalam perjalanan pulang.


"Iya, aku akan banyak istirahat. Aku sudah bisa kembali beraktivitas, kapan aku bisa kembali ke Jakarta?"


Jujur saja, sebenarnya Shaka tidak ingin membawa Nimas kembali ke rumah kedua orang tuanya. Ia merasa di sana sama sekali tidak aman. Apalagi tindakan ibunya yang sungguh diluar pemikirannya. Dimulai dari usaha membuat Nimas jatuh, usaha untuk membuat hubungannya dengan Nimas renggang dan bisa jadi vitamin yang beberapa waktu lalu adalah ulah dari ibunya juga. Ah rasanya pusing sekali Shaka jika memikirkan ini.


"Kita tinggal terpisah sama Mama aja, ya. Kita tinggal sendiri. Aku nggak mau ninggalin kamu bersama orang yang sudah sangat jelas tidak menyukai kamu."


"Mas, ini tantangan buat aku. Aku nggak mau kabur. Aku mau hadapi ini, aku mau usaha dulu untuk membuat kedua mertua aku menerima aku jadi menantunya. Aku tahu, ini sangat sulit, tapi setidaknya biarkan aku berusaha. Kamu mau kita menjalani rumah tangga yang selamanya tidak mendapat restu?"


"Nggak harus tinggal serumah juga, Nimas. Ada banyak cara."

__ADS_1


"Kita tinggal serumah aja aku yakin akan memakan waktu lama untukku, Mas. Apalagi jika harus tinggal terpisah. Kamu percaya aku, kan? Janji aku akan jaga diri."


Shaka sebenarnya suka dengan jalan pikiran Nimas. Mungkin hanya segelintir orang yang akan melakukan apa yang Nimas lakukan. Tidak disukai, tapi masih keras kepala untuk membuat ia disukai dan direstui. Memang benar, menjalani rumah tangga tanpa restu memang tidak mudah, tidak baik juga untuk kedepannya. Shaka salut dengan keberanian Nimas mengenai jalan hidupnya. Sifatnya yang terkadang childish seakan hilang jika mode dewasa wanita itu sedang muncul di permukaan.


Membahas hal ini membuat Shaka teringat pertengkaran antara dirinya dan juga ibunya yang terjadi dua minggu yang lalu.


"Mama!" Shaka berteriak memanggil ibunya. Kaki pria itu baru saja sampai di teras rumah setelah bepergian dari rumah istrinya.


Bu Marissa yang mendengar teriakan dari Shaka pun akhirnya membawa dirinya keluar. Bu Marissa sedikit terkejut dengan teriakan Shaka yang menggema. Tidak pernah beliau mendengar suara keras dari anaknya yang satu itu.


"Ada apa? Tangan Mama kenapa usil banget sih, Ma? Aku selama ini udah berusaha, ya Ma. Aku sangat berusaha menahan untuk tidak kurang ajar sama Mama. Aku diam ketika aku mengetahui kejahatan Mama. Tapi kenapa semakin ke sini Mama malah semakin menjadi?" Shaka bicara dengan pelan, namun lebih dengan intimidasi dan penekanan di setiap katanya.


"Kamu ngomong apa, sih? Mama nggak ngerti."


"Mama, kan yang udah ambil foto aku sama Raisa di rumah sakit? Mama juga yang ngirim foto itu ke Nimas pakai nomor baru. Iya, kan Ma?"


"Mama nggak ngerti, ya sama jalan pikiran kamu. Ngapain juga Mama melakukan hal yang nggak ada kerjaan kayak gitu?"

__ADS_1


"Sudah cukup, Ma. Sudah cukup sampai sini saja Mama berusaha untuk merusak rumah tangga anaknya sendiri. Aku kecewa banget sama Mama. Mama ini perempuan, tapi Mama menyakiti perasaan wanita lainnya. Aku tahu apa yang Mama lakukan sebelum aku mengajak Nimas untuk pergi ke rumah orang tuanya. Mama yang membuat lantai di kamar menjadi licin, kan? Mama berusaha untuk menggugurkan kandungan Nimas. Melenyapkan janin yang tidak punya dosa dengan Mama? Jangan tanya aku tahu dari mana, Ma. Aku tahu apa yang sudah Mama lakukan di belakangku. Aku tahu apa yang Mama lakukan ketika aku tidak ada di rumah. Apakah di saat itu aku marah sama Mama? Nggak, kan? Dan sekarang yang Mama lakukan itu menyakiti hati aku. Maaf Ma, aku harus pergi dari sini. Aku nggak bisa satu rumah sama Mama. Aku nggak bisa satu rumah sama orang yang jahat. Ke mana Mama yang aku kenal dulu?"


Shaka sedikit berkaca-kaca saat mengatakan itu. Nafasnya pun terasa sesak. Kakinya ia bawa melangkah ke kamar dan mengemasi semua pakaiannya ke dalam koper. Bu Marissa yang tidak mau ditinggal oleh anaknya itu seketika meraung meminta maaf.


Sejahat apapun seorang Ibu pasti tidak akan mau jika berpisah dari anaknya. Apalagi sekarang Shaka adalah anak satu-satunya Bu Marissa. Namun nampaknya usaha yang dilakukan Bu Marissa sia-sia saja, karena ia tetap bulat pada pendiriannya. Ia terus memindahkan pakaian ke dalam koper tanpa bergeming sedikit pun.


"Shaka, Mama cuman punya kamu. Jangan tinggalin Mama. Mama minta maaf, Mama akan minta maaf sama Nimas. Tapi Mama mohon jangan pergi."


Usaha Bu Marisa untuk mengejar anaknya sia-sia saja. Langkah wanita itu kalau lebar dengan anaknya. Sehingga beliau yak bisa mengejar sang anak yang sudah melanjukan mobilnya. Bu Marissa hanya mampu terduduk di teras menangisi kepergian Shaka.


Di dalam mobil pun, Shaka menitikkan air matanya. Dirinya sendiri sebenarnya juga tak mau seperti ini, pergi dari rumah dengan keadaan marah dan tak baik-baik saja. Sungguh tak pernah sedikit pun terpikir olehnya jika ia mengalami fase seperti ini.


Beberapa hari setelah kepergian Shaka, Bu Marisa jatuh sakit. Wanita itu mengalami darah rendah dan juga demam yang tidak kunjung turun. Tentu saja hal itu lama kelamaan akan terdengar juga di telinga jaga. Semarah apa pun Shaka pada ibunya, pria yang berhati lembut itu tentu saja tetap akan khawatir jika mendengar ibunya yang tidak sehat.


Dan akhirnya Shaka menemui ibunya setelah meninggalkan rumah. Karena permintaan ibunya yang sedang tidak sehat itu, ia akhirnya kembali ke rumah. Dengan satu syarat, ibunya tidak lagi mengusik kehidupan rumah tangganya dan juga Nimas. Hal ini sengaja tidak ia ceritakan pada Nimas.


"Iya, Mama janji tidak akan mengusik kalian lagi. Mama akan berusaha untuk menerima Nimas menjadi menantu Mama."

__ADS_1


__ADS_2