Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
115. Shaka Junior Season 2


__ADS_3

Huek huek


"Kamu kenapa sih, Dek? Dari tadi mual terus perasaan. Masuk angin kali, ya? Mas kerokin, ya?"


"Aku nggak butuh di kerok, Mas." Nimas meraih tangan Shaka dan meletakkannya di perut datarnya.


"Apa? Kamu.....?" Shaka tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.


"Ya, aku baru saja melepas ASI Mira dan Nisa lalu aku melihat garis dua di testpack ku."


Shaka tanpa sadar membuka mulutnya lebar-lebar. Seakan ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Dulu ia harus menunggu kurang lebih delapan tahun untuk memiliki anak, tapi sekarang setelah kelahiran anak kembarnya dua tahun lalu, Nimas kembali hamil tanpa ia sangka.


"Kamu nggak bercanda? Kamu serius, Dek, kamu hamil lagi." Shaka seketika menggendong istrinya dan membawanya berputar-putar.


"Mas hentikan! Jangan lakukan ini, ini membuatku pusing." Shaka kalau menurunkan istrinya dengan pelan.


"Mama sama Papa harus tahu ini. Mas akan menjadi Ayah dari empat orang anak."


Shaka hendak keluar kamar, namun gerakannya itu kalah cepat dengan cekalan Nimas.


"Jangan dulu, Mas aku malu. Mira dan Nisa baru aja dua tahun dan aku hamil lagi."


"Ini rezeki. Apa yang membuat kamu malu? Hal kayak gini mana ada yang tahu sih, Dek? Kita memang berencana untuk menunda atau berhenti dulu untuk memproduksi anak, tapi kalau sudah rezeki, ya mau gimana?"


"Ya, tapi Nisa sama Mira juga masih kecil."


"Ya terus? Kalau kamu nggak bisa jagain Nisa dan Mira sepenuhnya, kita bisa cari orang buat jagain mereka, satu aja. Kamu hamil seperti ini harus banyak istirahat, kan? Jadi tolong untuk kali ini, Mas mohon kita pakai baby sitter. Anak kita nggak akan jauh sama kita meskipun pakai baby sitter. Mas yakin kalau, Mas bicara ini sama Mama, Mama juga pasti akan setuju."


"Atur gimana baiknya, Mas. Aku ngikutin kamu aja. Tapi, Mas mungkin ini akan mudah jika kita bicara ke Mama atau Papa. Gimana kita ngomongnya sama Bryan?" Nimas mengkhawatirkan hal yang terjadi dua tahun lalu kembali terulang.

__ADS_1


"Biar Mas yang bicara pelan-pelan. Sekarang dia sudah lebih besar dari dua tahun lalu, Mas rasa akan lebih mudah memberikan dia pemahaman. Dan pikiran dia juga pasti sudah berbeda, Dek. Kamu bisa kenalkan ke Bryan nanti, mungkin sering diajak ngobrol bareng akan lebih mudah untuk membentuk keakraban mereka."


Nimas mengangguk mengerti.


Jika Nimas dan Shaka mendapat kabar bahagia, lain halnya dengan sang adik yang justu patah hati karena ditinggal sang kekasih. Baru saja satu bulan yang lalu mereka bertengkar di sebuah rumah makan, kini kekasih Nino itu menghilang tanpa kabar. Sudah beberapa kali ia mendatangi rumahnya, namun selalu tidak ada orang ketika ia ke sana. Entah ke mana perginya sang kekasih beserta keluarganya itu.


"Sudahlah, No. Mungkin dia bukan jodohmu, mau secinta dan selama apa pun kalian menjalin hubungan, kalau nggak jodoh ya akan selalu ada jalan untuk terpisah. Ikhlaskan, Ibu yakin kamu akan dapat pengganti yang lebih baik. Tuhan akan selalu menggantikan sesuatu yang Dia ambil dengan yang lebih baik. Tuhan tahu mana yang baik buat kamu. Makan dulu!"


Ibu Nino yang melihat perubahan di diri anaknya sedikit khawatir dengan kondisi psikisnya. Jarang terlihat makan, sering melamun, dan hanya keluar kamar ketika bekerja dan mandi saja. Orang tua mana yang tidak khawatir melihat kondisi anaknya yang seperti itu.


"Kesabaran dia udah habis nunggu aku, Bu. Padahal aku ada rencana akhir tahun nanti mau lamar dia, tapi dia malah pergi."


"Sejauh apa pun dia pergi, kalau kamu berjodoh dengan dia, Tuhan akan tetap punya cara untuk mempertemukan kalian. Tuhan selalu punya cara yang tidak pernah kita duga untuk mempertemukan jodoh kita. Lihat itu Mbak mu, cara Tuhan mempertemukan mbakmu sama Shaka, bukankah jalan yang harus dilaluinya cukup berat?"


Nino mengangguk.


Nino memaksa dirinya untuk keluar kamar meski hanya untuk makan. Mengapa rasanya sangat berat merasakan patah hati untuk pertama kalinya?


"Akhirnya anak Ayah mau makan juga. Kelihatan banget patah hatinya, makin kurus badannya. Ayah sama Ibu yang merawat susah-susah, yang bikin kurus anak orang." Ayah Nino berceloteh seraya mengambil nasi makan malam.


"Ayah kayak nggak pernah muda aja," sahut Nino sedikit kesal.


"Bukan nggak pernah muda. Tapi memang mudanya Ayah nggak kayak kamu. Besok weekend, gimana kalau kita ke rumah Nimas. Biar kamu juga bisa lupa, bisa main sama Bryan dan anak-anak, biar kamu nggak mikirin patah hatimu terus."


Menyebut nama Nimas membuat Nino teringat bahwa ia pernah mendapatkan tawaran yang bagus untuk bekerja di perusahaan Shaka. Namun mengingat sang Ayah yang juga masih bekerja sebagai satpam di sebuah perusahaan membuat Nino kembali mengurungkan niat untuk meninggalkan kampung yang penuh kenangan ini.


"Iya, udah lama juga kita nggak ke sana," sela Ibu Nino.


***

__ADS_1


"Kakak, malam ini mau nggak tidurnya di temani sama Ayah, Bunda setelah nidurin adik?"


Keluarga Shaka juga sedang melakukan ritual makan malam.


"Ada apa? Aku sudah terlalu besar untuk tidur bersama kalian."


"Kan nggak tiap hari, ada sesuatu buat Kakak."


"Oh, ada hadiah, ya. Ya udah boleh."


Dan setelah selesai makan malam, si kembar yang sudah dilatih untuk tidur di kamar sendiri mulai di tidurkan oleh kedua orang tuanya. Cukup mudah bagi keduanya untuk tertidur, karena terlalu aktif di siang hari, membuat badan gemuk mereka lelah dan akhirnya lebih cepat tertidur dengan pulas. Kini saatnya kedua manusia itu ke kamar anak sulung mereka.


"Udah nungguin ternyata," kata Shaka duduk di samping Bryan.


"Kak, Ayah sama Bunda mau kasih tahu sesuatu. Kita dikasih rezeki lagi sama Tuhan. Kakak mau punya adik lagi. Sekarang masih ada di perut Bunda. Mau kenalan nggak?"


"Aku punya adik lagi? Adiknya bisa request nggak sih? Aku mau laki-laki, biar aku ada temennya main bola."


Kedua orang tuanya tertawa. "Mana bisa? Semuanya sudah diatur sama yang di Atas. Tapi nggak apa-apa minta sama Tuhan, mudah-mudahan adik lahir sehat, itu yang utama. Jadi nggak marah Bunda hamil lagi? Nggak ngambek?"


"Emang kapan aku pernah marah udah hamil? Waktu bunda hamil si kembar aku juga nggak marah."


"Iya, tapi mereka lahir, kamu ngambek. Iya, kan? Hayo ngaku."


"Aku belum ngerti, Ayah. Sekarang aku udah ngerti, udah gede."


"Iya, anak Ayah sudah besar."


Dan malam itu mereka menghabiskan malam sebelum tidur dengan sedikit bersenda gurau.

__ADS_1


__ADS_2