Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
53. Terungkap


__ADS_3

Nimas yang sadar sesuatu segera memutar tubuhnya dan beranjak dari sana. Sayangnya, pergerakan tubuhnya membuat Bu Marissa sadar ada orang di belakangnya.


"Nimas sejak kapan kamu di sini?"


Nimas urung melangkah pergi, ia mematung di tempatnya berdiri. Jantung Nimas bertal-talu dengan kencang saat mendengar langkah Bu Marisa yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Kamu mendengar obrolan saya?" Nimas masih diam, karena memang ia bingung harus berucap apa. Ia punya pemikiran,.namun ia tak tahu apakah yang ia pikirkan salah atau benar.


"NIMAS JAWAB SAYA!"


Bentakan dari Bu Marisa membuat Nimas terkejut, belum sempat ia membuka mulutnya Bu Marissa kembali bersuara.


"Diamnya kamu sudah menjawab segalanya. Apa yang kamu ketahui dari obrolan saya tadi?"


Nimas melihat tatapan Bu Marissa saat ini sudah berbeda. Tatapannya berubah puas dan menunjukkan sisi jahatnya. Sangat terlihat dari sorot matanya, bahwa wanita itu kejam. Nimas merasa terintimidasi. Dengan degap jantung yang masih berantakan Nimas memberanikan diri untuk melawan.


"Tugas, uang, dan pukulan anak saya. Aku berharap Mama sedang tidak melakukan sesuatu. Aku masih berharap bahwa apa yang sempat aku pikirkan adalah kesalahan."


"Apa yang sempat ada dalam pikiran mu?"


"Mama yang melakukan semuanya? Mama tersangka di balik ini semua? Di balik goyahnya kepercayaan Mas Shaka padaku?"


"Bagus sekali. Bagus kalau kamu tahu semuanya. Jadi saya tidak perlu menjelaskan lagi. Lantas? Apa yang akan kamu lakukan kalau sudah tau semuanya. Mau bilang ke anak saya? Berani kamu melakukan itu, saya pastikan kamu yang akan terusir dari sini. Jangan lupa saya sudah berhasil membuat kepercayaan suamimu hilang. Jika hanya untuk membuat kamu terusir dari sini, mudah saja bagi saya."

__ADS_1


Terkejut? Tentu saja. Tak ia sangka bahwa Bu Marissa yang ia kira sudah menerima kehadirannya ternyata berbuat begitu jahat. Bahkan tindakannya sudah sangat keterlaluan.


"Jadi selama ini Mama hanya pura-pura baik sama aku? Mama hanya menutupi kejahatan Mama?"


Bu Marissa tiba-tiba mencengkram kedua pipi Nimas dengan kencang. Nimas sudah berusaha untuk melepaskan tangan wanita itu, namun cengkeraman yang begitu kuat membuat Nimas sedikit kesusahan.


"Kamu dengar saya, ya! Sampai kapan pun saya tidak pernah menerima kamu sebagai menantu. Saya tidak sudi punya menantu dari rakyat jelata seperti kamu. Kamu dan keluarga kamu itu bukan level saya. Kalau saya tidak bisa menyingkirkan kamu dari kehidupan anak saya sekarang, setelah anak haram ini lahir, saya pastikan kamu tidak ada dalam kehidupan anak saya."


Hati Nimas terasa terbakar mendengar ucapan Ibu mertuanya. Ia tak mempermasalahkan jika dirinya dihina. Tapi tidak dengan kedua orang tua, bahkan anak yang belum lahir sudah dihina, sungguh ia tidak terima.


Nimas akui dan sadari, apa yang sudah terjadi dahulu adalah sebuah kesalahan. Ia hamil di luar nikah adalah dosa besar, tanpa diberi tahu siapa pun, ia paham bahwa ia dosa dan salah. Yang salah adalah dirinya dan Bryan, lalu kenapa anaknya dikatai anak haram? Anak ini pun juga tidak ingin hadir dalam keadaan seperti ini. Jika ia bisa memilih, ia juga pasti tidak akan mau hadir di momen yang tidak tepat.


Entah sadar atau tidak, tangan Nimas terangkat ke udara. Dengan sekeras dan sekencang-kencangnya ia memberikan pukulan pada wanita yang sudah melahirkan suaminya itu.


Plak!


"NIMAS!" teriak Pak Malik lalu berjalan ke arah kedua wanita itu. "Berani sekali kau menyentuh istriku!" Pak Malik mengacungkan jari telunjuknya di wajah Nimas.


"Tanyakan pada istri Anda kenapa saya menyentuhnya dengan kasar. Saya memang orang miskin, saya nggak punya harta melimpah seperti kalian. Tapi setidaknya saya masih punya hati, saya tidak berpendidikan tinggi, tapi saya tahu bagaimana cara memperlakukan orang lain. Sedangkan kalian, tentu saja pendidikan kalian tidak dilakukan oleh manusia mana pun. Tapi lihatlah diri kalian! Sama sekali tidak bisa memanusiakan manusia lainnya."


"Jangan kurang ajar kamu, Nimas!" bentak Pak Malik.


"Saya begini belajar dari kalian!"

__ADS_1


Tidak ingin berlama-lama berdebat dengan kedua manusia itu, Nimas akhirnya melipir pergi dari sana. Ia berjalan menuju kamar dengan cepat. Tangisnya tidak bisa dihentikan begitu tubuhnya menyentuh tempat tidur di kamarnya.


Hatinya sungguh terasa sakit mendengar penuturan Ibu mertuanya yang ia anggap sudah berubah dan menjadi manusia baik seutuhnya. Ia sangat kecewa pada dirinya sendiri yang terlalu percaya pada orang lain.


Sementara itu yang terjadi di lantai bawah, Bu Marissa sedang menangis sesenggukan di hadapan suami dan juga anak semata wayangnya. Tidak berselang lama setelah Nimas pergi dari kolam, Shaka kembali pulang ke rumah untuk menampilkan ponselnya yang tertinggal.


Namun, begitu Shaka sampai di ruang tengah, ia malah mendapati ibunya yang terisak di pelukan sang ayah.


"Mama sudah bilang kalau istrimu itu jahat. Istrimu itu tidak benar-benar perempuan yang baik. Kamunya aja yang nggak percaya sama Mama, Shaka. Dari Kejadian ini Mama semakin yakin kalau anak yang dikandung Nimas bukan anak Bryan. Dia pasti punya niatan yang jahat sama keluarga kita. Mama tidak mau tahu kamu harus usir dia dari sini," adu Bu Marissa meraung-raung.


Jika dilihat dari wajah Shaka, Iya kembali bersikap seperti beberapa hari yang lalu. Wajah dingin dan sorot mata yang tajam, sangat menampakkan bahwa pria itu sedang marah.


Di balik tangisan yang menyayat hati dari mulut Bu Marissa, terselip senyum licik yang terbit dalam waktu bersamaan. Kini dirinya merasa sudah di atas angin karena rencananya yang berjalan dengan mulus dan di luar ekspektasinya.


Tidak berselang lama, Shaka bangkit dan menuju ke lantai atas dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Ia masih memasang wajah yang sama seperti tadi saat mendengar cerita ibunya.


Ceklek!


Begitu Shaja membuka pintu, ia kembali dikejutkan dengan apa yang ia lihat. Nimas tmyang terduduk di lantai dengan pundak yang bergetar hebat. Kepalanya ia letakkan di atas ranjang. Nampaknya wanita itu tidak sadar bahwa suaminya sedang berjalan pelan ke arahnya. Pria itu tidak bersuara, Ia mendengar rintihan Nimas yang begitu menyakiti hatinya.


"Nimas," panggil Shaka pelan seraya menyentuh pundak wanitanya itu.


Nimas menoleh, Ia langsung menghambur kepelukan suaminya begitu ia tahu siapa yang datang.

__ADS_1


"Mas," kata Nimas lirih ditengah isakan.


"Ssst. Cerita nanti, kalau sudah tenang," ujar Shaka dengan tenang. Tak ada sama sekali nada kemaraham di dalamnya. Sangat jauh berbeda dari air mukanya beberapa saat yang lalu.


__ADS_2