Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
96. Kehilangan


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya terjadi Ma? Kamu sedang tidak melakukan sesuatu, kan sama Nimas?"


"Nggak. Mama tadi karena kebeletbanget jadi Mama lari-lari gitu. Terus Mama mau jatuh dan ternyata Nimas nangkep Mama dari belakang, karena nggak kuat nahan beban tubuh Mama jadi kita berdua jatuh bersamaan dan Mama nggak sengaja nindih tubuh Nimas, terus tiba-tiba keluar darah tadi. Kenapa bisa sampai pendarahan begitu? Memang tadi agak keras, tapi sepertinya nggak akan ngaruh ke pendarahan, Pa. Apa jangan-jangan Nimas lagi hamil, Pa? Apa jangan-jangan dia hamil tanpa dia sadari? Akhir-akhir ini dia sering sakit, kelihatan lemas dan pucat, kan? Ya Tuhan bagaimana ini, Pa? Kalau beneran Nimas hamil bagimana dengan kandungannya?"


Bu Marissa tidak bisa menyembunyikan perasaan takut dan rasa bersalahnya. Beliau mulai panik dan cemas berlebihan secara mendadak.


"Ma, tenang dulu. Doakan yang terbaik saja buat Nimas. Harus berpikir positif. Ya udah sekarang kamu tidur di lantai atas, di kamar kita yang lama. Takutnya nanti Bryan nyari ibunya. Kalau ada apa-apa, kan kamu dekat sama Bryan."


***


"Kami turut berduka cita, ya Pak, Bu. Maaf sekali kami tidak bisa menyelamatkan janin yang berada di kandungan Bu Nimas."


Sepasang suami istri itu kompak tersentak kaget. Untuk memastikan apakah pendengarannya itu salah atau benar Shaka sampai bertanya memastikan apakah pendengarnya itu tidak salah.


"Maaf, Dok. Apa saya tidak salah dengar? Janin? Janin apa? Istri saya hamil?" Sangat terlihat dari wajah dan pertanyaan Shaka bahwa ia sangat kebingungan.

__ADS_1


Dokter tersebut pun menjawab dengan ekspresi heran dan bingung. "Iya istri Bapak sedang hamil dan karena benturan yang terlalu keras dan pendarahan yang cukup hebat, jadi kami tidak bisa menyelamatkan janin kalian. Selain itu usia kandungannya juga masih sangat lemah. Tidak apa-apa, kalian boleh bersedih, tapi kalau bisa jangan terlalu larut. Cukup doakan saja dan jelaskan kepergiannya mudah-mudahan segera mendapatkan pengganti yang terbaik."


"Dok, tolong periksa kembali, mungkin dokter salah. Pasti janin saya selamat, Dok." Nimas mulai terisak.


Mendengar kabar yang baru saja masuk ke dalam telinganya membuat Nimas teringat dengan rasa lelah, lemas, dan juga pusing yang sempat melanda beberapa hari terakhir. Ia bertanya-tanya dalam hati apakah itu adalah tanda-tanda bahwa dirinya sudah hamil? Masalah yang datangnya tamu yang terkadang maju atau mundur menjadikan Nimas tidak bisa memastikan apakah saat itu dirinya sedang telat haid atau sedang hamil. Yang ada di pikirannya beberapa hari lalu hanyalah dirinya terlambat untuk memasuki saat-saat kedatangan tamu, karena memang itu biasa terjadi padanya.


"Maaf sekali Ibu, kenyataan yang terjadi adalah kami tidak bisa menyelamatkannya. Di samping usia kandungan yang masih rentan, benturan yang Bu Nimas timbulkan juga sangat kuat. Bu Nimas bisa melewati ini semua. Saya yakin kalau suatu hari nanti Tuhan pasti akan menggantikannya jauh lebih baik. Yang tabah, ya, Pak, Bu. Kami permisi."


Shaka hanya menjawab ucapan dokter itu dengan anggukan kepala. Rasanya seperti mati sesaat, saat mendengarkan kabar buruk seperti ini. Buah hati yang mereka dambakan selama lima tahun terakhir, buah hati yang selalu terucap dalam doa keduanya, dan buah hati yang mereka rindukan, dengan mudahnya pergi meninggalkan mereka begitu saja. Bahkan sebelum dirinya mengetahui kehadirannya ada di rahim istrinya.


"Mas, maafkan aku, Mas. Aku minta maaf tidak bisa menjaga anak kita dengan benar. Aku tidak becus menjaganya, Aku bukan Ibu yang baik, aku sudah membunuhnya, aku minta maaf, Mas. Maafkan aku." Setelah kepergian dokter itu Nimas benar-benar tidak tenang. Ia begitu histeris seraya terus-menerus mengeluarkan ucapan maaf untuk sang suami.


" Udah Dek, tenang dulu tenang! Iya-iya, Mas maafin kamu, tapi kamu tenang dulu, dengerin Mas dulu. Tenang, sebentar Sayang, tenang dulu. Yuk tarik nafasnya, hembuskan pepelan-pelan." Shaka meberikan pelukan terbaiknya untuk Nimas, namun wanita itu seakan akan tidak mendengarkan ucapan suaminya. Ia masih begitu terpukul dan histeris dalam pelukannya.


Shaka juga sama hancur leburnya seperti Nimas, tidak ada orang tua yang tidak patah hati saat ditinggalkan oleh janin yang bahkan bentuknya belum sempurna. Tapi saat ini kelemahannya, patahnya hati, hancurnya hati, dan seakan kehilangan harapan, tidak mungkin Shaka tunjukkan di depan istrinya, karena istrinya nampak jauh lebih hancur dari apa yang ia lihat. Jika dirinya sama-sama menampakan kehancurannya siapa yang akan menguatkan mereka? Setidaknya kepala Shaka sampai saat ini masih bisa bekerja dengan baik, itulah sebabnya ia harus menjadi sosok yang lebih kuat untuk Nimas, meskipun sebenarnya ia sendiri juga butuh pundak hanya sekedar untuk istirahat. Sungguh sangat lelah dirinya saat ini.

__ADS_1


Sempat terpikir dalam kepalanya bawah mungkin dia melakukan dosa yang sangat besar di masa lalu, sampai-sampai ujian rasanya tidak pernah istirahat menimpa rumah tangganya dari awal pernikahan. Namun terkadang, di sisi lain ia juga berpikir bahwa, ini adalah ujian untuknya dan juga Nimas. Ujian memiliki tujuan yang baik, jadi penguat cinta mereka, membuktikan bahwa kekuatan cinta itu ada.


"Mas, kembalikan anakku, kembalikan anak kita, dokter itu salah. Dia bukan Dokter, dia itu melawan kesalahan. Aku yakin, anak kita akan bertahan di sini. Kita sudah menunggunya bertahun-tahun nggak mungkin dia ninggalin kita gitu aja. Ayo Mas, kita periksa di rumah sakit lain." Bukannya tenang Nimas justru semakin menjadi. Ia pun memohon dengan meronta-ronta di bawah pelukan Shaka.


"Jangan gini dong, Dek. Dengerin Mas dulu. Iya-iya kita akan periksa ke dokter lain, tapi dengerin Mas dulu, kamu tenang. Biar Mas ngomong."


"Bagaimana aku bisa tenang? Kita sudah menunggunya bertahun-tahun, Mas. Tolong lakukan apa pun untuk mengembalikan anak kita, Mas. Ayo Mas lakukan sesuatu!"


Nimas semakin tidak bisa dikendalikan. Shaka sampai kewalahan menghadapi istrinya yang sedang histeris dan meronta ingin periksa di rumah sakit lain dan memohon untuk dikembalikan anaknya.


Merasa tak bisa lagi mengendalikan istrinya, Shaka akhirnya memanggil dokter yang tadi memeriksanya.


"Dok, sejak dokter keluar dari ruangan ini, istri saya histeris seperti ini. Tolong lakukan sesuatu!"


Dokter wanita itu mengangguk dan memberikan suntikan di tangan Nimas, entah suntikan apa, namun beberapa detik kemudian Nimas tampak tenang. Meskipun dalam ketenangan itu dirinya masih terus meminta untuk dikembalikan anaknya. Dan tidak berselang lama tubuhnya yang lemas seketika tertidur.

__ADS_1


__ADS_2