
Melihat darah yang keluar banyak membuat Nimas berteriak, "Bi, Bibi tolong panggilkan ambulans!"
Nimas panik, ia tarus membangunkan Bu Marissa dengan memberikan tepukan di pipi, namun hasilnya nihil. Sepersekian detik berikutnya, asisten rumah tangga yang diteriaki Nimas datang dengan kepanikan yang sama saat melihat Bu Marissa yang terkapar di pangkuan Nimas.
"Astaghfirullah, Non. Ibu kenapa?"
"Jatuh dari tangga. Tolong panggilkan ambulans, Bi!"
Wanita yang dipanggil Bi, itu seketika kembali meninggalkan Nimas dan Bu Marissa dengan cepat.
Nimas menunggu dengan meneguhkan hati dan berdoa agar semua baik-baik saja. Untuk sejenak ia melupakan sesuatu yang membuat Ibu mertuanya terjatuh. Ia tak ingat soal apa yang dibawa oleh Bu Marissa dan disembunyikan begitu dengan baik.
Setelah menunggu beberapa lama, terdengar ambulans yang datang, Bu Marissa segera diangkat untuk dibawa petugas kesehatan, sementara Nimas kembali ke atas untuk mengambil tas. Tak lupa ia mengabari suaminya untuk pulang meski sejenak.
***
"Bagaimana kondisi Mama, Dek?" Shaka datang dengan nafas tak teratur karena berlarian seraya mendorong kursi roda sang Ayah.
"Tangan Mama mengalami patah tulang, ada benturan juga tadi dikepalanya, tapi untunglah tidak parah, hanya terluka di luar dan tidak terjadi apa-apa di bagian dalam."
"Kok bisa jatuh gimana? Mama, kan sejak Papa duduk di kursi roda udah jarang naik turun tangga, Dek. Mau apa dia ke atas?"
Mendengar pertanyaan dari suaminya membuat mata Nimas seketika sedikit terbuka. Ia baru sadar jika ia melupakan sesuatu yang membuatnya mengejar Bu Marissa.
"Dek!" Shaka mengulangi panggilannya karena tak kunjung mendapatkan jawaban atas pertanyaanya.
"Ha, iya? Aku sendiri juga nggak tahu, Mas. Tadi aku balik dari taman samping rumah Mama udah terkapar di bawah. Ya mungkin Mama merindukan kamar lamanya."
__ADS_1
Pak Malik yang sejak tadi diam, akhirnya mengajak mereka untuk segera masuk ke ruangan. Beliau ingin melihat langsung keadaan istrinya. Meskipun dalam hati sebenarnya beliau juga memikirkan hal yang sama seperti Shaka, beliau berusaha untuk abai sejenak. Keadaan istrinya jauh lebih penting sekarang.
"Shaka, jangan dulu tanya ke Mama bagaimana bisa jatuh dari tangga kalau dia jarang ke lantai atas. Jangan tanyakan bagaimana bisa Mama bisa jatuh. Fokus saja pada keadannya." Pak Malik mengingatkan sesaat sebelum masuk ruangan.
Kursi roda kembali melaju begitu Shaka menjawab dengan anggukan. Bu Marissa sudah terduduk di ranjang dengan wajah yang masih pucat karena sebelum jatuh beliau sudah merasa sakit kepala.
"Hm, tangan Mama sekarang digendong. Kepala di perban, yang rawat Papa siapa? Jalan itu mbok ya pelan-pelan. Usia udah nggak muda, kalau ada apa-apa sidah sembuhnya. Ada yang sakit selain tangan sama kepala yang diperban itu? Untung cuman luka luar, kalau ada yang luka di dalam bagaimana nasib Papa coba?"
"Ya namanya musibah siapa yang bisa menghindar sih, Pa. Datangnya, kan tiba-tiba."
Bu Marissa membela diri seraya terus berharap agar tidak ada yang bertanya, bagaimana bisa beliau jatuh di tangga. Suami dan anaknya itu pasti tahu kalau dirinya jatuh di tangga dari Nimas. Dan membicarakan soal Nimas, Bu Marissa teringat hasil pemeriksaan yang sempat beliau bawa dan sekarang beliau sedang memikirkan bagaimana nasib kertas itu. Beliau ingat benda itu terlepas dari tangannya ketika terjun bebas dari tangga.
Keesokan harinya Bu Marissa kekeh meminta pulang karena merasa keadaannya jauh lebih baik. Selain itu, dirinya juga mengkhawatirkan benda yang pernah beliau bawa itu kembali ke tangan Nimas. Bahkan yang lebih ia khawatirkan kertas itu jatuh ke tangan Shaka.
Begitu sampai rumah, Bu Marissa langsung berkeliling rumah untuk menemui asisten rumah tangganya, barangkali wanita itu menemukan hasil pemeriksaan Nimas saat membersihkan rumah.
"Cari Bibi. Katanya pengen dimasakin makanan. Nggak tahu makanan apa." Shaka menjawab dengan tatapan yang fokus pada laptopnya. Pria itu nampaknya terlanjur malas datang ke kantor ketika sudah melewati jam berangkatnya.
Nimas segera menyusul wanita yang berstatus Ibu mertuanya itu saat berjalan menuju halaman belakang. Kecelakaan yang baru saja menimpa Bu Marissa membuat Nimas mengenyampingkan peperangan yang terjadi di antara mereka. Sebenarnya Nimas juga tidak dendam atau benci beliau, ia melawan hanya sebagai bentuk perlindungan untuk dirinya sendiri. Nimas nampaknya benar-benar melupakan satu hal dari kejadian kemarin. Ia lupa, ia belum menemukan benda yang Bu Marissa bawa. Hingga sekarang Nimas lupa dan tak tahu benda apa yang beliau bawa.
"Mama cari apa?"
"Bibi." Bu Marisa menjawab dengan singkat bahkan tak menoleh pada yang melontarkan pertanyaan.
"Mau apa, Ma? Mama mau makan apa? Biar saya yang masakin buat Mama."
"Nggak usah, kamu kasih racun nanti." Bu Marissa melanjutkan langkah yang sempat terhenti.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Ma. Kalau saya mau melakukan itu, saya nggak perlu nunggu sekarang. Saya sudah melakukannya dari dulu." Nimas mengikuti langkah Bu Marissa. "Lagipula hanya orang bodoh yang meletakkan racun di masakan orang yang meminta makanan padanya."
"Kamu bisa nggak jangan ikuti saya terus?" Bu Marissa dengan tiba-tiba menileh ke belakang dan membuat Nimas sedikit tersentak terkejut.
"Ya bisa, kalau Mama bilang mau makan apa, kan saya otomatis nggak ikuti Mama. Saya masak buat Mama."
"Jangan pura-pura baik dan peduli. Jangan lupa sikap kamu beberapa hari terakhir ke saya. Jangan bermuka dua!"
"Ya Allah, Ma. Kita singkirkan itu dulu. Siapa lagi yang akan urus Mama kalau bukan saya? Papa sakit, Mas Shaka cari uang, setidaknya lanjutkan permusuhan kita setelah Mama sehat dan bisa mukul saya pakai tangan kanan Mama."
Bu Marissa diam, benar juga apa yang dikatakan Nimas. Beliau tidak bisa menjaga diri dengan baik jika salah satu tangannya di gendong dan diperban seperti sekarang ini.
"Ya udah, masakin saya nasi goreng kayak biasanya." Bu Marissa terpaksa bohong untuk menghindari Nimas mengikutinya terus menerus.
"Ya udah, saya masakin. Ayo masuk kalau gitu."
"Mau jalan-jalan ke halaman belakang. Pengen lihat yang ijo-ijoan. Bosen, udah sama jangan ikuti saya terus!"
Untuk menghindari pertengkaran lebih panjang, Nimas akhirnya mengiyakan permintaan Bu Marissa. Sementara wanita itu langsung berlari kecil untuk meneruskan perjalanannya.
Beberapa langkah membawa dirinya lebih masuk ke halaman belakang, Bu Marissa menemukan keberadaan Bibi yang tengah menyapu dan membersihkan dedaunan bunga kering yang masih melekat di rantingnya.
"Bi kamu ada lihat kertas nggak di sekitaran tangga? Barangkali kamu menemukannya pas nyapu atau ngepel atau apa gitu?"
"Tidak Bu, saya tidak menemukan apa-apa, baik di lantai sekitaran tangga atau di sudut rumah lainnya."
Ha? Terus ke mana perginya kertas itu apa jangan-jangan sudah ditemukan oleh Nimas?
__ADS_1