
"Mas, mau ngomong apa? Aku tahu masih ada beba,ya dipikiran kamu. Ayo berbagi sama aku. Kamu pernah bilang sama aku kalau kepercayaan dan keterbukaan adalah pondasi rumah tangga. Dan sekarang kamu harus mempraktikkannya," desak Nimas yang tak sabar melihat suaminya diam saja ketika ia tanya.
"Untuk sementara bagaimana kalau kita beli rumah yang nggak terlalu besar. Maksudku beli rumah yang minimalis aja gitu. Untuk sementara aja, Sayang," jawab Shaka sedikit takut-takut.
Respon Nimas justru di luar dugaan pria itu. Wanita itu merespon dengan tertawa kecil seraya geleng-geleng kepala. Shaka dibuat heran oleh wanita itu.
"Kenapa Sayang? Apanya yang lucu? Aku lagi serius nggak bercanda."
"Iya aku tahu, aku tahu kamu serius, Mas. Memang kenapa kalau kita beli rumah sederhana, apa salahnya? Kenapa kamu kayak takut-takut gitu?" Nimas meraih tangan suaminya, membawa ke pangkuannya, dan menggenggamnya.
"Mau tidur dan tinggal di mana pun aku mau, Mas. Kamu ajak ke mana pun, aku akan ikut. Bagiku tinggal di rumah mewah atau sederhana itu sama saja. Yang membedakan itu isinya. Isi dari rumah itu sendiri. Dan isi rumah, itu tergantung yang menempati. Akan jadi nyaman jika di isi dengan cinta dan kasih sayang. Dan dua rasa itu mampu menciptakan kebahagiaan dalam kesederhanaan. Satu-satunya sumber kebahagiaan bukan uang dan kemewahan, kan? Ya memang kita butuh uang, tapi dia bukan sumber utama buat aku. Sumber kebahagiaan aku itu kamu. Jadi intinya, di mana pun aku tinggal aku akan bahagia adalah sama kamu. Begitu juga sebaliknya, kebahagiaan aku akan hilang kalau aku jauh dari kamu, meskipun aku tinggal di rumah mewah. Sampai sini paham, kan? Tunggu apalagi? Ayo sekarang kita berkemas dan cari rumah baru."
"Betapa beruntungnya aku diberi istri kayak kamu." Shaka untuk pertama kalinya mengecup singkat punggung tangan istrinya.
"Aku yang beruntung. Aku nggak tahu nasibku bagaiman kalau nggak..."
Kalimat Nimas terhenti, karena jari telunjuk Shaka yang menempel dibibirnya.
"Tuhan mempersatukan kita karena kita saling melengkapi. Kamu kemasi pakaian kita, aku tanya temen yang kerja di perumahan. Barangkali masih ada yang kosong di sana."
Shaka akhirnya bisa bernafas lega. Setelah mendapat informasi bahwa masih ada perumahan yang kosong, ia segera mendatangi rumah itu sore harinya. Rumah yang tidak terlalu luas, tapi juga tidak terlalu sempit. Ukuran rumah yang pas untuk keluarga kecil.
"Mas, kita tidurnya ginana?" tanya Nimas yang melihat seluruh sudut rumah kosong.
"Aku akan cari perabot. Di jalan raya depan ada mebel. Sekalian aku cari makan, laper."
"Ikut."
"Jangan Sayang, cape. Kita habis perjalanan jauh. Kamu istirahat aja."
Nimas seketika menampilkan wajah ngambeknya, bibir yang ia majukan entah berapa centi membuat Shaka paham bahwa istrinya sedang merajuk.
"Ya udah ayo, kita cari perabot rumah bareng-bareng. Sekalian makan."
__ADS_1
"Nggak mau," jawab Nimas jutek seraya berjalan ke arah jendela dan berhenti di sana. Ia menatap hamparan teras yang bahkan lebih kecil dari teras rumahnya.
Shaka mengikuti langkah Nimas tanpa kata. Entah karena pengaruh hormon atau karena memang karakternya seperti itu, Nimas suka merajuk pada hal-hal kecil. Sebenarnya sama seperti dirinya, tapi Shaka merasa Nimas lebih parah.
Shaka memeluk istrinya dari belakang. Memberikan elusan pelan di perut buncitnya.
"Yakin nggak mau?" bisik Shaka di telinga sang istri.
Tindakan Saka membuat darah Nimas seketika berdesir. Ia sedikit bergidik mendapat bisikan yang terlalu dekat dengan telinga. Tidak mendapat respon dari Nimas, Shaka semakin berulah dengan mengendus-endus leher sang istri.
"Mas, ih. Kamu mau kita makan ramyeon tanpa alasan apa pun. Ya udah ayo cari perabot lalu makan. Katanya lapar, aku juga lapar," celoteh Nimas menyembunyikan wajah gugupnya dengan berceloteh seraya berjalan keluar rumah.
"Makan ramyeon?" desis Shaka tidak mengerti.
"Mas ayo!" teriak Nimas dari dalam mobil.
Mendengar teriakan Nimas membuat Shaka tersadar dari kebingungannya dan segera menyusul istrinya yang sudah menunggu di mobil.
Mereka lebih dulu pergi ke mebel untuk membeli semua perabot rumah tangga. Tak terlalu mahal barang yang mereka beli, yang penting rumah mereka terisi dengan barang-barang yang seharusnya memang ada di rumah.
"Sebenarnya kami nggak bisa antar malam, Pak. Karena itu di luar jam kerja. Tapi karena Bapak beli banyak banget, jadi tetap akan kami antar. Lagipula jarak juga dekat," ujar para penjual setelah Shaka memang barang harus sampai malam ini.
Setelah semua dirasa cukup, mereka beralih ke rumah makan. Mereka tak mau makan jauh-jauh, karena hari sudah sedikit malam dan mereka juga belum beberes rumah apalagi istirahat.
"Aku kau makan itu aja, Mas." Nimas menunjuk gerobak lontong tahu yang berada di pinggir jalan.
"Yakin kamu mau makan itu?"
"Iya, aku pengen. Memang kenapa? Jangan lihat gerobaknya, itu lihat tempatnya bersih, yang beli juga rame," jawab Nimas uang mengerti apa yang di pikiran Shaka.
Shaka tetap turun meski ragu makan di pinggir jalan seperti ini. Tak pernah ia sebelumnya makan di tempat sekian rumah makan atau kedai. Meski baru pertama kali, ia berusaha untuk tidak kaku.
"Mulai sekarang, biasakan untuk makan di mana pun asal tempat dan orangnya bersih," bisik Nimas di telinga suaminya.
__ADS_1
"Iya Sayang, iya. Bawel."
"Dari tadi panggil sayang terus."
"Maunya apa?"
"Kamu dulu manggil Raisa gimana?"
"Sayang."
"Ya terus kenapa kamu panggil itu juga ke aku? Yang lain!" sungut Nimas kembali ke mode childish. Padahal baru tadi siang sosoknya yang dewasa membuat Shaka bangga. Sekarang kumat lagi, begitu kira-kira batin Shaka.
"Maunya apa? Beb?"
"Nggak mau, kayak ajak abg aja."
"Ya terus maunya apa, sih. Kamu bilang maunya di panggil apa?"
"Ya mikir dong, Mas. panggilan sayang, kan banyak."
"Bee?"
"Kamu pikir aku lebah?"
"Bunda?"
"Itu mah panggilan buat anak, kok kamu jadi ikut-ikutan."
"Dek?"
"Nah, iya. Itu yang aku mau," ujar Nimas girang.
"Astaga, kenapa tadi pas aku tanya nggak di jawab?"
__ADS_1
"Ya suka-suka aku lah."
Astaghfirullah Nimas.