Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
84. Membungkam Tanpa Bicara


__ADS_3

Nimas yang merasa dirinya masih waras, mengakhiri peperangan mulut dan lempar tatapan tajam itu. Ia meninggalkan Bu Marissa dengan wajah yang masih menahan amarah. Ia lebih peduli pada anaknya yang kini entah akan merasa kecewa atu tidak dengannya karena merasa sudah dibohongi.


"Bryan, kamu udah selesai, Nak? Kenapa masih duduk di sini? Ayo kita turun dan makan!" ajak Nimas menghampiri anaknya yang duduk di tepian ranjang.


"Bunda bohong sama aku? Bunda selalu ajarin aku buat selalilu jujur, nggak boleh menyembunyikan kebenaran. Ayah juga selalu bilang kalau hal se menyakitkan apa pun, kita harus tetap jujur sama seseorang. Terus kalian bohong sama aku?"


"Bryan, nggak ada yang bohong sama kamu, Nak. Bunda dan Ayah nggak pernah menceritakan apa yang kamu dengar, karena belum waktunya. Belum saatnya bagi kamu yang masih sekecil ini, harus tahu tak sebesar ini. Kelak, kalau kamu dewasa, Bunda yakin, kamu akan mengerti tanpa diberitahu. Ini bukan kebohongan, Sayang."


"Tapi kalian nggak pernah bilang kalau aku bukan anak Ayah."


"Apakah ini penting bagimu di usia kamu ini? Terus kamu mau apa kalau kamu bukan anak kandung Ayah? Apakah Ayah selama ini memperlakukan kamu dengan tidak baik? Kenapa fokus kamu pada kami yang jahat dan berbohong, jika Bunda atau Ayah jahat, kamu tidak akan mendapatkan kasih sayang sebesar ini dari Ayah, Nak. Yang penting Ayah sayang sama kamu, kan? Ya sudah, kenapa kamu masih memikirkan hal lain?"


"Sekarang Ayah sayang sama aku, nanti kalau aku punya adik, mungkin udah nggak. Ayah udah punya anak sendiri." Bryan berdiri dan berjalan keluar kamar.


Nimas tercengang, bagaimana bisa anak sekecil Bryan punya pemikiran seperti itu. Bukankah ini terlalu cepat untuk ia mengerti hal seperti itu? Rupanya benar apa yang dikatakan suaminya, Bryan kecil tumbuh seperti ayahnya, ia tidak bisa disepelekan. Pemikiran Bryan kecil sangat jauh lebih cepat dibanding anak seusianya. Di saat anak seusia Bryan belum terlalu paham dengan istilah anak kandung, anak tiri, dirinya sudah punya pemikiran ayahnya akan berubah atau mengurangi kasih sayangnya ketika ayahnya punya anak kandung. Hal yang tidak pernah Nimas pikirkan, terlintas di kepala sang anak.

__ADS_1


Nimas segera menyusul anak itu. Ia yakin anaknya sedang menuju meja makan. Dan rupanya benar dugaannya. Ia melihat sang anak yang sudah dilayani oleh Ibu mertuanya.


"Makan yang banyak, biar sehat dan cepat besar. Nanti Oma antar ke sekolah mau?"


"Saya masih bisa antar, Ma. Saya saja," sahut Nimas duduk di kursinya. Ia bicara dengan nada serendah mungkin disertai dengan senyuman palsu tercetak di bibirnya. Ia tak mungkin menunjukkan pada anak dan Ayah mertuanya jika dirinya dengan wanita paling tua di rumah itu sedang mengibarkan bendera peperangan.


"Nggak apa-apa aku diantar Oma aja, Bun. Oma belum pernah antar aku, Oma juga harus tahu di mana sekolah aku. Iya, kan Oma?"


"Benar sekali, ayo habiskan makanannya!" Bu Marissa melirik Nimas seraya memiringkan bibirnya ke salah satu sisi. Seakan beliau menunjukkan bahwa dirinya menang satu langkah dari Nimas.


Nimas berusaha santai, tidak menunjukkan bahwa dirinya sedang cemas dengan keadaan yang sedang terjadi. Akan jadi kesenangan untuk Bu Marissa jika beliau tahu apa yang dirasakan Nimas saat ini.


Beberapa hari berikutnya, Bryan masih saja bertingkah seakan dirinya sedang merajuk pada ibunya. Saat Shaka menelepon mereka Bryan lebih banyak diam, diam yang tidak seperti biasanya. Nimas semakin cemas, karena hari yang terus berganti akan membawa Shaka segera pulang ke rumah. Jika dirinya sampai beberapa hari ke depan gagal mengembalikan Bryan yang dulu, pasti hal ini tidak akan baik untuk siapa pun.


"Iya, istrinya Shaka itu tidak bersedia jika harus memeriksakan dirinya ke dokter. Itulah sebabnya Shaka belum punya anak sekarang. Aku tidak tahu apa salahnya dengan memeriksakan diri ke dokter. Kenapa istrinya Shaka itu seakan menunjukkan bahwa ia takut."

__ADS_1


Nimas mendengar Bu Marissa yang sedang berteleponan entah dengan siapa. Emosi yang tidak stabil akhir-akhir ini membuat Nimas hanya ingin menunjukkan amarahnya saja pada wanita yang tidak ada kapoknya itu. Nimas lalu berjalan mendekat ke arah Bu Marissa yang duduk membelakanginya itu.


"Saya heran, Anda ini manusia atau bukan? Apa jangan-jangan Anda ini semacam pohon pisang yang hanya mempunyai jantung, tapi tidak punya hati? Atau mungkin punya hati, tapi tidak berfungsi dengan baik? Anda punya penyakit hati? Ciri-ciri yang Anda tunjukan ini adalah ciri-ciri orang yang hatinya sedang bermasalah."


"Terserah, memang kenyataannya begitu, kan? Kamu memang takut untuk melihat kondisi kamu apakah kamu sehat atau tidak. Kalau merasa nggak sehat, lebih baik pergi, jangan hanya jadi benalu yang akan menjadi beban Shaka seumur hidup tanpa memberi dia keturunan."


"Saya hanya benalu? Ingin saya tunjukkan sesuatu yang bisa membuat Anda berpikir dua kali bahkan untuk menatap saya? Tunggu di sini, saya akan kembali untuk menunjukkan bahwa apa yang Anda katakan itu fitnah. Sebenarnya saya nggak mau memperlihatkan ini, saya ingin saya simpan sendiri. Tapi rupanya saya memang harus melempar benda ini pada Anda."


Nimas berlalu dari sana dengan sedikit berkaca-kaca. Meskipun apa yang diutarakan oleh Ibu mertuanya itu bicara omong kosong, hatinya tetap saja merasakan sakit karena ia merasa di permalukan di depan orang-orang.


Kenapa? Kenapa dirinya yang tidak kunjung hamil, dirinya juga yang disalahkan. Bukankah seorang wanita bisa hamil karena ada kerja sama antara laki-laki dan wanita? Lalu kenapa hanya satu pihak saha yang di salahkan? Kenapa hanya dirinya yang menjadi bahan gunjingan Ibu mertuanya? Sama-sama wanita nyatanya tidak mampu membuat seseorang bisa menghargai wanita lainnya.


"Ya Tuhan, maafkan aku jika apa yang aku lakukan ini adalah sebuah kesalahan. Aku hanya ingin melindungi diriku sendiri dan juga rumah tanggaku," gumam Nimas berjalan seraya membawa kertas yang membuat Ibu mertuanya bungkam hanya dengan membacanya.


"Terima kasih karena sudah bersedia menunggu. Silakan dibaca." Nimas menyodorkan hasil kesehatan rahimnya.

__ADS_1


Bu Marissa mengambil kertas tersebut dengan kasar dan dengan cepat-ceoat membukanya. Beliau penasaran apa yang membuat Nimas terlihat membanggakan sebuah kertas yang bahkan akan berakhir di tong sampah.


Kedua bola matanya membelalak tak percaya. Bahkan tanpa sadar mulut Bu Marissa ikut terbuka. Beliau bergantian menatap Nimas dan kertas yang ia bawa.


__ADS_2