
Bu Nimas tersentak begitu mendapati Nimas yang didorong kursi roda oleh suaminya. Beliau sampai menghentikan aktivitasnya yang mengangkat pakaian dari jemuran. Tak berselang lama beliau berjalan menuju halaman menghampiri keduanya.
"Nimas, apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu pakai kursi roda? Kamu nggak apa-apa, kan? Kalau ke sini Kenapa nggak bilang?" Wanita yang sempat kecewa pada anaknya itu memberondongnya dengan pertanyaan. Meskipun masih ada rasa kecewa, jika melihat anaknya yang duduk di atas kursi roda tetap membuat Beliau iba juga.
"Ibu, akan lebih enak jika kita bercerita di dalam," ujar Nimas seraya mencium punggung tangan ibunya lalu disusul oleh Shaka.
"Astaga, kamu benar. Maafkan Ibu, ayo mari masuk!"
Mereka dengan beriringan berjalan masuk ke dalam rumah. Ibu Nimas langsung menuju kamarnya untuk menaruh pakaian yang tadi pagi ia cuci dan bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman.
Sesaat setelah itu. Mareka membawa es jeruk untuk keduanya. Cuaca yang panas nampaknya akan menyegarkan badan dan tenggorokan jika menyeruput es. Tak ada mereka di ruang tamu, mungkin mereka sedang berada di kamar, ah biarkan saja dulu, pikir Ibu Nimas.
"Tempat tidurku sempit, Mas. kamu nggak biasa tidur di tempat begini," ujar Nimas yang memperhatikan suaminya meletakkan pakaian di lemari.
"Nggak apa-apa. Mulai sekarang harus dibiasakan. Lagian kita bisa deketan tidurnya kalau ranjangnya nggak besar, kan? Cuaca di desa akan lebih dingin dari pada di kota ketika malam hari. Jadi sepertinya tidur dengan berpelukan rasanya menghangatkan," goda Shaka menahan tawa ketika melihat wajah Nimas yang sudah memerah.
"Ayo kita keluar, Mas. Barangkali Ibu sudah menunggu cerita kita." Nimas dengan wajah memerah memutar kursi rodanya keluar kamar. Sementara Shaka hanya tertawa kecil saja.
Mata Nimas berbinar begitu melihat dua gelas es jeruk di atas meja ruang tamu. Wanita itu segera mendorong kursi rodanya ke dekat meja dan menenggak es itu dengan rakusnya.
__ADS_1
"Segarnya, bagi." Shaka merebut gelas yang ada di tangan Nimas dan meminumnya.
"Masih ada satu gelas utuh, kenapa kamu rebut punyaku?" Protes Nimas kesal.
"Aku maunya ini." Shaka kembali minum hingga habis. "Ah segarnya," imbuh Shaka menatap wajah istrinya yang nampak mengerucutkan bibirnya beberapa centi. Hal itu membuat Shaka semakin ingin menggodanya. Di mata Shaka ekspresi Nimas yang begitu sungguh menggoda dan menggemaskan.
Shaka akan mendudukkan dirinya di meja ruang tamu. Menggeser kursi roda Nimas agar wanita itu berhadapan dengannya.
"Bibirnya jangan begitu! Kamu berniat menggoda aku, iya? Kamu siap melakukannya?" Shaka menelengkan kepalanya demi melihat wajah Nimas yang masih cemberut, namun kembali memerah. Nampak sangat jelas bahwa ia salah tingkah.
"Jangan sering kesal-kesal sama aku, nanti kalau anaknya mirip sama aku gimana?"
Entah dorongan dari mana tangan Shaka tiba-tiba mengelus peran perut Nimas. Pria itu mengelusnya dengan begitu lembut. Jujur saja hal itu membuat Nimas tiba-tiba berkaca-kaca. Hal yang paling diinginkan oleh Nimas semenjak yang menikah. Hal yang sangat wajar jika Nimas menginginkan hal sekecil itu. Ia wanita biasa yang ingin diperlakukan sama seperti wanita hamil lainnya. Namun, Nimas tidak berani untuk mengungkapkan hal itu pada Shaka. Karena ia sadar diri, pernikahannya ini tidak diinginkan oleh pria itu. Ya, meskipun ia tahu Shaka memperlakukan dirinya seperti wanita yang ia cintai. Tetap ada kecanggungan jika Nimas meminta hal-hal yang intim seperti itu.
"Aku nggak nangis karena itu," jawab Nimas sedikit terisak.
"Terus kenapa? Ada yang sakit?"
"Enggak kok. Aku terharu aja tadi kamu kamu pegang perut aku. Ya mungkin karena aku selama hamil dua bulan ini nggak pernah dipegang siapapun perutnya selain aku sendiri. Jadi aku terharu. Aku cengeng, ya."
__ADS_1
Shaka sedikit terkejut, untuk hal sekecil ini saja Nimas sampai menangis haru. Bagaimana jika ia melakukan hal yang lebih dari ini? Dan ada rasa sedikit menyakitkan di hati Shaka. Ia merasa bahwa selama ini sudah memberikan yang terbaik untuk istrinya, tapi ternyata ia tidak memberikan hal yang sebaik yang ia kira. Masih banyak kekurangan yang harus ia perbaiki, contoh hal kecilnya adalah sekarang ini.
Selama menikah, memang ia tidak pernah menyentuh istrinya. Ia melakukan itu karena ia takut jika ia menginginkan lebih dari sekedar menyentuh. Ia tahu Nimas belum siap melakukan hal itu, apalagi dengan kondisinya yang masih lemah. Biar bagaimanapun, Shaka adalah pria normal yang tetap memiliki hasrat untuk bercinta ketika tidur seranjang dengan seorang wanita. Terlepas cinta atau tidak, keinginan untuk melakukan hubungan suami istri tetaplah ada.
"Ternyata masih banyak hal yang kurang aku perhatikan. Aku akan melakukannya mulai hari ini, setiap hari. Maaf aku tidak memperhatikan hal sekecil ini. Seharusnya aku berpikir ke arah sana, pasti kamu juga ingin seperti wanita-wanita lainnya, ya? Yang dimanja sama suaminya, yang diberikan perhatian penuh, aku belum bisa kasih yang terbaik. Aku akan belajar mulai dari sekarang. Kamu kasih tahu aku kalau ada sesuatu yang kurang, biar aku tahu dan bisa memperbaikinya."
"Sudah cukup, Mas. Semua yang kamu kasih ke aku itu sudah lebih dari cukup. Kamu itu sudah membuktikan apa yang pernah kamu ucapkan dulu, kalau kamu ingin memperlakukan aku seperti wanita yang kamu cintai. Kamu membuat aku merasa tidak kekurangan cinta sedikitpun. Dan aku sudah merasakan itu semua. Nggak ada lagi yang perlu diperbaiki atau ditambah semuanya sudah cukup bagiku."
Tanpa mereka sadari, Ibu Nimas berada di balik dinding mendengarkan semua obrolan suami istri itu. Tanpa terasa air mata Beliau juga menetes saking terharunya. Meskipun Nimas menikah bukan dengan pria pilihannya sendiri, tapi beliau merasa lega karena Nimas sudah mendapatkan kebahagiaan melalui suaminya.
"Jangan nangis, nanti meninggalkan bekas. Kalau Ibu ngira kita habis bertengkar gimana?" Shaka mengelap sudut air mata Nimas yang kembali berembun.
Ibu Nimas yang merasa harus keluar dari persembunyiannya, datang menghampiri mereka.
"Kalian di sini? Ibu cari kemana-mana. Nggak ada masalah apa-apa, kan?"
"Nggak ada, kok Bu." Shaka memindahkan tubuhnya ke kursi.
"Jadi sebenarnya...."
__ADS_1
Shaka mulai menceritakan bahwa Nimas pernah pendarahan dan juga harus bedrest. Ia juga menceritakan maksudnya untuk memulangkannya sementara, tentu saja ia tidak menjelaskan keadaan sebenarnya di rumah. Ia mengatakan pada Ibu mertuanya, bahwa ia akan lebih merasa tenang ketika Nimas berada di pengawasan kedua orang tuanya. Itu sebabnya ia membawa Nimas ke sini.
Tentu saja hal itu disambut baik oleh Ibu Nimas. Dengan senang hati beliau akan menjaga anak dan juga calon cucu yang masih dikandungan anakanya.