Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
57. Mimpi Buruk


__ADS_3

Pukul sepuluh malam mereka baru saja memasukkan tubuhnya di salah satu kamar hotel. Mereka merebahkan diri setelah sama-sama selesai membersihkan diri. Jika saat sedang berbaring berdua seperti ini, Shaka tiba-tiba teringat dengan rencananya yang akan menyatakan perasaannya setelah pulang dari luar kota.


Shaka menatap istrinya yang sejak tadi memindah-mindahkan posisi tidurnya, sangat nampak jelas bahwa ia tidak nyaman. Melihat hal itu Shaka teringat bahwa ia melupakan bantal yang biasa digunakan Nimas semenjak perutnya membesar.


"Nimas, kamu nggak nyaman tidurnya nggak pakai bantal yang biasanya? Nggak enak, ya kalau nggak pakai bantal buat ibu hamil? Kalau begitu kamu tunggu di sini dulu, ya. Aku akan belikan dulu. Nggak apa-apa, kan di sini sendirian?"


"Nggak usah, Mas. Aku mau tidur di tangan kamu aja boleh nggak?"


"Kenapa masih tanya? Jadi dari tadi kamu nggak tenang karena ini? Ya ampun Nimas, kamu tinggal bilang apa yang kamu mau dari aku. Aku pasti akan kasih. Ya udah siniin kepalanya."


Shaka merentangkan salah satu tangannya. Dan tangannya yang lain memeluk pinggang sang istri. Hingga detik ini pun Shaka masih suka berdebar-debar ketika ia dan istrinya sedekat ini.


Tubuh Shaka sangat lelah, tapi matanya seakan tak mau terpejam ketika melihat wajah Nimas yang begitu menggodanya.


Kak Bryan, aku sudah mencintai kekasihmu. Mudah-mudahan kau di sana tidak marah. Kau memberiku amanah hanya untuk menjaga Nimas seperti wanita yang aku cintai, tapi aku sekarang tidak hanya ingin menjaganya, tapi aku mencintainya juga. Aku yakin kau di sana tidak akan marah, kan Kak? karena orang yang kau cintai jatuh ke tangan orang yang tepat.

__ADS_1


Shaka memberikan sedikit kecupan di kening istrinya. Lalu ia memejamkan mata menyusul istrinya yang sudah tertidur pulas tidak lama setelah ia meletakkan kepalanya di lengannya.


Jika sepasang suami istri yang baru saja memutuskan untuk pergi dari rumah sedang tertidur dengan pulas, lain halnya dengan kedua orang tuanya. Mereka tidak bisa tidur, lebih tepatnya Bu Marissa yang tidak bisa tidur karena terus memikirkan anaknya yang pergi. Sedangkan Pak Malik sangat meyakini bahwa Shaka tidak akan bisa bertahan hidup di luar sana. Beliau yakin juga yakin Shaka tidak akan bisa hidup tanpa fasilitas darinya.


"Ma, udahlah nggak usah sedih-sedih gitu. Percaya sama Papa, Shaka tidak akan pergi dari sini dalam waktu yang lama. Kamu tahu, kan apa yang Papa lakukan tidak pernah gagal? Jadi tinggal tunggu saja waktunya. Buka pintu lebar-lebar setiap harinya, kamu tinggal bertepuk tangan ketika mereka pulang. Tidur sekarang ini sudah malam." Setelah mengatakan itu Pak Malik menutup matanya begitu saja. Rasanya pulang dari luar kota sudah disuguhi dengan kejadian seperti ini membuat badan dan pikirannya terasa lelah.


Bu Marissa yang juga merasa lelah berusaha sejenak untuk melupakan apa yang sudah terjadi. Meskipun matanya enggan untuk tertutup, beliau memaksa kedua bola matanya untuk matanya untuk terpejam. Beliau berharap dengan cara seperti ini bisa tertidur dengan sendirinya.


Bu Marisa baru saja memejamkan matanya, tiba-tiba beliau merasa sudah berada di atas awan. Melihat sekeliling yang semuanya nampak berawan dan beliau sendirian di tempat itu. Bu Marissa bingung melihat sekeliling, tidak ada jalan untuk pulang. Ingin rasanya minta tolong, tapi rasanya tenggorokannya entah kenapa terasa tercekat.


Tidak berselang lama datang seseorang yang memakai pakaian serba putih. Orang itu berjalan dengan ke arahnya. Bu Marissa menyipitkan matanya demi melihat siapa orang itu. Semakin lama semakin dekat dan beliau menyadari bahwa itu adalah anaknya.


Bu Marissa berjalan mendekat ke arahnya. Namun Bryan dengan cepat menjauh dari wanita yang sudah melahirkannya.


"Kenapa Sayang? Kamu nggak mau peluk Mama, kamu kangen sama Mama?"

__ADS_1


"Peluk? Mama mengharapkan sebuah pelukan dariku? Kenapa Mama tidak melakukan itu pada anakku, Ma? Kenapa Mama tidak memberikan pelukan yang hangat, yang selalu Mama berikan buat anak-anak Mama kepada anak yang dikandung Nimas? Kenapa malah Mama berusaha untuk melenyapkan anakku? Apakah sampai sekarang Mama masih ragu itu adalah anakku? Anak yang dikandung Nimas itu anakku, Ma. Mama boleh kecewa sama aku ataupun sama Nimas. Mama boleh nggak suka, tapi aku mohon jangan sakiti anakku, Ma. Setidaknya hangan lakukan apa pun untuk menyakiti anakku. Mama tega melenyapkan darah dagingku, Ma?"


"Bryan. Mama nggak suka Nimas, dia sudah merebut Shaka dari Mama. Dia rela meninggalkan Mama hanya untuk perempuan itu. Mama yang sudah melahirkan dia, Mama yang sudah membesarkan dan juga memberikan kasih sayang penuh ke dia, tapi begitu dia dewasa, dia malah diambil perempuan itu. Nimas membawa pengaruh buruk untuk adikmu."


"Shaka pergi bukan karena Nimas, tapi karena Mama sendiri. Coba Mama bersikap baik,  berusaha untuk membuka hati untuk menantu Mama. Aku yakin Shaka tidak akan seperti itu. Aku yakin dia nggak akan berubah, Mama tahu anak Mama itu lembut hatinya. Rasanya memang percuma aku datang ke sini untuk temui Mama. Sekarang aku mau pergi dulu, ya Ma. Aku cuma mau bilang, jaga diri Mama baik-baik. Aku pamit, ya Ma. Waktuku sudah habis."


Perlahan namun pasti awan-awan yang dipijak oleh mereka berdua mengepul  ke atas dan perlahan menutupi tubuh Bryan. Bu Marissa panik dan memanggil-manggil anaknya, namun semakin lama dan semakin kencang ia berteriak awan-awan itu semakin cepat naik ke atas.


"Tidak Bryan. Jangan ... Jangan pergi, jangan tinggalin Mama Bryan, kembalilah!"


Di saat beliau berteriak, Bu Marissa merasa ada yang menggoyang-goyangkan tubuhnya. Guncangan yang semakin lama semakin terasa membuat wanita itu memaksa matanya untuk terbuka. Beliau melihat sekeliling, beliau berpikir kenapa tempat yang tadi berbeda dengan yang sekarang beliau lihat.


"Mama mimpi buruk, Ma? Ini minum!"


Bu Marisa menenggak air yang diberikan suaminya setengah gelas, lalu kembali meletakkannya di atas nakas.

__ADS_1


"Mama barusan mimpi Bryan. Dia bicara panjang lebar ke Mama, tapi intinya dia mengatakan kalau dia itu kecewa sama apa yang sudah Mama lakukan, karena sudah berusaha menyingkirkan anaknya. Sebenarnya apa yang sudah dilakukan Nimas ke anak-anak kia, Pa. Kenapa kedua anak kita ini sampai segitunya ngebela Nimas. Guna-guna apa yang sudah dia kirim buat anak-anak kita?"


Pak Malik enggan menanggapi ucapan istrinya. Beliau lebih memilih untuk kembali meletakkan tubuhnya di kasur dan memejamkan matanya. Entahlah, beliau merasa tidak penting saja jika semalam ini membicarakan Nimas. Lebih baik dirinya tidur, begitu pikirnya.


__ADS_2