
Sebuah suara yang tiba-tiba saja terdengar dari arah pintu utama seketika membuat keduanya refleks melihat arah yang sama dalam waktu bersamaan.
Nimas tak tahu siapa gadis itu, namun saat melihat ekspresi yang Shaka gambarkan membuat Nimas menebak bahwa gadis yang berada di pintu itu bukan teman biasa.
"Raisa," gumam Shaka sangat pelan, namun masih terdengar jelas di telinga Nimas.
"Kenapa? Kaget kamu aku datang?" tanya Raisa berjalan masuk dan menatap kesal ke arah Shaka.
"Dan kamu, bagus kalau kamu sadar kamu sudah merusak masa depan seseorang. Kamu memang benar, kamu mengambil Shaka dariku. Aku dan Shaka sudah pacaran selama dua tahun, hubungan kami tidak pernah ada masalah, tidak pernah bertengkar untuk urusan yang berat, hubungan kami sangat harmonis, tapi tiba-tiba kamu datang dan merusak semuanya. Dasar benalu."
"Raisa, jaga bicaramu!" Nada bicara Shaka masih dibuat setenang dan sepelan mungkin. Ia masih sabar menghadapi Raisa yang sudah keterlaluan.
"Aku yang harus jaga bicaraku? Memang aku bicara apa Shaka? Bukankah apa yang aku katakan ini benar? Bukankah memang hubungan kita selama ini baik-baik saja, bahkan kamu sudah merencanakan..."
"Raisa, sadari posisi dan keadaan. Bukankah sudah aku perjelas bahwa kita tidak memiliki hubungan apapun?"
"Kamu belain perempuan yang tidak kamu kenal dibandingkan aku yang menemani kamu selama dua tahun lebih, begitu Shaka? Nggak punya hati kamu, Shaka."
Raisa menatap Nimas dengan penuh kebencian lalu beranjak pergi dari sana. Ia berlari kecil dengan menghapus air matanya yang sudah berhasil lolos dari pelupuk mata. Hatinya begitu sakit mendengar pembelaan yang Shaka lontarkan untuk perempuan lain.
"Shaka! Tidak seharusnya kamu bicara seperti itu."
Nimas yang merasa tidak enak hati, lalun mengejar kepergian Raisa.
__ADS_1
"Nimas berhenti! Jangan lari. Nimas!" Teriakan Shaka tak digubris oleh Nimas. Ia masih berlari mengejar Raisa yang hampir mencapai gerbang.
"Raisa tunggu!" Nimas berhasil mencekal tangan gadis itu.
Namun, Raisa dengan kasar menepis tangan Nimas sampai gadis hamil itu mundur satu langkah. Untunglah gadis itu tidak sampai tersungkur.
"Jangan sentuh aku. Kamu terlalu jahat. Kamu rebut laki-laki yang aku cintai. Kamu ambil dia, kamu jahat!" teriak Raisa dengan histeris.
"Raisa, jangan begini. Aku janji sama kamu aku nggak akan sentuh Shaka. Kamu masih bisa melanjutkan hubungan kalian. Shaka tetap milikmu, aku akan pergi dari kehidupan Shaka begitu anak ini lahir. Aku janji Raisa."
Shaka yang berada di belakang mereka tentu saja marah mendengar ucapan Nimas. Ia dengan susah payahnya menentang kedua orang tuanya untuk menikahinya, malah ia berucap dengan mudahnya mempermainkan pernikahan.
"Tapi dia tadi mengatakan akan meninggalkan aku," jawab Raisa masih sesenggukan.
"Cukup Nimas!" teriak Shaka berjalan mendekati mereka.
"Tidak ada yang mengatakan pernikahan kita ini hanya sementara. Tidak ada yang memberimu izin untuk membuat aku berhubungan dengan siapapun. Kenapa kamu bisa lancang begitu?"
Shaka beberapa hari terakhir sangat stress dengan apa yang terjadi, ia sudah berusaha menekan amarahnya akhir-akhir ini. Dan sekarang adalah puncak amarah yang tak bisa lagi ia tahan dan tekan.
Ucapan Raisa yang tadi saja saja cukup membuat emosinya naik, ditambah lagi dengan kata-kata Nimas yang tetap mengizinkan dirinya tetap menjalin hubungan dengan Raisa di saat mereka sudah resmi menikah. Kalimat itu adalah puncak amarahnya. Bagaimana bisa Nimas yang diperjuangkan mati-matian malah memberikan harapan pada Raisa yang ingin ia tinggalkan demi memenuhi kehidupannya nanti.
"Shaka aku tidak lancang, kamu dan Raisa saling mencintai. Aku masuk dan datang sebagai perusak hubungan kalian. Aku nggak mau menyakiti hati orang lain."
__ADS_1
"Kamu mempermainkan pernikahan demi menjaga hati orang lain? Kamu mempertaruhkan janjiku pada Tuhan untuk orang lain? Kamu pikir siapa yang menanggung dosanya? Asal kamu tahu, tidak ada dalam kamus hidupku menikah dua kali Nimas. Menikah dengan siapapun aku nanti, aku akan mempertahankan sampai akhir hayat. Jangan sekali-kali kamu membuat janji pada siapapun mengenai apapun yang berhubungan denganku." Entah sadar atau tidak Shaka bicara dengan nada yang sedikit tinggi pada Nimas. Gadis itu sampai berkaca-kaca dibuatnya.
Sementara Raisa langsung meninggalkan mereka berdua setelah Shaka selesai meluapkan amarahnya. Jangan tanyakan bagaimana kondisi hatinya saat ini. Hancurnya lebih dari hancur.
Melihat Nimas yang menundukkan kepala membuat Shaka seketika sadar bahwa apa yang ia lakukan membuat gadis itu semakin berkecil hati. Gadis polos yang masih berusia dua puluh dua tahun itu rupanya memiliki hati yang sensitif. Ia akan langsung bersedih hati jika ada yang bicara tinggi padanya.
"Astaghfirullahaladzim, Nimas aku minta maaf. Aku kebawa emosi. Maaf."
"Nggak apa-apa. Aku memang salah. Ditempatkan di posisi apapun aku yang salah," jawab Nimas lirih.
"Nggak gitu, Nimas. Aku nggak ada maksud ke arah situ. Aku hanya nggak mau, kamu mempermainkan pernikahan. Aku akan berdosa jika sampai melakukan apa yang kamu ucapkan tadi. Cobalah mengerti, kita hargai diri kita, kita hargai pernikahan ini. Memang sekarang nggak ada cinta. Tapi tidak ada yang tahu dan tidak ada yang menjamin setelah pernikahan perasaan kita akan sama. Kamu tahu? Aku memutuskan hubungan sama Raisa, biar dia juga mencari kebahagiaan itu sendiri, Nimas. Aku bisa melakukan hal yang kamu katakan tadi, gampang malah. Tapi sama saja aku menganggap mainan tiga hal. Pernikahan dan dua wanita. Paham, kan sekarang?"
"Kamu tidak menyakiti aku, Shaka. Aku tidak akan sakit hati jika kamu melakukan itu. Aku nggak apa-apa."
Shaka memejamkan mata untuk menahan emosi yang sebenarnya masih berada di puncak. Ia paham Nimas adalah tipe perempuan yang tidak bisa dibentak, di usia yang masih semarang, ia paham seharusnya Nimas tidak menanggung beban seberat ini sendirian. Apalagi pengaruh perubahan hormon juga bisa jadi membuat perasaan Nimas semakin sensitif.
"Aku menelantarkan kamu dan anak kamu. Kamu bilang nggak apa-apa? Anggaplah kita tidak ada perasaan apa-apa setelah kamu melahirkan. Aku meninggalkan kamu, apakah kamu pikir aku bisa terlepas dan terbebas? Tanggung jawabku tidak ada? Bebanku hilang? Nggak, justru makin bertambah. Aku dihantui rasa dosa dan bersalah."
"Tapi kamu juga akan dihantui rasa bersalah karena meninggalkan Raisa." Nimas masih kekeh pada pendapat yang menurutnya benar.
"Aku meninggalkan seorang perempuan untuk calon istriku. Aku nggak merasa kalau aku dosa. Iya mungkin aku akan berdosa, tapi tidak sebesar dosa ketika aku melalukan apa yang kamu minta. Coba kamu pikir, lebih dosa besar yang mana?"
"Aku yang melakukan dosa besar, Shaka!"
__ADS_1
"Iya, kamu dosa besar dengan melakukan hal yang tidak seharusnya kamu lakukan sebelum menikah. Jangan bicarakan dosa terlalu banyak dan jauh. Nggak akan ada habisnya. Sekarang kita masuk, kita akan pulang setelah makan malam, hm."