
Bu Marissa mendengus kesal. Dengan perlahan beliau menaiki anak tangga satu persatu. Beliau masih sedikit trauma naik turun tangga seperti ini.
"Nimas."
Merasa ada yang memanggilnya, Nimas yang sudah memejamkan mata sedikit sempoyongan berjalan mendekati pintu.
"Mama, ada apa, Ma? Apa perlu sesuatu? Kenapa nggak telepon aja?"
"Saya cuman mau kasih ini, minumlah! Jus ini bisa membuatmu lebih segar dan akan membahas energi kamu. Habiskan dan istirahat!"
Nimas merasa terharu mendapatkan perhatian sedetail ini.
"Mama harusnya nggak perlu repot seperti ini, Ma. Terima kasih sudah membuatkan aku ini. Akan aku habiskan, Mama mau masuk?"
"Tidak."
Bu Marissa segera berlalu dari sana. Meskipun masih dingin, Nimas tetap bersyukur atas perubahan kecil ini. Ini adalah titik balik yang bagus, bukan? Mensyukuri apa pun dan sekecil apa pun dalam kehidupan kita pasti akan membuahkan hasil yang besar dan tidak akan terduga.
Semangat Nimas rupanya sedikit bertambah karena dirinya yang sumringah. Ia mengamati segelas jus yang berwarna hijau itu. Setelah puas mengamati, ia memilih duduk di kursi yang terdapat di meja rias dan meminumnya hingga tak tersisa.
***
__ADS_1
Dua hari mendapatkan perhatian lebih dari Shaka dan Ibu mertuanya membuat keadaan Nimas jauh lebih baik. Ia sudah sehat seperti sedia kala meski kadang pusing di kepala mendadak datang dan pergi.
Hal itu tidak luput dari perhatian Bu Marissa yang gantian merawat Nimas dengan baik. Dengan baik darisegi asupan nutrisi, bukan dari segi perhatian dan kata-kata manis atau setidaknya kata permintaan maaf untuk kesalahannya dan kata-kata perhatian yang yang lainnya.
Ya, Bu Marissa memang aktif memberikan ini dan itu, tapi tidak dengan sikapnya. Perhatian yang tidak diikuti dengan sikap yang ramah membuat Shaka dan Nimas akhirnya membahasnya di suatu malam.
"Mungkin Mama masih gengsi, Dek. Jadi kadang itu ada orang yang sudah sadar dengan kesalahannya, dia sudah tahu kalau dia keliru, tapi gengsi atau kalau nggak, dia nggak punya nyali untuk mengatakan maaf atau mengakui kekeliruannya di depan orang yang sudah dia sakiti. Jadi dia, ya ngasih kode dalam hal lain."
"Padahal aku nggak butuh Mama Minta maaf, lo Mas. Maksudnya, aku sudah melupakan semuanya, biarlah yang sudah, ya sudah. Kalau mau memulai lembaran baru mari kita mulai dari awal lagi, dari nol lagi. Mama masih jutek kalau aku ajak ngobrol. Tapi kalau aku melakukan sesuatu yang berat atau membuat aku cape, dia ngomel."
"Nggak apa-apa, Dek. Untuk sementara dinikmati aja dulu, yang penting, kan kita udah tahu kalau Mama udah mulai berubah. Setidaknya ada pertanda baik, tanda-tanda kalau kamu diterima di keluarga ini. Jangan pikirkan hal yang membuat kamu menjadi pusing sendiri karena memikirkannya. Oh, ya ngomong-ngomong lusa Mama ulang tahun, gimana kalau kita kasih surprise? Mas sama Papa udah ada rencana, sih dari beberapa hari yang lalu. Cuman karena kamu lagi nggak enak badan, jadi Mas sama Papa simpan sendiri dulu."
"Memang kamu mau ada rencana apa?"
"Eh ngomong-ngomong, kita nggak pernah ngerayain anniversary kita, ya Dek. Kenapa bisa sampai nggak kepikiran, ya? Kamu juga nggak pernah ngucapin, Mas yang pelupa ini jadi malah ikut lupa."
"Kalau boleh jujur, sebenarnya aku lupa hari pernikahan kita. Karena semuanya serba mendadak dan tidak terencana, ya aku jadi nggak ingat tanggal berapa kita nikah. Yang aku ingat tanggal pernikahan kita yang kedua. Aku nggak ngucapin, ya karena aku merasa pasti aku setiap tahun yang akan memulai duluan mengucapkan dan kamu pasti lupa. Dan aku berpikir kamu nggak mementingkan itu, karena biasanya, kan laki-laki nggak suka hal-hal yang begitu. Jadi, ya udah aku diem aja."
"Memang kebanyakan laki-laki begitu, sih. Mereka lupa sama hal yang kecil, tapi kalau buat Mas antara penting nggak penting, sih. Kalau kamu mau ngerayain, ya ayo kita rayain setiap tahun, tapi kalau nggak mau, ya nggak apa-apa. Yang penting cinta kita tetap utuh. Ya, kan?"
Saka mengerlingkan matanya genit seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Nimas. Seakan mengerti apa yang akan suaminya itu lakukan, Nimas mendorong kepala Shaka ke belakang.
__ADS_1
"Kok gitu sih, Dek? Lagi kedatangan sinr bulan kamu?" sungut Shaka.
"Nggak, Mas. Kamu belum selesai cerita tadi soal surprise Mama. Kita mau ngasih kado apa? Terus gimana surprisenya nanti? Terus untuk kuenya, dekorasinya dan lain sebagainya. Itu kita belum selesai bicara. Acaranya, kan udah lusa."
"Dekorasi sama kue udah Papa siapin, pihak restoran udah urus, Dek. Kamu besok tinggal nyari kado aja. Terserah kamu aja kadonya gimana. Kamu perempuan, pasti lebih ngerti, kan? Tas, sepatu, jam, baju, aksesoris perempuan, kan banyak. Udah jangan banyak tanya lagi." Shaka meraih selimut tebalnya dan menutupi seluruh tubuh mereka dalam selimut yang sama. Tidak mungkin jika tidak terjadi apa-apa setelah itu.
***
Dan keesokan harinya, Nimas sibuk mencari kado untuk Ibu mertuanya. Sejak pagi ia bingung karena pergi dari satu tempat ke tempat lain. Wanita itu pergi ditemani oleh sang Suami yang dengan terpaksa sabar mengintili ke mana pun istrinya pergi.
Astaga, apa dia tidak lelah dari tadi pagi hingga siang begini cuman keliling mall dan toko. Tapi nggak ada satu pun barang yang bisa dia beli buat Mama. Ingin sekali rasanya kaki aku lepas sejenak. Cape banget.
"Ini bagus nggak, Mas?" Nimas menunjukkan tas bermerk berwarna coklat.
"Dari tadi apa yang kamu tunjukin ke Mas itu bagus, Dek. Kamunya aja yang terlalu pemilih." Nada frustasi terdengar jelas dari suaranya.
"Tapi Mama udah punya warna coklat, Mas. Yang lain. Akan aku cari yang lain." Nimas kembali membawa kakinya melangkah. "Ah," pekik Nimas memegang perutnya.
"Dek, kenapa? Kenapa perutnya? Sakit?"
"Kayaknya mag aku kambuh, Mas. Nyeri banget perutnya."
__ADS_1
"Duduk, Mas cari makanan yang bisa redain nyerinya. Jangan ke mana-mana atau Mas akan marah."