Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
25. Mesra


__ADS_3

"Aku takut sama sayuran hijau. Memang takutku tidak berlebihan seperti phobia,  itulah kenapa aku masih bisa menahannya tadi. Aku akan selalu membayangkan ada ulat jika aku melihat sayuran."


"Astaga, kenapa nggak bilang sih, Mas. Kalau begini aku jadinya nyakitin kamu tahu nggak. Kalau kamu bilang, kan bisa aku makan sayurannya. Kalau kamu kenapa-napa gimana? Kamu mau aku disalahin banyak orang. Bener-bener kamu, ya." Saking kesalnya Nimas pada suaminya, pelupuk matanya seketika berarair dan hampir jatuh membasahi pipi.


Sementara Shaka yang sejak tadi mendongak menatap Nimas sedang meracau merasa terpesona dengan kecantikan alami Nimas yang baru ia sadari.


"Au ah aku kesel sama kamu." Nimas semakin kesal melihat senyum Shaka yang melihat dirinya dengan lekat dan tanpa kedipan. Wanita itu pun akhirnya meninggalkan Shaka dan berjalan menuju balkon.


Wanita yang baru aja menyandang status istri itu nampak memburuk mood nya ketika melihat respon Shaka yang seakan meremehkan kekesalannya. Untuk pertama kalinya ia merasa kesal pada pria itu, entahlah ia merasa mood nya gampang berubah akhir-akhir ini.


Sementara Shaka hanya menggeleng kepala pelan. Ia menikahi gadis yang perbedaan umurnya hanya enam tahun tapi serasa menikahi gadis yang baru membuat KTP. Ia yang terbiasa menghadapi Raisa yang lebih dewasa dari istrinya hanya sedikit terkejut saja. Ia paham bahwa Nimas masih butuh tangannya untuk ia genggam dan ia bawa ke jalan yang membuatnya semakin dewasa dalam bersikap.


Bukan berarti yang sekarang Nimas ini kekanakan, tidak. Nimas sebenarnya cukup dewasa bagi Shaka, namun hanya saat tertentu saja. Ia paham jika di usia Nimas yang sekarang, tidak seharusnya ia menanggung beban kehidupan seberat ini.


Shaka berjalan ke balkon begitu melihat Nimas membuat gestur mengelap pipinya yang entah kenapa. Menjajari wanita itu yang sedang menatap keindahan malam yang di hiasi bulan bintang.


"Maaf, aku bukannya bermaksud untuk membuat kamu tidak mengerti apapun soal aku. Membuat kamu disalahkan, atau membuat mereka berkesempatan untuk mengejek kamu, nggak kayak gitu maksudnya."


Nimas tak bergeming, ia masih menatap hamparan lukisan Tuhan yang begitu indah bagi siapapun yang melihat. Melihat keindahan itu dari ketinggian, membuat Nimas sedikit merasa dekat dengan keindahan itu.


"Aku hanya ingin mereka tahu, kalau aku menerima apapun yang kamu beri. Meski itu atas dasar ketidaktahuan kamu. Aku mau mereka heran dengan pengorbanan yang aku beri? Biar apa? Bi..."


"Biar Raisa cemburu? Biar mereka berpikir seolah kamu cinta sama aku, sayang sama aku. Begitu, kan? Aku sudah tahu jalan pikiran kamu tanpa kamu beritahu," sungut Nimas kesal.

__ADS_1


Shaka kembali tersenyum melihat tingkah Nimas yang malah lucu di matanya.


"Bukan biar cemburu, biar dia tahu aku mulai sayang sama kamu dan dia cari kebahagiaan dia yang lain tanpa mengganggu kita. Itu saja kok. Pengorbanan yang aku lakukan tadi kecil, aku muntah bukan karena alergi atau karena ada yang membahayakan. Tapi aku jijik dan takut sama ulat, dalam bayangan aku adalah aku barusan makan daun beserta ulatnya makanya aku muntah. Aku tahu kok kamu kayak gini karena khawatir sama aku, kan?"


Nimas kembali tak bergeming. Hal itu membuat Shaka semakin gemas karena ia baru sadar bahwa Nimas ini memang harus diperlakukan seperti anak kecil ketika childish nya kumat. Entah apa yang ada di pikiran Bryan kala itu memilih gadis yang kecil begini, batin Shaka geleng kepala.


"Ya udah deh, kalau masih marah. Aku akan membiarkan kamu di sini, sampai kamu tenang. Setelah kamu merasa jauh lebih baik, kamu tidur, ya. Ingat, ada anak yang ada dalam perut kamu, masa aku ingetin tiap hari. Kok jadi kayak aku yang hamil."


Shaka berjalan masuk kamar, tidak ada pergerakan dari Nimas. Ia masih tetap pada pendiriannya, bahkan ia tak bergerak dari tempatnya.


Shaka masih mengawasi wanita kecilnya itu. Ia ingin tahun seberapa lama ia bertahan berdiri di sana dengan angin yang bertiup sedikit kencang.


Sementara itu, dalam diri Nimas kini yang bicara adalah keegoisan dirinya. Jujur saja kekesalan Nimas tidak hanya pada diamnya Shaka soal sayuran, tapi ia juga soal Shaka yang memanggil dan memperlakukan dia bak wanita yang ia sayangi hanya untuk membuat Raisa cemburu.


Ingin membuat Raisa pergi dari kehidupannya dengan cara seperti itu? Ah aku rasa itu hanya alasan saja. Alasan untuk menutup perasaannya. Mungkin saja apa yang dikatakan Raisa benar, Shaka masih cinta sama Raisa, begitupun sebaliknya. Biar bagaimanapun mereka terpisah karena aku yang datang. Tapi haruskah Shaka mempermainkan aku juga? Kesal sekali aku dengannya.


Shaka kembali berjalan dengan tenang dan pelan agar langkah kakinya tak terdengar. Ia berdiri mematung di belakang Nimas, namun nampaknya wanita itu tidak sadar bahwa suaminya sedang tepat berada di belakangnya.


Shaka sudah merencanakan sesuatu ketika Nimas bertahan dengan merajuknya. Namun, entah mengapa tiba-tiba debaran jantungnya menjadi tidak normal. Debaran jantungnya terasa bergelut di dalam.


Beberapa kali Shaka menarik dan menghembuskan nafas untuk menetralkan jantungnya yang tiba-tiba berisik.


Grap.

__ADS_1


Deg! Deg! Deg!


Debaran jantungnya bukannya membaik justru malah bersorak dengan begitu kejamnya. Shaka berpikir pasti Nimas saat ini mendengar suara jantungnya yang seakan ingin meninggalkan tempatnya.


Tangan mulus Shaka yang berhasil melingkar di sepanjang perut Nimas berhasil membuat detak jantung Nimas terasa berhenti seketika. Ia tercengang dan tak bisa bergerak, bahkan untuk bernafas pun rasanya terasa sukar dilakukan.


Nimas memejamkan mata begitu merasakan pundaknya ditopangi oleh dagu Shaka. Entah apa yang dilakukan pria itu, tapi hal kecil ini membuat  Nimas sangat merasa tegang. Seperti ada sesuatu yang berdesir di dalam tubuhnya.


Shaka pun masih diam, ia juga masih berusaha untuk menetralkan kegugupan dan ketegangan ini. Ini memang bukan pertama kalinya bagi Shaka melakukan ini. Tapi rasanya kali ini ia merasakan perasaan yang berbeda entah karena apa.


"Sudah ku katakan angin malam tidak baik untuk kalian. Kenapa masih berdiri di sini begitu lama, hm?"


"Aku ... Aku."


"Kamu mau dipeluk seperti ini terus atau masuk kamar?"


"Iya, aku makan masuk. Lepaskan ini dulu."


"Masih berpikir yang tidak-tidak? Kenapa kamu tidak mengerti juga. Kalau kita bekerja sama untuk membuat Raisa pergi dari kehidupan kita, maka kita pasti akan baik-baik saja. Pernikahan kita ini belum ada pondasinya. Jadi kita harus bangun bersama agar kuat."


"Kenapa begitu? Cinta tidak akan mudah hilang, Mas. Aku yakin cinta kamu buat Raisa masih ada. Kenapa kamu malah milih mempertahankan pernikahan ini?"


Dalam hati kecil Nimas lega karena setidaknya ia merasa sejak ada Shaka kehidupannya tidak terlantar dan ada sosok yang melindungi dirinya.

__ADS_1


"Mau masih ada atau nggak, itu udah nggak penting kalau aku sudah mengucap janji pada Tuhan. Apalagi yang kamu ragukan dari aku, Nimas? Memang kamu saat ini bukan wanita yang aku cintai, tapi kamu adalah wanita yang melengkapi hidupku. Biarkan waktu dan hati yang bekerja dengan sendirinya. Ngomong-ngomong, aroma tubuhmu membuat aku rileks, Nimas."


Deg!


__ADS_2