
Hanya butuh beberapa menit saja, Bryan yang sebenarnya belum mengantuk malah tertidur sungguhan di pangkuan sang Ayah. Senyaman itulah Shaka hingga baru saja menempelkan kepalanya, anak kecil itu sudah tertidur?
"Shaka, apa nggak sebaiknya kamu cari banyak sitter saja?" Bu Marissa yang memberi saran.
"Nggak usah, Ma. Saya bisa kok rawat mereka. Toh Bryan sudah nggak manja banget. Udah bisa sedikit mandiri meski dibantu sedikit-sedikit."
"Kamu cape, Nimas. Merawat satu bayi aja nguras tenaga."
"Saya nggak mau anak saya diasuh orang lain, Ma. Saya ingin mereka nggak hanya kenal dengan orang tuanya, tapi dekat juga."
"Jangan pernah berdebat dengan Nimas, Ma. Nggak akan menang. Aku boleh keluar sebentar, kan? Aku mau cari makan? Mama Papa udah makan?" Shaka bicara seraya memindahkan kepala anaknya ke sofa dengan pelan.
"Udah, kita udah makan, kamu aja."
"Kamu mau makan apa, Dek?"
"Apa aja."
Shaka bergegas pergi dari kamar rawat. Ia berjalan dengan tergesa-gesa menuju kantin. Bukan karena takut dengan suasana rumah sakit yang sudah mulai sedikit menampakkan kesunyiannya, tapi rasa lapar yang menyerang sejak beberapa jam lalu adalah alasan satu-satunya ia ingin menuntaskan hasrat rasa laparnya.
Di tengah perjalanan, Shaka kembali tak sengaja dipertemukan dengan Raisa. Kali ini ia sendirian dengan tentengan satu kantong kresek di tangan kanannya. Jika boleh Shaka menebak, tas kresek itu pasti berisi camilan. Ah kenapa ia jadi ia memikirkan hal yang tidak sepenting ini?
"Raisa, kamu masih di sini? Apa ada yang sakit?"
"Iya. Anakku kena demam berdarah dan harus dirawat di sini. Bagaimana kepada Nimas? Apa persalinannya lancar?"
"Alhamdulillah. Semua berjalan lancar. Mudah-mudahan anak kaku lekas sembuh, ya. Aku permisi, mau ke kantin."
__ADS_1
Shaka sudah meninggalkan Raisa tiga langkah, namun di langkahnya ke empat, Shaka mendengar Raisa memanggilnya. Refleks ia berhenti dan memutar kepala ke belakang. Nampak Raisa yang berjalan mendekatinya.
"Shaka, aku minta maaf atas kesalahan aku di masa lalu. Aku sudah berbuat salah dan aku jahat sama kamu dan Nimas. Sungguh sekarang aku sangat menyesalinya."
Shak memberikan senyuman pada mantan kekasihnya itu. Pada dasarnya, ia memang tidak ada dendam pada siapa pun orang yang sudah berusaha merusak rumah tangganya dahulu. Justru dengan datangnya ujian dari mereka membuat cintanya pada Nimas tumbuh tanpa ia minta.
"Nggak apa-apa. Semua orang pasti punya salah dan ada setitik noda hitam dalam dirinya. Bukankah aku juga pernah salah padamu? Aku juga minta maaf. Kita sama-sama nol, ya."
"Terima kasih. Jika diizinkan, aku ingin bertemu Nimas besok. Boleh?" Raisa minta izin dengan sedikit takut dan was-was aka respon Shaka.
"Silakan. Aku yakin Nimas akan senang jika kamu ke sana. Aku permisi, ya. Aku harus beli makan untuk istriku. Kasihan dia nunggu lama."
Raisa hanya mengangguk. Ia masih berdiri mematung menatap punggung Shaka yang terasa kian menjauh. Tak ia sangka ia bisa melupakan cinta yang membuat ia begitu istimewa. Memang tidak mudah bagi Raisa untuk berada di titik sekarang ini. Ia harus memaksa diri dan hatinya untuk maju dan melupakan alasan, tempat, dan sumber kebahagiaannya.
Pengorbanan yang tidak sia-sia untuk Riaisa, berberapa tahun memutuskan untuk mengikhlaskan Shaka, datang sosok pria yang kini hari suaminya. Entah hadiah dari Tuhan atas kerja kerasnya untuk menjadi lebih baik, atau memang takdirnya harus seperti ini. Raisa bertemu dengan pria yang memberikan kasih sayang yang sama seperti Shaka dahulu. Ia seperti menemukan kembali rumah untuknya tetap tinggal dan menetap di sana seumur hidupnya.
Perut sudah terisi dan ia juga sudah membawa makanan untuk Nimas dan juga beberapa camilan. Perjalanan yang tadinya lambat kini nampak lebih cepat.
"Dek, maaf lama. Agak antri tadi. Mama sama Papa pulang aja nggak apa-apa. Paling besok Nimas udah boleh pulang. Bryan besok juga harus sekolah."
"Iya ini kita mau pulang. Tungguin kamu, lah. Kamu angkat Bryan ke mobil." Bu Marissa menhampiri Nimas yang sudah sedikit mengantuk.
"Mama pulang dulu, ya. Habis makan langsung istirahat, tidur."
"Iya, Ma. Terima kasih. Saya nitip Bryan."
"Dia cucuku, kenalan harus bicara seperti itu. Oh, ya. Ayah Ibu sudah kamu kabari? Kalau belum, jangan lupa kabari, nanti besok atau lusa pas kamu udah pulang ke rumah biar di jemput supir. Kalau mau bisa nginap di rumah beberapa hari atau selama yang mereka mau. Mama mau minta maaf juga karena sudah pernah melakukan kesalahan pada mereka."
__ADS_1
"Iya, Ma. Besok pagi-pagi banget biar aku yang ngasih tahu Nino. Nggak usah khawatir kalau soal itu, aku juga ada rencana kayak gitu tadinya. Memang belum sempat ngabarin aja. Ya udah ayo! Kasihan lama-lama Bryan tidur kayak gitu, nggak luas tempatnya."
***
Keesokan harinya, Raisa benar-benar menepati janjinya. Ia bertandang ke kamar rawat Nimas dengan perut buncitnya.
"Masuk!" teriak Nimas setelah terdengar ketukan pintu.
Dengan perlahan benda persegi itu terbuka. Raisa melihat wajah Nimas yang sedikit terkejut dan seperti terbengong saat melihat dirinya masuk ke ruangannya.
"Selamat pagi," sapa Raisa berjalan mendekat.
"Ah, iya. Selamat pagi juga. Kamu masih di sini?"
"Iya. Jadi kebetulan semalam anakku masuk rumah sakit karena demam berdarah dan harus dirawat di sini. Seakan sudah direncanakan oleh Tuhan, ya kita bisa ketemu lagi di sini setelah sekian lama kita nggak ketemu. Bagaimana kabarmu baik, kan?"
"Seperti yang kamu lihat, tidak ada seorang wanita yang tidak baik atau tidak sehat ketika dia baru saja menerima seorang bayi. Kamu hamil anak kedua? Berapa bulan?"
"Sudah delapan bulan. Oh, ya Nimas aku nggak bisa lama-lama, aku takut nanti anakku cari aku. Aku datang ke sini cuman mau bilang selamat atas kelahiran anak kalian dan sekalian juga aku mau minta maaf, karena aku dulu sangat jahat padamu."
Respon pertama kali yang diberikan Nimas sama dengan respon Shaka semalam. Seulas senyum yang tulus terlihat menghiasi bibir Nimas.
"Aku sudah melupakan semuanya, Raisa. Bagiku semua yang sudah berlalu, ya sudah. Aku udah memberi maaf padamu jauh sebelum hari ini. Aku pun juga punya salah ke kamu, kan? Aku juga minta maaf. Mungkin yang terjadi di masa lalu sama-sama bukan keinginan kita, tapi sekarang kita sadar bahwa yang terjadi di masa lalu adalah takdir terbaik dari Tuhan. Karena nyatanya kita bahagia dengan cara kita masing-masing, kan? Teman." Nimas menyodorkan tangannya untuk bersalaman, sebagai pertanda bahwa mulai detik ini ia menganggap Raisa sebagai teman.
"Teman." Raisa dengan segera menjabat tangan Nimas lalu disusul pelukan hangat dari kedua wanita yang sudah menjadi Ibu itu.
Satu-satunya laki-laki yang sejak tadi tidak dianggap kehadirannya hanya melengkungkan bibir melihat pemandangan indah itu. Tidak pernah terlintas di pikiran Shaka mereka akan melakukan kontak fisik, apalagi berpelukan. Sungguh, tidak ada alasan bagi Shaka untuk tidak bersyukur hingga detik ini. Meskipun banyak rintangan, ujian, tapi Tuhan selalu memberikan hadiah lebih dari apa yang ia kira.
__ADS_1