Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
99. Teman Masa Kecil


__ADS_3

Senja hampir menyapa saat Nimas dan yang lain sampai rumah. Ada satu mobil yang terparkir di sana. Shaka sedikit menyipit memperhatikan mobil itu, otaknya sedang bekerja untuk megingat-ingat siapakah gerangan yang memliki mobil tersebut.


"Shaka! Lihatin apa, sih kamu? Ayo masuk, udah di tunggu sama istrinya juga." Bu Marissa mengomel karena anaknya itu bukannya segera membawa Nimas ke dalam malah berdiri mematung memperhatikan mobil.


"Itu mobil siapa, Ma? Kayak pernah lihat, tapi lupa di mana."


"Mobil kayak gitu emang cuman satu?"


Shaka hanya menjawab dengan helaan nafas lalu tangannya tergerak untuk menuntun istrinya ke dalam rumah. Begitu sampai di ruang tamu Shaka berhenti melangkah sejenak, ia seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia sampai mematung tidak bergerak sama sekali dari tempatnya dengan tangan yang masih terpaut pada lengan wanitanya.


"Eh kalian sudah pulang? Coba lihat siapa yang datang, mana Mama?" Pertanyaan dari Pak Malik membuyarkan lamunan pria satu anak itu.


"Ada apa, Pa. Mama di sini." Bu Marissa yang berjalan paling belakang menyahut seraya melangkah ke dalam rumah dengan menggandeng Bryan. Kedua matanya langsung tertuju pada tiga sosok tamu yang duduk di sofa.


"Helena, kapan kamu sampai di sini?Kenapa tidak memberitahuku kalau mau ke sini?" Dengan tangan yang masih menggenggam tangan Bryan, Bu Marissa berjalan mendekati ketiga tamu itu. Seperti wanita pada umumnya, mereka akan cium pipi kiri dan kanan sebagai bentuk meluapkan rasa rindu.


"Sengaja aku datang ke sini nggak kasih tahu, pengen kasih surprise aja. Bisa-bisanya kamu menikahkan anakmu tidak mengundangku." Bu Helena mengerucutkan bibirnya.


Bu Helena dan Bu Marissa adalah sahabat dari zaman mereka kuliah. Bahkan Bu Marissa bisa mengenal dan bisa menikah dengan Pak Malik karena Bu Helena yang memperkenalkannya. Dan seakan dunia terasa sempit bagi mereka setelah mengetahui bahwa suami Bu Helena ternyata masih kerabat Pak Malik.


"Astaga Helena kamu berada di luar negeri. Bagaimana mungkin aku mengundangmu? Nggak mungkin juga kamu mau datang ke Indonesia cuman menghadiri pernikahan Shaka. Bukan dapat duit malah keluar duit kamu." Keduanya lalu terkekeh.


"Ma, jangan asyik sendiri. Kenalkan juga Nimas pada mereka." Pak Malik yang melihat Nimas hanya diam saja dengan wajah bingungnya membuat pria itu mengerti bahwa menantunya itu butuh penjelasan.

__ADS_1


"Astaga, Mama sampi lupa. Nimas, sini, Nak. Ini sahabat Mama dari kuliah, namanya Tante Helena. Yang ini suaminya, masih kerabat Papa, namanya Om Mike. Dan ini anak mereka, namanya Tiara. Dia sepertinya seumuran sama kamu." Bu Marissa menjelaskan dan memperkenalkan mereka satu persatu yang disusul oleh jabat tangan Nimas sebagai pertanda perkenalan.


"Cantik sekali," puji Bu Helena untuk Nimas.


Shaka masih diam menundukkan penglihatannya pada lantai. Bukan tanpa alasan ia melakukan itu. Tiara dan Shaka salah sahabat di masa kecil saat keluarga Pak Mike masih bertempat tinggal di jakarta. Namun, mereka terpisah saat Tiara memasuki bangku SMA.


Shaka ingat betul, ia begitu dekat dengan Tiara dari kecil karena keinginannya yang punya adik perempuan tidak akan pernah terkabul, sehingga ia melampiaskan peduli dan rasa kasih sayangnya pada Tiara.


Sekarang Tiara yang dulu lebih manja padanya ketimbang Kakak kandungnya itu tumbuh dewasa dan anggun dengan hijabnya. Ini adalah pertemuan pertama sejak mereka terpisah beberapa tahun lalu.


"Shaka, kenapa diam saja? Kamu nggak kangen sama Tante? Kamu tumbuh menjadi pria yang gagah rupanya, mana ganteng banget lagi." Bu Helena membuat Shaka melambung tinggi hingga ke awan. Ibunya saja tidak pernah mengatakan itu padanya.


"Ah, iya. Aku hanya kaget aja tadi. Udah lma banget nggak ketemu, jadi aku sedikit pangling." Shaka berjalan menghampiri wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu ke dua itu.


"Pangling sama Tante apa sama Tiara?" goda Bu Helena. Sedetik kemudian, beliau sadar ada Nimas yang harus beliau jaga perasaannya.


"Ah, iya. Nggak apa-apa, Tante. Saya mengerti." Diam-diam Nimas melirik Tiara yang sedang mencuri-curi pandang ke arah suaminya. Perempuan itu menjadi kesal ketika Shaka mengumbar senyum untuk teman masa kecilnya itu.


"Maaf Helena, Nimas harus istirahat karena dia baru saja pulang dari rumah sakit, kesehatannya belum pulih benar."


"Oh dia baru pulang dari rumah sakit? Kenapa, sakit apa?"


"Dia baru saja keguguran."

__ADS_1


"Innalillahi, turut berduka cita, ya. Yang sabar, Tuhan pasti sedang mempersiapkan yang lain untuk kamu."


"Terima kasih, Tante."


Shaka dan Nimas lalu pamit undur diri dari hadapan mereka semua yang diikuti oleh Bryan, di belakang mereka.


"Itu tadi anaknya Shaka? Kenapa mirip banget sama Bryan, ya?" Bu Helena duduk kembali seraya bertanya.


"Kamu, kan tahu Bryan meninggal sesaat sebelum Shaka menikah. Jadi pikirannya waktu saat pengantin baru, ya masih pada kakaknya. Rasa terpukul, sedih, dan berdukanya dia pasti juga sama hebatnya dengan kami, karena dia mau menikah, tapi malah ditinggal selamanya. Ya meskipun mereka nggak pernah akur, tapi Shaka kalau ada apa-apa, kalau lagi sedih, atau lagi ada masalah larinya ke kakaknya. Jadi dia kehilangan dan merasa nggak ada tempat lagi untuk cerita. Pernah dengar kalau kita sedang hamil, baik kita maupun pasangan kita tidak boleh membenci sesuatu secara berlebihan, kan. Atau kalau kita menyukai sesuatu berlebihan juga anak kita akan menjadi mirip mereka. Mungkin itu yang terjadi pada anaknya Shaka."


Sengaja abu Marissa melakukan sedikit kebohongan karena yang terjadi di masa lalu adalah aib keluarga yang tidak perlu diumbar meskipun pada sahabatnya sendiri. Apalagi yang melakukan kekhilafan itu sudah meninggal.


"Iya juga, ya. Anggap saja, Bryan kembali hadir melalui anak itu. Pendiamnya sama juga kayak Bryan. Bapaknya nggak kebagian. Ibunya juga nggak kebagian."


***


"Tiara cantik ya, Mas. Kamu nggak pernah cerita kalau selama ini kamu punya sahabat perempuan." Nimas baru saja duduk di atas tempat tidur dan menyelimuti kakinya.


"Ya kenapa Mas harus cerita, Dek? orang dia juga tinggalnya di luar negeri. Mas mana tahu kalau dia akan datang ke sini. Mas juga nggak pernah nyangka kalau kita ketemu lagi."


"Emang nggak pernah saling tukar kabar?"


"Ya nggak dong, Dek. Waktu itu Tiara pindah ke luar negeri waktu dia masuk SMA dan Mas udah kuliah. Waktu itu Mas udah dekat sama Raisa, dan hubungan kita memang lost contact dan terputus sampai hari di mana Mas mengantar dia ke bandara waktu itu."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Nggak tahu, dia yang minta begitu. Waktu itu sebenarnya Mas keberatan, sih. Jadi dulu itu Mas sebenarnya pengen banget punya adik. Tapi, Mama udah nggak bisa hamil lagi beberapa tahun setelah melahirkan Mas, Mama mengalami kecelakaan sampai rahimnya harus diangkat. Nah setelah itu lahirlah Tiara, jadi Mas melampiaskan keinginan Mas itu sama dia. Mas emong dia dari bayi, Mas jagain, Mas temenin main, pokoknya hubungan Mas sama Tiara dulu itu kayak kakak adik beneran aja. Jadi jangan cemburu begitu, ya. Hati, jiwa, raga, badan, semuanya yang Mas punya ini, cuma buat istri Mas tersayang, nggak ada yang lain." Shaka mencubit gemas pipi istrinya yang kini bibirnya tengah mengerucut.


__ADS_2