
Arini lalu mendekati Rendra yang ada di samping Melisa.
Rendra merasakan sesuatu bergerak dan ternyata jari tangan Arini bergerak.
"Ma, lihat ada yang bergerak!" Rendra sangat histeris melihat jari Arini bergerak.
Dia langsung berteriak memanggil Dokter Rangga.
"Rangga, istriku....istriku bangun!" Rendra menarik tangan Rangga yang ada di ruangan itu.
Dokter Rangga langsung mendekat dan memeriksa keadaan Melisa yang bisa menggerakkan jari tangannya.
Rendra langsung mengangkat Baby A dan memberikan pada mamanya.
"Rendra, ini suatu kejadian langka. Setelah orang dinyatakan meninggal dan bisa kembali bernafas.!" ucap Dokter Rangga.
"Ngga, tolong selamatkan istriku!" pinta Rendra.
Dokter Rangga dan perawat yang mendampinginya langsung menangani pasien dengan cekatan. Rendra terus menggenggam tangan Melisa dan terus membaca ayat Alquran sebisanya.
"Allahuakbar...Subhanallah!" terlihat rasa syukur dan bahagia pada diri Rendra.
Rangga menyuruh Rendra menunggu di luar karena tim medis akan mengadakan penelitian yang sudah dilakukan.
Rendra berjalan keluar kamar inap dan sesekali menoleh ke belakang. Arini memberikan bayi pada perawat agar di bawa ke ruangan bayi yang lebih steril.
"Rendra, selamat ya semoga Melisa bisa segera pulih seperti sedia kala." ucap Arini.
"Ma, Allah kasih mukjiyatNya, Allah tunjukkan kekuatanNya!" Rendra langsung memeluk mamanya.
Suasana bahagia terlihat pada wajah mereka.
Dokter Rangga keluar ruangan dan memberi tahu keadaan Melisa.
"Om, Tante, Rendra, saya ucapkan selamat karena Melisa sudah bisa melewati masa kritisnya." Rangga memberi tahu
"Nak Rangga, terima kasih!" Rico mendekati Rangga dan mengucapkan terima kasih.
"Pasien hanya butuh istirahat dan silahkan temui dia besok pagi!" perintah Rangga.
Rangga pergi meninggalkan Rendra dan keluarganya. Dia menuju ruangannya untuk beristirahat sejenak karena masih ada pasien yang harus dia periksa.
Sementara itu, Rendra dan keluarga tetap berada di depan ruangan karena menunggu Melisa sadar sepenuhnya
Malam Semakin larut, Rendra berinisiatif ingin meliahat keadaan istrinya di dalam ruangan.
Tapi dia dikejutkan dengan Melisa yang sudah bangun dan menyandarkan kepalanya di tembok.
"Sayang...!" Rendra mendekati Melisa lalu memeluknya.
"Kamu siapa?" tanya Melisa pada Rendra.
__ADS_1
"Aku Rendra, suamimu!" Rendra memeluk istrinya.
Melisa bingung dengan Rendra yang tiba-tiba memeluknya.
"Aku siapa?" tanya Melisa dengan pandangan kosong lurus ke depan.
"Kamu Melisa istriku dan aku Rendra suami kamu!" Rendra mencoba membantu mengingat.
"Tadi aku bermimpi ada seorang bayi perempuan yang sangat cantik menangis di pangkuanku tapi aku tidak tahu itu anak siapa." ucap Melisa.
Tak terasa air mata Rendra kembali membasahi kedua pipinya. Rendra lalu berlalu keluar dengan perasaan yang sangat sedih. Dia menemui mama dan papanya yang masih diluar menunggunya.
"Ma, Malisa amnesia." Rendra memeluk mamanya.
"Sayang, kamu yang sabar ya semoga Allah segera mengembalikan ingatan istrimu!" Arini mencoba menenangkan Rendra.
Rendra bingung dia mau menghubungi Rangga tapi tidak enak karena waktu sudah tengah malam. Tapi dia sangat khawatir karena keadaan Melisa yang benar-benar melupakannya.
(Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? aku bingung karena aku tidak tahu bagaimana menyembuhkan istriku? lalu bagaimana dengan bayi kami?) batin Rendra.
Rendra mengusap kedua pipinya yang basah dan netranya memandang lurus ke depan. Dan dia seperti melihat kakek Hadinata berada di lorong Rumah Sakit sedang berjalan mendekat.
"Ma...mama...mama!" Rendra dengan gemetar memanggil Arini.
"Ada apa Ren" tanya Arini.
"Itu...kakek Hadinata." Rendra menunjuk ke arah lorong yang sedikit gelap.
Arini kaget melihat Rendra yang terus memperhatikan lorong yang kosong. Bahkan kata Rendra sangat ramai tapi nyatanya memang ada yang berjalan mendekatinya.
"Ma, tadi aku melihat Kakek Hadinata!" ucap Rendra.
"Sayang, mungkin almarhum kakekmu ingin melihat kebahagiaanmu!" Arini kembali menenangkan Rendra.
"Ma, kakek tersenyum padaku!"
"Sudahlah lupakan dan doakan saja beliau semoga tenang disana!" ucap Arini.
Rico langsung mendekatk Rendra dan dia menguatkan anaknya.
"Rendra, papa sudah bilang kamu harus kuat, kamu seorang lelaki dan masih banyak yang membutuhkan kamu!" Rico menepuk pundak Rendra.
Rendra kemudian tersenyum memandang kedua orang tuanya.
"Pa, Ma, aku berjanji tidak akan lemah lagi demi anak-anakku karena mereka sangat membutuhkanku!" Rendra langsung berdiri dan masuk ke ruangan Melisa.
"Sayang, kamu belum tidur?" tanya Rendra.
"Sayang?" Melisa terlihat sangat kaget.
"Kamu istriku dan kamu baru saja melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik.!" Rendra menjelaskan.
__ADS_1
"Apa buktinya jika aku melahirkan?"
"Bukalah dan di perutmu masih ada luka bekas operasi sesar!" jawab Rendra.
Melisa menaikkan kaosnya kemudian dia melihat ada luka bekas operasi. Namun dia mencoba mengingat semuanya tapi belum berhasil karena kepalanya langsung terasa sakit.
"Aww...aww...sakit!" Melisa memegangi kepalanya.
Rendra hanya diam dan dia meminta tolong pada perawat untuk membantu Melisa.
"Suster, tolong istri saya!"
Perawat datang dan melihat kondisi Melisa yang merasa kesakitan di bagian kepalanya. Salah satu perawat memanggil Dokter jaga yang menggantikan Dokter Rangga.
Dokter Kanaya langsung berlari memeriksa keadaan Melisa. Dia diberi obat penenang untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya.
Setelah mendapat suntikan, Melisa bisa tertidur pulas. Dan Rendra menemui Dokter Kanaya untuk meminta penjelasannya.
"Dokter, kenapa istri saya gak ingat apa-apa?" tanya Rendra.
"Pak Rendra, menurut keterangan yang saya baca istri anda memang mengalami gagar otak akibat benturan yang sangat keras!" Dokter Kanaya memberi keterangan pada Rendra dan keluarganya.
Rendra keluar dari ruangan Dokter Kanaya dan dia berjalan di lorong tanpa tujuan.
Saat di lorong dia melihat wanita yang sangat dia kenal sedang berjalan dan mendorong kursi roda seorang wanita yang sudah berumur. Rendra hanya membututi mencari tahu jika dia tidak salah menebak orang.
Pandangan Rendra justru terfokus pada seorang lelaki yang menyusul wanita itu.
"Benarkan dia Aisyah dan suami barunya!" Rendra berbicara sendiri.
Rendra terus mengikuti wanita yang mendorong kursi roda menuju ke sebuah ruangan Dokter spesial penyakit dalam.
Saat wanita itu sudah sampai di ruang Dokter yang dituju, Rendra mengintip dari luar jendela.
Betapa terkejutnya Rendra ketika dia mengetahui Aisyah bersama Roy.
(Berarti benar mereka memang ada main di belakangku. Nyatanya mereka bisa bersama.) batin Rendra
Renda masuk ke ruangan itu, Roy sangat kaget dengan kehadiran Rendra.
"Kamu...!"
Roy langsung menhampiri Rendra dan memukulnya. Roy tidak suka privasinya di ganggu oleh seseorang.
"Mas Rendra...!"
Semua Netra di ruangan itu memandang ke arah Rendra yang berdiri mematung di dekat pintu kamar.
"Oh jadi benar kamu memamg ada main sama Roy?" tanya Rendra sedikit penting.
"Ngapain kamu urus orang lain pikir saja dirimu sendiri." sindir Aisyah.
__ADS_1
"Aku mengira kamu wanita baik dan tulus tapi nyataya kamu sama saja wanita murahan yang menjajakkan tubuhnya pada semua lelaki." ucap Rendra.
Plak...plak....!