
Arini langsung memeluk putranya yang tak sadarkan diri.
"Rendra, kamu yang sabar sayang!" Arini meneteskan air matanya.
"Apa perlu aku panggilkan, Dokter?" tanya Budi.
"Tidak usah Bud, Rendra sepertinya hanya syok!" ucap Arini sambil mengelus kepala putranya.
Dokter harus mengambil tindakan menyelamatkan bayi dalam kandungan Melisa.
Melisa mengalami koma semenyara karena kepalanya mengalami pendarahan akibat benturan keras saat jatuh.
"Dokter, bagaimana? apakah kita lakukan sekarang?" tanya seorang perawat pada Dokter Rangga.
Dokter Rangga hanya mengangguk lalu beberapa perawat mempersiapkan operasi secar untuk mengambil bayi dalam perut Melisa.
Melisa di bawa oleh perawat ke ruang operasi. Arini dan Rendra hanya mampu berdoa agar bayi dalam kandungan Melisa bisa segera diselamatkan.
Rumah Sakit terasa sangat sepi mencekam karena waktu sudah menunjukkan jam 01.00 WIB. Hanya sedikit yang masih lalu lalang, mungkin hanya mereka yang sedang menunggu sanak keluarganya yang di rawat di Rumah Sakit.
Rendra tersadar dan dia semakin gelisah karena operasi sesar istrinya belum selesai.
"Ma, kok lama banget ya!" Rendra bertanya pada Mamanya.
"Sabar sayang, insyaallah mereka baik-baik saja." jawab Arini.
Padahal Arini sendiri merasakan kekhawatiran yang sama, hanya saja dia mencoba menutupi semuanya dari Rendra.
Rico datang mendekati mereka dan dia memberikan semangat pada putranya.
"Rendra, kamu laki-laki harus kuat dan tegar. Bukan sekali dua kali kamu mempunyai anak tapi ini sudah anakmu yang ke empat harusnya kamu tidak selemah ini!" ucap Rico.
"Rendra baru kali ini mengetahui betapa berat seorang ibu memperjuangkan anaknya." dengan meneteskan air mata dia mengingat semua kejadian yang telah lalu.
"Ma, berarti aku jahat banget ya saat memperlakukan Aisyah." Rendra mengingat Aisyah.
"Sayang, yang berlalu biarlah berlalu dan sekarang tatap masa depanmu! mungkin Aisyah bukan jodohmu!" Arini menasehati Rendra.
Sementara di ruang operasi, Dokter berpacu dengan waktu. Dia harus bisa menyelamatkan nyawa bayi dan ibunya.
"Suster, kita tinggal punya waktu sedikit lagi karena keadaan ibu semakin kritis!" ucap Dokter Rangga.
__ADS_1
"Baik Dokter!" Perawat yang membantu Rangga dengan cekatan membantu mengangkat bayi Melisa.
"Oek...oek...!" bayi perempuan itu kini telah berhasil diselamatkan.
Perawat masih terus melakukan kuret untuk pembersihan di dalam perut Melisa. Namun saat semua sudah selesai dan luka kembali dijahit pasien mengalamj kejang dan betapa terkejutnya ketika alat didekatnya sudah tak berfungsi.
"Dokter bagaimana ini?" tanya salah satu perawat disamping Dokter Rangga.
Dokter Rangga hanya menggeleng menyaksikan pemandangan didepannya.
"Sepertinya, Allah berkehendak lain! Kita harus memberi tahu Rendra dan tante Arini." Dokter Rangga langsung keluar ruang operasi.
Lampu diatas pintu menyala hijau dan itu artinya operasi sudah selesai dilakukan. Dokter Rangga membuka pintu dan memanggil Rangga untuk mendekat.
"Rangga, bagaimana keadaan istri dan anakku?" tanya Rendra
Dokter Rangga mengatakan, " Alhamdulillah anakmu lahir dengan sehat dan selamat tapi_!"
"Ngga, jangan main-main sama saya, tapi apa katakan!" Dengan perasaan sedikit panik Rendra menggoyangkan tuhuh Dokter Rangga untuk meminta penjelasan.
Dokter Rangga hanya menggeleng dan dia mengucapkan maaf pada sahabatnya.
"Tidaaaak....!" Rendra langsung berlari kedalam dan mendapati tubuh Melisa sudah terbujur kaku.
Rendra menangis memeluk istrinya yang kini berhenti bernafas.
"Melisa, jangan tinggalkan aku dan anak-anak!" Rendra memeluk istrinya sambil menangis.
Arini yang memandang putranya begitu tidak tega karena dia begitu terpuruk mendapati istrinya yang sudah tidak bernafas lagi.
Tiga perawat mendekat untuk mencopot alat medis yang masih menempel di tubuh Melisa tapi Rendra melarang karena dia punya keyakinan jika Melisa masih hidup.
"Maaf Tuan Rendra, kami harus mencopot alat-alat dari tubuh Nona Melisa!" perawat itu meminta ijin pada Rendra.
"Tidak suster, biarkan alat ini menempel terlebih dahulu karena aku yakin istriku akan bangun!" Rendra memeluk Melisa.
Arini dan Rico mendekati Rendra untuk memberi kekuatan.
"Sayang, ikhlaskan Melisa karena dia akan lebih bahagia jika kamu tidak menangis!"
"Ma, Melisa masih hidup!" Rendra menatap Arini dan Rico bergantian.
__ADS_1
Rico hanya menggelengkan kepalanya melihat anak lelakinya begitu terpukul saat kehilangan istri yang sangat dia cintai.
"Melisa, aku sangat mencintaimu! Kenapa kamu tega padaku? Kenapa kamu tega meninggalkanku? bahkan kamu tega meninggalkan dua anak kita. Mereka sangat membutuhkanmu. Mereka akan bertanya dimana mamaku? hiks...hiks...!" ucap Rendra.
Rendra langung bangkit dan menuju ke kamar mandi. Dia mengambil wudlu kemudian menjalankan sholat Ashar di dekat ranjang Melisa. Kemudian dia mengaji dan mendoakan Melisa agar cepat bangun.
Rendra masih yakin jika istrinya akan bangun kembali meskipun semua orang hanya menggelengkan kepala tidak mungkin orang mati akan hidup kembali.
(Ya Allah, berikan kesempatan untukku membahagiakan istri dan anakku. Bangunkan istriku sehingga dia bisa menemaniku sampai tua. Ampunilah segala dosa-dosaku dan aku berjanji tidak akan menyakitinya.) doa Rendra dalam batinnya.
Arini mendati Rendra dan berkata," Rendra, kamu yang sabar! ikhlaskan Melisa agar dia tenang dalam perjalanan pulang ke RobbNya."
"Ma, Melisa masih hidup! dia tidak akan meninggalkan Rendra dan anak-anak!" ucap Rendra dengan tetesan air mata yang membasahi kedua pipinya.
Rico mendekat dan memeluk putranya yang belum terima jika Melisa telah tiada.
"Rendra, papa yakin kamu lelaki kuat dan tangguh! ikhlaskan istrimu! jangan halangi jalannya karena dia akan sedih jika kamu terus seperti ini!" Rico menguatkan Rendra.
Rendra benar-benar rapuh dan dia tidak menyangka jika Allah akan mengambil Melisa seperti ini.
"Aku ingin ketemu anakku, aku ingin dia berada didekat mamanya!' Rendra menatap sayu ke arah Arini.
Rico langsung berlari ke ruangan Dokter Rangga dan dia meminta ijin untuk membawa Baby A ke hadapan Rendra.
"Dokter Rangga, tolong bawa Baby A ke hadapan putraku siapa tahu dia akan semakin kuat menghadapi kenyataan tentang istrinya."
Dokter Rangga hanya mengangguk kemudian menyuruh perawat untuk membawa Baby A ke hadapan Rendra.
"Tuan Rendra, ini Baby A semoga bisa menjadi obat rasa sedih anda!" perawat memberikan Baby A pada Renda.
Rendra langsung berdiri dan membawa Baby A ke hadapan Melisa yang masih terbujur kaku di ranjang Rumah Sakit.
Rendra meletakkan Baby A di samping Melisa. Rendra berkata, "Melisa, bukankah kamu menginginkan bayi perempuan yang cantik? tidakkah kamu ingin melihatnya dulu!"
Namun tidak ada reaksi apapun dari Melisa. Semua orang yang melihat Rendra hanya bisa meneteskan air matanya.
Baby A menangis dengan sangat keras membuat semua orang panik dan ingin mengambilnya namun Rendra tidak mengijinkan karena dia beranggapan Melisa akan bangun mendengar tangisan bayi mungilnya.
"Rendra, anakmu menangis!" Arini berteriak pada Rendra agar dia sadar jika perbuatannya salah.
Namun semua mata memandang ke arah Rendra. Mereka semua menangis histeris.
__ADS_1