Putra Konglomerat

Putra Konglomerat
Menolak Rujuk


__ADS_3

"Mas Rendra, maafkan Ais!" ucap Aisyah.


"Kenapa minta maaf?" tanya Rendra.


"Aisyah akan berusaha mandiri semampu Aisyah tanpa bayang-bayang masa lalu dan untuk kita jika kelak kita berjodoh Allah pasti akan menyatukan kita." ucap Aisyah dengan senyum mengembang di pipinya.


Jawaban Aisyah sontak membuat Rendra dan Arini bengong. Mereka benar-benar tidak menyangka jika Aisyah akan menolak semua yang mereka tawarkan.


"Aisyah, tapi Billy anakku dan aku berhak menafkahinya." Rendra mencoba membujuk Aisyah.


"Mas, aku tahu dan itu memang kewajibanmu tapi untuk saat ini Billy belum banyak membutuhkan uang jadi aku masih sanggup menghidupinya dengan uang tabunganku." jawab Aisyah.


Rendra terdiam kemudian dia berjongkok dihadapan Aisyah dan memohon agar Aisyah tidak pergi menjauhinya. Rendra bisa menerima jika Aisyah menolak rujuk dengannya tapi dia hanya minta jangan pergi jauh dari kehidupannya.


Melihat seorang Rendra berlutut di hadapan Aisyah, Arini tidak tidak terima. Dia lalu menghampiri Rendra dan menarik tangannya.


"Rendra, buat apa kamu mengemis cinta padanya jika akhirnya hanya akan ditolak?" Arini menatap tajam ke arah Aisyah.


"Ma, tapi semua ini salah Rendra." Rendra membentak Arini.


"Oke tapi Mama minta jangan jatuhkan harga dirimu dihadapannya!" Arini menuding tepat diwajah Aisyah.


Melihat kelakuan Arini, Aisyah semakin yakin jika dia tidak ingin kembali pada Rendra. Dia tidak mau terlibat lagi dengan urusan orang kaya seperti mereka.


Aisyah mengambil koper dan pergi meninggalkan mereka drngan membawa Billy.


"Mas Rendra, Mama, Papa... Aisyah pamit!"


Aisyah pergi dengan berjalan menyusuri jalan itu. Rendra hendak mengejar Aisyah tapi tangannya dicekal ibunya.


"Rendra... biarkan dia pergi!" Arini menarik tangan Rendra.


"Ma, kasihan Billy!" ucap Rendra.


"Sayang, kamu harus ingat masih ada Melisa yang akan menemanimu." Arini menenangkan Rendra.


Setelah punggung Aisyah tak terlihat lagi, ketiganya beranjak masuk untuk menenangkan diri. Mereka rencananya akan menginap di Villa dan akan kembali besok pagi.


Pelayan di villa itu telah menyiapkan makan malam untuk mereka.


Semantara itu, Aisyah akan naik bus kota menuju Bandara dan dia akan pergi jauh dari kehidupan keluarga Hadinata. Dia akan memulai hidup baru dinegri sebrang. Meski hatinya masih sangat mencintai Rendra tapi dia harus bisa melupakannya kalau dia ingin bahagia.


Aisyah beranggapan uang bukan segalanya meskipun dia sadar jika segalanya butuh uang tapi dia tetap yakin pertolongan Allah itu nyata.


"Neng, mau kemana bawa koper besar malam-malam?" tanya seorang penumpang disampingnya.


"Mau ke Bandara Pak." jawab Aisyah singkat.


Penumpang di samping Aisyah tersenyum padanya dan dia semakin berani mendekati Aisyah karena kebetulan angkot dalam keadaan kosong.

__ADS_1


"Neng, ngapain ke Luar Negri?" goda lelaki itu.


Aisyah sadar jika lelaki di sampingnya itu punya niat tidak baik padanya. Dia langsung meminta kepada sopir bus untuk turun di sebuah mini market kecil yang terlihat masih sangat ramai.


"Pak, saya turun di supermarket depan ya!" pinta Aisyah pada sopir angkot itu.


"Loh katanya mau ke Bandara?" tanya sopir angkot itu.


"Saya mau mampir ke saudara saya dulu!" jawab Aisyah bohong.


Namun bukannya berhenti tapi sopir angkot itu malah semakin mempercepat lajunya.


Aisyah yang paham ternyata sopir angkot itu bekerja sama dengan penumpang di samping Aisyah hanya diam dan gemetar. Tapi dia tidak boleh takut dan harus berusaha menyelamatkan diri.


"Pak, kok gak berhenti?" tanya Aisyah.


"Neng, kita akan mengantar ke Bandara tapi sebelumnya kita akan berhenti dan bersenang-senang." lelaki di samping Aisyah mendekatkan tubuhnya di dekat Aisyah.


"Oh kalian berdua mau mengajakku bersenang-senang? Lalu bagaimana dengan anakku?" tanya Aisyah.


"Baiknya gimana Bang, soalnya ini anak bakal ganggu kita!" ucap Lelaki di samping Aisyah.


Kedua lelaki itu bingung memikirkan anaknya Aisyah soalnya mereka berfikir jika anak itu akan mengganggu kesenangannya.


"Ayolah Pak, aku juga kebelet ini sudah hampir setahun gak disentuh!" ucap Aisyah pura-pura menggoda kedua lelaki itu.


"Sabar ya Neng, kita akan memikirkan caranya dulu!" ucap kedua lelaki itu.


Sebenarnya Aisyah sangat panik dan dia tidak tahu harus bagaimana jika rencananya gagal.


"Bang, kita berhenti di hotel aja atau kalau perlu di rumah Abang!" pinta Aisyah.


"Hotel? kita gak banyak uang Neng tapi kalau di rumah Abang entar istri kami mengamuk." jawab sopir angkot itu.


(Dasar lelaki tak mau modal mintanya enak tapi kantong gak ada duit!) umpat Aisyah dalam batinnya.


"Tapi main di tempat umum gak enak Bang!" Aisyah terus berusaha mengambil hati kedua lelaki itu.


Kedua lelaki itu terus berfikir jalan keluarnya. Dan dia berusaha mencari pinjaman uang kepada teman sesama sopir angkot untuk boking hotel semalam dan mereka akan ikut merasakan kesenangan bersama-sama. Terlihat gelak tawa dari lelaki itu karena mereka membayangkan wajah ayu wanita yang menumpangnya itu sedang melayani banyak lelaki.


"Bang Kirun, bagaimana dia mau bantuin kita gak?" tanya lelaki itu dengan semangatnya.


"Dia mau asal dia juga dapat jatah." jawab sopir angkot itu.


(Gila mereka, kalau aku gak bisa lolos bakal digilir! tenang Ais, kamu pasti bisa menyelamatkan diri.) batin Aisyah.


"Bagaimana Bang?" tanya Aisyah.


"Aduh Neng, sudah gak sabar ya?" lelaki itu tersenyum pada Aisyah.

__ADS_1


Aisyah mengangguk dan tersenyum pada kedua lelaki itu. Mereka berdua berdiskusi di depan dan akan menuju pangkalan angkot di sebuah pinggiran kota.


"Neng, kita ke hotel Anugerah! Ini mau menjemput temanku dulu!" ucap lelaki itu.


Kedua lelaki itu pamit hendak turun karena mau menjemput Kirun.


Mereka meninggalkan Aisyah dalam angkot tapi mereka mengunci pintu dari luar sehingga Aisyah tidak bisa melarikan diri.


(Ya Allah, aku harus menghubungi mas Rendra, aku harus minta tolong padanya sebelum mereka menggilirku dan melecehkanku!) batin Aisyah.


Aisyah mengambil benda pipih dalam tas kecilnya dan dia mengirim pesan ke Rendra untuk datang ke Hotel Anugerah.


[Mas, datanglah ke Hotel Anugerah! aku butuh pertolonganmu dan bawa anak buahmu! ] Aisyah mengetik pesan itu untuk Rendra.


Namun centang satu dan Aisyah semakin panik karena tidak ada balasan dari Rendra.


Dia pasrah dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dia hanya ingin tidak gegabah sehingga membahayakan Billy.


Terlihat tiga lelaki sudah menghampiri angkot itu lagi, Aisyah memasukkan handphone di tas kecilnya kembali.


Ketiga lelaki itu bersemangat sekali dan mereka akan ke hotel Anugerah.


"Neng, kamu siap melayani kami?" tanya Kirun yang baru saja masuk.


"Jangankan kalian bertiga lima sekaligus aku siap!" jawab Aisyah sedikit ragu.


Mereka tersenyum bahagia. Dan saat Kirun hendak menyentuh lengan Aisyah tapi dia justru menolaknya.


"Loh kenapa malu Neng?" tanya Kirun.


"Bukannya malu tapi aku gak mau mulai disini, nanti anakku lihat!" jawab Aisyah.


Mereka bertiga tersenyum dan tertawa bersama seakan mereka yakin akan bisa bersenang-senang dengan Aisyah.


(Mas Rendra selamatin aku! Aku tidak mau melayani mereka! Aku janji jika Mas Rendra berhasil menyelamatkan aku, aku tidak akan meninggalkanmu dan akan bersedia rujuk denganmu!) janji Aisyah dalam batinnya.


Hati Aisyah kembali bergetar dan dia takut karena Hotel Anugerah sudah ada didepan matanya. Dan dia semakin bingung karena jika dia melawan maka Billy akan celaka.


Angkot berhenti tepat di depan hotel dan satu sopir memarkir dan Kirun menjaga Aisyah.


(Mas Rendra...) Aisyah berteriak dalam batinnya.


"Neng, kok kamu gemetar?" tanya Kirun.


"Aku ngebayangin aja, gimana rasanya bermain dengan tiga lelaki sekaligus." Aisyah berusaha menutupi ketakutannya.


Saat memasuki pintu hotel mereka diminta menyerahkan KTP dan ketiga lelaki itu dengan senang hati menunjukkan KTP nya.


"Kamu!" Satpam itu meminta KTP pada Aisyah namun dia hanya menyebutkan namanya.

__ADS_1


Dan betapa terkejutnya Aisyah ketika kedua satpam itu justru menariknya.


__ADS_2