
Herdi terlihat sangat bingung karena dia sudah meniduri anak kandungnya sendiri.
"Rosa, katakan itu semua bohong!" Herdi terlihat sangat panik.
"Tidak mungkin dia ayahku, aku tidak percaya dengan omong kosong ini mama!" terlihat raut kecewa di wajah Ayasha.
"Ayasha, itu kenyataan yang harus kamu terima." dengan nada ketus Rosa menasehati putrinya.
"Mama ternyata wanita murahan!" Ayasha memandang mamanya penuh kebencian.
Plak...plak...Rosa menampar anaknya tanpa rasa belas kasihan.
"Ingat Ayasha seburuknya mama tetap harua kamu hormati karena aku yang melahirkan kamu dan aku yang membesarkan kamu." Meneteslah air mata Rosa.
Melisa mencoba menenangkan mamanya dan dia mengajak mamanya istirahat.
"Ma, sebaiknya kita istirahat di kamar!" ajak Melisa
Ayasha dan Herdi hanya saling pandang. Mereka bingung harus melakukan apa karena mereka sudah terlanjur membuat kesalahan.
(Aku tidak peduli Herdi ayah kandungku yang jelas dia bisa memberiku kehangatan, meakipun nanti kami terbukti ada ikatan darah aku masih akan tetap membutuhkan kehangatan darinya.)batin Ayasha
"Mas, kita jadi kembali ke Apartemen?"Ayasha menggandeng Herdi mesra.
"Ayasha jika memang benar kamu anak kandungku berarti hubungan kita salah!" Herdi terlihat sangat bingung.
"Mas, aku tak peduli kamu ayah kandungku atau bukan yang pasti aku ingin mendapatkan cintamu!"
"Benarkah?"
Ayasha hanya mengangguk dan dia minta dipeluk sama Herdi.
"Sayang, untuk memastikan kita lakukan tes DNA!"
"Ngapain tes DNA yang jelas aku sudah merasa nyaman dalam pelukanmu!" Ayasha bergelayut manja pada Herdi.
Herdi dan Ayasha meninggalkan rumah Rosa menunu apartemennya. Sementara itu Roy gemetar melihat istrinya telah keluar dari penjara.
"Melisa!"
"Kenapa kaget aku pulang?"
"Melisa maafkan aku belum sempat membebaskanmu!"
"Omong kosong apa, mulai sekarang silahkan keluar dari rumahku!" Melisa mengusir Roy dari rumahnya.
"Melisa beri aku kesempatan!"
"Kesempatan untuk seorang pengkhianat itu tak pantas."Melisa membuang mukanya.
"Kamu bisa gunakan uang pemberianku untuk menyambung hidupmu!"
"Melisa kita bisa mulai dari awal!" Roy terus memohon ampunan Melisa.
"Keputusanku sudah bulat, kita akan berpisah!" Melisa pergi meninggalkan Roy dan naik ke kamarnya.
"Ma, besok aku akan minta maaf sama mas Rendra sekalian menjenguk Albert." Melisa memandang mamanya seolah mohon persetujuan.
"Apa kamu yakin akan mendatangi keluarga Hadinata?"
__ADS_1
Melisa hanya mengangguk dan dia sudah memendam rindu anaknya. Anak yang saat ini dia punya.
"Setelah menemui mereka aku tidak akan pernah mengganggu kebahagian Mas Rendra dan Aisyah karena mereka berhak bahagia."
"Sayang, kamu yang sabar ya!"
Melisa mengangguk dan dia hanya meneteskan air matanya.
Melisa dan mamanya istirahat karena mereka merasa lelah dan mereka mencoba melupakan semua masalah yang menimpanya.
Pagi harinya, Melisa sudah bersiap akan mendatangi kediaman Rendra untuk minta maaf dan menjenguk anaknya Albert.
"Assalamualaikum!" Melisa mengucapkan salam sebelum masuk ke rumah Rendra.
"Waalaikum sa....!" Rendra hendak membuka pintu namun dia kembali menutupnya.
"Mas Rendra, tolong buka pintunya aku hanya ingin ketemu Albert!"
Aisyah yang baru datang dengan Arini langsung mendekati Melisa.
"Mbak Melisa!"
"Aisyah, saya kesini dengan niat baik tapi mas Rendra tidak mengizinkan saya masuk!" Melisa meneteskan air matanya.
"Mbak Melisa mau bertemu Albert?"
"Benar aku cuma mau ketemu anakku dan aku kesini juga mau minta maaf sama kamu dan mas Rendra atas semua yang terjadi!"
Aisyah mendekati Melisa lalu memeluknya. Rendra yang melihat pemandangan itu dari tirai gorden merasa haru. Dua wanita yang singgah di hatinya sudah berdamai.
"Ayo Mbak masuk dulu!" Aisyah menggandeng Melisa masuk ke dalam rumah!"
Arini memanggil Albert di kamarnya dan membawanya menemui Melisa.
"Mama...mama...!" Albert berlari bahagia menyambut mamanya. Dia sangat bahagia bisa bertemu Melisa.
"Sayangnya mama!" Melisa menciumi anaknya yang sekarang tumbuh menggemaskan.
"Mama kenapa pelgi telus!" Dengan suara kidalnya bertanya pada mamamya.
"Mama kan harus kerja!" Melisa berbohong pada putranya.
"Mas Rendra, Aisyah dan Nyonya Arini saya ucapkan terima kasih karena kalian sudah mau merawat anakku."
"Melisa!"
"Iya Mas !" Melisa menatap mantan suaminya dengan hati yang kacau.
Saat ini dia sudah benar-benar kehilangan suami yang sangat baik hati. Dulu semua karena harta dan kini hanya penyesalan yang dia rasakan.
"Melisa, aku mengijinkanmu menjenguk Albert kapan kamu mau!"
" Terima kasih buat kebaikanmu dan aku hanya bisa berdoa semoga rumah tangga Mas Rendra dan Aisyah sakinah, mawadah, warohmah!" Melisa mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.
"Sama- sama Mbak Melisa semoga Mbak bisa mendapatkan pengganti Mas Rendra yang jauh lebih baik!"
Aisyah memeluk Melisa dan mereka saling tersenyum.
"Mama dan bunda nangis oma!"Albert menertawakan kedua wanita yang sedang terharu.
__ADS_1
"Sepertinya saya sudah harus pulang karena masih ada yang harus aku urus!"
"Mbak sering main ke sini ya dan sebentar lagi Albert akan punya adek!" Aisyah mengelus perutnya yang masih rata.
"Sayang, kamu hamil?" Rendra tersenyum bahagia kemudian memeluk istrinya.
"Alhamdulillah selamat Aisyah semoga kamu dan calon anakmu sehat selalu sampai lahiran!"
"Amin makasih doanya mbak Melisa!" Aisyah kembali memeluk wanita yang pernah masuk ke dalam kehidupan suaminya.
Akhirnya setelah rasa haru menyelimuti mereka, Melisa undur diri dan pamit pulang.
"Mama...mau belangkat kelja?" Albert mengejar Melisa hingga hampir terjatuh.
"Sayang, kamu jangan lari nanti jatuh dan sakit!" Melisa memeluk putranya.
"Albet kangen sama mama!" Albert menciumi Melisa.
Dari kejauhan terlihat sebuah mobil yang sudah siap untuk menabrak Melisa. Saat Melisa hendak masuk ke mobilnya yang di parkir dipinggir jalan mobil itu langsung beraksi.
Rendra mengantar Albert untuk melihat kepergian mamanya langsung menurunkan Albert saat tahubada mobil yang mau menabrak mantan istrinya
"Melisa awas....!" Albert menarik tangan Melisa hingga mereka Melisa terjatuh di atas dada Rendra.
mata keduanya saling bertemu dan Rendra tersenyum melihat Melisa yang masih cantik seperti saat dia nikahi.
"Mas, terimakasih!" Melisa membuang muka lalu berlalu pergi.
"Melisa, seandainya kamu dari dulu seperti ini aku tidak mungkin meninggalkanmu!"
"Mas, terimakasih untuk cintamu selama ini dan sekarang lupakan aku karena Aisyah sangat mencintaimu!" Melisa masuk ke dalam mobilnya.
Rendra hanya memandang Melisa pergi. Dia seperti merindukan saat bersa Melisa. Namun dia harus membuangnya jauh karena Aisyah adalah masa depannya.
Rendra kemudian masuk ke dalam rumah dan dia melihat tatapan Aisyah yang berbeda.
Rendra jadi salah tingkah di hadapan Aisyah.
"Mas, kamu kenapa?"
"Aku gak papa hanya saja aku masih sedikit syok tadi ada mobil yang hendak mencelakai Melisa."
"Maksudnya mau menabrak Melisa?"
"Benar!"
" Albert kemana?"
" Sudah dibawa mama Arini masuk ke kamarnya."
"Sayang, maafkan aku ya karena aku harus menyelidiki siapa yang akan menabrak Melisa?"
"Mas, kamu masih peduli dengan Mbak Melisa?"
Rendra hanya diam tak mampu menjawab.
**Terima kasih sudah mampir semoga suka dengan ceritanya.
Jangan lupa like dan komentarnya ya**!
__ADS_1