
Operasi ibuku berjalan dengan lancar. Hari ini Ibu akan dipindahkan ke ruang rawat inap karena kondisinya sudah stabil. Keadaan Ibu hanya tinggal pemulihan pasca operasi.
"Pek Rendra, diminta Dokter ke ruangannya!" Seorang perawat menghampiriku yang sedang duduk menemani ibu.
"Baik sus!" Aku beranjak lalu berjalan menuju ruangan Dokter.
Setelah di ruang Dokter, aku duduk dengan muka kusut setelah dua hari aku tidak sempat mandi dan perutku tidak terisi makanan hanya air putih sebagai penghilang laparku. Aku juga lupa mengabari Melisa kalau aku sedang menunggu ibu di Rumah Sakit.
"Pak Rendra, keadaan ibu anda sudah semakin membaik dan kemungkinan dua hari lagi diperbolehkan pulang untuk rawat jalan." Dokter itu memberitahuku keadaan ibu.
Ada sedikit kelegaan sedikit dihatiku.
"Terimakasih Dokter." Aku menyalami Dokter yang menangani ibu.
"Maaf Pak Rendra, segera lunasi biaya administrasi agar semuanya lancar."
"Baik Dok akan segera saya usahakan." Akupun memyanggupi meskipun aku bingung akan mendapatkan uang dari mana karena nominal empat puluh juta bagiku sangat banyak.
"Pak Rendra, silahkan tanyakan ke bagian administrasi karena sepertinya ada biaya tambahan yang kemaren belum disebutkan dalam rincian awal."
"Baik Dok! Saya permisi." Aku hanya mengangguk dan menyanggupi apapun yang Dokter itu katakan.
Setelah dari ruangan Dokter aku menuju bagian adminiatrasi dan aku menanyakan rincian biaya yang masih harus aku bayarkan.
"Maaf mbak , saya mau menanyakan total biaya atas nama Ibu Siti ?"
"Sebentar Pak!" perawat itu mengecek di layar komputer.
Hatiku bergemuruh entah apa yang aku rasakan karena aku hanya memegang uang gajiku yang kemaren aku terima.
"Maaf ini rinciannya!" perawat itu memberiku kertas yang ternyata nominalnya bertambah karena ada obat yang harganya mahal.
"Terimakaaih mbak secepatnya akan saya lunasi!" Akupun pergi dari ruang adminiatrasi. Aku duduk di kursi ruang tunggu.
"Ya Allah aku dapat darimana uang Lima puluh juta rupiah." Aku berbicara sendiri.
Kemudian aku titipkan ibu pada salah satu perawat aku akan mencari pinjaman uang untuk membayar kekurangannya.
"Apa aku bilang sama papa mertuaku agar dia mau meminjamiku."
Namun hati kecilku tidak ingin merepotkan keluarga istriku. Namun dengan berat hati aku langkahkan kakiku ke rumah mertuaku tapi papa Darmawan ternyata sedang ke luar kota.
Di rumah hanya ada mama mertuaku dan Melisa. Saat aku utarakan niatku untuk meminjam uang mamaku justru menghinaku.
Sedangkan istriku hanya tersenyum masam sepertinya tiga hari aku tidak bersamanya dia berubah ikut membenciku. Padahal awalnya aku berharap istriku akan menenangkanku dan membuatku semangat namun bayanganku jauh dari kenyataan yang aku hadapi.
"Uang, kamu tidak salah mengemis uang padaku!" Mama Rosa berkata kasar padaku.
"Ma, aku pinjam dan akan aku kembalikan!" aku memohon dengan bersujud di kakinya.
"Mas, sekarang jelaskan kamu mau menikah denganku karena hartaku."istriku ikut menghinaku.
"Melisa, aku hanya butuh pinjaman dan tidak meminta."
__ADS_1
Mereka berdua justru menutup pintu dan membantingnya.
(Ya Allah kuatkan hatiku, cobaan apalagi istriku yang mulai aku kagumi sudah berubah kembali membenciku.)batinku
Kemudian aku langkahkan kaki meninggalkan rumah mertuaku dan aku mendatangi teman kerjaku dan teman yang kukenal. Ternyata hasilnya pun sama mereka tidak ada yang bisa membantuku. Dengan langkah gontai aku berjalan dibawah terik matahari. Ku menyusuri jalanan yang begitu ramai.
(Ya Allah berikan pertolonganMu) Ku tengadahkan wajahku dibawah terik matahari berharap Allah akan menolongku.
Suara klakson membuyarkan lamunanku dan tiba-tiba ada mobil mewah yang menabrakku.
Aku pun terjatuh namun mobil itu tidak melukaiku.
Pemilik mobil itu turun dan ternyata beliau adalah Ibu Arini.
"Nak Rendra." Beliau menatapku dengan tatapan penuh tanya.
"Ibu Arini, maaf!"
Akhirnya aku dan ibu Arini mencari tempat yang teduh kemudian kami ngobrol aku ceritakan semua masalahku kepadanya karena aku memang sudah tidak tahu lagi harus minta tolong pada siapa.
Dengan senang hati beliau akan membantu biaya berobat ibu.
"Nak Rendra tidak usah khawatir karena aku akan membantu melunasi biaya Rumah Sakit ibumu." Dengan senyum ramahnya beliau mau membantuku.
"Terima kasih bu, semoga Allah mudahkan rejeki ibu dan membalas kebaikan ibu." Aku cium tangan beliau.
Aku langsung bersujud mengucapkan syukur kepada Allah atas pertolonganNya.
(Ya Allah terimaksih aku ucapkan, Engkau telah mengirimkan ibu Arini sebagai malaikat penolongku.) Aku bersujud dan mengucap syukur.
Sesampai di Rumah Sakit beliau langsung menuju ke bagian administrasi bersama Pak Romi.
Semua kekurangan biaya telah beliau bayar lunas.
Kemudian beliau memberikan kertas kuitansi kepadaku.
"Nak Rendra, ini kuitansinya kamu simpan!" Aku menerima kuitansi itu dengan tangan gemetar.
"Ibu sekali lagi aku ucapkan terimakasih." Aku kembali mencium tangan beliau.
"Nak Rendra, bolehkah ibu menjenguk ibumu?" Beliau menatapku tersenyum.
Ada teduh dan tenang yang kurasakan setiap kali aku berdekatan dengan beliau.
"Boleh, mari saya antar!" Kubungkukan badanku lalu aku mengantar Ibu Arini ke ruang rawat ibu.
Ketika kami melewati lorong Rumah Sakit ada seseorang yang memanggilku.
Aisyah kulihat dia berlari menghampiriku.
"Mas Rendra..." Aisyah kemudian menatap ibu Arini.
"Ais, ini ibu Arini beliau yang menolongku melunasi biaya operasi ibu." Akupun menjelaskan padanya aku takut Ais salah paham karena dilihat dari penampilannya Ibu Arini masih terlihat muda meskipun usianya sudah 40 tahunan.
__ADS_1
Aisyah berkenalan dengan ibu Arini.
Akhirnya kami berjalan bersama menuju ruang rawat ibu.
Tiba di ruangan rawat, Dokter Gibran keluar selesai memeriksa kondisi ibu.
"Dokter Gibran!" Ibu Arini memanggil Dokter yang menangani ibuku.
"Arini." Dokter Gibran kembali menyapa beliau.
Ternyata Dokter Gibran adalah teman kuliah dari Ibu Arini.
Mereka ngobrol panjang lebar dan akhirnya Dokter Gibran pamit untuk memeriksa pasien lagi.
"Nak Rendra besok ibu anda sudah boleh pulang karena kondisinya sudah membaik." Dokter Gibran menepuk pundakku.
"Terimakasih Dokter!"
Aisyah mengantar ibu Arini masuk ke ruang ibu terlebih dahulu kemudian aku menyusul.
Aku heran ibu Arini kaget melihat ibuku.
"Mbok Siti!" matanya membulat sempurna.
"Nona Arini! Ibuku juga begitu mengenal ibu Arini bahkan sepertinya beliau sangat akrab.
Aku dan Aisyah hanya melongo melihat keakraban Ibu Arini dan ibuku.
"Ibu...!" Aku mendekati ibuku yang sedang berbincang dengan Ibu Arini.
"Rendra, sini nak!" Ibu memintaku mendekat dan akupun menghampiri beliau.
"Ada hubungan apa ibu dengan Ibu Arini?" Aku bertanya pada ibuku.
"Dulu Ibu pernah bekerja pada keluarga Hadinata 27 tahun yang lalu." Ibu menjelaskannya padaku.
"Mbok Siti, jadi Rendra ini anakmu? Bukannya suami Mbok sudah lama meninggal." Ibu Arini seperti heran .
"Nona, ada sesuatu hal yang akan aku ungkapkan." Ibuku menunduk seperti ketakutan.
"Tentang apa, apakah menyangkut Nak Rendra." Ibu Arini memandangku kemudian dia kembali manatap ibuku.
"Tentang masa lalu yang telah kupendam lama, dan sekarang semua berhak tahu karena mungkin aku sudah tidak bisa menjaga amanah ini lagi." Ibuku terisak sambil memandangku. Kemudian aku dekati beliau dan aku mencium tangannya.
"Ibu, sebaiknya besok saja ibu cerita karena ibu belum pulih total." Aku khawatir dengan keadaan ibuku.
"Rendra sayang, maafkan ibu selama ini belum pernah jujur padamu." Ibu memelukku erat seakan enggan untuk melepaskan.
"Apakah rahasia itu menyangkut masa lalu aku ?"
Ibu tak mampu menjawab dia hanya menganggukkan kepalanya.
Penasaran apakah Ibu siti akan jujur siapakah ataukah akan membuat cerita karangan???
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya....Terimakasih!!