
Saat Mama Arini memberikan amplop coklat itu dengan tangan gemetar dan beliau menangis.
"Rendra, maafkan Mama Arini dan Kakek ya!" Beliau memelukku dan menangis.
Aku langsung membuka amplop yang diberikan Mama Arini. Mataku langsung tertuju pada nama Rendra Putra dan dia benar-benar anakku.
Sekilas aku memandang anak lelaki yang duduk di samping Melisa dan aku langsung meneteskan air mata.
Namun bayangan pengkhinatan Melisa saat dia sedang bercumbu dengan Roy yang aku lihat lewat rekaman CCTV sebuah hotel membuat dadaku terasa sesak kembali.
"Bukan ini pasti rekayasa Ma." Aku mencoba meyakinkan Mama Arini.
"Sayang, kamu harus terima kenyataan bahwa Albert adalah putru dam kami sudah melakukan tes DNA.."
"Apa?" Aku mengusap wajahku dan mengucap syukur.
Aisyah yang berdiri di sampingku langsung menghampiri Albert dan mengajaknya main di taman samping mansion.
Mungkin Aisyah tidak ingin Albert mendengar pertengkaran kecil kami yang akan berpengaruh untuk perkembangan Albert.
Setelah Albert keluar bersama Aisyah, Melisa berani berbicara padaku.
"Mas Rendra, Albert memang anakmu dan aku tidak melakukan pemalsuan."
"Baik jika memang Albert anakku aku akan mengambil hak asuhnya." Aku sedikit tenang menghadapi wanita jahat itu.
"Tidak semudah itu Mas, aku hanya ingin kita bisa rujuk demi anak kita."
"Rujuk? Cuih aku tidak sudi rujuk denganmu yang mau menjajakan tubuhnya buat lelaki lain."
"Mas, tolong beri kesempatan kepadaku untuk memperbaiki semuanya." Melisa berlutut di kakiku.
"Melisa, dulu aku pernah ada di posisi dimana aku sangat mencintaimu namun apa yang aku dapat penghinaan."
"Mas, maafkan aku dan aku mohon demi Albert kembalilah pada kami." Melisa terus memohon kepadaku.
"Maaf Melisa aku akan menikah dengan Aisyah dan untuk Albert aku akan mengambil hak asuhnya karena Aisyah bersedia merawat Albert."
Mama Arini menatapku dengan tersenyum dan aku memandang Aisyah begitu akrab dengan Albert.
"Mas, aku tidak akan membiarkan hak asuh Albert jatuh ke tanganmu."
"Silahkan kalau kamu bisa karena aku menyimpan banyak bukti tentang perselingkuhanmu dengan kekasihmu."
"Maksudmu?"
"Kamu akan tahu pada saatnya nanti dan ingat sekarang suami kesayanganmu sedang bersenang-senang dengan adikmu sendiri."
Aku melihat ada raut kecewa dimata Melisa. Dia akhirnya memanggil Albert dan mengajaknya pulang.
Setelah Melisa meninggalkan rumah kami aku akan meminta penjelasan Mama Arini dan Kakek tentang kebohongannya dengan tes DNA itu.
__ADS_1
"Ma, kenapa Mama dan Kakek berbohong padaku?"
"Sayang, maafkan mama dan Kakek itu kami lakukan karena kami tidak ingin kamu kembali ke wanita ular itu."
"Tapi harusnya kalian tidak berbohong."
Namun suara Kakek tiba-tiba muncul dari pintu utama.
"Rendra, Kakek yang menyuruh Mamamu berbohong."
"Kenapa Kek?"
"Karena Kakek ingin kamu menyelesaikan studymu dan menjadi penerus perusahaan kita."
Akhirnya aku menerima alasan Mama Arini dan Kakek Hadinata.
###
Sementara di kediaman Melisa.
Melisa masuk ke rumah dengan wajah yang sangat marah.
Dia melihat Ayasha sedang ngobrol dengan Roy suaminya. Meskipun mereka hanya duduk berhadapan namun terlihat mereka sangat akrab.
"Ayasha!"
"Mbak Melisa." Mereka berdua terlihat sangat kaget dengan kedatanganku.
"Sayang, kenapa marah-marah begitu aku sama Ayasha tidak ada hubungan apapun." Roy mencoba menenangkan istrinya.
"Kamu tidak bohong kan Mas?"
"Buat apa aku bohong sayang." Roy memeluk Melisa dan tersenyum memandang Ayasha.
Sementara Albert di suruh Melisa masuk ke dalam kamarnya.
Melisa akhirnya duduk di sebelah suaminya dan dia berbicara pada Ayasha tentang kehamilannya.
"Ayasha, sebenarnya siapa yang telah membuatmu hamil?" Melisa bertanya pada adiknya.
"Pacar aku Kak!" Ayasha memandang Roy dengan tatapan tajam.
"Pacarmu di Luar Negeri?"
Ayasha mengangguk dan dia pergi meninggalkan mereka berdua lalu kembali ke kamarnya.
Sebelum tidur Roy memasukkan obat tidur di minuman Melisa. Karena malam ini dia akan menyusul Ayasha di kamarnya.
Saat Melisa sudah terlelap, Roy meninggalkan kamarnya dan masuk ke kamar Ayasha yang ada di lantai satu.
Setelah sampai di depan pintu kamar Ayasha, Roy menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah di rasa cukup aman dia langsung masuk karena pintu kamar sengaja tidak di kunci.
__ADS_1
Kemudian Roy mendekati Ayasha dan mencium bibirnya dan Ayasha membalas dengan penuh cinta.
"Mas, apakah Kak Melisa sudah tidur?"
"Sudah tenang saja." Roy kembali mencumbu Ayasha.
Mereka melakukan hubungan badan seperti pasangan yang sudah sah. Mereka sejak awal memang sudah menjalin kasih. Saat mereka di pertemukan di Luar Negeri dan terjadilah hubungan terlarang itu hingga sekarang tertanam benih di rahim Ayasha.
Roy yang mengetahui istrinya hamil anak mantan suaminya merasa sakit hati. Ditambah lagi karena kesuciannya yang harusnya menjadi miliknya telah diserahkan kepada suaminya. Akhirnya dia memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Ayasha dan dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
Setelah mereka berdua menuntaskan dan mencapai kenikmatan bersama akhirnya Roy memakai pakaiannya kembali.
"Sayang, makasih ya karena kamu sudah membuatku bahagia." Roy mengecup kening Ayasha.
"Iya Mas, aku sangat mencintaimu dan asal kamu tahu mas aku akan sangat cemburu bila kamu berdekatan dengan kakakku." memeluk Roy.
"Dia masih istriku."
"Apa sebaiknya kamu ceraikan saja Kak Melisa dan menikahiku."
"Bukannya kamu ingin mengejar pria kaya itu dulu agar mendapatkan hartanya?"
"Aku memang gila harta tapi setelah aku tahu lelaki itu mantan suami Kak Melisa, aku tidak minat lagi karena aku punya yang jauh lebih bisa membuatku bahagia." tersenyum memandang Roy.
"Sayang, Albert bukan anakku dan aku kecewa saat mengetahui kebenarannya."
"Aku sebenarnya membenci Kak Melisa karena dia yang membuat Papa dan Mama berpisah."
"Jadi kamu bukan anak Papa Darmawan?"
"Benar Mas, dulu mamaku mempunyai pacar dan mereka terpisah karena saling dijodohkan dan akhirnya mereka melakukan hubungan terlarang dan lahirlah aku."
"Pantesan kalian berdua berbeda."
"Karena kami hanya dilahirkan dari rahim yang sama tapi kami berbeda papa."
"Sayang, sepertinya aku harus kembali ke kamar karena saya takut Melisa bangun."
Sebenarnya Ayasha tidak ingin jauh dari kekasihnya namun dia sadar karena kekasihnya masih menjadi suami kakaknya.
Roy mengecup kening Ayasha dan keluar dari kamarnya lalu saat sampai di depan pintu ada suara yang memanggilnya.
"Roy...!" Suara itu mengagetkan Roy.
Roy menoleh ke sumber suara dan dia mendapati Mama Rosa yang datang dari arah dapur.
"Mama...!" Roy terkejut saat dia diketahui berdiri di depan kamar Ayasha.
"Kenapa kamu ada di depan kamar putriku, jangan-jangan kamu akan menikungnya?" mendekati Roy dan hendak menjewernya namun tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Ayasha pura-pura menguap di hadapan mamanya.
HAPPY READING!!
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya ya...Terimakasih!!!