Putra Konglomerat

Putra Konglomerat
Rendra Adiyasta Hadinata


__ADS_3

Aisyah menjerit setelah dia tahu aku masuk tanpa permisi dan handuk yang dia pakai turun hingga tubuhnya terpampang sempurna.


"Mas, kenapa masuk gak ketuk pintu." Aisyah cemberut.


"Ais, benerin dulu handuknya." Aku tersenyum menggodanya.


Dengan wajah merah merona Aisyah mengangkat handuknya kembali dan membawa pakaian ganti masuk ke kamar mandi.


Aku yang memperhatikan Aisyah malu tersenyum bahagia.


(Aisyah, kamu wanita sempurna dan aku berjanji akan membahagiakanmu. Kamu pernah tulus menolongku membantu biaya berobat ibuku. Kamu cinta pertamaku dan akan menjadi cinta terakhirku.) Aku tersenyum dalam batinku.


Aisyah keluar kamar mandi masih dengan menunduk malu karena Rendra melihatnya bertelanjang.


Aku mendekati Aisyah yang sedang duduk di tepi ranjang kamarku.


"Aisyah, maaf tadi aku tidak sengaja."


"Mas, tapi aku malu." Aisyah menunduk di hadapanku.


Aku meraih dagunya lalu aku mencium bibirnya dan **********. Dia membalas ciumanku dan akhirnya kami terbuai dalam ciuman yang semakin panas. Aku takut berbuat terlalu jauh dan aku mencoba melepas ciuman kami namun Aisyah justru memelukku semakin erat.


"Mas Rendra, jangan tinggalkan aku!"


"Sayang, kita akan segera menikah dan aku akan bersamamu selamanya." Aku tersenyum padanya.


"Sekarang gak malu lagi ya! " Aku mencoba menggodanya.


"Apaan sih!"


"Dua hari lagi aku akan melihat semuanya." Aku membisikkan sesuatu di telinga Aisyah dan membuatnya semakin merah merona.


"Mas, boleh aku bertanya padamu?"


"Boleh, aku akan menjawab pertanyaanmu dengar jujur."


"Apakah di hatimu masih ada nama Melisa?"


Pertanyaan Aisyah sontak membuat raut mukaku berubah. Aku memang masih memiliki rasa cinta pada mantan istriku tapi rasa sakit yang dia tanamkan padaku membuat cinta itu mulai memghilang.


"Mas?"


"Aisyah, kamu tahu Melisa adalah mantan istriku dan aku sudah melalui masa bahagia bersama meski sebentar. Aku mencoba melupakannya dan rasa cintaku yang dulu besar padanya kini telah tertutup oleh kebencianku padanya."


"Mas, Aku gak marah kok kalau kamu masih mencintainya."


"Sayang, dulu dia mampu menggeser posisimu di hatiku dan sekarang kamu sudah mampu menggesernya kembali." Aku memeluk Aisyah dengan penuh cinta.


Hingga aku tak menyadari Mama Arini berdiri di samping kami.


"Ehemm."


"Mama..!" Aku kaget karena beliau tiba-tiba ada didekat kami.

__ADS_1


"Maaf mama langsung masuk habisnya di ketuk gak ada yang jawab."


"Maaf tante, Aisyah gak dengar."


"Kalian gak mungkin dengar soalnya lagi nanggung bercinta." Mama Arini sengaja menggoda kami.


"Mama, kami tidak melakukan lebih." Aku mendekati mama dan memegang tangannya.


"Sayang, mama bangga." Mama tersenyum padaku.


"Mama melihatnya tadi?" Aku membisikkan sesuatu disamping mama.


"Iya dong!" Mama semakin menggodaku.


"Sudah mama keluar dulu sebentar lagi kami turun!" Aku mendorong mama agar segera keluar dari kamarku.


Aisyah terlihat sangat malu sekali karena ketahuan sama calon mertuanya.


"Mas, Aku malu banget." Aisyah memukul-mukul tanganku.


"Sudah terjadi sayang tidak usah disesali." Aku menggoda Aisyah agar semakin malu.


Setelah Aisyah merapikan diri, aku mengajaknya keluar dan bergabung bersama Mama dan Kakek.


Sedangkan Ibuku selalu menolak jika aku minta makan bersama kami. Mungkin beliau merasa tidak nyaman harus duduk bersama mantan majikannya.


Namun Kakek tetap memerintahkan pelayan untuk mengantar makanan ke kamar ibu.


Setelah selesai makan malam aku mengantar Aisyah kembali ke kamarku dan aku akan tidur di kamar tamu yang terletak di lantai satu.


Pagi harinya kami sudah bersiap untuk berangkat ke Kantor Pusat Hadinata Group. Hari ini aku akan diperkenalkan kepada seluruh klien dan staff Hadinata Group.


Aku melihat penampilan Aisyah yang sangat cantik dan aku tersenyum memandangnya. Dengan gaun berwarna pink dengan make up tipis terlihat sangat cantik.


"Aisyah!"


Mama dan Kakek juga terpukau dengan penampilan Aisyah.


"Sayang, kamu cantik sekali."


"Tante, Aisyah jadi malu biasanya Aisyah memakai celana dan hari ini memakai pakaian resmi."


"Kamu cantik sayang!" Aku menghampiri Aisyah dan mencium keningnya.


"Rendra...!" Arini menegur putranya saat mencium Aisyah di depan mereka.


"Maaf Rendra lupa.!"


Kakek dan Mama tersenyum melihat tingkahku. Sebelum berangkat tak lupa aku berpamitan sama ibuku di kamarnya.


Kami sampai di kantor dan disambut semua staf dan karyawan.


Kakek dan Mama Arini masuk ruang pertemuan lebih dulu. Sedangkan Aku dan Aisyah menunggu di luar ruangan. Hingga tiba waktunya Pak Romi memanggilku dan kami mengikutinya.

__ADS_1


Setelah sampai kami di sambut klien perusahaan dan staf karyawan. Semua berdiri memberi hormat.


Aku dan Aisyah duduk di dekat Mama Arini dan mataku menangkap dua orang yang sangat aku kenal. Dia adalah Papa Darmawan dan Melisa.


Aku melihat raut wajah mereka pucat dan mereka hanya menunduk mungkin Kakek sudah menyebut namaku menjadi pewaris perusahaannya.


"Aisyah, maaf setelah selesai nanti kita temui Melisa." Aku berbisik pada Aisyah dan dia hanya mengangguk


"Perkenalkan saya Rendra Adiyasta Hadinata!"


Mereka semua menyambutku dengan penuh senyum hormat berbeda dengan Pak Darmawan dan Melisa yang hanya menunduk. Sepertinya mereka tidak nyaman dengan situasi ini.


Setelah pertemuan selesai Kakek dan Mama sibuk dengan klien-klien besarnya sedangkan aku mengajak Aisyah mendekati Pak Darmawan dan Melisa.


"Apa kabar Pak Darmawan, Melisa." Aku mencoba menyapa mereka.


"Nak Rendra, maafkan saya sudah menghinamu dan mengusirmu waktu itu!" Pak Darmawan bersujud di kakiku


Aku membangunkannya namun aku tetap pada pendirianku akan tetap angkuh dan sok tidak peduli.


"Semua sudah berlalu dan saya sudah mendapatkan kebahagiaan yang jauh lebih baik dari putri anda." Aku memandang jijik Melisa


"Perkenalkan ini Aisyah istriku, dia sangat cantik bukan?" Aku memamerkan Aisyah pada mereka


"Selamat atas kebahagiaanmu, dan apakah kamu lupa dengan anakmu?"


"Anak, bukankah itu anak Roy?" Aku mencoba tidak goyah dengannya.


"Rendra, sebenarnya dia adalah anakmu."Melisa mencoba meyakinkanku


"Aku tidak percaya sebelum ada bukti tes DNA!'


Dan aku melihat raut wajah sedih pada Aisyah dan aku harus menenangkannya.


"Sayang, kamu gak usah sedih dia masa laluku dan kamu masa depanku yang akan menjadi ibu dari anak-anakku." Aku memeluk Aisyah dan mencium keningnya.


"Rendra, Albert adalah anakmu!" Melisa mendekatiku.


"Bohong...!" Aku berteriak di hadapan Melisa.


Membuat semua orang yang berada di ruangan itu memandang dan menghampiri kami. Aku lihat Mama Arini mendekat dan menghina Melisa.


"Melisa, kamu jangan main-main dengan keluargaku." Mama Arini terlihat sangat marah dengan Melisa.


Sepertinya ada dendam tersendiri pada Melisa.


"Melisa, kamu dan mamamu tak jauh berbeda perusak rumah tangga orang."


"Maksud mama?"


"Rendra, asal kamu tahu Ayasha adalah anak dari papamu dan Rosa.


Mendengar pengakuan Mama sontak aku kaget dan aku merasa masih banyak rahasia yang tidak aku ketahui.

__ADS_1


Happy reading ...


Semakin seru kan yuk dukung terus karyaku dan jangan lupa like dan komentarnya!


__ADS_2