
"Rendra...lanjutkan perjuanganku kamu adalah pewaris keluargaku!" suara bisikan itu semakin terdengar di telinga Rendra.
"Siapa kamu?" tanya Rendra.
"Kamu sudah menguasai semua strategiku dan sekarang masukkan kembali semua buku itu dalam tempatnya! simpanlah jangan sampai ada orang yang mencurinya." suara misterius itu terus terngiang di telinga Rendra.
Rendra terbangun ternyata petunjuk itu hanya mimpi disaat dia lelah mempelajari semua warisan dari kakeknya.
"Aku hanya mimpi?" Rendra berbicara sendiri.
Rendra hanya membutuhkan waktu 4 hari sudah bisa menguasai semua ilmu bisnis keluarga Hadinata.
Rendra sangat bingung dengan apa yang dilihatnya buku-buku yang dia pelajari sudah masuk ke dalam kotak misterius itu. Buku yang dikatakan peninggalan kakek buyut Hadinata.
(Mungkin orang mengira aku menguasai ilmi tapi disini aku hanya belajar membaca tumpukan buku milik kakek. Kesannya memang sangat misterius tapi sebenarnya itu hanya buku lama.) batin Rendra.
Rendra keluar dari ruang kerja almarhum Hadinata. Saat sampai di pintu keluar tubuh Rendra sangat lemah. Dia kemudian pingsan di depan pintu ruangan.
Kebetulan Melisa selalu menunggu Rendra di dekat ruangan itu melihat suaminya keluar dalam keadaan lemah.
"Mas, bangun!" Melisa menggoyangkan tubuh Rendra kemudian dia berteriak meminta pertolongan.
"Tolong...toloooong!" Melisa berteriak.
Rico dan Arini yang kebetulan berada di dalam kamar segera keluar dan menolong Rendra. Dia dibawa ke kamarnya, sedangkan Arini meminta Melisa mengambilkan makanan dan minuman.
Rico menidurkan Rendra di ranjang besarnya. Setelah Rendra sadar, kata pertama yang dia ucap haus.
"Haus...beri aku minum!" Rendra meminta air putih pada Arini.
Rendra memandang kedua orang tuanya dengan tersenyum bahagia. Melisa datang membawakan air putih hangat untuk suaminya.
"Saat Melisa hendak membalikkan tubuhnya, tangannya ditarik oleh Rendra.
"Melisa, maafkan aku!" Rendra meminta maaf karena dia tidak memberi tahu keberadaannya selama 4 hari.
"Mas, aku sudah tahu semuanya dari mama!" ucap Melisa.
Kemudian kedua netra Rendra beralih memandang kedua orang tuanya. Rendra tersenyum bahagia dan dia berkata," Mama, Rendra berhasil!"
Arini dan Rico tersenyum bahagia. Rendra hanya membutuhkan waktu sehari untuk memulihkan tenaga dan pikirannya. Dia akan kembali ke kantor untuk menggantikan kakeknya.
"Melisa, kamu suruh Bi Narti menyiapkan makan malam untuk Rendra!" perintah Arini.
"Biar Melisa yang memasak untuk mas Rendra." jawab Arini.
"Baiklah!" Arini terlihat pasrah.
"Mas, kamu pingin dimasakin apa?" tanya Melisa.
"Buatkan aku sop daging sapi dan buatkan aku jahe hangat!" pinta Rendra.
__ADS_1
Melisa bergegas menuju ke dapur, dia akan membuatkan sopo daging sapi untuk Rendra.
"Bi Narti, bantu aku buat sop daging ya!" pinta Arini.
"Siap Nyonya!" ucap Bi Narti.
Butuh waktu setengah jam untuk membuat sop itu matang sempurna. Melisa langsung membawa sop itu ke kamarnya dengan di bantu Bi Narti.
"Mas, sop sudah siap!" Melisa menaruh sop itu dimeja samping ranjangnya.
Rico membantu Rendra bangun dari pembaringannya. Dia sandarkan tubuh Rendra di tepi ranjang.
Dengan telatennya, Melisa menyuapi suaminya. Rico dan Arini minta ijin keluar karena merasa tidak enak dengan pasangan itu.
"Mas, kita keluar biarkan mereka melepas rindu." Arini tersenyum pada suaminya.
"Seperti kita juga masih pengantin baru sayang!" Rico mencubit pinggang Arini.
"Sudah tua, malu!" ucap Arini.
Malam semakin larut, hanya tinggal suara jangkrik yang berbunyi nyaring. Namun mansion yang begitu besar itu terasa hampa seolah ikut berduka karena pemiliknya telah berpulang menghadapNya.
Hadinata paling disegani, paling berkuasa di dunia bisnis kita telah tiada. Semua musuh bisnisnya berbahagia atas meninggalnya Hadinata. Mereka tidak tahu jika masih ada kekuatan yang lebih hebat di kasta mereka.
Rendra Adiyasta Hadinata, dia seorang pewaris tunggal keluarga Hadinata. Sosok yang akan menggantikan Sang Kakek memimpin Hadinata Corporation.
Rendra terbangun saat masih sepertiga malam. Dia kemudian mengambil wudhu untuk menjalankan sholat malam.
Arini terbangun saat mendengar suaminya berdzikir dan berdoa.
Terlihat senyum bahagia dari wanita yang kini tengah mengandung anak kedua dari Rendra.
Setelah selesai, Rendra kembali ke ranjangnya dan melanjutkan tidurnya.
"Sayang, kamu ikut bangun?" Rendra mengucap pucuk kepala Melisa.
Rendra kemudian mengecup perut Melisa yang kini sedang hamil minggu ke 16 atau menuju 4 bulan.
"Gimana keadaan dedek?" tanya Rendra sambil mengelus perut yang sudah mulai membuncit.
"Dedek baik ayah!" jawab Melisa dengan tersenyum pada suaminya.
Kemudian mereka kembali tidur untuk melanjutkan mimpi indah.
Pagi harinya, Lukman sudah datang di mansion Hadinata. Dia ingin meminta tanda tangan pemilik perusahaan.
"Silahkan masuk!" Bi Narti membukakan pintu setelah mendengar suara bel dari luar.
Lukman langsung duduk di ruang tamu, menunggu bosnya bosnya keluar. Bi Narti membawakan teh hangat dan pisang goreng untuk menemaninya menunggu.
Setengah jam kemudian, Arini dan Rico turun dari lantai 2 dia akan menuju meja makan untuk sarapan.
__ADS_1
"Arini melihat Lukman yang duduk sambil menikmati secangkir teh dan pisang goreng buatan Bi Narti.
Seteleh sarapan, mereka menghampiri Lukman.
Arini berkata," Nyonya saya kesini mengantarkan berkas ini!"
"Terimakasih, jika Rendra sudah bangun akan aku berikan!" ucap Arini.
"Oh iya silahkan buat jadwal dengan peusahaan kerjasama dan para invostor. Lakukan secepatnya!" Arini berkata pada Lukman.
Lukman permisi meninggalkan mansion Hadinata. Dia akan segera menghubungi para investor untuk mengadakan pertemuan besar dengan pemimpin baru Hadinata Corporation.
Sementara itu, Rendra mulai menggeliatkan tubuhnya. Dia mulai mengucek netranya karena dia kembali tidur setelah menjalankan sholat Subuh.
"Sayang, kita bangun yuk!" ajak Rendra.
"Mas, masih pingin tidur badanku capek banget!" rengek Melisa.
"Sayang, mumpung aku libur kita jalan-jalan keluar yuk ajak Albert sama Billy!" ajak Rendra.
Melisa beranjak dari tidurnya, dia kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu mereka berdua menuju kamar anak-anak dan ternyata Albert sudah siap masuk sekolah.
"Loh sayang, mama kira libur." Arini mendekat.
"Kan bukan tanggal merah." jawab Albert.
"Papa, Mama, Albert berangkat dulu ya!" Albert bersalaman sama kedua orang tuanya.
"Albert sudah sarapan?" tanya Melisa.
Albert mengangguk lalu turun ke lantai bawah dengan bersenandung ria.
Melisa dan Rendra mengikuti Albert dibelakangnya dengan tersenyum bahagia. Albert ke sekolah diantar sopir pribadi keluarga Hadinata.
Albert melambaikan tangannya pada kedua orang tuanya.
Melisa mengajak suaminya berjalan di taman belakang rumahnya. Mereka mengelilingi taman sampai kaki Melisa terasa pegal.
"Mas, istifahat dulu ya!" pinta Melisa.
Rendra menggandeng Melisa untuk istirahat digazebo taman itu.
Tiba-tiba Melisa teringat Aisyah.
"Mas, gimana kabar Aisyah ya?" tanya Arini.
"Sayang, jangan pikirkan dia karena dengan anaknya sendiri dia tidak mau mengingat apalagi dengan kita." Rendra menjawab dengan nada kecewanya.
"Maaf!" hanya kata itu yang mampu Melisa ucapkan.
Saat mereka sedang bersendau gurau terdengar suara menjerit dari belakang rumah.
__ADS_1