Putra Konglomerat

Putra Konglomerat
Terjerat masa lalu


__ADS_3

Hadinata tidak mau mengambil keputusan sepihak karena itu adalah hidup putrinya.


"Arini, apakah kamu menerima perjodohan ini?" Hadinata bertanya pada Arini.


"Ayah, biarkan kami menjadi dekat dulu dan untuk ke jenjang selanjutnya kita pikirkan nanti." Arini menjelaskan pada ayahnya.


"Baiklah, kami tunggu kabar baiknya." Hadinata menjawab.


Hadinata dan Antonius pergi meninggalkan Rico dan Arini. Tujuan mereka agar keduanya semakin dekat. Mereka berdua bersikeras menjodohkan Arini dan Rico. Rendra dijadiakan alasan keduanya untuk mempersatukan mereka kembali.


"Ar, masih ingat dulu?" Rico bertanya sambil memandang ke arah Arini.


"Ingat tapi sekarang umur kita gak muda lagi," jawab Arini.


"Cucu kita sudah banyak ya, Ar?" Rico menggoda Arini.


"Apakah kamu pernah menikah?" tanya Arini.


"Dulu aku pernah hampir menikah tapi gagal padahal hubunganku dengan wanita itu sudah seperti sepasang suami istri." Rico menjelaskan.


"Loh kenapa bisa gagal nikah?" Arini bertanya penasaran.


"Wanita itu selingkuh di belakangku sampai dia hami." jawab Rico.


"Ooooo...kasihan banget kamunya." Arini mengejek Rico.


Rico terdiam mengingat masa lalu dengan kekasihnya setelah berpisah dengan Arini. Awalnya dia mencintai wanita lain agar bisa melupakan Arini yang telah bersama Baskoro orang suruhannya. Tapi nyatanya Arini tidak bahagia justru menderita karena Baskoro sangat membenci bayi yang di kandung Arini. Bayi yang merupakan hasil hubungnnya dengan Rico saat itu.


"Mas Rico, kenapa melamun?" Arini bertanya pada Rico.


"Aku mengingat masa lalu kita," jawab Rico.


Rico mencoba mengalihkan pembicaraan dengan bertanya balik pada Arini.


"Bagaimana hubunganmu dengan Romi?" Rico bertanya penasaran.


"Tidak usah membahas dia, aku sudah tidak peduli dengannya,"  jawab Arini.


"Hatiku memang  mencintainya tapi rasa kecewaku telah menghapus cinta itu," ucap Arini.


Mereka berdua bersendau gurau, tertawa seperti tidak ada masalah apapun. Rico mengajak Arini keluar dan berjalan di taman belakang mansion. Rico memang sengaja ingin berdua dengan Arini. Mereka memang tidak muda lagi tapi terkadang mereka membutuhkan teman disaat sendiri.


Rico selalu mencuri pandang pada Arini. Dia memang masih mengagumi wanita yang dulu pernah menjalin hubungan dengannya lama.


Antonius dan Hadinata memandang kedekatan Rico dan Arini dari lantai dua.


"Sepertinya mereka bahagia banget dan yang jelas mereka sangat serasi," ucap Antonius.


"Sebaiknya kita nikahkan saja mereka berdua agar bisa saling melengkapi," pinta Hadinata.


Hadinata ingin menikahkan Arini dan Rico karena mereka mempunyai ikatan kuat yang tak kan pernah putus. Mereka memiliki Rendra sebagai buah cinta mereka.


"Apa kita tentukan tanggalnya agar mereka bisa langsung kita nikahkan," jawab Antonius.


"Aku setuju tapi bagaimana jika mereka tetap menolak," tanya Hadinata.


"Mama tidak akan menolak karena aku sendiri yang akan meminta mereka bersatu." Rendra datang dan meyakinkan kedua orang tua itu.


"Rendra...!" panggil mereka serentak.


"Kakek...Rendra sendiri yang akan mempersatukan papa dan mama," ucap Rendra.


Hadinata dan Antonius tersenyum bahagia, mereka bangga dengan keputusan Rendra.


Di taman,  Arini dan Rico terlihat sangat akrab. Mereka mengulang kisah yang dulu sempat terputus karena Arini hamil. Rico menyesali perbuatannya dan dia ingin menebus semusa kesalahannya dengan menikah dengan Arini.


"Ar, apakah masih ada tempat untukku dihatimu?" Rico bertanya sambil tersenyum memandang Arini.

__ADS_1


"Aku...!" Arini bingung mau menjawab karena di hatinya masih ada Romi.


"Aku tidak memaksamu untuk mencintaimu tapi aku ingin menjadi orang yang mampu menghapus luka dihatimu," kata Rico


"Lukaku sulit dihapus karena bekasnya terlalu dalam." Arini menangis.


Rico mendekati Arini, dia mencoba menenangkan Arini dengan memeluknya.


"Mas, dulu aku sangat mencintaimu tapi kamu tega membuangku dan sekarang disaat aku mulai mencintai Mas Romi, dia justru menyakitiku." Arini berkata sambil menangis.


"Maafkan aku untuk sikapku yang dulu," ucap Rico.


"Aku sudah memaafkanmu tapi untuk menerimamu kembali aku masih berfikir kembali." Arini mengatakan perasaannya jujur.


"Ar, aku tidak akan memaksamu mencintaiku karena dekat denganmu dan anak kita sudah membuatmu bahagia." Rico menjelaskan.


Rico memandang Arini dengan senyum manisnya. Arini benar-benar dibuat melayang oleh tatapan Rico.


"Ar, bagaimana jawabanmu?" tanya Rico.


"Aku_" belum sempat menjelaskan tiba-tiba Rendra datang.


"Mama akan menerima papa kembali." Rendra datang menghampiri kedua orang tuanya.


"Rendra...tapi mama!" Arini hendak menolak


"Ma, lakukan semua demi Rendra dan cucu mama!" bujuk Rendra.


"Mama belum bisa!" Arini pergi meninggalkan Rendra dan Rico menuju kamarnya sambil menangis.


"Ar...!" Rico hendak mengejar Arini namun Rendra melarangnya.


"Papa...biarkan mama sendiri dulu agar pikirannya kembali jernih." Rendra menahan papanya.


Arini tidak masuk ke kamarnya tapi dia masuk ke kamar Melisa.


"Mama kenapa?" tanya Melisa.


Bukannya menjawab tapi Arini langsung memeluk tubuh mungil menantunya.


Arini menangis di pelukan Melisa.


"Mama tenang dulu dan kemudian jelaskan pada Melisa ada masalah apa?" Melisa bertanya pada mama mertuanya.


"Mereka semua tidak mengerti perasaanku, mereka hanya mengutamakan egonya," ucap Arini.


"Aku gak paham, Mama!" Melisa semakin bingung karena dia tidak mengetahui sumber masalahnya.


Arini memeluk erat menantunya. Arini berkata,"Melisa mama harus bagaimana?"


 "Bagaimana apanya, Melisa gak paham?" Melisa semakin bingung.


"Rico melamar mama!" Arini memberitahu Melisa.


"Hah...?" Melisa kaget.


Melisa merasakan ada yang aneh dalam dirinya. Dia mengingat kemesraannya dengan Rico selama dua bulan. Bahkan satu hal yang menjijikkan Melisa pernah bercinta dengan Rico.


(Mama, aku sendiri tak mampu melupakan kenanganku sama dia!) batin Melisa.


Arini membuyarkan lamunan menantunya.


"Mama jangan ngagetin gitu dong!" Melisa kaget.


"Maaf sayang!" Arini memeluk Melisa.


"Mama, menurutku apa kata hati mama lakukan jika masih ragu tinggalkan!" Melisa menasehati Arini.

__ADS_1


Arini mengucapkan terima kasih pada Melisa, yang memberikan nasehat panjang lebar pada Arini. Arini sendiri masih bingung dengan dirinya. Tapi dia memang harus memberi keputusan agar tidak menggantung.


"Melisa bukan orang baik tapi Melisa pernah mencoba menjadi orang baik," ucap Melisa.


"Semua keputusan ada ditangan mama karena itu menyangkut masa depan mama!" Melisa menasehati Arini.


"Sayang, tapi hati mama masih untuk Mas Romi." ucap Arini.


"Mama, sebaiknya lupakan Romi karena dia bukan lelaki yang baik." Melisa meyakinkan Arini.


"Tapi hati mama tak bisa dibohongi jika masih ada nama Mas Romi." Arini menangis memeluk Melisa.


"Ma, kata Mas Rendra jika kita bimbang sholat istikharah dan semoga Allah memberi keputusan yang bijak." Melisa menguatkan Arini.


"Baiklah? mama akan sholat istikharah agar mendapat keputusan terbaik untuk masa depan mama!" Arini menuruti keinginan menantunya.


Melisa tersenyum lega melihat mama mertuanya bisa lebih tenang. Melisa mengambilkan mamanya air putih agar dia semakin tenang.


"Mama boleh tidur bersamamu?" Arini bertanya.


"Boleh," jawab Melisa.


Arini memposisikan dirinya di samping Melisa. Malam semakin larut dan mereka tidur dalam keadaan lampu kamar di matikan. Tiba-tiba Rendra menyusup masuk ke kamar Melisa.


Rendra langsung datang memeluk Melisa namun sayangnya dia salah sasaran dan memeluk mamanya.


Arini merasa gerah kemudian dia membuka matanya begitu kaget karena lelaki yang memeluknya adalah Rendra.


"Rendra...!" Arini terkejut dan berteriak.


"Mama...maaf! Rendra tidak tahu jika mama tidur bareng Melisa," kata Rendra.


(Untung aku belum mencumbunya kalau sudah bisa bahaya dunia akhirat.) batin Rendra.


Arini hendak keluar meninggalkan Melisa dan Rendra.


"Jangan lupa adiknya ditambah!" ajak Rendra sambil tersenyum.


"Mama....!" Rendra menutup pintu kamar Melisa.


Rendra akan meminta haknya pada Melisa. Sebagai istri, Melisa hanya menurut kemauan suaminya tanpa protes. Melisa sendiri sempat heran pada suaminya karena dia sering mendatanginya untuk minta haknya.


(Bagaimana dengan Aisyah, apakah dia marah atau cemburu karena Mas Rendra sering tidur bersamaku.) batin Melisa.


Sentuhan demi sentuhan Rendra berikan untuk istrinya. Dia mulai mencium bibir istrinya dan mereka siap bertempur sampai pagi. Namun Rendra tetap bermain hati-hati karena Arini sedang hamil muda. Setelah mencapai puncak kenikmatan mereka berdua terkulai lemas di ranjang king size. Mereka berdua tertidur sampai pagi.


Pagi harinya, Arini sengaja membantu Bi Narti memasak karena Antonius dan Rico menginap di mansion Hadinata.


Saat Arini sedang mengiris bawang dan Bi Narti sedang menjemur pakaian di lantai atas, tiba-tiba seorang laki-laki datang mendekati Arini.


"Mau dibantu?' Rico berkata sambil berjalan mendekat ke arah dapur.


"Mas Rico..." Arini menjingkat karena Rico menepuk pundaknya.


Rico membalikkan badan Arini lalu dia mendekatkan wajahnya mendekati Arini dan dia hendak mencium Arini.


Arini memundurkan tubuhnya lalu dia mundur ke belakang dan mentok di dinding. Rico menarik dagu Arini lalu mencium bibir Arini yang berusaha menghindar.


"Ar, aku masih mencintaimu! kamu ingat dulu kita sering melakukan seperti ini setiap kita bertemu," ucap Rico.


"Mas kamu jangan nekad nanti kalau ada yang lihat bahaya," jawab Arini.


"Ayah sudah melihat kemesraan kalian?" Hadinata datang dan membuyarkan tatapan mereka.


"Apa?" Melisa sangat kaget dengan kehadiran ayahnya.


"Kalian berdua akan kami nikahkan segera karena perbuatan kalian ini akan memalukan," ucap Hadinata

__ADS_1


"Aku setuju," sahut Antonius.


__ADS_2