
Dokter Prita tetap menolak karena dia tidak mau mempertaruhkan kedudukannya hanya demi uang.
"Maaf Tuan Hadinata, ibu Arini belum tentu hamil dan untuk memastikan silahkan periksa ke Rumah Sakit!" kata Dokter Prita dengan sopan.
"Rendra, sekarang juga kamu bawa mamamu ke Rumah Sakit untuk memastikan dia hamil atau tidak!" perintah Hadinata.
Rendra membopong Arini dan membawanya ke Rumah Sakit. Rendra akan memastikan apakah mamanya hamil atau tidak.
Sesampai di Rumah Sakit, Dokter memeriksa Arini melalui USG dan test urine.
"Tuan, mohon maaf Nyonya Arini tidak hamil dia hanya mengalami kenaikan asam lambung!" kata Dokter yang memeriksa Arini.
Senyum bahagia mengembang di wajah Arini da Rendra. Mereka sangat bersyukur karena tidak ada yang menghalangi perceraian mereka.
Berita kehamilan sudah sampai di telinga Romi. Dia tersenyum bahagia karena tidak jadi berpisah dengan Arini. Tapi kenyataannya berita kehamilann iti hanya kabar burung.
"Sial...!" Romi terlihat sangat marah karena Arini bukan hamil tapi sedang sakit lambung.
Penjaga ruang bawah tanah hanya bisa tersenyum puas melihat tawanannya merasa di bohongi.
"Kalian semua jahat...kalian berbohong!" umpat Romi.
Salah satu penjaga mendekati Romi dan memukul wajah Romi.
"Katakan sekali lagi!" perintah penjaga itu.
"Kalian semua bodoh, harusnya kalian ikuti jejakku untuk merebut semua harta Keluarga Hadinata!" ucap Romi.
Sementara Arini hanya bisa tersenyum saat mengetahui dirinya tidak hamil.
"Rendra, mama bersyukur tidak hamil jadi proses perceraian dengan Mas Romi bisa cepat diproses." ucap Arini.
"Rendra sempat khawatir jika mama hamil dan itu artinya lelaki brengsek itu tidak bisa menceraikan mama!" jawab Rendra.
"Kakek kok gak ikut?" tanya Arini.
"Kakek tadi juga meminta Dokter Prita memberi obat penggugur kandungan padahal sudah diingatkan jika mama belum tentu hamil!" ucap Rendra.
Arini hanya bisa tersenyum bahagia. Ayahnya sampai sekarang masih sangat memanjakkannya.
"Rendra, kamu mau kan tetap tinggal bersama mama?" tanya Arini sambil menggenggam tangan putranya.
"Rendra akan tetap tinggal bersama mama." Rendra tersenyum pada Arini.
Dokter masuk dan memberikan resep pada Rendra. Dokter mengijinkan Arini pulang karena kondisinya tidak begitu mengkhawatirkan.
Setelah menebus obat dan menyelesaikan administrasi Rendra dan Arini kembali ke mansion. Di perjalanan Budi menelpon jika Romi merasa senang jika Nyonya Arini hamil.
Rendra hanya tersenyum dan dia akan memanfaatkan keadaan untuk menghancurkan perasaan Romi.
"Budi, bagaimana dengan penyelidikan Renata Amalia?" tanya Rendra dari ujung telepon.
"Kami sudah mengamankan Renata Amalia dan adiknya!" jawab Budi dari seberang telepon.
"Bagus! bagaimana dengan istri Romi?" tanya Rendra dari seberang telepon.
"Dia berhasil melarikan diri tapi dari info yang saya dapat dia bernama Karina Prayoga."jawab Budi dari seberang telepon.
Mendengar nama Karina Prayoga, Rendra langsung menutup teleponnya. Dia lalu melajukan mobilnya lebih cepat.
"Rendra, ada apa?" tanya Arini.
"Mama tahu Karina Prayoga?" Rendra bertanya balik pada Arini.
"Dia putri bungsu dari Tuan Prayoga yang diusir oleh kedua orang tuanya karena menikah dengan seorang pembantu." jawab Arini.
"Ma, dia istrinya Romi." Rendra memberi tahu mamanya.
"Apa?" Arini tampak sedikit kaget.
__ADS_1
"Info terakhir dari Budi tapi sayangnya sebelum mereka menangkap Karina, dia sudah melarikan diri dan hanya dua putrinya yang berhasil diamankan oleh Budi." Rendra menjelaskan pada mamanya.
"Dia pasti kembali dalam keluarga Prayoga untuk meminta perlindungan." ucap Arini.
Setelah sampai di depan mansion, Rendra menggandeng Arini masuk ke dalam mansion. Hadinata yang dari tadi menunggu kedatangan putrinya langsung mendekatinya.
"Arini, bagaimana keadaanmu?" tanya Hadinata.
"Ayah, Arini baik-baik saja!" jawab Arini.
Rendra mangantar Arini ke kamarnya agar dia bisa istirahat. Saking sibuknya Rendra melupakan kedua istri dan anak-anaknya.
Setelah mengantar Arini, Rendra masuk ke dalam kamar Melisa. Dia melihat Melisa sedang duduk bersandar di ranjangnya sambil menonton drama korea.
"Sayang, lagi ngapain?" tanya Rendra.
"Mas, ingat sama aku ya!" goda Melisa pura-pura marah.
"Emang gak boleh ingat sama istri sendiri?" Rendra balas menggoda.
Rendra langsung mendekati Melisa dan memeluknya. Dia meminta maaf dan memberikan penjelasan pada Melisa.
"Mas, aku tidak marah tapi hanya sedikit kecewa!" ucap Melisa.
"Tapi permasalahan yang akau hadapi sangat besar dan sekarang sumber masalah ada kaitannya dengan keluarga Prayoga." Rendra menjelaskan.
"Maksud kamu?" tanya Arini sedikit bingung.
"Istrinya Romi adalah adik kandung Komarudin." Rendra memberi tahu Melisa.
"Apa? kenapa semua seperti kebetulan." Melisa heran.
Rendra hanya menggeleng dan dia menggenggam tangan Melisa lalu menciumnya.
Rendra mohon pamit karena dia masih harus menyelesaikan tugasnya.
"Mas, kamu hati-hati ya!" Melisa menangis.
Rendra kemudian masuk ke kamar Aisyah. Dia melihat Aisyah yang sedang menyusui anaknya.
"Aisyah...!" panggil Rendra.
Aisyah menoleh, " Mas Rendra!"
Aisyah menghampiri suaminya dan memeluknya.
"Kenapa mas Rendra jarang menengokku, apa sudah melupakanku karena ada Mbak Melisa?" tanya Aisyah.
"Aisyah, aku sedang ada masalah jadi maaafkan aku yang melupakan kalian semua." jawab Rendra.
Rendra memberi penjelasan pada Aisyah tentang masalah mamanya. Aisyah mengerti kemudian meminta maaf pada Rendra.
"Bagaimana keadaan mama?" tanya Aisyah.
"Alhamdulillah mama baik-baik saja!" jawab Rendra.
Rendra kemudian mencium putranya, dia kemudian pamit pada Aisyah ingin menemui kakek Hadinata.
"Mas, sering kesini ya!" pinta Aisyah.
"Iya, saya akan tetap berlaku adil sama kalian berdua!" Rendra mencium kening Aisyah.
(Aku sebenarnya sangat rindu kamu yang dulu, tapi sekarang semua tidak mudah aku dapatkan karena ada hati wanita lain yang juga menjaga hatimu.) batin Aisyah.
Aisyah menatap punggung Rendra yang mulai meninggalkan kamarnya. Sebenarnya Aisyah masih ingin Rendra menemaninya tapi karena tanggung jawab suaminya sangat banyak, dia hanya bisa diam dan berdoa untuk kebaikan Rendra.
Rendra menemui kakeknya di ruang kerjanya. Sang Kakek sudah menunggu Rendra di kursi kebesarannya.
"Kakek sudah menunggumu, silahkan duduk cucuku!" Hadinata mempersilahkan Rendra duduk.
__ADS_1
Rendra duduk di hadapan kakeknya kamudian dia menceritakan tentang Karina Parayoga.
"Kek, Apa kakek tahu tentang Karina Prayoga?" tanya Rendra.
"Dia putri bungsu keluarga Prayoga yang diusir karena membangkang. Dia menikah dengan seorang pembantu." Hadianata menceritakannya.
"Dia istrinya Romi!" Rendra menjelaskan.
"Apaaa?" Hadinata nampak kaget dengan berita tentang Karina Prayoga.
"Mereka mempunyai dua orang putri yang sudah diamankan oleh Budi." ucap Rendra.
"Lalu Karina?" Hadinata berdiri mendekati Rendra.
"Dia bisa kabur dan hilang jejaknya." jawab Rendra.
"Dia pasti kembali pada Prayoga untuk memperoleh perlindungan." Hadinata menebak.
Rendra kemudian berpikir keras untuk menemui keluarga Prayoga. Niatnya kemaren yang hampir terlaksana berantakan karena Romi sudah mengacaukan semuanya. Ternyata semua ini ada sangkut pautnya dengan keluarga Prayoga yang merupakan mertuanya.
"Romi, aku tidak akan membiarkanmu lepas dariku!" ucap Rendra sambil mengepalkan tangannya.
"Rendra, apakah kamu sudah menemui Mas Prayoga?" tanya Hadinata.
"Belum dan semua ini gara-gara Romi!" ucap Rendra.
Tiba-tiba ruang kerja Hadinata diketuk oleh seseorang.
Rendra berjalan dan membukakan pintu dan ternyata Budi datang membawa kedua anak Romi.
Budi mendorong dua wanita itu hingga tersungkur di lantai.
"Kalian tahu kesalahan kalian?" tanya Rendra.
"Maaf Tuan, kami tidak tahu!" jawab Renata sambil menangis.
Rendra memutar laptopnya yang berisi video rekaman CCTV ruang bawah tanah.
Saat menyaksikan video itu, Renata menjerit memohon ampun pada Rendra.
"Ayah.....!" Renata menangis.
"Jadi benar dia ayahmu?" tanya Hadinata.
"Tuan, aku mohon jangan sakiti ayahku!" pinta Renata.
"Aku akan melepaskannya dan mempertemukan dengan kalian tapi dengan syarat ibumu harus kembali dan menghadapku!" ucap Rendra.
Renata semakin bingung karena dia tidak tahu keberadaan ibunya.
"Tapi saya tidak tahu dimana ibu saya!" jawab Renata.
"Aku tidak mau tahu!" jawab Rendra angkuh dan sedikit sombong.
"Tolong...lepaskan ayahku!" Renata bersujud di kaki Hadinata.
Bukannya iba dan kasihan tapi Hadinata justru menendang gadis itu.
"Kamu tahu kesalahan ayahmu?" tanya Hadinata.
"Aku tidak tahu yang kami tahu dia bekerja untuk kami dengan gaji yang sangat besar sehingga kami bisa hidup penuh kemewahan." jawab Renita.
"Bagus gadis polos, semua akan menjadi bukti kejahatan ayahmu." Rendra tersenyum menang.
(Aku akan membalas sakit hati mama satu persatu!) batin Rendra.
Terima kasih sudah mampir...mohon dukungannya dengan like dan komentarnya.
HAPPY READING
__ADS_1