
Bi Narti sedikit takut untuk mrmberi tahu majikannya karena yang datang mantan istrinya.
"Bi, siapa tamunya?" tanya Rendra.
"Nona Aisyah dan seorang laki-laki." jawab Bi Narti.
Rendra langsung berhenti dan dia meletakkan sendoknya kembali Rendra berdiri dan menemui Aisyah.
"Ada apa lagi kamu mencariku? atau jangan-jangan kamu belum bisa melupakan aku?" Rendra menatap benci pada Aisyah.
"Aku mau mengambil Billy!" pinta Aisyah.
"Aku tidak akan menyerahkan Billy padamu karena kamu sudah meninggalkannya!" ucap Rendra.
"Mas Rendra, aku mohon ijinkan aku membawa Billy!" Aisyah memohon pada mantan suaminya.
Rico datang dan dia justru membela Aisyah.
"Rendra, berikan saja Billy pada mereka dengan begitu kamu bisa fokus mengurus Melisa dan Baby A." Rico menasehati Rendra.
"Pa, tapi Billy anakku!"
"Aku tahu, besok kalau dia sudah besar akan mencarimu!"
Rendra akhirnya menurut pada Rico karena sekarang dia akan fokus pada Melisa yang kehilangan ingatannya.
"Baiklah aku akan ijinkan kamu membawa Billy tapi dengan satu syarat jika sewaktu-waktu aku ingin bertemu Billy kamu harus mengantar kesini." ucap Rendra.
"Baik aku bersedia." Aisyah menyetujui permintaan Rendra.
"Sebentar saya buatkan hitam diatas putih agar kamu tidak mengingkari janji!" Rendra langsung berdiri dan masuk ke ruang kerjanya.
Rendra membuat surat pernyataan agar ditanda tangani oleh Aisyah.
Surat pernyataan yang menyatakan jika sewaktu-waktu Rendra menginginkan Billy, Aisyah harus mengantarnya tanpa alasan apapun. Jika melanggar akan dikenakan sangsi administrasi sebesar 5 Milyar.
Rendra memberikan surat pernyataan itu untuk ditanda tangani oleh Aisyah.
Awalnya Roy mau berontak tapi langsung dibantah oleh Rendra.
"Mas, denda sebesar ini bukannya hanya menguntungkanmu?" tanya Aisyah.
"Asal kamu tidak mengingkari janji tidak akan ada denda sebesar itu." jawab Rendra.
"Tapi itu terlalu berat!" Roy hendak protes.
__ADS_1
"Ini bukan urusan anda Tuan Roy tapi ini urusan Aisyah." jawab Rendra.
Aisyah akhirnya menyetujui dan dia kemudian diijinkan masuk untuk mengambil Billy dari tangan pengasuhnya.
Rendra yang tidak begitu peduli dengan Billy hanya diam tanpa menyapa Aisyah.
"Mas, aku pamit! terima kasih karena kamu telah mengijinkan aku untuk mengasuh Billy kembali." ucap Aisyah.
Sebenarnya masih ada cinta untuk Rendra namun hati Aisyah masih terasa begitu sakit karena Rendra tega mengkhianati pernikahannya dengan Melisa yang merupakan mantan istrinya.
Saat Aisyah pergi bersama Roy ada rasa menyesal telah melepas Wanita sebaik Aisyah.
(Maafkan aku Aisyah!) batin Rendra.
Sementara itu, Rico masih mencoba menguatkan Rendra yang sebenarnya merasa sakit karena anaknya di bawa.
"Billy maafkan papa tidak lagi bisa menjaga dan melindungimu." Rendra mengusap wajahnya yang sudah dibanjiri air mata.
"Rendra, kamu harus ikhlas, insyaallah Billy akan bahagia bersama mama kandungnya." ucap Rico.
Roy dan Aisyah pergi meninggalkan mension dan membawa Billy. Rendra hanya memandang sedih namun dia juga tidak mau egois karena dia tidak bisa menjaga Billy karena harus fokus dengan Melisa dan Baby A.
"Mas, Aku pamit!" Aisyah memandang Rendra yang terlihat sangat sedih.
Sebenarnya Aisyah masih mencintai Rendra namun dia tidak ingin sakit hati karena dalam kenyataannya Rendra lebih memilih bersama Melisa.
Aisyah melangkahkan kaki meninggalkan Mansion Rendra. Dia sesekali masih menoleh pada Rendra. Tak terasa bulir bening menetes di pipi Rendra.
(Ya Allah, aku tidak tahu jalan yang aku tempuh salah atau benar yang jelas hatiku masih menyimpan nama mas Rendra.) batin Aisyah.
Rendra hanya bisa melihat kepergian Aisyah, wanita yang pernah mengisi harinya selama Melisa belum menjadi bagian dari hidup Rendra kembali.
"Billy...!" Rendra memanggil Billy yang sudah semakin menjauh dari hadapan Rendra.
Roy dan Aisyah sudah meninggalkan Mansion Rendra. Meskipun Roy terlihat baik tapi dendamnya untuk Rendra dan Melisa masih dia pendam.
(Rendra aku sudah bisa menghancurkan pernikahanmu dengan Aisyah, nanti akan tiba gilirannya aku menghancurkan pernikahnmu dengan Melisa.) batin Roy
Sementara itu, Rendra langsung meninggalkan mansion menuju kantornya bersama Budi dan anak buahnya. Rico akan menemui Thomas di kantornya.
"Pa, Rendra berangkat dulu!" Rico mencium tangan papanya dan langsung masuk ke dalam mobil.
Dalam perjalanan Rendra terus melihat ke arah jalanan karena dia masih teringat dengan Aisyah dan Billy.
"Bos, kenapa melamun?" tanya Budi.
__ADS_1
"Aku hanya teringat mereka, kenapa aku tidak bisa mempertahankan mereka?" ucap Rendra.
"Bos, ikhlaskan mereka karena jika terus diingat yang ada hanya sakit hati dan semuanya akan menjadi kacau karena fokus anda akan terpecah." Budi menasehati.
Rendra memikirkan perkataan Budi dan dia lalu tersenyum pada Budi.
"Baiklah, mulai hari ini aku akan ikhlaskan mereka! Semoga mereka bahagia." Rendra tersenyum bahagia.
Setelah sampai di kantor Hadinata Group, Rendra langsung masuk ke ruang meeting dimana seluruh investor sudah berada disana.
Dua jam kemudian, Rapat selesai dan seluruh relasi bisnis masih mempercayakan sahamnya pada Hadinata Group karena keuntungan bulan ini sangat signifikan dan naik drastis. Untung yang didapatkan sangat lumayan.
"Bos, semua klien merasa bangga dan banyak diantara mereka yang menambah sahamnya." ucap Lukman.
"Terima kasih Lukman semua ini karena kerja keras kalian sedangkan aku hanya mengawasi dari rumah." jawab Rendra.
"Tapi semua itu karena ide yang Bos berikan pada kami sehingga perusahaan untung besar." ucap Lukman.
Rapat berjalan dengan lancar, Rendra masuk ke dalam ruangannya dan dia ditemani Lukman dan Sari sekertaris barunya.
"Lukman, apakah perusahaan Prayoga masih kalian pegang?" tanya Rendra.
"Betul Tuan bahkan sekarang Tuan Prayoga menyerahkan semuanya untul Hadinata. Beliau hanya ingin diberi sedikit hasil untuk menyambunh hidup." Lukman memberi tahu Rendra.
Rendra sangat bahagia semua berjalan seperti yang diharapkan.
"Sari, tolong pending semua pertemuanku untuk hari ini karena saya harus ke Rumah Sakit!" Rendra meminta pada Sekertarisnya.
"Baik Bos!" Sari langsung menghubungi perusahaan Dirgantama Group.
[Hallo Tuan, maaf kami tidak bisa melakukan meeting hari ini karena ada sesuatu hal.] ucap Sari dari seberang telepon.
[Maaf mbak, tapi saya mau hari ini ketemunya. Misal malam juga gak papa.] jawab pemilik perusahaan dari seberang telepon.
Sari membisikkan sesuatu pada Rendra dan akhirnya Rendra menyetujui jika nanti malam mereka akan bertemu di Cafe Biru milik sahabat Rendra.
Malam pun tiba, Rendra mengajak Sari untuk bertemu dengan perwakilan Dirgantama Group.
"Malam Tuan Rendra!" sapa Ayu sekertaris pribadi pemilik Dirgantama Group.
"Malam juga!" jawab Rendra.
"Maaf mbak Ayu, jika sikap bos saya menyakiti anda!"
"Tidak kok, Tuan Rendra selalu baik pada kami. Mungkin dia sedang asa sedikit masalah.
__ADS_1
"Ayu, kenapa pimpinan kamu tidak menemuiku sendiri?" tanya Rendra.
"Aku disini...!" semua orang yang ada disitu langsung memandang ke arah Rendra dan Ayu.